Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Showing posts with label Kisah Inspirasional. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspirasional. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu disuruh pel lantai sambil diawasi si manajer.

“Anda diterima, katanya. “Beri saya alamat e-mail anda dan saya akan kirim formulir lamaran untuk diisi dan tanggal anda mulai bekerja,” tambahnya.
“Saya tak punya computer. Juga tak punya e-mail,” sahut si pria.
“Maaf, jika anda tak punya e-mail, berarti anda tidak eksis. Siapa yang tidak eksis, tidak bisa punya pekerjaan,” kata manajer HR.


Pria itu pergi dengan rasa sedih dan kecewa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara uang yang ada di sakunya tinggal 50 ribu. Ia lalu pergi ke supermarket dan beli 10 kg tomat. Sesudah itu ia menjual tomat itu dari pintu ke pintu. Dalam 2 jam, modalnya meningkat 2 kali lipat.

Ia lalu melakukan hal yang sama sampai 3 kali dan pulang dengan mengantongi 300 ribu. Pria ini sadar, dia bisa bertahan hidup dengan cara seperti ini. Keesokkan harinya, dia berangkat dari rumah lebih pagi dan pulang sore. Uangnya meningkat dari hari ke hari. Tak lama kemudian, bisa beli gerobak, lalu beli truk untuk mengirim pesanan.


Lima tahun kemudian, pria ini buka toko ritel makanan terbesar di kotanya. Ia lalu merencanakan masa depan keluarganya dan memutuskan beli asuransi jiwa.
Ia lalu memanggil pialang asuransi dan memilih program perlindungan yang diinginkannya. Sesudah terjadi kesepakatan, pialang itu menanyakan e-mail-nya.

“Saya tak punya e-mail,” jawab pria itu.
Pialang asuransi itu heran.
“Bapak tak punya e-mail tapi berhasil membangun kerajaan bisnis? Coba bayangkan, apa jadinya Bapak jika Bapak punya e-mail,” kata si pialang.
Pria itu berpikir sejenak dan berkata, “Ya, saya akan jadi office boy di Microsoft.”


Dalam hidup ini, internet bukan segalanya. Kendati tidak punya internet, tak punya e-mail, jika kerja keras, anda tetap bisa jadi milliuner.

Saturday, March 5, 2011

FILTER BIJAK SOCRATES

Socrates, Filsuf besar yang hidup di Yunani Kuno anatara 469 – 399 SM, terkenal dengan kebijakannya. Suatu hari, Socrates bertemu dengan seorang kenalan yang bersemangat tinggi mengatakan, baru saja mendengar sesuatu tentang salah satu muridnya.

“Mau tahu apa yang saya dengar?” tanyanya.
“Tunggu dulu. Anda boleh cerita sesudah lulus tes yang saya berikan. Namanya filter rangkap tiga, “kata Socrates.

“Benar,” jawab Socrates, lalu melanjutkan, “Sebelum Anda cerita tentang murid saya, mari kita saring dulu apa yang akan Anda katakan. Itu sebabnya, tes ini saya namakan tes filter rangkap tiga. Yang pertama namanya filter kebenaran.

“Apakah Anda benar-benar yakin, apa yang akan Anda katakan kepada saya itu benar?” tanya Socrates.

“Tidak. Saya tak thu apakah itu benar. Saya hanya mendengarnya dan sekarang ingin cerita kepada Bapak,” kata orang tersebut.

“Baiklah,” kata Socrates. “Jadi Anda tidak tahu persis apakah cerita itu benar atau tidak. Sekarang, kita coba filter kedua. Namanya filter kebaikan.

“Apakah yang akan Anda ceritakan kepada saya tentang murid saya itu sesuatu yang baik?” tanya Socrates.

“Bukan sesuatu yang baik,tapi justru kebalikannnya,”kata orang tersebut.

“Jadi,”lanjut Socrates,”Anda ingin menceritakan sesuatu yang buruk tentang murid saya itu kendati pun Anda tidak tahu persis apakah itu benar?”


Pria itu kaget dan merasa malu.

“Sekarang kita sampai ke tes ketiga.Namanya tes filter manfaat.Apakah yang Akan anda ceritakan kepada saya tentang murid saya itu berguna untuk saya?”tanya Socrates.

Tidak sama sekali,”jawab pria itu.

