Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Wednesday, December 30, 2009

RESOLUSI TAHUN BARU

Pada malam tahun baru, banyak orang membuat komitmen diri. Melirik lagi ke belakang resolusi apa yang telah berhasil digapai selama 12 bulan sebelumnya.

"Apa resolusimu di tahun baru ini?" tanya seorang teman via SMS.
"Aku berharap agar kehidupanku akan lebih baik lagi di tahun mendatang, dibandingkan tahun kemaren."


Ya, resolusi atau ketetapan hati seakan menjadi mantra ajaib yang diucapkan, bahkan kerap kali ditanyakan ketika tahun berganti. Setiap orang berharap bahwa bergantinya tahun akan memberikan pencerahan, baik dalam dirinya sebagai pribadi maupun dirinya dalam lingkup pergaulan sosial; mencakup soal keuangan, karier, keluarga, dan sebagainya.


Dalam konteks kehidupan pribadi, saat pergantian tahun kita berharap akan diisi dengan hari-hari yang lebih membahagiakan. Bagi yang masih melajang, mungkin berharap akan mendapatkan jodoh sesuai dengan idaman hatinya. Bagi yang telah berumahtangga, berharap kehidupan rumah tangganya akan terus harmonis.

Dalam konteks karier, kita juga berharap akan adanya perubahan yang membahagiakan. Misalnya, bagi yang belum mendapat pekerjaan, berevolusi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Sedangkan bagi yang sudah bekerja, berharap mendapatkan promosi jabatan, kenaikan gaji, atau bahkan berharap mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Begitu juga dalam konteks keimanan, kita harus selalau punya resolusi, misalnya tahun ini kita berharap akan lebih baik dalam beribadah, ingin menjadi orang yang lebih sabar, lebih khusyuk, dan sebagainya.

Resolusi kadang tak perlu terungkap lewat kata, terpatri dalam hati saja sudah cukup. Namun demikian, ada juga sebagian orang merasa perlu mencatat setiap resolusinya di buku agenda ataupun buku hariannya, sehingga kita semakin terpacu untuk mencapai asanya.

Setiap orang tentu punya cara tersendiri dalam membuat maupun menggapai resolusi di tahun yang baru. Tapi semua tentu sepakat bahwa setiap pergantian tahun kita berharap segalanya akan menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Kita harus meninggalkan segala kebiasaan buruk di tahun yang lalu guna meraih kehidupan yang lebih baik lagi.

Tentu saja untuk menjadi lebih baik bukanlah semudah membalikkan telapak tangan melainkan harus diupayakan dengan kesungguhan hati, diawali dengan janji pada diri sendiri, dan kemudian dilaksanakan tahap demi tahap sesuai resolusi yang telah ditetapkan.


Untuk semua BLOGGER ......

SELAMAT TAHUN BARU 2010.......
SEMOGA TAHUN-TAHUN MENDATANG MEMBERIKAN KITA SEMUA PENCERAHAN DAN KEMAJUAN DALAM SETIAP LINI KEHIDUPAN....
JANGAN MUDAH MENYERAH, TETAPLAH OPTIMIS DAN SEMANGAT.....

Wednesday, December 16, 2009

FACEBOOK...OH....FACEBOOK

Ia perempuan baik-baik. Wajahnya manis, senyumnya lembut. Ia dikelilingi orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Pesta ulang tahun, pertemuan dengan teman, pernikahan, wisuda, liburan, semua itu menyibukkannya dari pekan ke pekan. Itu sebabnya perempuan ini tidak pernah merasa kesepian meski ia single dan sebentar lagi akan berusia 35 tahun.

Lalu wabah Facebook melanda seluruh kota tempat perempuan itu tinggal. Hampir seluruh warga kota membicarakan tekhnologi mutakhir ini. Perempuan ini tidak terlalu suka dengan kecepatan tekhnologi yang membuatnya merasa terus terbelakang. Seperti telepon genggam, ia takkan terpengaruh untuk mengganti yang lebih baru sebelum yang lama tak lagi terpakai.

