Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Showing posts with label Ada Apa Dengan Aku. Show all posts
Showing posts with label Ada Apa Dengan Aku. Show all posts

Monday, January 24, 2011

JANGAN BELI KUCING DALAM KARUNG

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku bahwa aku akan menjalani kehidupan perjodohan seperti ini. Didorong oleh kondisi diri dan ketika usia mulai merambat naik, lalu tersadar akan kebutuhan seorang teman hidup, aku pun mulai menyadari dan jujur mengakui..."Bahwa jodoh memang harus dicari!"

Kalimat ini sering kita dengar, "bahwa jodoh Allah yang menentukan". Bila Allah sudah menentukan, di tengah gelombang laut jawa pun, jodoh bisa bertaut. Cepat atau lambat, jodoh adalah masalah takdir dan rejeki, Allah yang menentukan, bukan manusia. Tapi manusia mempunyai pilihan dalam menjalani kehidupannya. Pilihan antara yang baik dan buruk. Setiap pilihan mempunyai konsekwensi masing-masing. Begitu juga Allah menentukan jodoh manusia, namun jalan dan caranya tergantung kepada manusia itu sendiri, karena Allah sudah menjanjikan antara surga dan neraka. Nah, kita mau memilih yang mana?

Sebesar apapun usaha kita, jika belum waktunya Allah memberi restu, pasti tidak akan terwujud karena segala sesuatu pasti ada saat dan waktunya juga. Tapi Allah suka kepada umatnya yang berusaha/berikhtiar, bukan sekedar doa dan harapan semata. Dan bila tidak berikhtiar, mana mungkin pasangan bisa tiba-tiba datang ke pelukan?

Ikhtiar yang dilakukan salah satunya melalui kontak jodoh/Biro Jodoh di internet. Internet yang diciptakan di abad 20 ternyata menyumbangkan perubahan yang sangat signifikan atas pola hubungan saat ini. Begitu pula bagaimana sikap orang untuk memutuskan bergabung menjadi anggota di salah satu situs pencarian jodoh.

Begitu juga aku dalam menyikapi konsekwensi yang bakal terjadi saat aku terlibat di dalamnya. Banyak sekali masukan dari teman-teman lengkap dengan saran-saran, bahkan cerita-cerita yang terkesan "menyeramkan", dengan tujuan agar aku waspada/hati-hati dalam mencari calon suami/laki-laki di dunia maya yang akan menjadi pasangan hidupku di dunia nyata.

Berjuta pertanyaan dan keraguan sempat muncul di awalnya. "Bagaimana mungkin bisa menerima seseorang yang tidak diketahui latar belakang dan kepribadiannya begitu saja? Begitu banyak kebohongan di dunia ini. Tidak sedikit kisah anak manusia yang berakhir bahagia menemukan belahan jiwanya di dunia maya, tapi banyak juga yang tertipu dan kecewa.

Aku tidak mau "menjudge" orang lain, apalagi menyamaratakan atas perbuatan buruk seseorang terhadap orang lain, dimana belum tentu semua orang mau dan atau mampu melakukannya. Terutama dalam urusan mencari jodoh, setiap orang pasti punya niat dan tujuan yang berbeda-beda. Kembali ke diri masing-masing, bagaimana menerima konsekwensi dari perbuatannya sendiri.

Seperti pengalaman-pengalaman berikut yang aku dapati dari "sharing" beberapa teman yang bergabung di dalam situs kontak jodoh :

1. Laki-laki yang mendambakan istri yang sholeha, justru laki-laki yang tidak bersikap seorang laki-laki sholeh. Laki-laki yang diharapkan bisa menjadi imam di dalam keluarga, nyata-nyata laki-laki munafik yang hanya mengharapkan kesenangan duniawi dengan cara-cara yang justru melecehkan kaum perempuan. Punya maksud-maksud dan intrik-intrik tertentu, padahal sang wanita tulus dan rela berbuat apapun demi membuktikan kesungguhannya.

2. Laki-laki yang "tidak punya hati", hanya bermodalkan materi dan pundi-pundi duniawi serta dilandasi oleh kriteria ini itu yang tidak masuk akal, sehingga terkesan bahwa "wanita bisa dibeli". Menganggap cinta itu diibaratkan seperti "proses jual-beli"....tidak cocok, ya...tidak jadi!" Sungguh menyakitkan hati.

3. Laki-laki yang tutur katanya baik, bijaksana bak seorang nabi. Setelah berkomitmen sehidup semati dan berjanji akan menikahi sang pujaan hati, nyata-nyata mengingkari janji. Pergi begitu saja tanpa berita dan meninggalkan berjuta-juta tanya.

4. Laki-laki yang mengaku di profil seorang duda, sudah lama hidup sendiri dan segera ingin mendapatkan pengganti, nyata-nyata masih mempunyai istri tapi hanya mencari "mangsa". Setelah mendapatkan "mangsa", berubah menjadi "KEONG RACUN' hanya ingin menikmati CINTA SATU MALAM".

