Dear Diary,Apa yang akan kau katakan jika kebaikanmu dibalas dengan kejahatan?
Ternyata Allah meridhoi niat saya ini, akhirnya tertulis juga coretan hati ini di sini. Dan Allah juga membolehkan saya untuk sebentar saja "menyombongkan diri", walau pada dasarnya saya bukanlah manusia seperti itu. Di samping itu saya sadar, saya hanyalah manusia biasa yang mempunyai keinginan dan harapan-harapan yang luar biasa. Keangkuhan hati saya tersentuh walau sebenarnya saya tidak harus ikut-ikutan angkuh dan kasar, tapi kenyataan hidup yang saya hadapi "memaksa" saya harus berlaku seperti ini.... terhadap manusia yang sengaja menutup nuraninya. Walau beberapa teman mengatakan...."Relakan saja, nanti Allah akan membalas segala perbuatan manusia karena segala sesuatu baik atau buruknya suatu perbuatan manusia...akan ada balasannya!....tapi tidak untuk urusan ini!
Diary.....
Saya sebenarnya sudah tidak lagi mempersoalkan peristiwa buruk yang terjadi pada saya beberapa bulan yang lalu. Tapi saya tidak pernah menyangka jika kebaikan saya diputar balikkan oleh seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan saya. Segala pembelaan dan usaha saya sia-sia..... saya diabaikan, dicampakkan, bahkan tidak dianggap sama sekali. Pantaskah saya diperlakukan seperti ini??? Dan bagaimana jika dia sendiri diperlakukan seperti ini?
Waktu berlalu...untuk sesaat saya bisa melupakan kejadian-kejadian yang saya alami di akhir tahun 2010 yang menyakitkan. Tadinya saya akan mengingatnya sebagai sebuah kenangan indah, nyatanya hanyalah mimpi buruk. Dan orang yang saya anggap orang terbaik kedua diantara kesekian banyak laki-laki yang pernah hadir dalam kehidupan saya, nyata-nyata....dia adalah laki-laki terburuk dan terjahat kedua yang telah memanfaatkan kebaikan saya. Kebaikan saya dibalas dengan kepahitan dan kenyataan diputar balikan tanpa saya bisa membela diri dan membuktikannya. Seakan-akan sayalah orang yang tidak baik itu, karena tidak jujur, tidak menyenangkan, tidak perhatian, dan penilaian-penilaian sepihak lainnya yang memojokkan saya berdasarkan fakta yang tampak dalam beberapa hari saja bersama. Sehingga dengan gampangnya dia mengabaikan perasaan cinta saya yang sangat dalam saat itu.
Mungkin dia menutup mata hatinya untuk tidak mau peduli bahwa kepribadian manusia tidak terbentuk dalam 1-2 hari saja. Perlu perjuangan bertahun-tahun untuk merubah diri menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kecuali saat itu dia memang sedang berhadapan dengan penjahat perang, pelacur ataupun wanita jalang yang materialistis yang hanya mengincar hartanya saja!!! Lain ceritanya dia bisa memperlakukan perempuan seperti itu layaknya "sampah"!.
Diary.....
Hanya satu bulan kenal secara dekat, saya justru tidak mengenal diri saya sendiri. Di awal jumpa saya menyesal tidak mengikuti intuisi saya bahwa saya akan sulit masuk dalam kehidupannya yang cenderung "bebas". Saya menyesal sekali sudah menyalahi kehendak Allah, memaksakan kehendak saya sendiri, mengabaikan nasehat "Habib" saya tapi saya terus berjuang untuk mendapatkan simpatinya kembali yang tidak terwujud juga. Inilah jawaban Allah dan hukuman buat saya, lagi-lagi....saya salah menilai manusia! Saya salah memperjuangkan cinta saya pada orang yang tidak patut saya perjuangkan. Saya sungguh-sungguh menyesal, ini pengalaman terburuk seumur hidup saya.
Diary.....
Jika sekarang saya kembali mengingatnya....bukan karena kekecewaan tidak mendapatkan dia, tidak lagi!!!! Semata-mata karena saya selalu dihantui perasaan bersalah terhadap diri sendiri, merasa sudah hancur dan terhina diperlakukan sama seperti sampah. Batin saya menjerit, tapi saya tidak berdaya karena saya berjuang sendiri dan justru kesendirian saya di manfaatkan oleh kelicikkannya. Mungkin dia bisa tertawa puas sudah membodohi saya.... tidak apa-apa, segala sesuatu ada masanya dan roda selalu berputar.