Tapi teman-teman kantornya benar-benar kecanduan Facebook. Mereka mengaku bertemu dengan teman-teman lama yang sudah berabad tak jumpa. Teman masa kecil, teman SD, teman SMP, SMA, teman les piano, teman waktu kuliah, dan teman-teman yang lain yang bahkan tidak sengaja berjumpa saat di luar kota atau saat-saat tertentu di suatu event tertentu. Bahkan musuh masa kecil yang sekarang tampaknya menyenangkan.

Kemudian muncul seorang pegawai baru di kantor. Namanya Vina. Ia bekerja tiga bulan untuk menggantikan Santi, operator kantor yang sedang cuti melahirkan. Vina masih muda dan ceria bagai mentari pagi yang segar. Suasana kantor yang membosankan, tiba-tiba bergairah. Vina pun ikut Facebook. Bahkan sejak ada Facebook, ia rajin putus sambung. Berganti pacar, berganti cerita.

"Kalah kamu!" kata beberapa teman kepada perempuan itu. "Vina, sudah enam kali ganti pacar sejak ikut Facebook. kamu? Diajak ikutan aja belum masuk-masuk."

Perempuan itu kini menjalin waktunya di Facebook. Ia bertemu dengan banyak teman lama dengan hanya men-search nama mereka. Ia kini punya kegiatan baru. Meng-upgrade status, mencari teman, menjawab konfirmasi pertemanan, memasang foto-foto, chatting, menulis catatan, mengomentari status teman, catatan teman atau foto teman.

Sampai pada suatu hari satu nama India, Raoul Devan, memintanya konfirmasi sebagai teman. Perempuan itu mengingat-ingat. Ia punya beberapa teman India, tapi tidak nama ini. Vina pernah wanti-wanti, kalau ada nama-nama aneh yang tidak dikenal, jangan di-add dulu. Kalau tidak yakin, abaikan saja. Tapi ia menginformasi Raoul Devan sebagai teman.

Mereka pun berkenalan. Mulai dari berhai-hai dan hari-hari berikutnya; jadi ke dokter gigi hari ini? Atau, bagaimana mood bosmu hari ini? Sudah makan? Pertanyaan-pertanyaan pendek yang menggambarkan keintiman.

Raoul. Asli Tamil India yang lahir dan besar di Inggris dan sekarang warga negara Malaysia. Ia seorang aircrafft engineer di satu perusahaan penerbangan terkenal di Kerteh. Tanpa ijin Raoul, heli-heli ini tidak diperbolehkan terbang menjelajah medan-medan yang sulit.

Raoul seorang Hindu yang taat. Ia berdoa pagi dan sore hari di meja sembahyangnya dengan foto ibunya terpajang disana. Dan memakai dung di ujung atas hidung, diantara antara kedua alisnya. Hidupnya teratur dan bisa dideteksi perdetik, karena ia membuat daftar itu semua di kepalanya.

Ia hidup sendiri. Ia sudah terlalu terbiasa tidak bicara dengan siapapun dalam satu hari. Raoul memasak untuk dirinya sendiri setiap hari, hampir tidak memercayai masakan lain kecuali masakan India Utara yang kaya santan dan yogurt. Ia memerhatikan kesehatan. Ia seorang pembersih, tidak merokok, tidak minum-minuman keras, tidak mencari kesenangan seks di jalanan. Ia seorang yang cepat. Masak cepat, tidur cepat. Kecuali bercinta, katanya tertawa.

Bahasa Inggris Raoul sangat indah. Catatannya di Facebook seperti catatan seorang penulis hebat. Perempuan itu sangat menikmati membacanya.