5. Laki-laki yang mempunyai profil bagus dan testimoni yang menarik, nyata-nayata cuma laki-laki iseng yang tidak berani berkomitmen, selalu menunda-nunda pertemuan tapi lebih doyan memilih "PHONESEX" dibandingkan berkomitmen untuk menuju seks yang halal dalam sebuah ikatan perkawinan yang halal pula.

Terkadang muncul pemikiran manusiawiku...."Apa sebenarnya yang diingini dari seorang laki-laki? Bukankah wadah ini merupakan jalan untuk mendapatkan pasangan hidup yang "bener" bukan untuk satu atau dua hari saja? Bukan di sini tempatnya jika cuma ingin kenikmatan sesaat...Maaf jika aku harus katakan ini, walau tidak semua orang (siapapun dia), "Anda punya uang? Anda bisa beli perempuan yang juga mempunyai tujuan dan maksud-maksud yang sama! Sehingga tidak ada wanita yang tersakiti dan merugikan orang lain yang punya niat tulus mencari pasangan hidup yang bisa menjadi imam/pendamping dalam keluarga untuk mendapatkan ridho-Nya.

Yah, begitulah kehidupan, terkadang sulit dimengerti dan dipahami. Terkadang muncul ego masing-masing dalam menyikapi hidup. Aku yakin semua ciptaan Allah itu baik dan bermanfaat. Tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang bisa berubah dan bijak rasanya jika tidak lagi mau terjatuh dalam kubangan yang sama. Rasanya juga tidak baik menilai orang terlalu cepat. Kita pikir seseorang hidupnya "ngasal" ternyata hatinya tulus. Kita pikir seseorang sholeh/sholehah dan tutur kata yang super hebat bak seorang pemimpin yang bijaksana, nyatanya hatinya picik dan munafik. Kita tidak pernah tahu, karena mnusia tidak boleh dinilai dari penampilan luar, tapi dari dalam hatimya. Itulah pula sebabnya dalam mencari pasangan hidup, jangan melihat "chasing-nya" saja, apalagi punya kriteria ini dan itu, sedangkan diri sendiri tidak pernah dan tidak mau mengoreksi diri sendiri. Terimalah apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya karena sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu baik dan sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik.

"Jangan terjebak ekspektasi yang terlalu tinggi dan mengharap terlalu banyak, karena yang indah-indah itu terjadi kalau kita siap memberi."

Akhirnya aku harus mengatakan, "Aku tidak sendiri, kita tidak sendiri!". Tidak ada kata terlambat walau orang memandang wanita yang sudah berusia di atas 30 tahun belum juga menikah itu "berat jodoh" atau dianggap terlalu pemilih atau terlalu mementingkan karir, namun mereka juga layak berusaha mencari yang terbaik menurut kapasitasnya. Pencarian cinta untuk mendapatkan pasangan hidup melalui kontak jodoh bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah atau pun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tidak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani perjodohan seperti ini. Sekali lagi, kembali ke diri masing-masing tiap-tiap orang. Bagiku, selagi jalan yang ditempuh lurus dan demi tujuan untuk mengharapkan ridho ALLAH SWT, Allah selalu membukakan jalan bagi umat-Nya yang meminta dengan ikhlas dan pasrah sesuai kaidah-kaidah-NYa.

Di sisi lain, aku pun harus tersadarkan, bahwa harus siap, kuat, dan tegar menerima sisi-sisi negatif dari hubungan yang (mungkin) sebagian orang menganggap tidak masuk akal. Termasuk menerima berjuta nasehat yang mengatakan "MEMILIH JODOH JANGAN SEPERTI MEMBELI KUCING DALAM KARUNG!" Tapi aku yakin, seperti janji Allah, bahwa semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan, artinya setiap manusia pun ada jodohnya apalagi bagi orang yang tiada putus berdoa dan berikhtiar.

Aku juga jauh dari sempurna, jadi aku tidak pernah menuntut siapapun. Kecuali aku menginginkan ketulusan yang terlihat/tampak dari perbuatannya. Kita menuntut karena kita merasa memilikinya seutuhnya. Prinsipku...Berjalan saja mengikuti alur. Luruskan niat baik, lalu jalankan niat itu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Sisanya, serahkan semua urusan kepada Allah SWT. Dan yakin, bahwa semua tidak akan terjadi tanpa ijin Allah. Pada akhirnya, syukuri saja semua hal yang kita capai dalam hidup. It's simple!

Sunday, November 7, 2010

KAMAR TIDUR, TEMPAT TIDUR DAN TIDUR !

Aku sibak tirai jendela kamar. Aku pandangi suasana di luar, tampak hujan begitu deras membasahi apapun yang ada di bumi. Titik-titik air yang turun dari langit seolah-olah berkejaran dan siap menggenangi permukaan tanah yang beberapa hari tampak tandus karena hujan tidak jua datang menghampiri. Tanah pun mengeluarkan bau yang khas karena ketandusannya.
Langit spontan berwarna abu-abu. Akh, mungkinkah sama warnanya dengan hatiku, abu-abu?