Selain Allah...hanya waktu obat dari segala masalah. Saya akhirnya menyadari, kenapa dulu Allah mempersulit usaha saya untuk bersatu dengan dia dan sulitnya saya untuk menarik simpatinya kembali. Termasuk ketidakjujuran saya yang saya lakukan sebagai bentuk kesungguhan saya untuk membahagiakannya semata. Ternyata tidak juga dihargai, saya cuma dianggap sebagai barang dagangannya saja. Inilah jawaban Allah....Sesungguhnya Allah membantu saya melepaskan dia dari ketersiksaan batin saya atas penerimaan saya tentang dia yang saya paksakan. Saya sendiri bingung dengan diri saya sendiri saat itu, saya bertindak di luar kontrol diri saya sendiri, saya sepertti dikendalikan, mau saja bertindak atas perintah-perintahnya. Walaupun saya buruk di matanya, Tapi Allah maha Tahu. Jika diberi dua opsi ini, saya lebih memilih, saya lebih baik buruk di mata manusia tapi tidak di mata Allah. Apapun yang saya lakukan terhadap manusia manapun karena ketulusan dan kebaikan saya yang sejujurnya. Lantas kenapa bukan saya yang memilih saat itu, karena saya bukan perempuan sembarangan?Jika setelah itu hati saya melunak dan berbalik sangat mencintainya tapi kemudian ternyata kami tidak berjodoh, lalu kami berpisah, saya baru menyadari, Allah sungguh Maha Bijaksana. Allah justru meridhoi saya menerima keputusan menyerah dengan kondisi saat itu antara cinta dan keluarga. Saya terima dengan ikhlas berpisah secara baik-baik dengan dia dan menerima dikritik tapi tidak mampu melawan bahwa apa yang dipikirkannya....itu bukanlah saya yang sesungguhnya. Tapi akhirnya menyadari.... inilah jawaban Allah bahwa bukan dia laki-laki yang Allah tunjuk untuk saya karena bukan laki-laki seperti itu yang saya butuhkan!!! Saya salah jika mengabaikan keluarga yang sangat memperhatikan saya, karena hanya keluarga tempat saya kembali, dan keluarga tidak pernah meninggalkan saya.
Diary....
Jika sekarang saya kembali ingin menulis, karena saya sedang membela diri saya. Saya layak mengatakan bahwa saya bukan perempuan buruk seperti yang ada dalam pikirannnya. Jika pun saya tidak bisa membuktikan kepadanya saya yang sesungguhnya, artinya bukan untuk dia segala bentuk perhatian, kasih sayang dan cinta saya yang tulus, dan pengorbanan saya yang besar itu. Makanya dulu saya sempat percaya diri mengatakan kepadanya "bahwa dia seharusnya beruntung mendapatkan saya". Yach.... kebaikan, ketulusan, perhatian dan pengorbanan saya bukan untuk dia! Tapi untuk laki-laki baik yang sepadan dengan kapasitas diri saya yang sesungguhnya.Saya pun sudah tidak peduli jika dia pun akan selalu punya senjata dan cara-cara untuk membantah argumen dia tentang saya karena yang tau saya ya diri saya sendiri dan saya pun percaya diri dan tidak harus takut untuk menyatakan kebenaran.
Dia manusia biasa seperti saya, apalagi dia bukan TUHAN! yang tau banyak hal, yang tau segala, jadi gak ada alasan bagi saya untuk takut mengatakan ini. Yang saya takutkan hanya ALLAH, yang saya percaya hanya Allah...."Segala sesuatu di dunia ini tidak akan terjadi tanpa seijin-Nya."
Diary....
Jika sekarang saya kembali, saya berharap ini adalah yang terakhir. Itu karena uneg-uneg saya sudah tersampaikan. Saya juga bisa angkuh, saya juga bisa kasar dan saya juga bisa cuek, itu jika nurani saya tersentuh oleh orang yang tidak punya hati. Dan sebaliknya, saya sesungguhnya justru adalah orang yang sangat memahami orang lain, bahkan saya pun sanggup mengabaikan kebahagiaan diri sendiri demi kebahagiaan orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya. Dan saya banyak belajar dari sikap saya ini, sangat mulia saya memberikan pengorbanan kebahagiaan diri sendiri, asal untuk orang yang tepat yang pantas saya berikan.