"Tulisan-tulisanmu sangat membumi," puji perempuan itu.
"Terima kasih. Saya merasa tersanjung. Tapi saya sungguh tidak sedang berusaha membuat kamu atau siapapun kagum. Sekarang saya sedang mencari seorang istri. Saya ingin menikah sekali saja selamanya. Itu yang orang tua saya lakukan sepanjang hidup mereka. Saya ingin perempuan yang pintar, tidak tergila-gila dengan uang dan kemewahan. Dulu saya pernah tinggal bersama perempuan Inggris selama dua tahun. Tapi kami berpisah karena dia menginginkan pernikahan dan mempunyai anak."

"Kamu tidak mau menikah dan punya anak?" tanya perempuan itu.
"Dulu. Sekarang saya ingin punya anak. Mungkin beberapa anak. Ibu saya sudah tua. Ia ingin melihat saya punya istri dan anak. Kita sudah berkenalan dan berbicara-bicara, ehm...dua bulan? Maukah mencoba berpacaran?" tanya Raoul serius dan to the point."
"Kita berjauhan," jawab perempuan itu asal saja.
"Sekarang jarak bukan lagi isu penting, sayang. Coba lihat Facebook ini. Menghubungkan dunia hanya dalam satu pad komputer. Mau atau tidak, itu saja masalahnya. Bagaimana?"
"Hmm....saya akan mempertimbangkan, Raoul!."
"Bagus. Saya bisa terbang ke Jakarta kapan saja kamu siap."

Bulan keempat, Raoul dan perempuan itu berjanji bertemu. Pesawatnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 10.35. Waktu yang tepat untuk melakukan apa saja, termasuk bertemu kekasih. Perempuan itu melihat Raoul menenteng ransel di pundaknya. Hari terasa sejuk dan indah.

Raoul menggenggam tangan perempuan itu lembut. Matanya yang hitam berbinar.
"Akhirnya kita bertemu," ucapnya senang.
"Capek?" tanya perempuan itu.
"Tidak setelah melihat kamu. Kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan."
"Kamu mau duduk dulu minum kopi?"

Raoul setuju. Mereka minum kopi tubruk khas Toraja. Ternyata Raoul tidak seserius seperti yang perempuan itu pikir. Cara bicaranya lembut dan teratur, percaya diri. Pertemuan mereka tampaknya akan membuahkan hasil yang manis. Keduanya saling memuji tak berhenti.

"Kamu suka pertemuan kita?" tanya Raoul.
"Ya."
Lalu Raoul menyadari perempuan itu tidak membawa tas lain kecuali tas kecilnya.
"Kamu tidak membawa pakaian untuk menginap?" tanya Raoul. Keningnya berkerut.
"Tidak. Saya sudah memesan hotel untuk kamu," jawab perempuan itu.
"Hotel? Baiklah. Kamu akan menginap di hotel itu dengan saya kan?"

Perempuan itu memandang Raoul. Ia tidak pernah berpikir soal menginap bersama. Tidak pernah terlintas dipikirannya. Bagaimana bisa tinggal di satu kamar hotel dengan seseorang yang baru bertemu face to face meski sudah kenal empat bulan di Facebook?

"Saya tidak menginap di hotel dengan kamu, Raoul. Tapi kita akan selalu bersama. Saya sudah siapkan waktu dua hari ini untuk kita bersama."
"Apa maksudmu tidak menginap denganku di hotel, sayang?"
"Saya tidak menginap dengan laki-laki di hotel."
"Tentu saja kamu tidak menginap dengan laki-laki di hotel. Kamu menginap dengan saya, calon suamimu. Kamu ingat? Kita akan bersama-sama selama akhir pekan ini, bukan?"
"Ya Raoul."
"Dan kita akan mencoba tidur bersama, bukan?"

Perempuan itu terperangah. Ia tidak bisa menjawab. Dan Raoul sepertinya bertanya dengan cepat, tidak memberinya jeda untuk berpikir.
"Kenapa diam? Bukankah sepasang kekasih saling mencoba sebelum memutuskan untuk menikah?"
"Ya benar, Raoul. Hanya tidak berpikir kita akan tinggal dalam satu kamar hotel.
"Kenapa tidak, sayang?" suara Raoul lembut.
"Saya belum pernah....seperti itu."
"Jangan takut, sayang. Saya tidak akan memaksa. Tidak pernah memaksa seorang perempuan. Saya hanya ingin kita bersama setiap saat. Bagaimana aku bisa melewatkan malam disini tanpa kamu?"

