Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Showing posts with label Curahan Hatiku. Show all posts
Showing posts with label Curahan Hatiku. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

ALLAH SAJALAH YANG MEMILIHKAN UNTUK KU

“Ada maksud Allah dalam setiap proses. Karenanya setiap hal yang menghampiri mata kepala adalah tasbih yang menjadi pengingat-Nya.”

Aku layak menyebut duniaku kala itu sebagai abu-abu. Dunia tanpa sekat, tanpa batasan. Aku merasa berada dalam kemunduran titik nadir sebuah keimanan. Didorong oleh kondisi diri dan ketika usia mulai merambat naik, lalu tersadar akan kebutuhan seorang teman hidup, aku pun mulai menyadari dan jujur mengakui bahwa jodoh harus dicari. Namun, pencarian melalui biro jodoh dan membina hubungan jarak jauh, bukanlah cita-cita dalam hidupku. Tapi jika kenyataan itu akhirnya menghampiriku dan menjadi bagian dari setapak kehidupan yang harus aku jalani, bagaimana aku kuasa menolaknya?

BERMULA DARI INTERNET

Ini semua tak lepas dari keakrabanku di dunia internet. Teknologi yang menyuguhkan sebuah dunia baru, dunia maya yang terkadang terasa sangat nyata di depan mata. Salah satunya dalam situs perjodohan dan jaringan pertemanan online inilah, aku menemukan sebuah komunitas dunia maya yang nyaman dan menyenangkan. Disini pula aku menemukan sosok laki-laki yang mendekati kriteria calon suami yang aku harapkan. Mas Yusuf, begitu aku memanggilnya waktu itu. Pertama kali mengenalnya, kupastikan bahwa dia bisa menjadi pelabuhan terakhirku. Walau pada awalnya, aku tidak terlalu “ngeh” dengan kehadirannya di dalam situs pencarian jodoh walau dia sering melihat profilku dan mengirimkan salam.

Walau perkenalan kami melalui internet, selanjutnya komunikasi kami lakukan melalui telepon. Saat itu kami berkenalan, saling menjajaki, mengetes dan menimbang-menimbang. Aku terkesan dan menaruh respek kepadanya karena di awal pembicaraan memang sudah serius ke arah pernikahan, jadi bukan sekedar untuk main-main atau sekedar iseng saja. Mas Yusuf adalah sosok yang “unik” karena pemikirannya berbeda dengan kebanyakan laki-laki pada umumnya. Di mataku, dia punya kesan tersendiri karena pola pikirnya yang maju dan perfeksionis sehingga terkesan arogan. Dia sangat menikmati hidupnya dan kariernya bagus sebagai seorang pengusaha. Secara umum aku bisa menyelami pemikiran dan sikapnya dalam memandang hidup melalui pembicaraan panjang lebar. Terkadang muncul banyak perbedaan pandangan antara aku dan dia dalam menilai pasangan hidup. Baginya wajar jika kita harus selektif dan mempunyai kriteria ini dan itu. Sayangnya, kehidupannya hanya untuk bekerja dan bersenang-senang. Anehnya, aku bisa menerimanya, padahal aku tahu bahwa itu adalah kekurangannya yang sebenarnya tidak bisa aku terima seutuhnya.

Mungkin Mas Yusuf dengan mudah bisa menelusuri sejauh mana kehidupanku, kepribadianku melalui tulisan di blogku dan update statusku di jaringan pertemanan online. Aku ibarat buku terbuka, setiap orang yang membacanya akan mudah menangkap sosok bayanganku. Tapi lain dengan Mas Yusuf, bahkan “penampakannya” pun sulit aku lihat langsung.

Butuh waktu kurang lebih 4 bulan, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Namun sebelumnya, tentu saja aku tidak serta merta mengiyakan ajakannya karena aku merasa belum ada keberanian saat itu, apalagi keluargaku pasti tidak akan mengijinkan aku menemui seorang laki-laki seorang diri.

Setelah komunikasi yang terjalin semakin akrab dan hangat, muncul keinginan di hati yang begitu besar untuk segera bertemu. Bahkan, aku langsung saja menerima ajakannya, sesuai dengan tanggal yang sudah ditetapkannya. Padahal aku menyadari bahwa ajakan itu sedikit bernada ancaman, jika aku tidak segera menemuinya, dia tidak akan bersedia menemuiku kapan pun. Aku dilema, apalagi keluargaku, tentu saja tidak bisa melepas kepergiaanku sendiri hanya untuk menemui seorang laki-laki. Akhirnya pertahananku jebol juga, hatiku mengatakan, bahwa kita harus segera bertemu.

KE JAKARTA MENJEMPUT CINTA

Pada September 2010, Bandara Soekarno Hatta menjadi saksi pertemuan pertama kami. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari kotaku, akhirnya aku pun menginjakkan kaki di Jakarta. Mas Yusuf menjemputku,“Duh, seperti apakah wujud nyata calon suamiku?” Jantungku berdebar-debar tak karuan. Hatiku pun masih diliputi kegundahan saat sms kukirim memberitahukan kedatanganku. Setelah antri mengambil bagasi, memastikan tidak ada yang tertinggal dan melewati custom chek, aku langsung menuju pintu keluar. Di luar pintu kedatangan, kulihat sosok laki-laki berkaos putih dan bercelana pendek menghampiriku. Dia segera mengenali kemunculanku dan tampak tersenyum dari kejauhan. Ah, rasa kikuk, malu dan deg-degan yang mendera sedari tadi langsung meleleh. Pelan dan pasti berubah menjadi rasa lega. Alhamdulillah...akhirnya bisa bertemu dengan laki-laki yang beberapa bulan terakhir penasaran ingin aku temui.

