
Skenario yang ada dalam bayanganku hingga saat ini adalah mencari pasangan baru yang lebih baik dalam segala hal dibandingkan dia. Lebih ganteng, lebih pintar, lebih keren, dan lain-lain. Aku ingin menggandengnya kemana-mana sehingga dia akan tahu bahwa aku telah pulih dan mampu mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya. Namun, kondisinya terbalik. Skenario sempurna itu ternyata telah direbut terlebih dahulu oleh dia dan akulah orang yang mesti gigit jari lantaran belum juga memiliki pasangan.
Selasa, 13 Pebruari, 16.00

Malamnya, aku membuat sebuah “konferensi pers” di rumahku, dengan mengundang tiga orang sahabat karibku. Kami mengobrol hingga larut malam dan membahas setiap sentimeter tubuh wanita yang tadi sore aku lihat bersama mantanku.. Lucunya, teman-temanku itu mencela habis, walau mereka belum pernah melihatnya sama sekali.
Anehnya, aku merasa sedikit terhibur mendengar cercaan mereka, walaupun masih ada satu hal yang mengganjal. Jika memang aku istimewa, mengapa dia memilih cewek itu dan bukannya aku? Jika aku tidak dapat membuat dia bahagia, berarti aku pun tidak akan bisa membuat pria manapun bahagia. Duh, sedihnya.
Kamis, 26 Pebruari, 18.30

Gawat! Aku benar-benar lupa bahwa temanku yang sdang berulang tahun adalah sepupu mantanku. Mandadak, rontoklah mood baikku yang sudah kubangun sejak siang tadi. Di pesta, terlihat semua orang memperlakukan mereka dengan wajar, seperti sudah terbiasa melihat mereka tampil berdua. “Oh Tuhan….aku benar-benar berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah pula!
Tak lama kemudian. Dia menghampiriku untuk berbincang-bincang. Mungkin sekedar basa-basi, mengingat kami pernah berhubungan dekat. Ternyata, tak jauh beda dengan dulu, pembicaraan kami tidak nyambung! Aku jadi ingat, dulu sulit sekali kami mencari topic pembicaraan yang menarik bagi kedua belah pihak. Pernah, ketika aku asyik membahas beberapa nama selebriti yang masuk daftar caleg, dia malah membelokkan pembicaraan, membahas tempat-tempat melancong teranyar di Indonesia.
No comments:
Post a Comment