Perempuan itu memandang Raoul. Betul-betul di luar kemampuannya. Tangan Raoul menyentuh bawah dagunya.
"Itu tidak masalah. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, sayang. Bukankah kita sudah membicarakannya? Kita sudah mendiskusikannya banyak jam di telepon atau chatting tentang masalah ini. Kita sudah dewasa, sayang. Kita melakukan segalanya dengan tanggung jawab dan bukan dengan ketakutan."

Perempuan itu gelisah dan ia merasa ada kesalahpahaman di sini. Hatinya membeku dan
kehangatan pagi menguap pergi.
"Raoul, maafkan saya. Saya ingin kita saling mengenal dan melewatkan banyak hal yang menyenangkan disini."
"Tentu, sayang. Itu sebabnya kita akan menghabiskan waktu dua hari ini bersama." Setiap pasangan di dunia melakukan hal-hal yang intim sebelum mereka menikah, bukan?"
"Tidak dengan budaya dan kebiasaan disini, Raoul!."
"Oh, bagus. Budaya dan kebiasaan? Sebentar lagi kamu akan bilang soal agama dan Tuhan. Kamu akan bilang kita tidak bisa tidur bersama sebelum menikah karena persoalan moral? Tidak sadarkah bahwa kamu sedang memanipulasi moral? Tidakkah itu tindakan menipu dan tidak bertanggungjawab? Kamu membuat saya salah berpikir tentang hubungan ini," ujar Raoul cepat.

Mata hitamnya berubah menjadi mata elang yang marah dan hendak menukik turun menghabisi lawannya.
"Raoul, jangan marah. Saya hanya...,"kata perempuan itu putus asa.
"Saya tidak marah, sayang. Saya hanya benci kepada diri saya sendiri yang bodoh. Biaya tiket dan hotel tidak murah. Juga perjalanan saya ini. Kamu tahu saya bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk maksud tidak jelas. Lagipula dengan uang yang saya keluarkan sekarang ini, saya bisa mendapatkan wanita dewasa yang normal."

Perempuan itu terkejut. Raoul membandingkannya dengan perempuan yang bisa dibeli jasanya di jalan?
"Kamu membandingkan saya dengan perempuan yang bisa kamu bayar, Raoul?"
"Saya bukan pemburu perempuan semacam itu tapi saya benar-benar kecewa."

Perempuan itu tidak mempunyai kata-kata lagi. Coffe Shop tempat mereka duduk tiba-tiba menjadi suram diliputi kecemasan.
Akhirnya perempuan itu tak tahan, berkata, "Saya perlu waktu, Raoul."
"Kamu seharusnya mengatakan itu sejak awal kalau itu yang kamu mau. Cinta itu mau melakukan segala sesuatu untuk pasangannya."

Perempuan itu sudah tertinggal jauh.
"Kenapa diam? Kamu masih menginginkan saya disini? Jujurlah sebelum saya mengeluarkan terlalu banyak uang."
"Raoul, bukankah kita bisa melakukan hal-hal lain yang menyenangkan?"
"Tidak sayang. Saya kesini untuk bersama denganmu, bukan berlibur. Itu yang saya tahu. Kalau kamu mempunyai rencana lain, itu bukan dengan saya. Begini saja. Saya tidak akan percaya dengan perempuan yang ditemui di dunia maya. Saya tahu perempuan suka berubah-ubah tapi baru kali ini saya menemukan perempuan yang tidak bertanggung jawab dengan kata-katanya."

Perempuan itu seperti sudah berubah menjadi patung garam.
"Sudahlah, saya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ini uang untuk kopi. Terima kasih untuk pertemuan ini. Lain kali, tolong bicara dengan jelas. Saya akan mencari tiket untuk kembali ke KL. Saya tidak terima dengan apa yang terjadi hari ini."