“Jadi yang ingin Anda katakan kepada saya itu tidak benar,tidak baik, dan juga tidak berguna.Buat apa Anda cerita kepada saya?”tanya Socrates.


Pria itu malu dan segera berlalu.

Kisah ini merupakan salah satu contoh sikap Socrates yang menjunjung tinggi kebenaran.itu sebabnya, Socrates menjadi filsuf besar yang sangat dihargai dan dihormati


Moral cerita :

“Jika ingin menceritakan atau menyampaikan sesuatu yang anda dengar, selalu uji dulu dengan 3 filter ini: kebenaran,kebaikan, dan manfaat atau kegunaan.

Saturday, February 12, 2011

MENGUNDANG CINTA

Suatu hari, seorang ibu yang hidup di suatu mas melihat tiga kakek berjenggot putih duduk di pekarangan rumahnya. Karena merasa tidak mengenal ketiga kakek itu, ibu tersebut lalu berkata,

"Rasanya saya tidak mengenal kalian. Tapi, kalian pasti lapar. Mari masuk dan makan apa adanya."
"Apakah ada pria di dalam rumah?" tanya mereka.
"Tidak. Mereka belum pulang dari bekerja," jawabnya.
"Kalau begitu, kami tidak bisa masuk," sahut mereka.


Di malam hari, ketika suami dan anak laki-lakinya pulang, ibu itu lalu bercerita tentang apa yang terjadi."Sana, bilang sama mereka saya sudah pulang. Undang mereka untuk makan bersama," kata suaminya.

Ibu itu lalu keluar dan mengundang ketiga kakek itu ke dalam rumahnya.
"Kami tak bisa masuk ke rumah ibu bersama-sama," kata mereka serentak.
"Mengapa?" tanya ibu itu.

Salah satu dari kakek itu menjelaskan.
"Namanya adalah Kekayaan," katanya sambil menunjuk salah satu dari temannya. Sesudah itu, lalu menunjuk ke temannya yang lain, "Dia adalah Sukses, dan saya adalah Cinta. Sekarang diskusikan dengan suami ibu, siapa diantara kami yang akan diundang makan bersama," tambahnya.

Ibu itu lalu masuk ke dalam dan menceritakan hal ini kepada suaminya. Sesudah mendengar itu. suaminya sangat senang dan berkata,
"Bagus sekali!" katanya.
"Kalau begitu, mari kita undang Kekayaan. Ajak dia masuk dan biarkan dia mengisi rumah kita dengan kekayaan."
Ibu tidak setuju.
"Sayangku, mengapa kita tidak mengundang Sukses saja?"


Menantu perempuan yang ikut mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu mertuanya mengajukan usul lain.

"Apakah tidak lebih baik jika kita mengundang Cinta saja? Rumah kita akan dipenuhi dengan cinta!" katanya.
"Benar juga menantu kita. Kalau begitu, kita undang Cinta sebagai tamu kita," kata si suami.


Ibu itu lalu keluar dan bertanya kepada ketiga kakek itu, "Yang mana yang namanya Cinta? Mari masuk dan menjadi tamu kami."

Cinta lalu berdiri dan mulai berjalan mengikuti ibu itu ke rumahnya. Kedua temannya juga berdiri dan berjalan mengikutinya. Melihat itu, si ibu kaget dan berkata, "Saya hanya mengundang Cinta. Mengapa kalian berdua ikut? Katanya hanya salah satu yang boleh masuk?"

Ketiga kakek itu menjawab serentak,
"Jika ibu mengundang Kekayaan, Sukses dan Cinta tak bisa masuk. Jika ibu mengundang Sukses, Kekayaan dan Cinta tak bisa masuk. Tapi karena ibu mengundang Cinta, kemanapun dia pergi, kami selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, di sana juga ada Kekayaan dan Sukses."

Tuesday, December 28, 2010

ADA KEMAUAN ADA JALAN

Al kisah, tersebutlah seorang pria tua yang hidup sendiri di sebuah desa. Suatu hari, ia ingin menanam kentang di kebun dibelakang rtumah tapi tak sanggup menggali tanah sendiri.

Anak satu-satunya yang bisa membantunya sedang di penjarakan. Pria tua itu lalu menulis surat ke anaknya, menceritakan situasinya. Menyatakan kesedihannya tak bisa menanam kentang tahun ini.