Di sepanjang perjalanan, sambil menyetir mobil, kami saling bercerita tentang latar belakang kehidupan, pekerjaan, keinginan, dan harapan ke depan. Sejauh itu komunikasi kami lancar-lancar saja, semuanya nyambung, nyaman dan mengalir. Sehingga kami menemukan kecocokan, lalu berkomitmen untuk melanjutkan pertemuan ini ke tahap yang lebih serius. Hanya dalam hitungan jam, aku bisa langsung jatuh cinta dengan sosok yang baru aku kenal itu, dan aku pun bisa merasakan hal yang sama terjadi pada dirinya. Mas Yusuf punya kesan tersendiri di pikiranku, laki-laki ini sungguh beda dengan kebanyakan laki-laki yang pernah aku kenal. Walau sisi hatiku yang lain mengatakan, mampukah aku mengimbangi “keunikan” pribadinya yang terlihat egois, keras kepala, dan arogan itu? Tapi bagiku, justru karena keunikannya itulah dia bisa meraih apa yang dia impikan selama hidupnya. Kerasnya kehidupan dia di masa lalu, memotivasi dirinya untuk menjadi orang sukses yang dihargai. Mungkin wajar menurutnya jika dia bisa percaya diri dengan apa yang dimilikinya sekarang karena dia bisa memberikan masa depan yang menjanjikan untuk orang yang dicintainya.


HAMPIR SAJA

Kondisi lalu lintas ibukota yang tidak asing lagi tersohor dengan kemacetannya, membuat perjalanan kami terasa lama. Namun, tidak demikian dengan hati kami yang sedang kasmaran saat itu. Perasaan kami mengatakan bahwa, seharusnya kami bisa berlama-lama menikmati perjalanan ini sampai ke rumah.
Rasa rindu yang sekian lama kami pendam, hampir saja menggiringku pada perbuatan nista. Entah apa yang sedang bergejolak di hati Mas Yusuf malam itu, tanpa sepengetahuanku, dia memarkirkan mobilnya di sebuah hotel mewah yang terletak di sudut kota Jakarta. Aku tidak sanggup bertanya. Tampak keletihan di wajahnya sehingga muncul keraguan, antara menolak usulannya untuk tidak beristirahat di hotel, atau mengiyakan tuntutan naluri untuk menghabiskan malam bersamanya, lalu menerima ajakannya untuk beristirahat sejenak? Kondisi ini membuat aku tidak berdaya.

Aku ingat mama....”Kebodohan seorang perempuan manakala dia tidak bisa menjaga kehormatannya.” Itulah sebuah pesan mamaku terutama kepada anak gadisnya saat pertama mendapat haid. Mama begitu wanti-wanti mengingatkan kami anak-anak gadisnya untuk tetap menjaga kehormatan. Aku pun berujar, “Astaghfirullahal’adziim... Ya Allah, aku telah salah menilai dia. Aku tidak bisa menerima cara-cara seperti ini, tapi lidah begitu kelu menyampaikan!” Itulah doa yang aku ucapkan di kalbu sepanjang perjalanan dari tempat parkir hingga masuk ke dalam kamar hotel yang menggugah gairah. Aku yang belum pernah berada di dalam kamar hotel hanya bersama seorang laki-laki dewasa, baru belakangan ini kuketahui, laki-laki yang bersamaku malam itu, ternyata biasa hidup bebas, sudah terbiasa melakukan perbuatan nista dengan kekasih-kekasihnya terdahulu. Hampir saja membuatku terlena dan lupa.

Lalu kekuatan datang padaku, aku pun mampu menolak ajakannya dan dia bisa menerima walau dengan entengnya dia berujar, “Jika kamu terbebani dengan kondisi ini, jangan pernah lagi bermimpi kita akan naik ke pelaminan, karena aku sudah terhina ditolak seperti malam ini!” Semandiri atau semodern apapun, sebagai wanita, aku terhenyak dengan sikapnya. Aku merasa dibuang, diabaikan, dan direndahkan. Rasa sakitlah yang membuat aku terhenyak karena sama sekali tidak menyangka rencana indah yang sedari tadi dirangkai, porak-poranda dalam waktu sekejap. Laki-laki itu sungguh keterlaluan, mengabaikan cinta tulusku hanya karena emosi sesaat yang tidak tersalurkan. Dia seperti cuci tangan dari semua janji-janji dan mimpi-mimpi tentang sebuah pernikahan yang suci yang sudah kami bahas sepanjang perjalanan itu. Aku tidak bisa merasakan apapun, semua seperti mimpi. Bahkan aku pun tidak bisa meneteskan airmata padahal begitu dalamnya kekecewaan yang aku rasakan. Laki-laki yang sudah 4 bulan kukenal dan baru saja kutemui, ternyata laki-laki yang tidak punya hati dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Aku hanya bisa berlindung di balik sebuah kata permakluman....”Untung dia tidak berhasil merenggut milikku yang paling berharga!” Meski agak malu mengakui tapi selalu bersyukur karena Allah jua lah yang akhirnya menyelamatkanku.

TAMPARAN DARI SANG RABB

Yah, manusia boleh berencana, tapi Allah jua yang menentukan. Tiba-tiba aku seperti terbangun dari tidur panjang, lebih tepatnya tersentil keras. Kebodohan terus memayungi langkahku walau tidak sempat terjadi hal buruk pada diriku. Pengalaman-pengalaman buruk masa lalu, masih tergambar jelas di batok kepala. Seperti rekaman sebuah slide show yang diputar perlahan-lahan. Menyegarkan rasa takut dan sakit hati yang menggelegak bersemayam di dalam jiwaku. Aku mengadu sepuasnya pada-Nya. Aku berlinangan air mata saat bersimpuh pasrah di hadapan-Nya. Aku juga memohon ampun atas segala khilafku dan khilafnya. Aku tahu, Allah Maha Pengampun. Masya Allah, aku telah salah jika hanya mengharapkan kebahagian ragawi dan duniawi semata dari seorang manusia. Aku pun menyadari, justru perpisahan dengan laki-laki seperti Mas Yusuf itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Astaghfirullahal’adziim.... ini yang kesekian kalinya aku alami. Aku gagal lagi menilai seorang laki-laki yang bakal menjadi pasangan hidupku. Aku juga gagal memberikan kado terindah buat mama akan seorang calon mantu yang baik, beriman, sayang kepadaku dan juga keluargaku. Betapa besar harapan mama, agar aku segera menemukan calon pendamping dan secepatnya menikah. Agar mama sempat merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan. Hidup bahagia bersama suami yang mencintaiku dan kucintai, lalu membina rumah tangga yang diidam-idamkan semua orang, yaitu rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Amin!