Raoul bangkit dari tempat duduknya dengan emosi terjaga, menarik ransel dengan wajah lurus, meninggalkan perempuan itu seorang diri di kursinya. Perempuan itu termangu. Sebelum ia menarik napas yang kedua, Raoul sudah menghilang di balik dinding.

Perempuan itu tak percaya apa yang sudah terjadi. Raoul yang ia kenal empat bulan di dunia maya hanya bertahan duduk dengannya kurang dari tiga puluh menit? Ia ingat Vina. Ingat Facebook. Ia akan segera mengganti statusnya sekarang. Dan akan segera menghapus Raoul sebagai temannya di Facebook.(IS)

Saturday, December 5, 2009

PENGALAMAN BERHARGA

Belakangan ini banyak terbongkar kasus korupsi yang dilakukan orang-orang terhormat di Indonesia. Padahal menilik status sosial dan ekonomi mereka, tanpa korupsi pun pasti hidupnya sudah berkecukupan. Karena itu hatiku begitu tersentuh ketika bertemu seorang penyemir sepatu yang berprinsip hanya menerima uang bila sudah bekerja. Aku merasa seperti menemukan oase di padang gersang.



Suatu hari sepulang bekerja, aku mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelah berputar kesana-kemari dan sudah mendapatkan semua keperluan, aku bergegas pulang karena harus ke tempat lain. Di dekat parkir mobil, aku dihadang seorang anak kecil yang menawarkan jasa menyemir sepatu. Karena sedang terburu-buru dan merasa sepatuku tidak perlu disemir, akupun tidak menghiraukannya. Tapi anak itu terus membuntutiku sampai ke tempat parkir. Sebenarnya aku sebal melihat anak kecil yang ngotot itu. Tapi karena melihat tubuhnya yang kurus dan penampilannya yang memprihatinkan, aku merasa kasihan. Segera kuulurkan uang dua puluh ribu rupiah, aku berharap, setelah menerima uang itu dia tidak lagi memaksaku menyemir sepatu.

Memang benar, meski terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya dia menerima uang pemberianku dan kemudian berlalu. Akupun lega. Segera kumasukkan barang-barang belanjaan dari trolley ke dalam bagasi mobil.

Ketika sedang sibuk mengemasi barang belanjaan, aku dikejutkan kehadiran seorang laki-laki separuh baya di sampingku.
“Mbak yang tadi memberi uang pada anak saya ya?” tanyanya.
Kulihat di sebelah bapak itu ada anak penyemir sepatu yang tadi menawarkan jasanya padaku.
“Iya betul. Ada apa Pak?” tanyaku keheranan.
“Maaf, saya mau mengembalikan uang Mbak. Anak saya hanya boleh menerima bayaran kalau sudah bekerja. Dia tidak boleh menerima uang tanpa bekerja. Itu namanya mengemis.”


Aku sungguh terkejut mendengar perkataan bapak itu. Kuperhatikan dirinya. Penampilannya sama menyedihkan dengan anaknya. Tampak lusuh dan mungkin menahan lapar. Dia juga membawa kotak berisi peralatan menyemir. Aku begitu takjub melihat orang tak berpunya seperti dirinya bisa begitu tegas menolak uang yang sebenarnya ia butuhkan.

“Tidak Pak. Biar saja, saya ikhlas kok,” aku menolak karena iba melihat keadaan mereka berdua.
“Tidak, anak saya tidak boleh berbuat seperti ini. Nanti jadi kebiasaan yang tidak baik,” katanya tegas.