Perlahan…tanpa bisa aku tahan. Bulir-bulir air mengalir di pipiku. Tak bisa lagi kubendung. Raut wajah bisa aku tutupi, tapi perasaan ini tidak bisa lagi diajak kompromi. Namun perasaan ini terasa sedikit terobati, justru kala aku mampu mengeluarkan seluruh isi hatiku melalui tetes demi tetes air mata yang jatuh. Ada kenikmatan dan sensasi tersendiri. Entahlah, mungkin ini cara yang terbaik, atau memang sudah saatnya sensasi seperti ini aku lakukan, hingga harus berulang-ulang dan berulang kali dilakukan.

Mungkinkah saat ini hatiku gundah gulana? Ah.....terpaksa mengakui. Walau jujur di dalam sanubari tidak pernah mampu mengelak dari “kebiasaan takdir” harus selalu dengan cara-cara seperti ini. Menangis! Di kamar tidurku yang penuh kedamaian, dia atas sebuah tempat tidur aku tumpahkan segala kesedihanku. Hingga akhirnya nanti, aku menjadi lelah sendiri dan tertidur......


KAMAR TIDUR......

Menyebut kata “kamar tidur”, tidak aneh memang. Yah....kamar tidur adalah salah satu ruangan di dalam rumah dimana di dalam ruangan ini segala aktifitas yang sifatnya pribadi bisa kita lakukan. Namanya juga kamar tidur, aktifitas sehari-hari yang biasa dan lazim kita lakukan di kamar tidur, salah satu bentuk kegiatan itu tak lain adalah tidur. Kamar tidur jugalah yang merupakan tempat yang paling aku favoritkan diantara ruang-ruang lainnya di dalam rumahku. Aku lebih memilih berada di ruangan ini jika aku ingin mendapatkan kedamaian, dan melepaskan ketegangan dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Nyaman aku rasakan. Segala keperluan aku lengkapi untuk menunjang “rasa betah” yang aku ciptakan untuk diriku pribadi.

Aku merapikan beberapa buku yang tidak lagi tersusun rapi di rak, mungkin karena tadi pagi aku buru-buru mengambilnya sehingga aku tidak sempat untuk mengembalikan kerapiannya seperti semula. Dan beberapa benda yang aku rasa tidak enak dipandang mata berada di tempat yang tidak seharusnya. Aku memang pembersih dan sangat memperhatikan kebersihan , terutama kerapian kamarku.

Aku menuju ke sudut kamar, aku raih remote TV, lalu menghidupkan tombol ON dan memilih program musik. Aku merasa perlu mendapatkan hiburan untuk menentramkan hatiku yang masih galau. Walau aku tidak tau, aku bisa menikmatinya atau tidak. Aku menuju ke sudut lainnya, dimana aku meletakkan beberapa perangkat alat elektronik seperti TV, Tape dan DVD. Namun aku sempat ragu,”apakah mungkin aku sebaiknya menghidupkan DVD atau tape saja untuk menghibur ku hari ini?" Akhirnya aku memutuskan, aku memilih memutar DVD yang menjadi temanku hari ini. Seakan terbawa emosi dan perasaanku. Aku mengikuti alunan lagu ini.....

“JIka ada yang bilang ku berubah....Jangan Kau dengar.......
Jika ada yang bilang kutak baik.....Jangan Kau dengar.......
Banyak cinta yang datang mendekat..... kumenolak.......
Semua itu karna......kucinta kau......”


Syahdu terdengar dan rasa nyaman mulai merayap ke sekujur tubuhku. Itulah sebabnya, mengapa aku lebih banyak menghabiskan waktu-waktu ku di kamar tidur. Di kamar tidurku pula merupakan saksi bisu terhadap semua hal yang telah, sedang, dan apa yang akan aku lakukan. Melakukan rutinitas harian, melepaskan keletihan dan menumpahkan segala kesedihan serta meng-istirahatkan badan......hingga aku terlelap. Semua itu aku lakukan di atas tempat tidur.

TEMPAT TIDUR.........

Apa yang terpikir jika menyebut kata-kata ini? Tempat di saat-saat kita melepaskan segala kepenatan. Setelah seharian beraktifitas, walau hanya butuh beberapa waktu saja untuk menikmati nyamannya untuk merebahkan anggota tubuh dan merasakan kehangatannya. Wajar rasanya bila tempat ini disebut-sebut sebagai tempat tidur, yach.....tempat biasa kita merebahkan tubuh, melapaskan penat dan terlelap bersama mimpi-mimpi, apapun mimpi itu adalah mimpi indah atau malah mimpi buruk sekalipun.

Aku merebahkan tubuhku, ach....lega rasanya. Sejenak pikiran ku melayang akan kejadian-kejadian yang telah aku lewati hari ini. Sebenarnya aku malas untuk memikirkan kejadian yang sempat membuat aku tidak enak hati tapi, itu terpaksa harus terpikirkan.