“Saya sedih karena ibu mu selalu senang menanam. Saya sudah terlalu tua untuk menggali tanah yang keras. Kalau saja kamu ada di rumah, saya pasti bisa menanamnya. Saya tahu, kamu akan menggali dan membuat petak untuk tanam kentang. Sayangnya, saat ini kamu ada di penjara,” tulisnya.

Beberapa hari kemudian, pria tua itu menerima surat dari anaknya.

“Ayah, jangan gali kebun itu. Saya mengubur senapan di kebun itu,” begitu bunyinya.

Keesokannya, serombongan polisi dan detektif datang ke rumah pria tua itu, lalu menggali seluruh kebun, tapi tidak menemukan senapan.
Pria itu bingung dan kembali menulis surat kepada anaknya, menceritakan apa yang terjadi dan menanyakan apa yang harus dilakukannya selanjutnya.

“Silahkan Ayah tanam kentang di tanah yang telah digali oleh mereka. Ayah, inilah yang terbaik, yang bisa saya lakukan untuk Ayah dari sini,” jawab anaknya.

Dimanapun kita berada di dunia ini, jika kita memutuskan mengerjakan sesuatu dari hati yang terdalam, kita pasti bisa melakukannya. Yang penting adalah kemauan dan mau memikirkan, bukan dimana kita atau dimana seseorang berada.

Friday, December 10, 2010

HIKMAH BUAH WALNUT

Di suatu hari yang panas, Nasruddin mencari angin di bawah pohon walnut. Sambil berbaring, Nsruddin mengamati pohon walnut yang tinggi dengan buahnya yang kecil. Nasruddin heran, mengapa walnut yang sekecil itu tumbuh diatas pohon raksasa, sementara labu yang besar tumbuh pada batang merambat yang rapuh.

“Allah Maha Besar, Allah Maha Tahu,” katanya, “tapi apa bijaksana pohon sebesar ini diciptakan hanya untuk menghasilkan walnut kecil sebagai buah? Pohonnya punya batang yang kokoh dan dahan yang kuat sehinga bisa dengan mudah menanggung labu yang besar, yang tumbuh pada batang kurus dan lemah, yang tidak bisa menanggung berat dari buahnya sendiri. Apakah tidak lebih baik walnut tumbuh pada batang yang lemah dan labu tumbuh pada batang pohon yang kokoh?” tanyanya.

Sesudah berkata begitu di dalam hati, Nasruddin tertidur. Ia terbangun ketika sebuah walnut jatuh dan menimpa dahinya. Melihat apa yang terjadi pada dirinya, Nasruddin langsung memuliakan Allah.

“Allah Maha Tinggi Allah Maha Besar!” Kalau saja dunia ini diciptakan menurut pikiran saya yang sangat picik, kemungkinan labu yang akan jatuh dari pohon dan menimpa kepala saya. Kemungkinan nyawa saya melayang karenanya. Allah Maha Baik! Allah Maha Bijaksana!” katanya.

Sejak itu Nasruddin tidak pernah lagi mempertanyakan kebijaksanaan

Tuesday, October 5, 2010

CINTA SEJATI

Alkisah, suatu hari, sepasang muda-mudi yang sedang menjalin kasih, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Sesudah melaju beberapa saat, si perempuan berkata,

“Kurangi kecepatan. Saya takut!”
Ternyata motor tetap saja melaju cepat. Perempuan itu kembali mengatakan hal yang sama. Kali ini, kekasih prianya menjawab,
“Tenang saja. Ini yang namanya seru.”
“Tolong, kurangi kecepatan. Ini tidak seru tapi menakutkan,” kata si perempuan.
“Kalau begitu, bilang dulu, “I love you” dan saya akan kurangi kecepatan,” kata si pemuda.
“Baiklah. I love you. Ayo, kurangi kecepatan!” ujar si perempuan.
“Sekarang, peluk saya erat-erat,” pinta si pemuda.
Perempuan itu menurut. Sesaat kemudian, si pemuda itu berkata,
“Sekarang, tolong lepaskan helm saya. Coba pakai helmku.”

Keesokkan harinya muncul berita, sebuah sepeda motor menabrak sebuah gedung karena rem rusak. Pengemudi sepeda motor tewas, tapi yang dibonceng selamat.
Ternyata si pemuda sadar, rem rusak ketika sepeda motor melaju cepat. Tapi tak mau mengatakan yang sebenarnya kepada kekasihnya. Karena tahu bahaya yang mengancam, ia lalu minta kekasihnya mengucapkan “I love you”, merasakan pelukan terakhirnya, menyuruhnya memakai helmnya agar selamat dan bisa hidup terus.