Allah telah menegurku bahwa laki-laki itu bukanlah calon suami yang dikirimkan Allah untukku. Kuminta dengan sangat terperinci calon suami yang aku harapkan. Dan aku juga meminta agar Allah mengisi hatiku dengan keyakinan yang mantap ketika pria itu datang. Agar aku tahu dan yakin bahwa dialah jodoh yang Allah kirimkan untukku. Mungkin aku tidak pintar memilih, maka biar Allah sajalah yang memilihkan untukku. Bahwa cinta yang datang karena Allah. Bukan nafsu! Dan jodoh yang Allah kirimkan sudah pasti yang terbaik untukku.

Namun aku selalu belajar dari pengalaman. Benar, pengalaman adalah guru terbaik. Bahwa segala sesuatu di dalam hidup terjadi karena alasan tertentu, bukan karena kebetulan atau akibat nasib baik atau nasib buruk. Dan hidup di dunia akan selalu ditempa oleh kesulitan, kekayaan, kehilangan sesuatu yang berarti, kebodohan, penderitaan, kekayaan, dan keterpurukan, silih berganti. Dan manusia diuji dengan semua itu. Fainna ma’al ‘usri yusraa....Setelah kesulitan akan ada kemudahan.

Tamparan Allah yang disampaikan dengan cara yang santun itu membuatku tersadar. Aku tercenung.... teringat akan sebuah kalimat bijak yang mengatakan, ”Hati-hati, jangan mencintai manusia secara berlebihan. Cinta yang utama hanya kepada Allah SWT. Cinta kepada manusia tidak boleh melebihi cinta kepada Allah SWT.” Sabar dan tawakal kepada-Nya sajalah penghiburku. Bukankah jika Allah menghendaki seseorang baik, maka Allah akan memberinya ujian?

Thursday, January 13, 2011

HIKMAH YANG KUPETIK!

Ternyata pengalaman waktu tidak akan pernah bisa ditahan. Begitu juga saat alam mengubah apa yang ada dalam diri manusia. Tuhan bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki, kita hanya debu yang bisa terhembus kapanpun.

Beberapa hari ini aku mala meng-update blog ku ini. Lagi-lagi aku hanya bisa berlindung di balik kata-kata permakluman...."Lagi sibuk, lagi malas, dan lagi tidak mood!" Tiga kata yang ternyata akhirnya menimbulkan kesan ketidak konsekwensian ku akan sebuah mimpi menjadi seorang penulis sejati. Tapi apa mau dikata jika ternyata cita-cita tersebut akan terwujud jika salah satu bahkan tidak ada sama sekali tiga kata itu melekat di hari-hari ku. Iya seharusnya, jangan ada kata malas, tidak mood, atau karena kesibukan. Sesibuk apapun, kejadian apapun yang disebabkan karena lagi malas, lagi sibuk, atau karena lagi tidak mood, justru bisa menjadi sebuah cerita. Dan aku harus profesional dan total!

Banyak yang terjadi pada diriku beberapa bulan ke belakang. Kejadian-kejadian berlalu tanpa mampu aku uraikan tapi seperti selalu aku komitkan ke dalam diriku, bahwa aku selalu koreksi diri mencoba mengetahui apa yang salah pada diriku ketimbang harus menyalahkan orang lain, apalagi harus menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain atas buruknya kehidupan, adalah reaksi alamiah orang yang malas memperbaiki kehidupannya sendiri. Aku pikir, kejadian-kejadian menyedihkan yang aku alami tahun kemaren adalah akhir dari segalanya, tapi ternyata justru awal dari proses kehidupanku selanjutnya.

Aku yakin, tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang bisa berubah. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Bijaksana rasanya jika mau belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu. Dan bodoh namanya, jika tidak mau merubah diri dan jatuh ke dalam kubangan yang sama.

Aku memandang hidup sebagai pilihan. Kemanapun kita berjalan dan pergi selalu dihadapkan dengan pilihan. Pilihan antara yang yang baik dan buruk. Pilihan yang terkadang tidak mudah mudah diputuskan. Setiap pilihan pasti punya konsekwensi sendiri. Setiap pilihan harus diperjuangkan, harus pintar-pintar dan hati-hati memilihnya. Jangan sampai salah dan keliru menentukan pilihan. Dan yang paling penting harus bisa mengelola pilihan dengan baik. Intinya, ambil hal-hal positif atau baik dari pilihan yang buruk, yang jelek atau jahat kita buang.

Manusia tidak boleh dinilai dari penampilan luar, tapi dari dalam dan hatinya. Yang terlihat baik dari luar, belum tentu baik dalamnya. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan, mungkin ada kepura-puraan.Tidak baik menilai orang lain. Kita pikir seseorang hodupnya "ngasal" ternyata hatinya tulus. Kita pikir seseorang taat dan hebat dalam bertutur kata, ternyata hatinya picik. Kita tidak akan pernah tau, yang terlihat baik di luar, belum tentu baik dalamnya. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan, mungkin ada kepura-puraan.