Aku pun tersentak, tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Aku ikhlaskan saja dan akan aku jadikan pengalaman berharga dari semua kejadian itu. Lalu ku raih sebuah novel romantis untuk ku baca. Aku rasa lebih baik begini. Terasa syahdu, ditunjang dengan nyanyian lirih yang ku putar sedari tadi. Suasana ini berubah drastis menjadi kenyamanan yang tidak bisa aku beli di luar sana.

Sayup-sayup kudengar dengan perasaan, Tertatih-nya Kerispatih, sungguh-sungguh membangkitkan kenangan itu......

Aku berjalan di dalam asing dunia
Aku mencoba .... ingatmu... dan.....
Aku tlah hancur lebih dari berkeping-keping
Karna cintaku karna rasaku yang tulus padamu.....

Begitu dalamnya aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini.....

Jujur aku tak sanggup, aku tak bisa
Aku tak mampu dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati
Tak mungkin dapat ku dustai meskipun harus tertatih......

Begitu dalamnya.... aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini......

Aku tak sanggup, aku tak bisa
Aku tak mampu dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati
Tak mungkin dapat ku dustai meskipun harus tertatih


TIDUR.......

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melewati hari-hariku di kamarku yang nyaman, di tempat tidurku yang empuk. Secara samar-samar aku tidak menyadari pikiranku melayang pada suatu kejadian beberapa bulan ke belakang. Rasanya sebentar saja kukecap kebahagiaan bersamanya.

Ach....lagi-lagi aku terpaksa harus menuliskan juga kisah ini terutama kisah singkat yang sebenarnya ingin cepat-cepat aku hapuskan dari sejarah hidupku. Tapi aku tidak mampu dan tidak bisa mengingkari bahwa kisah itu pernah ada.

Tapi jujur, aku memang sedih sekali. Karena cerita kita tidak berakhir seperti yang kita harapkan. Selama ini dikau juga tahu bahwa aku selalu krisis percaya diri menyangkut hubungan kita. Aku tidak yakin bahwa diriku cukup layak menerima semua perhatian, kasih sayang, pengertian dan cinta dari. Aku mungkin tidak percaya bahwa tersedia banyak stok dalam hatimu untuk memahami diriku. Aku ragu dengan diriku sendiri. Aku ditakuti oleh fikiranku sendiri, begitu dikau menilai aku.

Perasaan yang muncul saat ini begitu nyesak, lalu aku pengen nangis, tapi air mataku malah tidak mau tumpah, aku ingin menuntaskan apa yang mengganjal di hatiku, tapi hatiku tidak mau meledak. Aku senewen, mungkin hanya dengan menuliskan messege inilah perasaanku bisa sedikit kudamaikan. Tapi terlepas dari semuanya. Dengan tulus dan jujur aku kembalikan padamu, sudah lama ingin aku katakan ini tapi aku masih menyayangimu dan aku tidak pernah sanggup hidup sendiri tanpa seseorang.

Walau akhirnya, hatiku mengatakan.... seleksilah, tinjau ulang..... mungkin aku benar-benar bukan orang yang tepat menjadi partnermu meneruskan semua idealismemu, karena aku mungkin tidak pernah benar-benar punya kemampuan untuk memahamimu seperti yang engkau lakukan terhadapku. Kita tidak balance, aku tidak ingin dikau berkorban terlalu banyak untukku.....Aku tidak butuh dikasihani.....!

Maaafkan aku......Aku banyak dapat pelajaran berharga yang menuntun aku pada kemampuan untuk merubah mindset.

Jika bukan karena perasaan tersakiti dan takut dikatakan berputus asa, dan rasanya tidak sebanding dengan rahmat yang telah Tuhan berikan kepadaku selama hidupku, seandainya boleh mengatakan......Aku ingin terlelap selamanya. Maafkan aku Tuhan, aku berharap perasaan terluka seperti ini sebentar saja menghampiri hari-hariku. Itulah sebabnya pula, jika aku hanya bisa dan merasa tenang jika hanya melewati hari-hari hanya dengan berlama-lama di kamar, agar aku bisa melakukan apa saja di tempat tidur,termasuk menuliskan kisah ini.....

Saatnya, aku merasa.....mata ku pun sudah menunjukkan tanda-tanda meredup. Aku selalu berharap, semua masalahku ikut tertidur berganti dengan mimpi-mimpi indahku yang masih ingin kureguk untuk masa depanku bersama seseorang yang kucintai dan mencintaiku......apa adanya, tanpa syarat yang nyata-nyata mengabaikan rasa cinta dan sayang yang sesungguhnya..... selamanya. Amin!

Sunday, August 8, 2010

HARUSKAH KUMILIKI?

Hari ini aku terusik membaca kata bijak dari Khalil Gibran: “Sejatinya cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan pribadi masing-masing”. Aku resah dengan pernyataan ini, karena kupikir aku memang harus menyadari bahwa intensitas komunikasi di antara kami yang kian hari kian meningkat telah menyeretku pada sebuah keadaan (yang tanpa kusadari) membuatku dependent (tergantung) kepadanya.

