Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Showing posts with label Ceritaku. Show all posts
Showing posts with label Ceritaku. Show all posts

Tuesday, April 6, 2010

DEL AIDELAN

Bu Mina berhasil mencuri hati banyak orang di kompleks kami. Tubuhnya yang tegap memantapkan statusnya sebagai tukang pijat ideal dan dirindukan. Ia tak gentar bersaing dengan para tukang pijat refeksi yang tumbuh menjamur di lingkungan kami. Kemujaraban jemarinya menjadikan wanita asal Madura ini tukang pijat segala usia.

Mungkin karena terkena sugestimya, aku sering memercayai diagnosis primitifnya. Khusus untuk gejala oenyakit yang berhubungan dengan angin, dialah ahlinya. Dengan keping gobang kuno yang selalu terselip di stagennya, ia mampu mentransfer angin jail keluar dari tubuh para kliennya, termasuk aku. Dengan rapi, ia pindahkan garis zebra merah ke seluruh permukaan punggungku. Ia senang mendengarkan suara angin itu keluar dari semua arah.

Saat ritual itu rampung, ia racik health drink untukku, secangkir wedang jahe panas campur kayu manis dengan aroma yang khas. Treatment itu ia akhiri dengan baluran minyak kayu putih ke sekujur tubuhku. Usai jemarinya menjelajahi daerah-daerah kritis, aku selalu merasa reborn.

Dari waktu ke waktu, pergaulan kami makin akrab. Kami mengenal kegemaran masing-masing. Aku selalu menyuguhinya segelas kopi three-in-one dari 2 sachet, plus gula 2 sendok teh. Sepotong kue lapis Surabaya, juga selalu kubelikan untuknya tiap kali jadwal pijatku tiba.
Dia juga paham, aku senang menikmati kisah masa lalunya. Dengan logat Maduranya yang kental, ia meninabobokanku dengan bad time story yang tak pernah habis.

Aku kagum pada ketegarannya. Pada usia sekitar 70 tahun, ia masih menjadi “ATM” bagi sebagian anak-anaknya, plus 18 orang cucunya. Ia sangat concern pada nasib keluarga besarnya. Dari ocehannya, aku tahu ia begitu menyayangi Madro’I, cucu dari anaknya nomor empat.

Untuk meringankan bebannya, sesekali Madri’o ikut bantu-bantu merawat kebun atau taman rumahku. Seringkali kudengar suara merdunya melantunkan tembang-tembang masa kini yang sedang in, seperti lagu-lagu milik Anang, Zigas, Dewa, Pasto, Slank, dan banyak lagi. Apakah ia menyimpan cita-cita jadi penyanyi? Rasa penasaran itu tak terjawab, sampai ia pamit pulang ke Madura.

Sampai beberapa bulan lalu, saat Bu Mina datang. Seraya bersimpuh di kakiku, Bu Mina menyodorkan sebuah kotak beludru warna biru, yang isinya membuatku terkesima. Bintang jasa terbuat dari emas, yang konon dulu diserahkan langsung oleh Presiden Soekarno kepada suaminya semasa hidup, sebagai bagian dari anggota veteran di kawasan Blitar.


Tersedu-sedu ia menyampaikan isi hatinya. Dengan logat Maduranya yang kental, ia bilang bahwa dirinya sedang stres. “Seluruh Madura sekarang sedang kesengsem del aidelan. Jadi Madro’I juga pingin ikut del aidelan. Marpuah, ibunya, bingung tak punya ongkos untuk kirim Madro’I ikut del aidelan. Hasil panen jagungnya juga tak cukup buat ongkos anaknya itu kesini,” katanya, sambil menyusut airmata. “Saya mau pinjam uang sama sampeyan, Rp300.000 saja, buat ongkos Madro’I ikut del aidelan. Jaminannya, bintang emas ini,” sambungnya.

Aku masih belum menangkap, apa maksud istilah del aidelan yang terdengar menggelikan itu. Aku langsung menyodorkan uang yang ia perlukan, dan mengembalikan jaminan hutang itu ke tangannya. “Sudahlah, tak usah pakai jaminan. Pokoknya, Madro’I ikut del aidelan,” ucapku kemudian.