Aku yakin semua ciptaan Allah itu baik dan bermanfaat, jadi jangan melihat fisiknya. Jangan punya kriteria ini dan itu. Yang terpenting adalah bisa mengerti dan menerima apa adanya. Terimalah apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Aku justru melihat sisi positif dari kegagalanku kemaren. Terutama dalam percintaan. Kesannya perempuan itu lemah terhadap cinta, tidak berdaya. Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin menjadi wanita yang tegar dan kuat terhadap cinta. Tidak cengeng begitu ditinggal kekasihnya dan tidak mengemis cinta. Dan aku menyadari, hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. Memang tidak mudah memahami dan mengenali pasangan secara utuh. Terkadang muncul ego masing-masing dalam menyikapi masalah. Muncul konflik baru. Perlu berbagi kesabaran untuk saling mengerti dan saling memahami.

Aku percaya pada proses. Proses yang baik akan menghasilkan hal yang baik juga. Dan proses itu butuh kesabaran dan waktu. Karena cepat atau lambat itu masalah takdir dan rejeki. Allah yang menentukan bukan manusia. Sebesar apapun usaha kita, jika belum waktunya, Allah belum memberi restu, pasti tidak akan terwujud. Karena segala seuatu pasti ada saat dan waktunya.

Harus selalu bersyukur sama Allah. Harus bersyukur dengan segala pemberian Allah. Ketika turun, pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Sejauh mana perjuangan hidup kita, bisa bangkit kembali. Jangan terus-menerus di bawah.

Segala sesuatu di dalam hidup terjadi karena alasan tertentu, bukan karena kebetulan atau akibat nasib baik atau nasib buruk. Penyakit, cedera, cinta, kehilangan sesuatu yang berarti, dan kebodohan, semuanya terjadi untuk menguji kesabaran kita. Tanpa ujian-ujian kecil ini, hidup akan terasa datar, lurus dan tak ada tujuan.

Jika seseorang menyakiti kita, mengkhianati, atau membuat kita patah hati, maafkan mereka. Mereka membantu kita belajar tentang kepercayaan dan pentingnya sikap berhati-hati, kepada siapa kita membuka hati. Sebaliknya, jika seseorang mencintai kita, cintai balik secara tidak bersyarat, bukan hanya karena mereka mencintai kita, tapi karena mereka mengajari kita untuk mencintai dan membuka hati dan mata kita untuk hal-hal yang tak pernah akan kita lihat atau rasakan tanpa mereka.

Aku berubah? Sesungguhnya yang terjadi sebelum ini adalah, justru aku berubah menjadi orang yang "kerdil", tidak berdaya karena kebodohanku sendiri, dan menentang kehendak Allah. Aku menyadari aku telah "bodoh". Tapi sesungguhnya pula aku bukan orang bodoh yang mau berlama-lama larut dalam kesengsaraan hati. Aku selalu berprinsip begini...

"Serahkanlah hatimu kepada kebaikan, karena hanya dengannya hatimu menjadi bening. Dan ketahuilah bahwa kebeningan hatimu menentukan kemampuanmu untuk melihat yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang hatinya suram."

"Aku ingin membuat setiap hari bermakna. Hargai setiap saat dan nikmati segala sesuatu yang kita raih atau alami. Kemungkinan kita tak pernah bisa mengalaminya lagi."


Aku boleh saja bangga, aku tetap saja manusia biasa yang terkadang masih sering lupa. Alhamdulillah....Aku selalu mengambil hikmah positif dari setiap peristiwa dan kejadian yang aku alami. Dan selalu berharap yang terbaik selalu menghampiri hidupku!

Tuhan tidak akan menaruh kita dalam keadaan yang kesulitannya lebih besar daripada kemampuan kita untuk mengatasinya.
Kita tidak akan pernah mengenali kekuatan kita, sampai kita menemui kesulitan. Dan aku tidak pernah menyalahkan Allah untuk sesuatu yang bisa diperbaiki."

Monday, February 15, 2010

BILANG I LOVE YOU, SULIT ATAU PELIT?

Mungkin benar kata orang, contohlah orang bule, kebanyakan mereka sangat romantis. Kata I Love You….menjadi makanan pokok setiap hari. Kebiasaan pasangan, akrab dengan ungkapan ini ketika berpacaran. Begitu serumah, lambat laun memudar dan tak istimewa lagi. Keretakan bahkan kehancuran rumah tangga, konon terjadi karena sulit atau pelit mengutarakan kata sakti ini.

“Aku sebal, Mas Bas orangnya nggak romantis lagi. Serba to the point, bahkan bicaranya tidak semesra dan selembut dulu!” Keluh kesah Corry, seorang istri kepada Bas, suaminya. Pasangan Bastian dan Corry sudah menikah sepuluh tahun, dikaruniai tiga anak, dua putra dan satu putri. Protes ini terlontar, sebab dulu ketika pacaran, suaminya sangat romantis dan mesra. Selalu mengucapkan kata Aku Cinta Padamu atau kata-kata sayang melalui telepon atau setiap apel malam minggu. Lalu, kebiasaan ini mulai luntur, ketika Corry sudah menjadi istri.

Mungkin dulu karena sedang dalam taraf berburu cinta, sehingga seorang pria berani berkoraban sampai tetes darah terakhir. Masa uji coba memang membuat seseorang menjadi acktor bagaimana berakting untuk mendapatkan sang piala. Dengan taburan aurora dewi cinta, maka semuanya terbuntal indah tanpa cacat cela, tidak terkecuali baik sang wanita maupun sang pria.

Contohnya, sewaktu hujan turun, payung tertinggal di mobil. Bagai pasukan koalisi dihujani rudal, sang pria berlari mengambilnya. “Sayang, ini payungnya supaya kamu jangan sampai sakit.” Meski basah kuyup, kepahlawanannya tentu menjadi kebanggaan. Tapi kini, “Gimana sih, sudah tahu mau hujan, bukannya payung dibawa?!.” Kata-kata ini begitu licin meluncur dari mulut sang pria.

Atau, contoh lain yang sering dibincangkan orang. Saat sang kekasih terbentur sesuatu hingga terjatuh, sang pria berkata, “Sayang, sakit ya? Lain kali hati-hati ya? Kakinya tidak apa-apa kan?”.Tapi setelah menjadi istri, “Makanya hati-hati, matanya dipakai!”.