Hidup itu misteri. Kita tak pernah tahu, esok apa yang akan terjadi. Mungkin kita tak bisa hidup untuk melihat hari esok. Kadang, kita harus mengatakan sesuatu kepada seseorang, tapi tak punya waktu untuk melakukannya. Jadi, luangkanlah waktu 5 menit untuk mengatakan kepada seseorang yang anda kasihi. Anda mencintainya karena kita tak pernah tahu, kapan hari terakhir hidup kita. Katakan sekarang dan jangan ditunda.

Tuesday, August 24, 2010

KISAH BEBEK YANG MALANG

Di saat libur sekolah Jonny dan Sally ke rumah kakek neneknya. Jonny yang baru pertama kali mendapat ketapel dengan bersemangat menembak apa saja. Tapi tembakannya meleset semua. Saat bermain di kebun belakang rumah, Jonny melihat bebek peliharaan neneknya. Ia sengaja membuat bebek itu terbang, lalu menembak dengan ketapelnya. Di luar dugaan, batu yang ditembakkan dari ketapelnya kali ini tepat sasarannya. Bebek itu jatuh dan mati.

Jonny panik. Bebek itu satu-satunya dan juga kesayanagn neneknya. Jonny bingung dan putus asa. Lalu menyembunyikan bebek itu dalam tumpukan kayu bakar. Ternyata Sally memergoki perbuatan Jonny. Tapi Sally tidak mengadukan Jonny kepada neneknya.
Siang itu, sesudah selesai makan, neneknya berkata,

“Sally, ayo, kita cuci piring.”
“Jonny bilang sama saya, hari ini dia ingin bantu di dapur. Benar kan, Jonny?” kata Sally. Lalu menambahkan dengan berbisik, “Ingat bebek itu.”
Jonny tak berdaya. Lalu membantu neneknya cuci piring di dapur.
Keesokkannya, kakeknya bertanya, apakah Jonny dan Sally mau ikut mincing.
“Saya perlu Sally untuk bantu memasak,” kata nenek.
Sally tersenyum dan berkata,
“Tenang, Nek. Jonny bilang ingin bantu nenek.” Sesudah itu, Sally kembali berbisik kepada Jonny, “Ingat bebek itu.”


Jonny tinggal di rumah membantu neneknya sementara Sally memancing dengan kakeknya.
Selama beberapa hari, Jonny mengerjakan tugasnya sendiri dan tugas Sally. Akhirnya Jonny tak tahan dan mengaku kepada neneknya, ia membunuh bebek kesayangan neneknya secara tak sengaja.

“Nenek tahu, Jonny,” kata neneknya sambil memeluknya.
“Nenek berdiri di jendela dan melihat semua kejadian itu. Nenek memaafkan kamu karena nenek sayang kepadamu. Dalam hati nenek bertanya-tanya, berapa lama kamu akan membiarkan Sally memperbudak kamu.”

Ternyata nenek memaafkan Jonny, bahkan sebelum Jonny minta maaf.

Pada dasarnya kita punya rasa bersalah. Sebelum mengakui kesalahan kita, rasa bersalah itu akan terus mengikuti dan memperbudak kita.

Mengakui kesalahan lalu memperbaikinya, membuat kita lepas dari beban, menjalani hidup ini dengan lebih nyaman, dan meraih kegembiaraan lainnya

Sebagian orang tak bisa bebas dari rasa bersalah dan merasa kebahagiaan hanya milik orang-orang yang lebih pantas dari mereka. Mereka tidak memahami makna kedamaian yang lebih dalam
.
Tuhan Maha Tahu dan Maha Pengasih, Tuhan tahu semua perbuatan kita. Tak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Dan Tuhan mengampuni dosa-dosa kita jika kita bertobat dan menyesalinya.

Thursday, July 1, 2010

CINTA ITU SABAR DAN PENGERTIAN

Alkisah, seorang perempuan yang baru menikah membawa sebuah kotak sepatu ketika pindah ke rumah suaminya di tanah pertanian, di kaki gunung. Kotak sepatu itu diletakkannya di lemari pakaian dan berpesan pada suaminya, agar tidak menyentuh kotak tersebut.