Baru minggu lalu aku tahu maksud dari del aidelan itu. Dengan bangga Bu Mina bercerita bahwa Madro’I tampil audisi dalam acara popular Indonesian Idol. Walaupun ia kecewa, cucu kesayangannya itu gagal masuk final, ia bangga karena Madro’I sudah ditonton semua kerabat di Madura lewat layar televisi.

Sambil menikmati kemujaraban jari jemarinya, kusampaikan simpati kepadanya. “Mudah-mudahan ia berhasil pada kesempatan lain, bukan Cuma del aidelan,” kataku. Tapi, kalimat yang kemudian meluncur dari bibirnya, sungguh mengejutkanku. Ia mengajukan usul yang tak pernah mampu kutolak. “Bu, “katanya, “bagaimana kalau utang saya dituker dengan angsuran pijet sepuluh kali, ta’iyeeeh…!”

Ahhh, mana mungkin aku beroposisi pada ‘sahabatku’ yang satu ini. (YAL)

Sunday, January 24, 2010

UPSS......MALUNYA!!!!

Setiap orang pastinya pernah mengalami kejadian paling memalukan, misalnya, tidak bawa dompet saat naik angkot, setelah ngobrol ngalar-ngidul ternyata salah orang. Jika mengingat kejadian itu rasanya tidak ingin terulang lagi.

Kejadian-kejadian seperti itu bisa membuat muka kita merah seketika, tentunya, malunya bukan main. Saat kejadian memalukan itu berlangsung, kita seakan terlihat konyol dan ingin secepatnya lari agar terhindar dari rasa malu. Kendati demikian, kejadian itu tak perlu kita lupakan sebab akan menjadi cerita lucu yang layak kita kenang. Anehnya, banyak orang malu untuk menceritakan kejadian paling memalukan dalam hidupnya, entah karena aib atau takut ditertawai orang lain. Padahal kalau ditilik-tilik, pengalaman memalukan bisa jadi inspirasi bagi yang berbakat menulis novel atau skenario film (sinetron). Kenapa tidak?!

Rasanya aku pun pernah mengalami. Sebenarnya kejadiannya biasa-biasa saja, pastinya setiap orang bisa memaklumi, tapi bagiku, tetap kejadian itu membuat merah pipiku.

Waktu itu, aku bersama mama dalam perjalanan keluar kota. Aku biasa menggunakan travel dari biro perjalanan langgananku. Jambi – Palembang, waktu yang ditempuh kurang lebih 6 jam. Aku dan mama duduk di bangku paling belakang karena bangku nomor 5 atau bangku di belakang supir, dimana biasanya aku duduk disitu jika bepergian dengan travel, dan menurutku merupakan bangku yang paling nyaman dalam perjalanan, sudah dipesan penumpang lain.

Mobil melaju dengan kencang, perjalanan saat itu cukup menyenangkan. Namun sayang, suasana di dalam mobil sunyi senyap, semua penumpang tidak ada yang saling berbicara dan hanyut dalam pikirannya masing-masing, bahkan ada yang tertidur, begitu juga mamaku. Sedari awal perjalanan dimulai, supir tidak menghidupkan lagu dari tape mobil seperti biasanya, hingga setengah jam perjalanan. Aku pikir, mungkin tapenya rusak. Lalu, daripada aku pusing mendengarkan bunyi mesin mobil yang sesekali terdengar bising, aku pun berinisiatif menghidupkan musik dari handphoneku dan kudengar melalui headset saja.

Tiga jam sudah berlalu, aku masih asyik membaca sebuah novel sambil mendengarkan musik. Sekali-sekali, jika mataku sudah mulai lelah, aku berhenti membaca, melihat-lihat suasana diluar dari kaca mobil sambil bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang aku dengar dari headset. Lagu-lagu favoritku, , Cinta Pertama dan Terakhir-nya Serina, Karena Kucinta Kau dan Kecewa-nya BCL, dan semua lagu-lagu milik Rossa, hingga I’m Your’s milik Jazon Marz dan If Your not The One-Daniel Beddingfield, aku pilih untuk aku ikut menyanyikannya. Mungkin terbawa suasana, akupun menyanyikannya dengan sepenuh jiwa.