Yach, begitulah! Kita mungkin semua sepakat, bahwa makhluk bernama cinta memang memiliki kekuatan luar biasa. Sosoknya tak pernah tertangkap oleh pandangan mata, akan tetapi akibat yang ditimbulkan teramat dahsyat. Sebab cinta, orang dapat berbuat apa saja. Perjalanan jauh dan sukar tak akan terasa apa-apa jika dibarengi cinta. Peperangan seberat apapun jika dipersenjatai dengan cinta, bahkan siksaaan sekejam apapun rasanya bagai cubitan halus saja bila di hati ada cinta. Termasuk kata Aku Cinta Padamu, itu adalah ungkapan dari rasa cinta.

Lantas, apa yang harus silakukan jika saat mengarungi bahtera perkawinan, justru kehabisan cinta?

Menurutku, perkawinan bukan hanya sekedar bertemunya seorang pria dan wanita kemudian hamil dan megurus anak. Tetapi, ada suatu ikatan emosional yang amat kental. Masing-masing pasangan memiliki latar belakang pikiran, cita-cita, harapan-harapan, dan kepribadian yang khas dan beda. Dua orang yang telah mengikatkan diri dalam perkawinan seyogyanya mencoba memahami dan mengerti kebutuhan dan perasaan pasangannya. Bukankah perkawinan bisa terjadi karena atas dasar cinta? Bila kita hanya mengandalkan kelebihan fisik dan materi yang ada dalam diri kita, maka cinta akan mudah terkikis. Takkan bertahan lama, apalagi bila faktor-faktor penyebab cinta sudah menipis. Kebeliaan berganti tua, kecantikan akan memudar. Cinta benar-benar akan sirna.

Ungkapan cinta dari istri atau suami bukan hanya kata-kata. “Mas, aku sangat menyayangimu” atau Dik, I Love You.” Akan tetapi semua kata-kata, raut muka, gerak-gerik, intonasi kalimat, termasuk penampikan mengandung kasih sayang dan kelembutan., dan semuanya adalah bagian dari komunikasi cinta.

Aku tidak perlu menunggu mengalami kejadian tertentu untuk bisa menyimpulkan suatu masalah yang terjadi. Dari pengalaman rumah tangga orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-temanku, sahabatku, dan orang-orang disekitarku, aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Bahkan aku sering mendengar keluhan para istri yang menggambarkan kurang ikhlasnya menerima keadaan karakter atau sifat suami. Salah satunya tentang suami mereka yang jarang dan bahkan tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta yang romantis penuh kelembutan.

Padahal kuncinya adalah bila kita merindukan kata-kata cinta dan romantis dari suami, mestinya para istrilah yang mengajarkan bagaimana cara mengucapkannya dengan penuh cinta, romantis dan penuh kelembutan tanpa ada kesan menggurui.

Namun apabila segala jerih payah mengajarkan kata-kata cinta, romantis dan kelemahlembutan belum berhasil, sadarilah sepenuhnya, hal urgen yang terpenting untuk menjaga kehangatan dalam mengekspresikan cinta adalah dengan komunikasi yang sehat dan lancar. Teruslah berusaha, tanamlan kesadaran dan menerima apa adanya, agar apapun yang suami dan istri lakukan dapat bernilai ibadah.

Sungguh, cinta adalah memberi dan bukan menuntut, menerima dengan tulus apa yang diberikan oleh pasangan kita apa adanya. Maka, janganlah menghitung-hitung kebaikan diri kita sendiri sambil disaat bersamaan menuntut imbalan sejenis dari pasangan. Bila cinta diartikan memberi, maka kita akan selalu dapat mencintai. Kita tidak pernah menuntut atau mengharapkan dia melakukan sesuatu untuk kita, melainkan selalu berpikir apa yang bisa kita berikan untuknya. Termasuk dalam mengungkapkan kata I Love You, jadi biarkan kata “Aku cinta Padamu” muncul tanpa paksaan.

Cintaku……..

Cinta merupakan sesuatu yang dahsyat, ia adalah anugrah Allah SWT. Akan tetapi, cinta datang bukan pemberian Ilahi yang bisa diterima utuh dan siap pakai......
Cinta perlu disemai, dipupuk dan dirawat agar tumbuh dan kokoh saat beragam kehidupan yang datang menderu kencang.........
Karenanya, janganlah berubah......
cintailah aku sepenuh hati, menerima apa adanya dengan penuh kasih sayang, memandang kekurangan dan kelebihanlu dengan rasa syukur, maka cinta itu takkan ada habis-habisnya......
Cinta akan selalu tumbuh kembang, bersemi, dan terawat baik.

Cintaku……

Semoga aku bisa menjadi yang terbaik yang kau mau, yang dapat menjadi pelabuhan curhat bagimu, yang selalu berusaha menyenangkan hatimu, dan berusaha memberi yang terbaik untukmu. Jangan engkau pelit dengan kekaguman dan pujian, bahwa ungkapan yang kau praktekkan, akan menjadi bagian dari bahasa keseharian dan kebutuhan kita secara perlahan, dan ditujukan hanya kepadaku…….

Cintaku………

I Love You…….

Wednesday, October 28, 2009

MASSAGE KEHIDUPAN

Hari itu aku bersama sahabat-sahabatku memutuskan untuk "hang out" di sebuah cafe, seharian hanya untuk mengobrol dan membiarkan hari hilang percuma.

Aku ingat celetukkan seorang teman, “Dulu aku tidak pernah mengerti arah hidupku ini, hari-hari lewat tanpa ada tujuan atau target. Tapi setelah bapakku meninggal mendadak, aku seakan tersadar.” Dan memang, temanku itu yang aku kenal dulu urakan dan semaunya, kini terlihat lebih tenang dan religius.