Si suami patuh. Selama 50 tahun, ia tidak pernah menjamah dan membuka kotak sepatu tersebut. Sampai suatu ketika, istrinya yang sakit-sakitan dan tampaknya hati-harinya hampir tiba.

Saat merapikan barang-barang di lemari, si suami menemukan kotak sepatu itu lagi dan mengira isinya penting. Ia lalu buka kotak itu dan menemukan dua taplak meja kecil hasil rajutan istrinya. Di bawahnya tersimpan sejumlah banyak uang tunai.
Ia lalu membawa kotak itu kepada istrinya dan menanyakan renda dan uang tunai tersebut.

“Ibu saya memberi saya kotak itu di hari pernikahan kita. Dia menyuruh saya merajut renda unutk membantu mengatasi rasa frustasi setiap kali saya marah kepadamu,”jelasnya.
Si suami terharu. Selama 50 tahun, istrinya hanya marah dua kali karena hanya ada dua renda.
“Lalu uang tunai itu darti siapa? Tanyanya.
“Oh, itu uang hasil penjualan taplak renda yang selama ini saya buat,”jelasnya.


Pada dasarnya, cara untuk menghindari konflik bukan dengan seni atau kerajinan tangan. Merajut renda memang bisa mengalihkan perhatian dari masalah, tapi tidak mengubah apapun.

Cara mencegah konflik dalam cinta adalah dengan melalui lembah pengertian, seperti kata Marge Piercy, hadiah pertama adalah hidup. Hadiah kedua adalah cinta dan hadiah ketiga adalah pengertian. Cinta membuat kita hidup dan member kita pengertian, yang lalu mendatangkan cinta.

Mungkin kita pernah mendengar bahwa, cinta itu sabar dan baik hati. Jika cinta itu sabar, mungkin itu disebabkan cinta benar-benar pengertian.

Sunday, June 13, 2010

MOTIVASI CINTA

Suatu hari, seorang anak perempuan berumur 12 tahun mengajak adiknya yang cacat mental mencari kado untuk hadiah. Saat memasuki sebuah toko serba ada, si adik secara tak sengaja menabrak tumpukan tinggi kotak berisi sepatu. Akibatnya, sepatu berhamburan kemana-mana. Seorang pegawai segera mendatangi kedua anak itu. Dengan bertolak belakang, si pegawai berkata,

“Pungut semua sepatu itu! Rapikan sekarang juga!”
“Tidak! Saya tidak mau,” teriak anak laki-laki itu.
“Ayo, cepat pungut!” bentak si pegawai.
“Tak mau! Saya tidak mau!” bantah si anak laki-laki sambil teriak.


Anak perempuan itu lalu memunguti sepatu-sepatu itu. Melihat kakaknya bekerja, si adik lalu membantu kakaknya. Dan si pegawai itu ikut membantu. Sesudah itu, ketiganya bekerja memasukkan sepatu-sepatu ke dalam kotaknya sampai rapi seperti semula.

Sebelum berlalu, anak perempuan itu memberi pelajaran berharga kepada si pegawai toko,

“Ibu harus mencintai adik saya dulu, kalau mau minta dia bekerja membantu itu.”

Pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita ini, bahwa kata-kata mungkin juga bermanfaat bagi kita semua, yang bekerja dan hidup bersama orang lain. Jika ingin orang-orang merespon, cobalah mengasihi mereka agar mau bekerja. Semua orang suka madu yang manis. Jika kita memberi orang apa yang mereka inginkan, mereka berkemungkinan besar memberikan apa yang kita minta dari mereka.

Orang-orang termotivasi karena berbagai cara. Rasa takut misalnya, atau rasa bersalah. Tapi dalam hidup sehari-hari terbukti, jenis motivasi yang paling efektif agar orang-orang yang hidup dan bekerja dengan kita mau mengerjakan sesuatu adalah cinta yang diwujudkan dalam tindakan.


Steve Goodier – Situs Life Support System)

Monday, May 24, 2010

SAHABAT SEJATI

Suatu masa dalam Perang Dunia I, seorang serdadu yang berlindung dalam parit perlindungan melihat sahabatnya sejak masa kanak-kanak, roboh tertembak. Peluru terus berdesing dan tembakan berlangsung tak henti-hentinya. Dalam keadaan seperti itu, serdadu tersebut bertanya kepada komandannya, apakah dia boleh ke luar dari parit membawa temannya yang tertembak kembali ke tempat perlindungan mereka.