Aku tertegun mendengar kata-katanya itu. Namun aku juga mengakui kebenaran ucapannya.
Ia kemudian memaksaku menerima selembar uang dua puluh ribuan yang tadi kuberikan kepada anak itu.
Karena tidak ingin membuat keributan, terpaksa aku menerimanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar uang itu tetap bisa kuberikan kepada anak itu tanpa membuat ayahnya marah. Tanpa membuang waktu segera kulepaskan sepatuku dan menyodorkannya pada anak penyemir tadi.
“Tolong disemir ya Dik, tapi jangan lama-lama soalnya saya harus segera ke tempat lain,” kataku. Aku lalu membuka pintu mobil dan duduk menunggu di dalam.

Anak itu segera menyemir sepatuku, dengan disaksikan ayahnya. Lebih kurang sepuluh menit kemudian, sepatuku selesai disemir. Anak itu mengulurkan sepatu pantofelku yang kini sudah mengkilat. Aku segera mengenakannya dan kemudian memberikan uang dua puluh ribu rupiah yang tadi dikembalikan di bapak, pada anak itu. Dia menerimanya dengan gembira sambil berkata, “Terima kasih, Bu.”

Aku tersenyum. “Terima kasih juga, Dik,” jawabku sambil menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan mereka.

Rasa terima kasih yang kuucapkan itu bukan hanya karena sepatuku telah disemirkan, namun juga karena mendapatkan pelajaran berharga tentang keteguhan hati. Meskipun miskin, bapak anak itu pantang mengemis dan menerima uang tanpa bekerja. Dia juga mendidik anaknya melakukan hal serupa. Semoga orang-orang terhormat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menyadarinya dan mengambil suri teladan dari keteguhan hati seorang penyemir sepatu. Dan akupun mendapatkan pelajaran berharga yang tidak akan kulupa sepanjang hidupku.

Friday, November 6, 2009

INDAH PADA WAKTUNYA


Aku meminta kepada Allah setangkai bunga mawar......
Allah beri aku kaktus berduri,

Aku meminta kepada Allah binatang mungil cantik.....
Allah beri aku ulat berbulu,

Aku sedih, kecewa, protes....
betapa tidak adilnya Allah,

Namun kemudian.....
kaktus itu berbunga indah bahkan sangat indah.....

dan ulat berbulu itupun tumbuh.....
dan menjadi kupu-kupu yang amat cantik,

Itulah jalan Allah....
indah pada waktunya,

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi.....
Allah memberi apa yang kita perlukan"


Kadang kita sedih, kecewa, dan terluka.....
tapi....
jauh di atas segala-galanya.....
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.


(Sumber: Unknown)

Wednesday, October 28, 2009

MASSAGE KEHIDUPAN

Hari itu aku bersama sahabat-sahabatku memutuskan untuk "hang out" di sebuah cafe, seharian hanya untuk mengobrol dan membiarkan hari hilang percuma.

Aku ingat celetukkan seorang teman, “Dulu aku tidak pernah mengerti arah hidupku ini, hari-hari lewat tanpa ada tujuan atau target. Tapi setelah bapakku meninggal mendadak, aku seakan tersadar.” Dan memang, temanku itu yang aku kenal dulu urakan dan semaunya, kini terlihat lebih tenang dan religius.

Terjadi banyak jeda dalam obrolan kami. Larut dalam perenungan dan pikiran masing-masing. Dari kaca jendela raksasa café, diluar tampak orang-orang sudah mulai menampakkan diri berjalan hilir mudik di sepanjang trotoar jalan. Mobil-mobil bersiap memasuki area parkir.

Terbungkus hangat dalam sofa empuk, aku biarkan dua slize PIZZA dengan taburan tuna dan paprika itu tergolek sia-sia di atas meja. Entah kenapa hari itu kami mendadak menjadi lebih kalem. Biasanya setiap kali bertemu, canda tawa mendominasi, seakan dunia hanya milik kami, “yang lain numpang!!". Jadi harap tahu diri untuk tidak ikut membuat gaduh!” Hang out yang belum tentu sebulan sekali itu dimaksudkan utnuk tetap menjalin persahabatan meski kami dipisahkan pekerjaaan yang berbeda-beda. Berbagi cerita, berbagi kegembiraan dan kesedihan. Sebelumnya aku yang paling getol punya inisiatif untuk mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama, saat itu tidak aku lakukan. Aku merasa malas, aku lebih tertarik dengan topik pembicaraan kami saat itu.

