
Jangankan untuk shalat malam, untuk shalat wajib saja, rasanya tempat itu tidak nyaman. Apalagi untuk mencapai khusyuk. Makanya, ia lebih memilih shalat berjamaah di masjid yang tidak jauh dari kontrakannya.
Arif sering membayangkan, betapa tenang dan bahagianya jika kelak punya rumah sendiri. Apalagi jika rumah itu cukup luas. Ia tentu bisa menyediakan sedikit ruang untuk mushalla keluarga sehingga ia bisa beribadah, terutama shalat malam di mushalla itu dengan khusyuk dan tenang.
Ternyata apa yang ia bayangkan bukan hanya mimpi. Allah memberinya rizki yang lumayan, sehingga ia bisa menyediakan uang untuk DP kredit rumah di pinggiran kota.

Sejak memiliki rumah sendiri, Arif memang sedikit agak tenang. Ia tidak perlu berdesak-desakan dengan lemari dan televisi. Sirkulasi udaranya pun terbuka lebar, sehingga ia tidak perlu lagi merasa gerah ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Shalat di rumah pun tidak perlu lagi berjamaah dengan kasur dan bantal.
Tapi, saking nyamannya rumah yang ia tempati, ia jadi malas keluar rumah, termasuk pergi ke mesjid atau mushalla. Jika waktu shalat tiba, ia lebih memilih shalat di mushalla rumahnya.
Belakangan, ia datang kepada temannya, dan mengeluh lagi. Katanya, di rumah barunya itu ia sulit bangun malam. Jangankan untuk menegakkan shalat malam, untuk shalat shubuh saja tidak pernah berjamaah ke masjid. Bahkan bangun pagi pun seringkali lewat jam enam. Mushalla yang pernah diidam-idamkannya pun ternyata tidak membuatnya lebih khusyuk daripada sedikit ruang kosong di ujung kasurnya di rumah kontrakan dulu.

Arif sebenarnya mungkin potret kebanyakan kita semua, aku, juga kalian. Kita seringkali terjebak pada suasana hati yang membuat kita alfa dari mensyukuri nikmat Allah.
Kita lupa, betapa Allah memberi terlalu banyak nikmat kepada kita, tetapi kita merasa belum cukup, sehingga untuk beribadah saja, kita merasa perlu menunggu sampai Allah memberikan nikmat lainnya kepada kita. Tetapi, begitu nikmat lainnya berhasil kita dapatkan, kita masih punya seribu alasan lain untuk menunda syukur dan menolak ibadah.
"When we have not things what we like, we must like what have we owned"
No comments:
Post a Comment