“Ya, kamu boleh pergi. Tapi saya rasa tak ada gunanya. Sahabatmu kemungkinan sudah meninggal dan kamu mungkin membahayakan nyawamu sendiri,” kata komandannya.

Serdadu itu tidak peduli dan nekad lari ke tempat sahabatnya di tengan desingan peluru. Dia berhasil menjangkau sahabatnya dan menyeretnya ke tempat perlindungan mereka. Komandannya segera memeriksa serdadu yang roboh dan sesaat kemudian, menatap serdadu yang membawa sahabatnya kembali.

“Saya sudah bilang, ini sia-sia. Sahabatmu sudah meninggal dan kamu hampir saja menuju kematian,” katanya.
“Ini tidak sia-sia, Pak,” sahutnya.
“Apa yang kamu maksudkan tidak sia-sia? Sahabatmu sudah meninggal,” kata sang komandan.
“Ya, Pak,” ujar serdadu itu lesu.
“Tapi ini tidak sia-sia karena waktu saya sampai kesana, dia masih hidup dan saya senang dia berkata, “Jim, saya tahu, kamu akan datang.”


Dalam hidup ini, sesuatu itu sia-sia atau tidak, benar-benar tergantung pada cara kita memandangnya. Karena yang perlu kita lakukan adalah kumpulkan seluruh keberanian dan lakukan sesuatu berdasarkan suara hati agar kita tidak menyesal tidak melakukannya di suatu hari nanti.

Ingatlah bahwa.....Teman sejati datang ketika semua pergi.

Thursday, May 13, 2010

KEBAHAGIAAN TERAKHIR

Perbuatan-perbuatan kecil yang kita lakukan, kadang tanpa kita sadari, punya makna besar dan berarti bagi seseorang. Orang-orang seringkali tak ingat apa persisnya yang kita lakukan, tapi akan selalu ingat perasaan yang kita bangkitkan dalam hati mereka.

Di masa muda, Budi yang tak ingin punya bos, bekerja sebagai supir taksi dan memilih shift malam. Tanpa disadarinya, ia juga menjadi tempat keluh kesah para penumpang yang dibawanya. Seringkali, begitu naik ke taksi, duduk di belakang, tanpa dikenali identitasnya, para penumpang bercerita tentang kehidupan mereka. Banyak kisah yang menyenangkan, yang membuatnya tertawa. Tapi banyak juga kisah sedih, yang membuatnya meneteskan airmata.

Suatu malam, Budi menerima panggilan untuk menjemput penumpang di sebuah rumah di kota yang tenang. Ia menduga akan menjemput undangan pesta yang akan pulang, atau seseorang yang bertengkar dengan pasangannya. Atau seorang pekerja shift dini hari di pabrik.

Budi tiba di sebuah rumah kecil di alamat yang disebutkan pada pukul 02.30 dini hari. Rumah dua tingkat tersebut gelap. Tampak hanya satu lampu yang menyala di lantai bawah. Dengan situasi seperti itu, kebanyakan supir taksi akan menekan klakson satu atau dua kali. Tunggu beberapa saat, lalu pergi. Tapi Budi lain. Sudah teramat sering ia melihat orang-orang mampu di negeri ini yang tergantung pada taksi sebagai sarana transportasi.

Seperti biasa, Budi mempelajari situasi di sekelilingnya. Jika terasa aman, ia selalu datang ke pintu rumah. Penumpang ini mungkin seseorang yang perlu bantuannya, begitu pikirnya. Budi lalu berjalan ke pintu dan mengetuknya.
“Tunggu sebentar,” terdengar jawaban seorang nenek dengan suara lemah.

Budi mendengar sesuatu diseret. Sesudah agak lama, pintu dibuka. Seorang perempuan kecil berusia 80-an berdiri di depan Budi. Ia mengenakan rok kembang-kembang kecil, mengenakan topi dengan penutup di depannya, seperti perempuan tua dalam film 40-an. Disampingnya terletak sebuah koper kecil. Rumah kecil itu tampak seakan lama tidak berpenghuni. Semua perabot ditutupi kain. Tak ada jam di dinding, tak ada peralatan di lemari dan di rak. Di sudut ruang terdapat sebuah lemari kayu dengan pintu kaca berisi foto dan piring gelas.

“Bisa tolong bawa koper saya ke taksi?” katanya.