Entah darimana pembicaraan ini bermula, topik yang kami bicarakan adalah tentang “kehidupan”. Yang aku ingat, berawal saat aku katakan, suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku lebih memilih melewatkan waktu dengan membaca sebuah novel percintaan. Dengan harapan, setelah mataku lelah melototi tulisan-tulisan yang ada di novel tersebut, mataku dapat terpejam secara alami. Kupromosikan bahwa cerita dalam novel tersebut, sangat bagus. Ada dialog di buku itu yang membekas di pikiranku. Intinya adalah alangkah indahnya bila setiap hari, saat kita bangun di pagi hari selalu diiringi kesadaran penuh untuk apa kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Menarik nafas berarti kita hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa tarik nafas dan membuang nafas yang selalu dilakukan berulang-ulang? Dalam novel itu, si ‘aktor’ menyatakan kepada kekasihnya, yaitu orang yang ia cintai, “Untuk selalu bersamamu…..karena setiap hari aku mengejar cintamu.” Artinya, dalam setiap tarikan nafas mesti punya tujuan. Buzzz !!


Persoalannya adalah, apakah kita menyadari pentingnya kesadaran akan tujuan hidup tersebut? Kita sudah terbiasa dengan aktifitas robot. Melaksanakan sesuatu secara spontan dan menganggap sudah sewajarnya, sehingga tanpa perlu berpikir dan tanpa sadar sepenuhnya. Padahal kesadaran adalah kunci menikmati hidup. Sementara kita seringkali baru sadar setelah sebuah masalah timbul. Baru tersentil setelah menerima paket sebuah cobaan.

Seru sekali obrolan kami saat itu. Akupun digayuti kebahagiaan mempunyai sahabat yang bisa dibawa kedalam kondisi bukan cuma suka tapi juga duka, bisa sharing dan berempati. Topik pembicaraan kami pun tak terlepas dari problema kami yang sama yaitu bagaimana sulitnya “ being a single”.

Celetukkan temenku satunya tidak kalah seru, “Di pesta saudaraku kemaren, aku banyak bertemu keluargaku yang datang dari luar kota. Aku sebel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, like this; “why aren’t you getting married yet?, bla….bla…bla…
Kami semua memahami perasaan temanku itu disaat dia bercerita bahwa sulitnya berada di posisi orang seperti kita-kita ini. Sedangkan, "aku...baik-baik saja." (seperti lagunya Ratu yang dinyayikan Pinkan Mambo :)

Hey…, We could better not to say anything than answering some question like that! They must know, we lived in civillized world where some cases where “Taboo” to spoken. Aku tidak sendiri, kami tidak sendiri. Jadi, kami bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah, atau apapun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani ini.

“Waktu aku gagal dilamar si Roy dulu karena orang tuaku tidak setuju, aku down banget. Tapi kalo aku jadi menikah sama dia, barangkali, saat ini aku sudah jadi janda karena aku dengar si Roy menikah siri sama sekretarisnya. Dan aku mungkin tidak bisa sesukses ini kalau aku cepat menikah, aku bisa bantu ekonomi keluargaku dan merawat ibuku”. Begitulah kata temanku tentang pengalaman hidupnya.

Selalu ada massage dalam setiap peristiwa. Biasanya baru sampai ke jagat kesadaran setelah beberapa waktu berlalu. Yeach, kita bisa merasakan pudding caramel ini manis, setelah mengenal rasa pahit. Kurang lebih maksudnya adalah bahwa orang akan mengatakan hidup itu indah setelah pernah merasakan apa itu penderitaan.

Memahami massage dalam setiap kejadian itu, memang tidak mudah dicerna. Butuh waktu dan kesadaran yang diiringi dengan keikhlasan. Saat kita ikhlas, hati menjadi lapang, dan kelapangan hati adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jernih.