Terjadi banyak jeda dalam obrolan kami. Larut dalam perenungan dan pikiran masing-masing. Dari kaca jendela raksasa café, diluar tampak orang-orang sudah mulai menampakkan diri berjalan hilir mudik di sepanjang trotoar jalan. Mobil-mobil bersiap memasuki area parkir.

Terbungkus hangat dalam sofa empuk, aku biarkan dua slize PIZZA dengan taburan tuna dan paprika itu tergolek sia-sia di atas meja. Entah kenapa hari itu kami mendadak menjadi lebih kalem. Biasanya setiap kali bertemu, canda tawa mendominasi, seakan dunia hanya milik kami, “yang lain numpang!!". Jadi harap tahu diri untuk tidak ikut membuat gaduh!” Hang out yang belum tentu sebulan sekali itu dimaksudkan utnuk tetap menjalin persahabatan meski kami dipisahkan pekerjaaan yang berbeda-beda. Berbagi cerita, berbagi kegembiraan dan kesedihan. Sebelumnya aku yang paling getol punya inisiatif untuk mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama, saat itu tidak aku lakukan. Aku merasa malas, aku lebih tertarik dengan topik pembicaraan kami saat itu.

Entah darimana pembicaraan ini bermula, topik yang kami bicarakan adalah tentang “kehidupan”. Yang aku ingat, berawal saat aku katakan, suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku lebih memilih melewatkan waktu dengan membaca sebuah novel percintaan. Dengan harapan, setelah mataku lelah melototi tulisan-tulisan yang ada di novel tersebut, mataku dapat terpejam secara alami. Kupromosikan bahwa cerita dalam novel tersebut, sangat bagus. Ada dialog di buku itu yang membekas di pikiranku. Intinya adalah alangkah indahnya bila setiap hari, saat kita bangun di pagi hari selalu diiringi kesadaran penuh untuk apa kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Menarik nafas berarti kita hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa tarik nafas dan membuang nafas yang selalu dilakukan berulang-ulang? Dalam novel itu, si ‘aktor’ menyatakan kepada kekasihnya, yaitu orang yang ia cintai, “Untuk selalu bersamamu…..karena setiap hari aku mengejar cintamu.” Artinya, dalam setiap tarikan nafas mesti punya tujuan. Buzzz !!


Persoalannya adalah, apakah kita menyadari pentingnya kesadaran akan tujuan hidup tersebut? Kita sudah terbiasa dengan aktifitas robot. Melaksanakan sesuatu secara spontan dan menganggap sudah sewajarnya, sehingga tanpa perlu berpikir dan tanpa sadar sepenuhnya. Padahal kesadaran adalah kunci menikmati hidup. Sementara kita seringkali baru sadar setelah sebuah masalah timbul. Baru tersentil setelah menerima paket sebuah cobaan.

Seru sekali obrolan kami saat itu. Akupun digayuti kebahagiaan mempunyai sahabat yang bisa dibawa kedalam kondisi bukan cuma suka tapi juga duka, bisa sharing dan berempati. Topik pembicaraan kami pun tak terlepas dari problema kami yang sama yaitu bagaimana sulitnya “ being a single”.

Celetukkan temenku satunya tidak kalah seru, “Di pesta saudaraku kemaren, aku banyak bertemu keluargaku yang datang dari luar kota. Aku sebel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, like this; “why aren’t you getting married yet?, bla….bla…bla…
Kami semua memahami perasaan temanku itu disaat dia bercerita bahwa sulitnya berada di posisi orang seperti kita-kita ini. Sedangkan, "aku...baik-baik saja." (seperti lagunya Ratu yang dinyayikan Pinkan Mambo :)

Hey…, We could better not to say anything than answering some question like that! They must know, we lived in civillized world where some cases where “Taboo” to spoken. Aku tidak sendiri, kami tidak sendiri. Jadi, kami bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah, atau apapun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani ini.

“Waktu aku gagal dilamar si Roy dulu karena orang tuaku tidak setuju, aku down banget. Tapi kalo aku jadi menikah sama dia, barangkali, saat ini aku sudah jadi janda karena aku dengar si Roy menikah siri sama sekretarisnya. Dan aku mungkin tidak bisa sesukses ini kalau aku cepat menikah, aku bisa bantu ekonomi keluargaku dan merawat ibuku”. Begitulah kata temanku tentang pengalaman hidupnya.

Selalu ada massage dalam setiap peristiwa. Biasanya baru sampai ke jagat kesadaran setelah beberapa waktu berlalu. Yeach, kita bisa merasakan pudding caramel ini manis, setelah mengenal rasa pahit. Kurang lebih maksudnya adalah bahwa orang akan mengatakan hidup itu indah setelah pernah merasakan apa itu penderitaan.

Memahami massage dalam setiap kejadian itu, memang tidak mudah dicerna. Butuh waktu dan kesadaran yang diiringi dengan keikhlasan. Saat kita ikhlas, hati menjadi lapang, dan kelapangan hati adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jernih.

Jarum jam selalu menjadi penanda perpisahan. Saatnya pun kami harus meninggalkan café dengan berjuta hikmah yang kami dapat hari itu. Semoga kami bisa merealisasikan hikmah itu, bukan sekedar bualan dan kata-kata.

Thousands of words played in my hand. “My Lord, next time, I could make a very big step in my life.”

“Memang jalan hidup yang harus dilalui dalam menapaki hidup tidak selalu mulus. Kadang kita harus melalui beberapa bukit dan tikungan terlebih dahulu sebelum menemukan tempat datar yang indah. Menemukan kerikil-kerikil kecil yang sepintas tidak berguna, namun ialah sesungguhnya yang membantu pengerasan jalan.”

Sunday, August 30, 2009

LAGI BETE NICH !

Beberapa hari ke belakang aku gak mood untuk menyelesaikan tugas-tugasku, termasuk menyelesaikan bahasan yang akan aku posting kedalam blog ku ini. Begitu juga cerpen yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Padahal sudah bertumpuk ide dan konsep-konsep yang ada difikiranku, konsep-konsep dan ide-ide itu serasa menari-nari diotakku namun belum mampu aku tuangkan kedalam bentuk tulisan. Hingga akhirnya aku hanya bisa berkomentar untuk sebuah permakluman....