Tiba saatnya lagu Sahabat Jadi Cinta miliknya Zigas yang sedikit nge-beat, aku ikut nyanyikan juga,

“……Tak bisa hatiku menafikkan cinta….
Karna cinta tersirat bukan tersurat….
Walau bibirku terus berkata….. “tidaakkk”…..
Mataku trus pancarkan sinarnya…..

“Upss…kenapa semua penumpang memandang ke arahku? Sambil senyum-senyum lagi. "Ada apa nich?” Begitu pikirku saat itu. Bersegera aku lepaskan headset yang dari tadi menempel di kedua telingaku. Ternyata mobil sudah sampai di sebuah rumah makan yang merupakan tempat istirahat bagi supir maupun penumpang untuk segera mengisi perut setelah sekian lama di dalam perjalanan, sehingga keadaan menjadi sunyi senyap, tidak lagi terdengar suara mesin mobil. Itulah baru aku menyadari, ternyata pada saat kata-kata “tidak” pada lirik lagu tersebut, aku selalu menyanyikannya dengan sedikit teriak, “tidaaakkk” bersamaan dengan berhentinya suara mesin mobil.

Ya ampyuuun…selama di perjalanan, aku begitu menikmati lagu-lagu yang aku nyanyikan hingga aku tidak sadar hingga volume suara yang aku keluarkan semakin membesar. Aku cuma tersenyum simpul, apalagi ada seorang bapak yang membuat aku seperti melayang-layang di udara, gak tahan denger pujiannya; “Bagus kok suaranya, asyik banget cara menyanyikannya, dari tadi saya sudah mendengarkan suaranya, begitu menghayati. Lagu-lagunya juga bagus-bagus.”

Selalu ada permakluman atas sebuah kejadian. Seperti sudah menjadi budaya di negeri kita, kalau kata-kata “untung” dan “selamat” selalu dijadikan kambing hitam. “Untung…suaraku bagus, jadi gak malu-maluin banget.” Mungkin saja, tanpa disadari ternyata mereka sedari tadi sudah terhibur dengan suaraku. Siapa tahu, diantara penumpang itu ada seorang produser musik sehingga bisa mengorbitkan aku menjadi seorang penyanyi benaran? Siapa tahu.... :)

Aduh, malu-maluin deh! Walau kata mamaku, tidak apa-apa, tetap saja aku merasa malu, bukan karena suaraku, tapi aku takut saja kalau aku dibilang mengganggu, narsis, norak, tidak tahu diri, dan lain-lain. Apalagi ada cowok manis dan keren, sepanjang perjalanan dia sesekali melirik-lirik ke arahku, semoga saja dia semakin kagum denganku sejak kejadian itu :D

Kalau ingat kejadian itu, kadang aku ingin tertawa sekaligus malu dan ge-er juga, tapi bagaimanapun aku tidak ingin melupakan peristiwa itu. Apapun peristiwa yang kita alami, jangan pernah merasa minder apalagi mengubur dalam-dalam peristiwa apapun.

Ingatlah waktu tak akan berjalan mundur, sebuah kejadian yang berlalu akan menjadi sebuah kenangan terindah dalam hidup ini, sekalipun itu sebuah kejadian yang konyol.

Monday, January 11, 2010

MAAF, GESER SEDIKIT BU !


Usia masih bisa disembunyikan, wajah dan kerut merut kulit? Ditunjang tubuh yang berkembang sesuai dengan pertambahan usia, sudah pasti menunjang seseorang terutama seorang perempuan untuk dipanggi “ibu” tanpa harus melihat status.

Jadi teringat tiga bulan yang lalu, saat jam istirahat, seorang teman datang ke kantor dengan wajah yang cemberut dan muka ditekuk seperti menyimpan segumpal kekesalan yang dalam. Why?