Budi membawa koper ke taksi dan kembali untuk membantu nenek tersebut. Ia menggandena lengan Budi dan berjalan perlahan di sampingnya menuju taksi sambil terus berterima kasih kepada Budi.

“Terima kasih kembali,” kata Budi.
“Saya cuma mencoba membantu penumpang saya seperti saya memperlakukan ibu saya,” tambahnya.
“Oh, Anda anak baik,” katanya.

Sesudah duduk di dalam taksi, perempuan tua itu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat, lalu bertanya,

“Apakah kita bisa lewat kota?”
“Itu buka jalan terpendek,” sahut Budi cepat.
“Tak apa. Saya tidak peduli. Saya tidak buru-buru. Saya sedang menuju panti jompo, “ katanya.

Budi memandangnya dari kaca spion. Mata nenek itu tampak bersinar.

“Saya tak punya keluarga, tak punya siapapun lagi. Kata dokter waktu saya tak lama lagi.”
Mendengar itu, perlahan Budi mematikan meteran argo.
“Ibu ingin melewati jalan apa?” tanyanya.


Dalam 2 jam berikutnya, taksi meluncur keliling kota. Nenek itu menunjukkan bangunan tempat dia bekerja sebagai operator lift. Lalu meluncur ke wilayah tempat dia dan suaminya tinggal ketika baru menikah. Ia lalu menyuruh Budi meluncurkan taksinya ke depan sebuah gudang perabot. Di zaman dulu, tempat itu adalah ballroom tempatnya belajar dansa ketika remaja. Kadang, nenek itu menyuruh Budi memperlambat laju kendaraan di depan bangunan tertentu atau di sudut jalan tertentu, sambil dia memandang ke dalam kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat cahaya sang surya mulai tampak di ufuk langit, nenek itu tiba-tiba berkata,

“Saya lelah. Mari kita pergi sekarang.”

Budi meluncurkan taksi ke tempat alamat yang diberikan dalam keheningan dan lalu tiba di sebuah rumah petirahan. Taksi lalu meluncur ke pekarangan. Dua perawat segera keluar dan mendekati taksi. Keduanya tampak khawatir dan tegang, dan memperhatikan setiap gerak-gerinya. Budi menduga kedua perawat tersebut pasti sudah menunggunya.

Budi membuka bagasi dan membawa koper kecil itu ke depan pintu bangunan. Nenek itu sudah duduk di kursi roda.

“Saya harus bayar berapa?” tanyanya sambil mengambil dompetnya.
“Tak usah bayar,” kata Budi.
“Ini mata pencaharian anda,” katanya
“Saya bisa dapat dari penumpang lain,” sahut Budi.


Budi lalu membungkuk dan memeluknya. Nenek itu memeluknya kuat.

“Anda sudah memberi seorang nenek tua kebahagiaan singkat yang terakhir,” katanya. Terima kasih.”

Budi menekan tangannya, lalu berjalan dalam cahaya pagi yang suram. Ia mendengar bunyi pintu ditutup. Bagi Budi, itu adalah bunyi penutupan hidup.

Sesudah itu Budi tidak menerima penumpang lainnya. Ia meluncurkan taksi tanpa tujuan, sambil terus membayangkan nenek tersebut. Sepanjang hari itu, Budi tidak banyak bicara. Bagaimana jika nenek itu dapat supir taksi yang pemarah? Atau supir yang ingin cepat-cepat pulang karena shift-nya berakhir? Atau supir taksi yang hanya klakson sekali, lalu pergi? Hari itu, dalam renungan singkatnya, Budi merasa belum pernah melakukan apapun yang sepenting itu selama hidupnya.

Seringkali kita merasa, hidup kita harus berputar di sekitar hal-hal hebat. Padahal seringkali kita tidak menyadari hal-hal hebat, yang terbungkus secara indah dalam kemasan yang dianggap remeh oleh orang-orang lain.

“Mulai hari ini, perlakukan semua orang yang kita temui seakan mereka akan meninggal pada tengah malam. Berikan mereka semua perhatian, kebaikan, dan pengertian yang bisa kita kerahkan, dan lakukan tanpa memikirkan imbalan. Hidup kita tak pernah akan sama lagi.” (OG Madino)

Tuesday, April 27, 2010

MENILAI DIRI SENDIRI

Seorang anak laki-laki kecil masuk ke sebuah toko kelontong dan mencoba menggunakan telepon umum yang terpasang di depan toko. Karena tinggi, ia lalu menarik sebuah peti kayu kosong agar bila memencet nomor telepon. Pemilik toko mengawasinya secara diam-dian.