Harus jujur kuakui, semakin hari aku makin yakin dengan cinta yang kumiliki terhadap dia. Begitupun cinta yang dia berikan terhadapku, selalu memberikan kenyamanan dalam bathinku. Chemistry yang makin kuat menjadi salah satu indikasi bahwa di antara kami memang sudah semakin jelas pemahaman ke arah mana kami akan membawa biduk cinta kami.Walau aku tetap tidak mau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk relasi seumur jagung ini.

Memang itu bukan kemauannya, dia justru berharap aku merasa bebas terhadapnya dan bersamanya. Jadi bukan sifat dia yang mau mengatur hidupku apalagi sampai mengendalikan sesuai keinginannya. Bahkan terkadang ada sedikit "kejengkelan" di hatiku, ketika aku menceritakan sesuatu hal mengenai diriku, masalahku. Aku sebenarnya sedang membutuhkan sedikit komentar darinya, tapi dia hanya akan berkata, “Aku bangga padamu, aku yakin kau bisa menyelesaikan semua itu dengan baik!”. Terkadang, yang kubutuhkan adalah perhatian, sedikit saja. Yah....lagi-lagi aku harus memaklumi, kalau untuk saat ini bukan cuma hanya aku yang menyita waktu dan pikirannya, tetapi juga pekerjaanya. Dia katakan, bahwa ini semua demi masa depan kita juga.

Memang, sebagai perempuan, sejak kecil sangat mandiri karena aku tidak percaya kepada siapapun untuk diajak sharing, saat ini aku satu-satunya putri yang dimiliki Papa dan Mamaku, sehingga lucu rasanya bicara masalah ‘jeroan’ perempuan dengan mamaku apalagi papaku karena aku tidak mau membebani pikiran mereka dengan masalah-masalahku ini, apalagi dengan orang lain.

Namun, harus terbuka kuakui... Cinta ternyata bisa merubah banyak hal. Dan konyolnya, aku yang sebenarnya sangat independent dalam membuat keputusan, bisa dengan pasrah menaklukkan diri supaya ada dalam kendalinya, bahkan tanpa dia ingini dan dia minta. Kutimbang-timbang dalam hatiku.... sepertinya, dengan bersikap demikian aku juga justru sedang berusaha untuk tahu banyak hal mengenai dirinya, intervensi dengan segala hal yang dia lakukan sebagai kebiasaan.

Dengan mengatas namakan CINTA dan berlindung di balik perasaan sayang, menginginkan yang terbaik untuk seorang kekasih, aku mulai terdengar sering berteriak agar jatah merokoknya dikurang, agar pola hidupnya lebih sehat, agar makannya dijaga dan teratur jadwalnya.... agar....agar....dan sekian “agar” lainnya, termasuk kata-kata seperti ini....Hati-hati ya? Doaku selalu bersamamu!" Alamak.....lazim sekali terdengarnya.

Ah..... aku mulai terseret pada perasaan memiliki yang lebih dalam, menganggap bahwa aku sepertinya lebih berpengetahuan dan lebih teratur hidupnya dari dia sehingga aku harus ikut untuk meng-"organize" dirinya yang diakuinya sangat tidak teratur dan sering tidak terkontrol. Padahal bukan berarti juga ketika dia bicara mengenai kejelekannya berarti dia sedang meminta aku turun tangan memegang kendali, kan?

Khalil Gibran memang mengusikku: “Cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan masing-masing”. Sekarang aku resah, bagaimana mengatasi perasaan memiliki yang mulai tumbuh? Apakah mungkin tendensinya menjadi destruktif terhadap rasa aman dan rasa nyaman yang sudah mulai bisa terbangun ini???

Entahlah!

Sunday, April 18, 2010

LELAH BERJALAN SENDIRI

Suatu hari, seorang sahabat curhat kepadaku. Dia percaya kepadaku dan tidak bisa curhat kepada teman yang lain bahkan keluarganya. Tampak dari luar kelihatan dia baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Apalagi dia adalah seorang wanita karir yang sukses. Walau usia perkawinan mereka baru berjalan satu tahun, namun dia merasa hambar dengan kehidupan perkawinannya. Dia merasa kurang dekat dengan suaminya. Pertemuan mereka lantaran diperkenalkan, tapi dia sangat mencintai suaminya.

Menurut pengakuan temanku itu, suaminya memang pendiam, tidak terbuka, cuek, tapi kadang agak temperamen dan sewot kalau berbicara dengan dia. Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun atau membantah omongan suaminya. Kadang dia berpikir, apa suaminya tidak terlalu mencintainya? Bahkan suaminya malah bisa lebih ramah dan hangat dengan orang lain. Dia selalu sabar dan lemah lembut menghadapi sikap suaminya. Bahkan suaminya sering memuji wanita cantik, sehingga dia merasa tidak dihargai. Dia sudah berusaha bicara dari hati ke hati dan dengan cara baik-baik, tapi suaminya tidak mau menjawab dan berlalu begitu saja. Terkadang jawabannya menyinggung perasaan, “Saya sudah pusing di kantor, gak usah nambah-nambah masalah deh!”. Akhirnya setiap masalah tidak pernah ada penyelesaian.