“Aku kesel banget di Mal kemaren, waktu naik lift, karena penuh, eh, ada cowok dengan enteng bilang, “Maaf bu, bisa geser dikit?” “ Aku pikir bukan sama aku, ternyata mata cowok itu menatapku dengan santun. Saat itu belum terlalu kesel sih, tapi pas angkot yang penuh pun, kenek di sampingku bilang sambil agak menyentuh bahuku memintaku untuk bergeser, “Maaf bu, geser sedikit.”

Mendengar penjelasannya, kita semua tertawa. “Oh itu yang membuat sahabatku mukanya muram bak mendung gak jadi hujan.” Kalau ditilik sejarahnya, siapa yang gak kesel dan marah, “Lha wong dia masih gadis, muda, dan kulitnya pun masih kencang. Tapi kenapa dipanggil ibu?”. Tetap saja dia ngotot tidak terima dengan panggilan itu, “Aku khan belum jadi ibu, panggil ‘mbak’ apa salahnya, toh aku masih kelihatan muda, walau badanku melar.” Gerrr…..kita semakin tertawa mendengar celotehannya.

Lain pula cerita temanku yang lain, “Aku boleh saja dibilang orang masih muda, sekarang baru 29 tahun, sudah menikah dan punya buntut dua, dan masih kuat jalan kemanapun. Tapi kalau malam tiba dan menjelang tidur, rasa lelah dan letih mulai terasa. Sudah mulai sering sakit kepala. Kata orang, semakin bertambah usia semakin banyak keluhan. Tapi aku masih ingin bergaya dengan busana jins walau tidak ketat, serta ikut teman-teman kantor yang masih muda-muda, jalan-jalan ke Mal walau kakiku seringkali terasa sakit, telapak kaki sudah terasa “nyut-nyut an” jika kelelahan akibat banyak jalan.”

Status antara kita yang masih lajang dengan yang sudah menikah, tidak menjadi penghalang untuk berbagi masalah apa saja. Ada seorang rekan di kantor yang sudah berumur, bahkan paling berumur diantara rekan perempuan, kami tidak menyangka, kalau dia sudah berumur, tapi belum terlihat seperti ibu-ibu yang biasanya bertubuh subur padahal anaknya sudah empat orang, dan yang tertua sudah beranjak dewasa. Bahkan kita tidak percaya kalau usianya sudah mencapai angka 47 tahun, namun pembawaannya selalu ceria, ramah, energik, dan menyenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. Lantas wajar pula, jika rekan-rekan di kantor memanggilnya dengan sebutan “mbak” bahkan “bunda”.

Sesaat aku termenung lalu tersenyum simpul penuh makna. Teringat beberapa tahun yang lalu, karena kendaraan pribadi yang biasa aku bawa ke kantor sedang diperbaiki di bengkel langgananku, aku memutuskan berangkat ke kantor menggunakan kendaraan umum yaitu, angkutan kota (angkot). Berbusana kantor yang rapi, lengkap dengan tas di tangan dan sepatu pantofelku yang berwarna hitam mengkilap, aku menghentikan angkot yang melintas di pinggir jalan tak jauh dari rumahku. Di dalam angkot, aku mengambil bangku sebelah kanan dekat pintu, saat ada penumpang lain yang masuk, aku sempat termangu saat sopir angkot itu dengan hormat menyapa, “Maaf Bu, bisa agak kedalam?”. Anehnya, panggilan itu terasa menghujam batinku. Padahal panggilan “ibu” sering aku terima saat di kantor atau saat jam-jam kerja. Sebutan itu tidak menjadi masalah bagiku. Tapi mengapa hari itu terasa aneh. Entahlah.