Dan jika sekarang saya keluar dari konsep diri saya yang sebenarnya. Saya mengabaikan diri saya yang sesungguhnya dan memposisikan diri saya layaknya orang lain yang memperlakukan saya tanpa "perasaan”, semata-mata didorong oleh keinginan untuk cepat-cepat menuntaskan uneg-uneg saya ini segera. Saya tahu dia pasti sangat puas dan berbahagia di atas kebodohan saya selama ini, namun saya menyadari, pada akhirnya ....urusan ini akan menjadi urusan Allah juga, karena "Segala bentuk perbuatan baik atau buruknya perbuatan itu, pasti akan ada balasannya."
And just it!!! Saya capek dengan penantian selama ini. Saya berjanji tidak mau lagi dan tidak akan mau lagi berinteraksi dengan orang yang hanya memanfaatkan kebaikan saya. Yaitu orang yang munafik, yang banyak omong, sok bijak...nyatanya cuma pembohong! Menganggap dirinya saja yang hebat, benar dan sempurna, serta mengharapkan orang lain yang perfect, nyata-nyata dia sendiri, tidak ada apa-apanya.
Diary.....

Jika sekarang saya berubah..... Yaa memang seharusnya saya berubah menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih tegar dan lebih bijaksana menyikapi hidup. Bahkan menjadi orang yang lebih baik dari orang yang sudah menzholimi saya, menyakiti perasaan saya karena telah mengabaikan niat baik saya. Saya tidak mau gengsi mengakui jika tanpa sengaja perbuatan buruk orang lain telah merubah diri saya. Dia justru mengajari saya untuk mau belajar, untuk tidak menjadi manusia ajaib yang gampang membenci sesaat setelah mengatakan sayang, tidak gampang melupakan kebaikan dan tidak gampang meninggalkan.....
Termasuk perbuatan untuk berterima kasih, membalas kebaikan dan memaafkan kesalahan orang lain, serta tetap menjalin silaturahmi.... Ups....!!! Mungkin tidak untuk pernyataan saya yang terakhir. Saya tidak mau menjalin hubungan silaturahmi dengan orang yang jelas-jelas menolak bersilaturahmi dengan sesama manusia terutama perempuan. Karena dia beranggapan, bahwa perempuan yang layak dia jadikan teman....hanyalah istrinya kelak. Ehm.... naif sekali kedengarannya.....manusia...manusia......cuma bisa menilai orang lain tapi tidak bisa menilai diri sendiri.
Tapi tidak apa-apa. Saya juga malas berdebat tentang hakekat silaturahmi yang sesungguhnya. Saya tahu saya pasti akan kalah dan saya tidak mau sok tau walau sebenarnya saya tau! Cuma malas aja!!! Tapi intinya, saya tidak mau lagi mengemis-ngemis untuk bersilaturahmi dengan orang yang salah untuk saya perjuangkan mati-matian. Cukup sudah....itu pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya cukup sekali jatuh dan terpuruk. Sekarang saya sudah bangkit, dan kuat dengan kondisi apapun karena Allah selalu bersama saya.
Diary....
Jika sekarang saya cukupkan dulu tulisan ini, karena tangan saya benar-benar sudah capek. Udah achh... saya takut jika Allah marah sama saya karena saya kebablasan berubah menjadi orang lain, bukan diri saya yang sebenarnya. Saya cukupkan dulu sampai di sini. Besok-besok saya akan menulis lagi, lagi dan lagi, selagi saya mampu menulis dan apa yang ingin saya sampaikan tersalurkan dengan baik.
Dan jika sekarang saya masih mengucapkan kata terima kasih banyak atas waktunya yang dengan sengaja membaca "celotehan indah" saya ini, karena saya tetap berkeyakinan walau tidak sepenuhnya terhadap kepribadian dia, "Bahwa pada dasarnya semua makhluk baik, tapi kondisilah yang membuat manusia menjadi baik benaran atau menjadi jahat sesungguhnya."Saya tidak menyesali pengalaman saya dengan siapapun. Memang perlu waktu untuk melupakan, itu adalah bagian dari siapa saya saat ini dan membuat saya menjadi orang yang lebih kuat...Karena, orang yang melakukan kesalahan lebih menarik dibandingkan orang yang tampak sempurna.




0 comments:
Post a Comment