Sebagai seorang sahabat yang baik apa yang harus aku lakukan? Memberikannya masukan, nasehat, pandangan, pendapat atau apa yang harus aku katakan? Hatiku benar-benar berkecamuk. Sahabatku seharusnya konsultasi ke Psikolog atau Lembaga yang berwenang mengurusi masalah dalam rumah tangga, bukan kepadaku! Aku tidak tahu bagaimana perilaku suaminya yang sebenarnya, tidak pula mengenal suaminya dan tentu saja karena aku belum menikah, jadi sebenarnya aku sendiri yang harus banyak belajar dari kehidupan orang yang sudah berkeluarga.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengemukakan pendapatku dan memposisikan diri tidak memihak kepada siapapun. Walau aku belum punya pengalaman dalam berumah tangga, namun aku berprinsip seperti ini, bahwa manusia bisa belajar darimana pun dan dari siapapun. Kita juga tidak perlu mengalami suatu masalah terlebih dahulu baru bisa memahami orang lain dan jangan takut untuk mengeluarkan pendapat, selagi pendapat kita itu tidak menggurui bahkan berlebihan. Kita bisa mengetahui banyak hal dengan mengamati, membaca, mendengar atau merasakan apa yang terjadi di sekitar kita atau belajar dari pengalaman orang lain.

Sejujurnya, aku cuma bisa berteori saat ini. Aku tahu dan sadar sepenuhnya bahwa, kehidupan berumah tangga tidak segampang seperti membalikan telapak tangan. Perkawinan tak akan bertahan lama kalau hanya istri yang mencintai suami, atau suami saja yang melihat bahwa perkawinan itu patut dipertahankan. Apalagi jika tercetus kata-kata seperti ini, “Mau sama saya ya syukur, tak maupun tak apa-apa. ”Apapun kondisi istri ataupun suami saat ini dan kondisi mereka sebelumnya karena pengalaman hidup dan latar belakang kehidupan mereka sebelum menikah, sebelum memutuskan untuk menikah, mereka seharusnya bisa saling memahami bahwa “Pernikahan bukanlah berusaha mencari pasangan yang cocok bagi kita, melainkan kita berusaha menjadi pasangan yang cocok bagi sesiapa pun dia.” Ini jelas bahwa kenyataannya sebenarnya suami istri memang dua makhluk yang berbeda.

Setiap orang sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mempunyai alasannya. Langgeng atau tidaknya suatu perkawinan tidak terlepas dari niat masing-masing. Untuk kondisi jaman sekarang, bermodalkan cinta saja tidak cukup, tapi cinta perlu dan harus selalu dipupuk. Karena didalam cinta ada rasa sayang, pengertian dan komunikasi.

Akan tetapi, dengan sedih aku katakan bahwa, ada pula suami yang memang sengaja tidak mengagendakan kenyamanan istrinya sebagai prioritas hidupnya, sehingga ia lalu malah menganggap bahwa istri adalah sumber ketidaknyamanan. Suami tidak terbuka, tidak bicara dari hati ke hati, dan minim perhatian. Laki-laki seperti ini biasanya tidak membawa istrinya ke lingkungan sosialnya, mengenalkan pada sahabat-sahabatnya di masa bujang dan menolak melakukan aktifitas bersama-sama. Parahnya lagi, seorang lelaki menikah istrinya, utamanya karena desakan keluarga, sudah terlalu lama sendiri, hanya untuk memehuhi harapan ibunya padahal dia sendiri belum siap untuk menikah (lagi), atau bahkan karena ia melihat bahwa istri adalah sumber kemapanan bagi dirinya secara financial. Menyedihkan sekali.

Setiap wanita butuh perhatian dan kasih sayang karena secara kodrati, sekuat-kuatnya dan setegar-tegarnya wanita, membutuhkan sosok pria disampingnya untuk memberikannya rasa aman dan nyaman dalam mengarungi bahtera perkawinan yang harmonis secara bersama-sama. Oke lah setiap orang berbeda-beda cara mengekspresikan cinta dan rasa sayangnya, paling tidak, ia bisa mengekspresikan respek atau rasa hormat pada pasangan hidupnya, misalnya dengan mendengarkan saat istri berbicara dan memenuhi harapan istri tentang kejelasan sikap suami yang tidak sesuai dengan harapannya, begitu pula istri terhadap suami.

Ach, mungkin terdengar terlalu berteori. Aku cuma bilang kepada sahabatku,

Sahabatku……

Pertahankan rasa percaya diri, walau suami tidak pernah memuji dan suami tidak pernah mengatakan bahwa kamu cantik, kamu pasti punya hal-hal positif dalam diri.

“Bahwa tidak ada orang yang bisa membuat kamu rendah diri kecuali kamu memang mengijinkan orang untuk merendahkanmu.” Lindungi diri dari erosi rasa percaya diri karena perlakuan suami.”