“Ibu, apakah saya bisa bekerja sebagai pemotong rumput di halaman rumah ibu?” Tanya anak itu.
Ibu di seberang sana rupanya menolak.
“Oh, Ibu sudah punya pemotong rumput? Bagaimana kalau Ibu membayar separuh dari upah yang dibayarkan kepada pemotong rumput?” tanyanya lagi.

Sesaat kemudian, anak kecil itu berkata lagi,
“Kalau Ibu sangat puas dengan pekerjaan orang itu, saya juga bisa bekerja dengan cara yang sangat memuaskan. Saya juga bersedia menyapu seluruh pekarangan Ibu sehingga pekarangan itu jadi yang terindah di kota ini, “ bujuk si anak lagi.
Ibu di seberang sana ternyata menolak dan si anak menghentikan pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Dengan senyum di wajah, ia meletakkan gagang teleponnya.

Pemilik toko yang mendengar pembicaraan itu lalu mendekati si anak kecil.
“Nak, saya suka sikapmu. Saya suka dengan semangat positif seperti itu dan ingin menawarkan pekerjaan kepadamu,” katanya.
“Tidak, terima kasih,” kata si anak.
“Bukankah kamu perlu pekerjaan? Tadi saya dengar kamu seperti memohon-mohon untuk mendapatkan pekerjaan itu.”
Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana penilaian atas pekerjaan saya. Saya sudah bekerja dengan ibu itu sebagai pemotong rumput.”

“Inilah yang dimaksud dengan menilai diri sendiri. Sering terjadi, yang berani menilai dirinya sendiri adalah orang-orang yang bersikap baik dan bekerja baik.”

Monday, January 18, 2010

FILOSOFI SUPIR TAKSI

Suatu hari, seorang supir taksi mengantar penumpang ke airport. Taksi meluncur dengan kecepatan normal di jalur yang tepat. Tiba-tiba sebuah mobil sedan keluar dari persimpangan dan hampir menabrak taksi.

Supir taksi dengan sigap menginjak rem. Sedan terhenti hanya beberapa inci dari mobil sedan. Pengemudi sedan menjulurkan kepala dari jendela mobil dan membentak supir taksi dengan suara keras. Supir taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke supir sedan dengan sikap ramah.


“Sedan itu hampir saja menabrak mobil kita. Mungkin bisa membuat kita berada di rumah sakit. Mengapa anda masih ramah kepadanya?” Tanya penumpang.

Di luar dugaan, supir taksi menjawab,

“Banyak orang yang seperti truk sampah. Mereka ke mana-mana dengan penuh sampah, penuh frustasi, penuh kemarahan, dan penuh kekecewaan. Ketika sampah makin menumpuk, mereka perlu tempat untuk menumpahkannya. Kadang, mereka menumpahkannya kepada kita.

“Jadi jangan masukkan ke hati. Senyum saja, lambaikan tangan, doakan yang terbaik, dan jalan. Jangan terima sampahnya dan menyebarkannya kepada orang lain, di tempat kerja, di rumah, atau di jalan-jalan.”

Tanpa aku sadari, ternyata aku termasuk orang yang sangat peduli dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar, lantas aku mengamati dan mengambil pesan moral dari apa yang terjadi, dari apa yang aku lihat, aku baca, dan aku alami.

Termasuk dari cerita ini yang aku kutip dari Tabloid AURA edisi Juli 2009. Cerita ini bukan sekedar cerita, namun sering kita jumpai, mungkin pernah kita alami atau kita lihat, atau bahkan suatu saat, bisa terjadi pada diri kita sendiri.

Pesan moral yang bisa kita ambil adalah :

Bahwa orang sukses tidak membiarkan truk sampah mencemari dan merusak harinya.

Hidup terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan.
Jadi, cintai orang lain yang memberlakukan kita secara baik dan doakan mereka yang memberikan perlakuan buruk kepada kita.

Dalam hidup ini bisa terjadi apa saja.
Yang paling menentukan adalah, bagaimana cara kita menghadapinya dan menyikapinya.


“Benar itu benar, kendatipun semua orang menentangnya. Dan salah itu tetap salah, kendatipun semua orang membelanya.” (William Penn)

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...