"Lagi beteh nich! Ada apa dengan moodku...kadang semangat, kadang lesu!".

Kalimat itu juga yang akhirnya aku tuangkan didalam "status" di Facebook ku pada suatu saat dimana aku lagi bete, saat mood lagi down.
Meski agak malu mengakui, aku sering merasakannya. Dan berharap mendapatkan "keringanan" dan menjadi obat dikala mendapat banyak tanggapan dan komentar dari teman-teman atas apa yang sudah aku curahkan. Setidak-tidaknya, mereka ikut merasakan apa yang aku rasakan. Aku pun berkomentar balik, bahwa "I am just a human being". Punya mood yang notabene tetanggaan dekat dengan urusan hati dan perasaan. Walau aku sendiri gak mengerti, apa yang sedang terjadi pada diriku atau apa yang menyebabkan diriku sering mengalami up and down dalam menjalani hidup ini. Atau bisa jadi karena "siklus para wanita" yang terjadi tiap bulannya? Entahlah!

Bagai sebuah ponsel, kadang batereinya kuat, kadang lowbat. Bagitu juga dengan mood (suasana hati). Kadang dalam kondisi up saat merasa bahagia, dan kadang down kala hati gundah. Saat bahagia, mendadak pagi terasa cerah, siang lebih bergairah, sore begitu indah, dan malam seakan menyajikan harmonisasi orkestra musik pengantar tidur (meski itu suara jangkrik dan kodok).

Di lain hari, saat hati down, yaitu ketika beban kerja bertambah, masalah satu demi satu menampakkan wajah, kebahagiaan menjadi melumer. Jadilah saat bangun tidur, tubuh terasa pegal dan lesu. Siang berjalan lambat dan membosankan. Puncaknya, malam seperti "nightmare", berisi "slide" mimpi-mimpi seram.

Adakah kaitannya dengan perasaan bahagia? Dan bukankah perasaan bahagia dan kesedihan hanya dibatasi oleh seutas benang tipis? Kembali ke diri masing-masing, bahwa kebahagiaan ada di dalam hati kita. Mood atau suasana hati gak pernah bisa kita prediksi, kapan si moody akan datang dan kapan pula dia akan pergi.

Dibalik persoalan itu, tiap orang pasti mengalaminya juga. Aku tidak menjadikannya permasalahan yang besar dan mengikutinya aja. Selagi tidak parah-parah banget, gak masalah toch! Bak air yang mengalir.
Dan pada akhirnya, akupun harus menyadari bahwa hidup di dunia ini akan selalu ditempa oleh kesakitan, kebahagiaan, penderitaan, kesenangan dan keterpurukan, silih berganti.
Bukankah manusia memang diuji dengan semua itu???

Saturday, July 25, 2009

BERANI AMBIL RESIKO VS KEBURU KIAMAT

"To win without risk is to triumph without glory"

Kata orang nich, hidup tanpa mengambil resiko gak seru. Kenapa kata orang, selingkuh menyenangkan, first kiss rasanya melayang dan olah raga ekstrim sangat digemari? Artinya semua hal yang pertama kali dilakukan rasanya mengasikkan. Alasannya, semua beresiko besar. Mengambil resiko memang butuh keberanian dan gak semua orang bisa. Padahal nich, John F Kennedy aja pernah bilang "kalau berani melangkah, meski beresiko, jauh lebih aman daripada gak melangkah sama sekali". Aku sich setuju-setuju aja kalau ada juga yang bilang bahwa " hidup lebih berarti kalau kita ambil resiko". Tapi apa aku bisa ya?

Aku itu orang biasa-biasa aja. Gak terlalu ngotot untuk meraih sesuatu. Bukannya takut sich, soalnya selalu mikir kalo gak kesampaian, bakal kecewakan? So, nothing to lose aja dalam hal apa pun. itulah seringkali orang 'menyayangkan aku" dan membuat mereka penasaran, akhirnya membuat kesimpulan sendiri dengan pertanyaan-2 mereka.

"Hayo, kapan lagi, keburu kiamat lho...!!??!!

Terkadang aku sebel lho kalo ada orang bicara seperti itu. "Memang manusia tau kapan kiamat akan datang?" Mungkin terdengar bercanda atau sekedar basa-basi, tapi kalimat itu bukan untuk pertanyaan yang mengarah "kapan akan menikah", misalnya, gak segampang seperti membalikkan telapak tangan dech. Lantas, akankah persoalan terselesaikan jika uang dan calon sudah ada?

Namun, jika pertanyaan itu mengacu antara lain kepada hal-hal seperti ini, kapan lagi bikin usaha sendiri, kapan potong rambut, kapan kuliah lagi atau kapan lagi beramal, tentu jawabannya sesuatu yang sangat kita inginkan tapi belum berani dilakukan. Realisasinya mudah dan dapat segera dilakukan seandainya ada uang dan kesempatan. Memang gak salah klo kita harus berani ambil resiko. "Jangan kebanyakan mikir, kerjakan saja apa yang kita mau dan bisa kita lakukan sekarang. Bayangin besok memang beneran kiamat". Ya gak masalah!.

Segala sesuatu yang menyangkut urusan pribadi, aku selalu mengambil positifnya aja. Gak mau terbawa arus selama prinsipku benar. "I don't care what they say!"
Setiap manusia punya takdirnya masing-2. Ada yang jalan hidupnya "lurus-lurus" aja dan ada yang hidupnya penuh resiko tapi akhirnya "fine-fine" aja atau "rusak" selamanya.