Sahabatku……

Pertahankanlah hal positif yang kamu peroleh dari interaksi dengan rekan kerja atau keluargamu. Bila kita berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kita akan kembali dalam perasaan nyaman dengan diri sendiri. Pada akhirnya kamu harus memperhatikan diri sendiri, bukan? Karena kalau bukan kita sendiri yang sayang pada diri kita, siapa lagi yang akan melakukannya?

Sahabatku……

Life mus go on. Jangan biarkan ikatan dengan suami malah menenggelamkan kesedihan. Usaha minta petunjuk Tuhan. Jangan takut untuk hidup sendiri, ketimbang kawin tetapi sebenarnya tetap sendirian, karena kamu merasa suami tak kunjung menjadikanmu sebagai bagian terpenting dari hidupnya.

Bersiap-siaplah untuk bisa bicara dengan ketegasan yang lebih mengemuka. Jangan takut padanya karena kamu berhak memperoleh penghargaan darinya sebagai suami. Pikirkan kemungkinan lain, walau aku tidak menyarankan untuk sebuah perpisahan, bahwa dia memang bukan sosok yang pantas kamu pertahankan sebagai seorang suami yang bisa mengayomi istri.

Mengutip pendapat dari seorang teman, aku setuju banget dengan pendapatnya tentang sebuah pernikahan bahwa, "Kekurangan yang ada untuk memakluminya apa adanya.....ini sebagai bahan intropeksi karena selain bersyukur di beri kemudahan untuk mencari pasangan, kita tdk bisa menilai seseorang dari sudut pandang diri sendiri."

"Mata manusia berada di bagian depan, hanya dapat melihat kekurangan orang lain, maka sama sekali tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri."

Sunday, July 5, 2009

KERANJANG SAMPAH ?

Gak kerasa, ternyata usiaku udah kepala 3. Perasaanku baru kemaren 17 tahun, he...:-D?. Waktu berlalu begitu cepat dan banyak yang sudah terjadi. Apa yang terjadi dan aku alami seperti mimpi. Begitu juga pelajaran hidup yang aku dapat bersamaan dengan berjalannya waktu.

”Ety, apa kabar?” Kapan kita bisa ketemu? Kita facial bareng lagi yuk?! Mukaku dah banyak komedo dan kotor nih. Sesudah facial, aku mau curhat, lagi banyak masalah. Cuma Ety teman yang bisa diajak ’Sharing”.

Kalimat barusan adalah sms dari seorang temanku, kita sudah lama gak ketemu dan ingin curhat sama aku. Bukan bermaksud ge er ataupun tujuan untuk membangga-banggakan diri sendiri. Banyak teman/orang yang menilai aku sosok yang sabar, friendly, menyenangkan dan bisa diajak bicara. Mungkin orang menilai ada nilai ”kedewasaan” yang lebih dibandingkan dengan orang lain. Seperti kata temanku yang lain melalui smsnya;

”Maaf ya mb Ety, ama kejutekanqu kemaren2. Aq lg byk masalah. Aq gak mau kehilangan sahabat spt mb. Aq byk merenung, smua kata2 mb benar. Jujur, mb tetap teman terbaik yg aq pny. Tmn yg lain byk bikin aq tertekan dan menangis. Mereka byk tusuk aq dr belakang dan menyakitkan hati. Aq byk belajar dr kata2 mb utk lbh selektif memilih teman.”

Nilai kedewasaan yang aku miliki adalah ’positif value’ yang harus aku syukuri dan aku manfaatkan sebaik-baiknya. Namun gak bisa dipungkiri, aku cuma manusia biasa. Aku juga punya masalah. Bedanya, tidak semua orang mau cuhat/sharing kepada orang lain yang belum tentu bisa dipercaya. Begitu juga aku, untuk hal-hal yang sifatnya pribadi banget, aku begitu selektif memilih orang yang bisa aku percaya. Semata-mata karena aku menganggap masalah yang kita ceritakan kepada orang lain pada akhirnya, keputusan ada di tangan kita sendiri. Jadi, selama aku bisa mengatasinya sendiri, "gak perlu dong orang lain tau". Aku tau, ada yang patut untuk diceritakan kepada orang lain dan ada yang tidak.

Belum lagi masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku yang lain, yach, tentang keluarganya, orang tuanya, kekasihnya, ataupun tentang pekerjaannya dan dilema mereka. Keluh kesah mereka yang dituturkan kepadaku, sejujurnya, membuat aku menghela nafas panjang, "Ya Allah, ternyata kesulitan dan masalah ada dimana-mana, tidak mengenal usia, siapaun, dimanapun dan kapanpun. Masalah pasti datang".

Aku berfikir dan merenung, aku diibaratkan bagai "keranjang sampah", aku adalah keranjangnya dan masalah mereka adalah sampahnya. Terdengar "naif banget" memang, tapi itu sekedar perumpamaan. Justru aku mensyukuri apa yang aku alami. Berbagi dengan orang lain walau sekedar menjadi pendengar yang baik bagi teman-temanku juga orang-orang yang ada di sekelilingku dan menjaga amanah mereka juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukurku.