Ternyata panggilan “ibu” dari orang lain yang diterima bagi seorang yang menganggap dirinya masih muda, baik yang masih lajang maupun yang tidak, membuat aku dan sahabat-sahabatku termotivasi untuk berjuang menurunkan berat badan dan beresolusi untuk sehat lahir maupun batin. “Mulai saat ini kita harus cantik!”, Ayo semangat, walau kita sudah berkepala tiga, gak salah harus tetap cantik, harus “laku” tahun ini!” Begitulah kita bersepakat. “Jangan mau kalah sama Rina yang hitam, judes, cupu...korban mode, tapi bisa dapat suami kaya dan ganteng, walau sebenernya kita sudah tahu sih gimana kelakuan suaminya, Ridho, saat mereka memutuskan untuk cepat-cepat menikah.” Begitulah rumpii-an temanku saat dia menumpahkan kekesalannya terhadap salah seorang temannya. Diantara kita, memang dia yang paling bawel, apa adanya tapi menyenangkan dan setia kawan banget. Kita pun terus digayuti kebahagiaan, saling berbagi, diselingi dengan candaan dan tertawa tiada henti. Suasana saat itu benar-benar heboh.

Atas saranku juga, aku yang sangat getol dan rajin berolahraga, mengajak teman-temanku untuk masuk kelas kebugaran, aerobic dan fitness serta jogging dan senam pagi di lapangan setiap minggu pagi, sambil melakukan diet sehat. Sayur bening, tahu tempe, ayam tanpa kulit dan ikan tanpa digoreng, serta buah, akhirnya menjadi menu kita setiap hari ke kantor untuk makan siang. Tidak makan makanan yang mengandung karbohidrat saat sarapan pagi dan di malam hari, serta banyak minum air putih.

Hampir dua bulan menu tanpa bumbu kental itu menjadi santapan favorit kita. Alhamdulillah, kemauan keras itu menutup mata kita untuk tidak tergoda oleh makanan enak yang kita santap setiap siang, atau gorengan dan martabak keju yang yummy. Kita berkomitmen dengan program diet ini.

Aku yang saat itu tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi teman-teman yang hampir semuanya mengeluhkan soal bentuk tubuh, aku hanya berprinsip yang terpenting adalah bagaimana “menjalani hidup sehat” yaitu sehat lahir maupun batin. Terutama sehat secara batin, maka lahiriah kitapun akan terlihat sehat pula, terutama jika selalu beribadah. Jika pikiran kita sehat, kita ikhlas menerima kondisi apapun, tidak cepat tersinggung, tidak gampang marah, tidak sombong dan menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain. Otomatis jika kita sehat lahir batin, setiap hari kita bersemangat, percaya diri dan ikhlas memberikan keramahan tanpa pamrih dan selalu tersenyum dengan tulus kepada siapa pun. Menurutku itulah yang terpenting karena itu juga merupakan bentuk ibadah yang tidak bisa dibayar dengan materi dan sangat manis hasilnya.

Akhirnya aku menyadari, panggilan atau sebutan “ibu” diucapkan orang lain sebagai suatu sapaan sebagai tanda hormat. Juga merupakan sapaan bagi seseorang karena ruang lingkupnya, bisa karena pekerjaan atau menghargai orang yang lebih tua. Kini kita memang tidak bisa lagi menghindar dari “panggilan takdir”, ditunjang usia memang akan terus melaju dan perkembangan tubuh yang semakin melebuarr.....karena semakin berkurangnya metabolisme tubuh kita. Gak perlu resah, karena itu bisa terjadi pada siapa pun laki-laki maupun perempuan.


Pengalaman sahabat-sahabatku dan orang –orang di sekillingku, “Ahh…..benar-benar oase di padang gersang.” Aku harus tetap memegang erat janji pada diriku sendiri bahwa aku harus “Konsisten terhadap komitmen, segala sesuatu yang berlebihan dan serba instan itu, tidak baik akibatnya.”


“Jangan berpikir untuk cantik, tapi menjadi ramah dan menyenangkan”

Tuesday, January 5, 2010

SENYUM KARENA MUSUH

Orang bilang "tertawa itu sehat". Asal mula tawa bisa beragam, bisa dari pengalaman yang lucu lalu menimbulkan tawa.

Namun ceritaku ini ada hubungannya dengan "musuh". Berbicara tentang musuh, musuh bukan saja manusia. Tapi tahukah kita bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang mengikuti kemana saja kita pergi dan berkelana. Dialah musuh yang pandai sekali membawa diri.