Terkadang aku berpikir, untuk mengambil keputusan yang resikonya besar, apa perlu bertanya dengan orang yang pernah mengalami hal-hal yang "ekstrim" dalam hidupnya demi tujuan pribadi, sekalipun resiko yang diambil berakibat buruk bahkan merusak citra diri mereka, misalnya begini nich :
- Seorang perempuan yang berkeinginan menjadi orang kaya lalu mencari suami kaya raya. Walau dia gak cinta dan suami gak ganteng, atau bahkan rela menjadi istri kedua yang penting kaya?
- Ingin menjadi PNS, tapi dengan cara "sogokan sejumlah uang" atau karena "surat sakti" orang penting tapi gak punya kemampuan apa-apa?
- Lalu, terpaksa menikah/cepat menikah, karena MBA atau ada istilah "cinta ditolak, dukun bertindak"?

Nah lho! Kalo udah begini, pasti gak setuju dong? Bukankah perbuatan itu sudah merupakan "tanda-tanda adanya kiamat kecil"? Buat apa, demi mendapatkan kebahagiaan duniawi dengan jalan yang gak terpuji, lalu merasa terhormat dihadapan sesama manusia sudah merasa bangga. "Toch, bukankah lebih baik mulia dihadapan Allah?!"

Kembali ke diri masing-masing dech. Seperti kata pepatah "pengalaman adalah guru yang paling berharga". Ada benarnya. Seharusnya pengalaman-pengalaman orang-orang di sekitarku, aku jadikan pengalaman dan aku jadikan alasan untuk mengurangi rasa takut gagal/takut kalah. Kenapa gak mau menanggung resiko gagal, jika pengalaman itu membuat aku lebih berani di masa depan.

Buat aku yang terpenting adalah aku gak akan ambil resiko yang akan merugikan diriku sendiri, mengecewakan keluargaku terutama kedua orang tuaku, juga orang lain. Aku nyaman dengan kehidupanku saat ini serta selalu berusaha melakukan perbuatan yang "mulia" dihadapan Allah SWT. Terserah dech orang mau ngomomg apa bahkan sampai bawa-bawa kiamat segala...heheeee.

Walau gak bisa dipungkiri, bahwa setiap keputusan dan perbuatan pasti ada resiko, asal kita bisa pitar-pintar menyikapinya.
Okey? Remember, life must go on.

Thursday, April 23, 2009

"Sebecak 'aja berat, apalagi 'Stroke'...!!!"

Beberapa hari ini aku gak enak badan, batuk dan flu, ditunjang oleh faktor kecapekan juga. Sehabis senam yang merupakan hobby terdahsyatku, aku diajak makan-makam bersama teman-teman. Berhubung aku lagi diet, maka aku memutuskan gak makan apa-apa, keculi minum air "es jeruk nipis panas"(begitu temen2ku bilang, begitu aku selalu salah mengucapkan untuk memesan minuman air "jeruk nipis panas").
Eh...bukan kesegaran yang aku dapatkan, tenggorokanku jadi gatal, aku batuk! Mungkin juga karena gulanya pakai pemanis dan kondisi tubuhku lagi tidak fit, akhirnya aku demam dan meriang malam harinya.

Akhirnya, aku putuskan untuk berobat tapi bukan ke dokter tapi ke tempat terapi "Ceragem" yaitu pengobatan terapi panas melalui batu giok. Karena aku pikir, penyakitku gak parah2 amat "sakit kampung" aja istilah orang. Selain itu karena pada dasarnya aku termasuk orang yang sangat anti tubuhku dimasuki oleh obat2-an yang gampang dibeli di warung sekalipun. Aku hanya percaya obat dokter itupun kalo ternyata penyakitku tidak bisa lagi dibiarkan sembuh dengan sendirinya, seperti yang selalu aku lakukan selama ini jika aku sakit seperti pusing, batuk, flu atau sakit perut, cukup dengan makan yang banyak dan tidur.

Hari itu sambil menemani mamaku, aku terapi. Setelah menjalaninya beberapa kali, lumayan...aku sembuh dari "penyakit kampungku". Walaupun begitu aku akan terus menjalaninya. Setidak2nya untuk "sedia payung sebelum kehujanan", hehehehee....

Selama terapi aku bertemu seorang bapak2 berumur 66 tahun ternyata beliau teman lama mamaku sudah lebih kurang 40 tahun tidak pernah bertemu.Beliau menderita "STROKE". Sudah menduda, sudah 2 tahun ditinggal mati istrinya. Karena sudah kenal lama dan beliau juga suka bercanda, kami selalu bercanda dan mamaku selalu menyemangatinya untuk rajin terapi agar cepat mendapatkan kesembuhan. Dan aku tau dari raut wajahnya beliau sangat berantusias untuk sembuh dan bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Karena sering bertemu dan sudah begitu akrab, di luar dugaan kami, si bapak mengatakan "hari Jumat tanggl 17 bulan ini akan menikah (lagi)". Seakan tidak percaya, tanpa dikomandoi, kami semua tertawa..."bapak bercanda nich! Kan belum sehat benar, gimana mau ML pak?", begitulah kata ibu2 yang ada di tempat terapi tersebut. Ternyata si bapak serius. Akhirnya kami mengucapkan, "Alhamdulillah....akhirnya bapak menemukan jodoh lagi, ada pengganti ibu yang bisa menemani bapak hingga akhir hayat nanti".

Harus dipercayai, masalah jodoh urusan Allah, gak mengenal usia, kasta, siapapun, kapanpun dan dimanapun...."dia pasti datang". Gak mau kalah, sambil bercanda aku mengatakan pada si bapak, "Bapak gak sopan nich, ety sekali aja belum, eh bapak dah mau yang kedua, tapi ety seneng kok pak, mungkin ini jadi pemacu bapak agar cepat sembuh ya, jadi kalo dah sembuh bisa ajak ety jalan2 naik mobil bapak sama ibu baru. Makanya pak...."se-becak aja berat apalagi SROKE"....!!!
Geeerrr....semua pada tertawa mendengar candaanku.

Yach, begitulah hidup, ada-ada aja.

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...