Buat aku, menjadi orang yang dapat dipercaya (amanah) itu adalah kenikmatan yang luar biasa. Alhamdulillah, kebahagiaan yang menurutku jauh lebih berharga daripada materi. Selama mereka mempercayai aku, aku rela menjadi "keranjang sampah" bagi mereka yang ingin mencurhkan isi hatinya kepadaku. Sebaliknya akupun berharap,tidak ada seorangpun yang justru menganggap aku 'sampah' yang seenaknya dicampakkan dan dimanfaatkan. Duch, semoga tidak.

"Kebijakan hidup bukan diukur dari seberapa pandainya kita tapi dari seberapa banyak masalah yang telah kitaselesaikan"

Friday, April 3, 2009

Syukuri Apa yang Ada, Maka Nikmatpun akan Ditambah-Nya


Pada prinsipnya saya menjalani hidup ini hanya mengalir dari hari ke hari, sesuai dengan jalan hidup yang Allah gariskan. Saya tidak pernah punya obsesi. Saya tidak mau jadi orang yang diperbudak oleh obsesi atau materi. Semua hal dalam kehidupan ini membuat saya senantiasa bersyukur. Baik itu nikmat maupun ujian, dari yang kecil, apalagi yang besar. Dengan bersyukur tentu akan lebih indah, lebih ringan.
Pernah juga tercetus pertanyaan atas hal-hal yang terjadi pada diri saya, terutama ketika cobaan datang. Pertanyaan itu muncul pada saat pemahaman dan keyakinan belum bulat. Contoh nyata ketika saya dikritik orang (tepatnya menghina) karena penampilan saya atau status saya atau komentar2 yang melecehkan, “toh orang yang mengkritik tidak lebih baik dari saya”. Namun, setiap manusia akan menjalani proses kehidupan. Disitulah terjadi tempaan diri yang akan melahirkan pematangan dan pendewasaan diri saya.

Pengalaman itu akan menjadi guru yang paling berharga. Umumnya, hikmah setelah ujian itu disadari belakangan. Alhamdulillah, ternyata semuanya terjadi untuk kebaikan sekarang. Berarti Allah sayang sama saya dengan memberi kesempatan pada saya untuk menjadi manusia yang lebih kuat, lebih baik dan lebih sabar. Yang patut disyukuri adalah ada hikmah dibalik itu. Otomatis kita belajar membentuk pribadi yang lebih matang, lebih yakin, lebih mantap dan lebih tawakal.


Ketika sujud, berkomunikasi dengan Allah, “Subhanallah”…saya rasakan nikmat Allah yang luar biasa. Saya juga menikmati hal sederhana, seperti udara, sinar matahari pagi yang hangat, makanan yang terhidang dan lezat, masih bisa memilih mau makan dimana, mau makan atau tidak, ada tempat tidur yang nyaman, tidak kehujanan karena ada atap yang melindungi, ada kendaraan yang bebas membawa kemanapun ingin pergi. Bisa saja itu dianggap sebagai kebutuhan pokok yang mestinya ada. Tapi kalau hal-hal kecil bisa disyukuri, rasanya kita menjadi manusia yang paling beruntung. Sambil mengucap “Alhamdulillahirobbil’alamiin”….saya menyadari bahwa semua itu datangnya hanya karena kemurahan Allah. Dalam shalatpun mohon kepada Allah agar selalu bersyukur dan tidak menjadi manusia yang tinggi hati.

Hidup ini sudah begitu indahnya. Dibandingkan dengan begitu banyak orang lain yang susah, sudah sepatutnya saya bersyukur. “Saya gak perlu suatu kejadian tertentu, baru bersyukur. Sadari aja!...bahwa hidup ini sudah luar biasa indah, apalagi yang mau dicari, semua yang kita dapatkan juga karena Allah semata”.

Kadang-kadang kita dibuat “malu oleh Allah”, Allah memberikan bertubi-tubi kemudahan, sementara perilaku, sifat dan pembawaan diri kita masih sangat jauh dari sempurna. “Ya Allah, aku masih begini”..tapi nikmat masih saja diberi. Oleh sebab itu, saya selalu mengoreksi diri, bermuhasabah, apa yang harus saya perbaiki.


Hal lain yang sungguh sangat saya syukuri adalah, saya bisa dekat (dihati) dengan orang-orang yang saya sayangi, keluarga!. Kami kompak dan kami bisa saling berbagi walau kami berjauhan tempat namun selalu dekat di hati. Alhamdulillah ada papa, mama, kakak-kakakku, adikku, ipar-iparku, dan keponakan-keponakanku, juga sahabatku. Walau saya belum “bersuami” tapi saya bersyukur, ada saja laki-laki yang berusaha mendekati dan mencoba menyayangi saya. Ini masalah jodoh, hanya Allah yang tahu, “man purpose, God disposes”. Allah tahu apa yang terbaik buat saya, karena Allah akan memberikan saya seseorang yang tepat dan indah pada waktunya. Saya bersyukur, ada orang-orang di sekeliling saya yang menyayangi saya dan saya sayangi.

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...