Lalu apa hubungannya senyum dengan musuh?

Ini pengalamanku di tengah malam dari sebuah perjalanan dari luar kota. Bukan urusan yang mudah jika sudah menyangkut rasa kantuk yang teramat sangat saat itu.

Kepayahan duduk terlalu lama selama 6 jam di dalam travel yang membawaku pulang ke rumah di malam itu, aku terhenyak tidur di kasur empuk di kamarku.

"Oh damai rasanya bisa kembali ke rumah, aku rindu kamarku, aku rindu untuk bisa lagi memeluk guling kesukaanku dan tidur kembali di ruang favorite serta tempat paling privacy bagian dari rumahku yang selalu memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja." Betapa lelahnya tubuh ini. Maka setelah merapikan diri, aku segera merebahkan diri. Aku pun terhanyut dibuai mimpi yang begitu nyaman.

Karena sudah terbiasa, aku selalu memasang alarm dari handphone ku sebagai pertanda harus segera bangun di kala suara adzan terdengar. "Hayya alash shalaah"....(Marilah shalat). Dari sebuah speaker Masjid di lingkungan rumahku terdengar di telingaku.
"Ah, subuh sudah datang, pikirku."

Namun aku membuka mata terasa sangat berat. Dengan mata yang masih kabur, aku lihat jam di handphone ku, angka digital menunjukkan 4.30. Tiba-tiba, tidak ditanya dan tidak diharapkan, musuh berselimut yang sudah ada disisiku membisikan dengan lincahnya, "baru jam 3!". Bisikannya benar-benar menggedor-gedor nuraniku.

Mataku berkejap-kejap, kepalaku sedikit pusing dan terdengar lagi bisikan perlahan-lahan yang menggedor-gedor lagi nuraniku "kamu masih bisa tidur dua jam lagi, hilangkan kelelahanmu dan puaskan tidurmu! tidurlah dengan tenang! Nanti saja ibadahnya!"


Aku terkejut dan curiga, "apa-apaan maksud bisikan ini?". Mengapa bisikan ini begitu gencar menyerang benteng jiwa ku. Dan astaga! Musuh, ya musuh! Aku langsung tersadar. Darah perlawanan pun mengguncang-guncang tubuhku. Aku bangun melompat untuk melepaskan rantai kemalasan dan berta'awudz, "A'uzu billahi minasysyaitaanirrajiim..."

Mana musuh yang berbulu penasehat tadi? Dia lari terbirit-birit menjauh, dan aku melangkah ke pintu, membersihkan diri dan terus berwudhu. Air yang dikira dingin sebaliknya menyegarkan. Aku lihat jam di dinding tepat jam lima subuh. Maka akupun senyum riang.

Musuh tadi hilang lenyap. Dia memang ada, beranak pinak tambah banyak dan tidak mati-mati sampai kiamat. Benar-benar musuh beuyutan. Itulah setan dan iblis yang selalu berbisik-bisik di hati manusia, menggoda tiada hentinya supaya manusia berbuat dosa.

Senyum ku bertambah lebar di subuh itu, karena menang dan merasa gembira. Aku pun teringat prinsip yang berbunyi seperti ini........

"Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah dia (tetap) sebagai musuh....." (QS. Fathir:60)


Alhamdulillahirrabbil'alamiin.......

Saturday, December 5, 2009

PENGALAMAN BERHARGA

Belakangan ini banyak terbongkar kasus korupsi yang dilakukan orang-orang terhormat di Indonesia. Padahal menilik status sosial dan ekonomi mereka, tanpa korupsi pun pasti hidupnya sudah berkecukupan. Karena itu hatiku begitu tersentuh ketika bertemu seorang penyemir sepatu yang berprinsip hanya menerima uang bila sudah bekerja. Aku merasa seperti menemukan oase di padang gersang.



Suatu hari sepulang bekerja, aku mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelah berputar kesana-kemari dan sudah mendapatkan semua keperluan, aku bergegas pulang karena harus ke tempat lain. Di dekat parkir mobil, aku dihadang seorang anak kecil yang menawarkan jasa menyemir sepatu. Karena sedang terburu-buru dan merasa sepatuku tidak perlu disemir, akupun tidak menghiraukannya. Tapi anak itu terus membuntutiku sampai ke tempat parkir. Sebenarnya aku sebal melihat anak kecil yang ngotot itu. Tapi karena melihat tubuhnya yang kurus dan penampilannya yang memprihatinkan, aku merasa kasihan. Segera kuulurkan uang dua puluh ribu rupiah, aku berharap, setelah menerima uang itu dia tidak lagi memaksaku menyemir sepatu.

Memang benar, meski terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya dia menerima uang pemberianku dan kemudian berlalu. Akupun lega. Segera kumasukkan barang-barang belanjaan dari trolley ke dalam bagasi mobil.

Ketika sedang sibuk mengemasi barang belanjaan, aku dikejutkan kehadiran seorang laki-laki separuh baya di sampingku.
“Mbak yang tadi memberi uang pada anak saya ya?” tanyanya.
Kulihat di sebelah bapak itu ada anak penyemir sepatu yang tadi menawarkan jasanya padaku.
“Iya betul. Ada apa Pak?” tanyaku keheranan.
“Maaf, saya mau mengembalikan uang Mbak. Anak saya hanya boleh menerima bayaran kalau sudah bekerja. Dia tidak boleh menerima uang tanpa bekerja. Itu namanya mengemis.”


Aku sungguh terkejut mendengar perkataan bapak itu. Kuperhatikan dirinya. Penampilannya sama menyedihkan dengan anaknya. Tampak lusuh dan mungkin menahan lapar. Dia juga membawa kotak berisi peralatan menyemir. Aku begitu takjub melihat orang tak berpunya seperti dirinya bisa begitu tegas menolak uang yang sebenarnya ia butuhkan.

“Tidak Pak. Biar saja, saya ikhlas kok,” aku menolak karena iba melihat keadaan mereka berdua.
“Tidak, anak saya tidak boleh berbuat seperti ini. Nanti jadi kebiasaan yang tidak baik,” katanya tegas.


Aku tertegun mendengar kata-katanya itu. Namun aku juga mengakui kebenaran ucapannya.
Ia kemudian memaksaku menerima selembar uang dua puluh ribuan yang tadi kuberikan kepada anak itu.
Karena tidak ingin membuat keributan, terpaksa aku menerimanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar uang itu tetap bisa kuberikan kepada anak itu tanpa membuat ayahnya marah. Tanpa membuang waktu segera kulepaskan sepatuku dan menyodorkannya pada anak penyemir tadi.
“Tolong disemir ya Dik, tapi jangan lama-lama soalnya saya harus segera ke tempat lain,” kataku. Aku lalu membuka pintu mobil dan duduk menunggu di dalam.

Anak itu segera menyemir sepatuku, dengan disaksikan ayahnya. Lebih kurang sepuluh menit kemudian, sepatuku selesai disemir. Anak itu mengulurkan sepatu pantofelku yang kini sudah mengkilat. Aku segera mengenakannya dan kemudian memberikan uang dua puluh ribu rupiah yang tadi dikembalikan di bapak, pada anak itu. Dia menerimanya dengan gembira sambil berkata, “Terima kasih, Bu.”

Aku tersenyum. “Terima kasih juga, Dik,” jawabku sambil menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan mereka.

Rasa terima kasih yang kuucapkan itu bukan hanya karena sepatuku telah disemirkan, namun juga karena mendapatkan pelajaran berharga tentang keteguhan hati. Meskipun miskin, bapak anak itu pantang mengemis dan menerima uang tanpa bekerja. Dia juga mendidik anaknya melakukan hal serupa. Semoga orang-orang terhormat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menyadarinya dan mengambil suri teladan dari keteguhan hati seorang penyemir sepatu. Dan akupun mendapatkan pelajaran berharga yang tidak akan kulupa sepanjang hidupku.

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...