Jarum jam selalu menjadi penanda perpisahan. Saatnya pun kami harus meninggalkan café dengan berjuta hikmah yang kami dapat hari itu. Semoga kami bisa merealisasikan hikmah itu, bukan sekedar bualan dan kata-kata.

Thousands of words played in my hand. “My Lord, next time, I could make a very big step in my life.”

“Memang jalan hidup yang harus dilalui dalam menapaki hidup tidak selalu mulus. Kadang kita harus melalui beberapa bukit dan tikungan terlebih dahulu sebelum menemukan tempat datar yang indah. Menemukan kerikil-kerikil kecil yang sepintas tidak berguna, namun ialah sesungguhnya yang membantu pengerasan jalan.”

Monday, October 26, 2009

COKLAT....OH....COKLAT

"Kata orang, kalau hati lagi susah makan yang manis-manis"

Manusiawi kok kalau gak selamanya manusia itu bahagia terus. Wajar dong ya ada bete-betenya juga. Ada kalanya gembira, dan sebaliknya, tiba-tiba ditimpa masalah dan akhirnya merasa susah dan sedih. Beragam masalah dan beragam pula cara orang menyelesaikan masalahnya, setidak-tidaknya untuk meminimalisir suasana hati sehingga bisa melupakan masalah-masalah yang terjadi di depan mata.

Mungkin cara ini hanyalah sebagian kecil dari penyelesaian masalahnya, yaitu mengkonsumsi COKLAT. Percaya gak percaya sih! Menurut apa yang pernah aku baca, bahwa coklat mengandung ZAT TANIN yang juga berguna untuk mengatasi rasa sedih. Terlepas dari teori-teori yang ada, bagi aku coklat adalah salah satu makanan favoritku karena sekalin coklat memang enak, coklat sangat membantu dalam keadaan darurat. Disaat keburu lapar misalnya, tapi gak ada yang bisa dimakan sedangkan sikon tidak memungkinkan. Coklat gampang dibawa kemanapun dan bisa dimakan kapanpun.


Inilah kebiasaanku, aku tidak pernah melewatkan "tradisiku" untuk selalu membawa coklat di dalam tas dan tentu saja akan selalu terbawa kemanapun aku pergi. Mungkin ini merupakan kebiasaan yang tanpa sadar menjadi kondisi yang wajib dilakukan. Namun disisi lain aku menyadari, terkadang bisa menjadi hal yang mubasir, misalnya saat aku lupa atau tidak sempat untuk memakannya, sehingga sering pula si coklat menjadi lembek/mencair karena kepanasan dan aku pun merasa kadaluarsa dan gak enak lagi kalau dimakan. Lucunya lagi, pernah ada perasan sayang untuk memakannya, bisa jadi disaat aku merasa tidak terlalu lapar. Dikesempatan lain, disaat melihat anak kecil, akupun dengan iklhas hati akan memberikan coklat yang telah sekian lama bercokol di dalam tasku. Yach, tanpa disadari ternyata gak menjadi mubazir lagi khan dan aku pun sudah menyenangkan hati anak kecil dengan memanfaatkan keberadaan si coklat yang sering terlupakan untuk segera dimakan. Coklatku....oh coklatku....

Nah, kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa coklat bisa menjadi obat pelipur lara, sah-sah saja. Pengalamanku mengatakan, "makan coklat mengasyikkan!". Boleh dibilang mungkin sama dengan kebiasaan orang-orang terutama pria-pria yang mengkonsumsi rokok. Bedanya, makan coklat gak setiap saat dan yang pasti coklat lebih menyehatkan dibandingkan rokok. Iya khan?

Buat yang merokok nich, kalo udah tahu begitu, kenapa gak beralih ke coklat aja sih daripada merokok yang jelas-jelas gak baik buat kesehatan? Coklat telah terbukti menyehatkan dan memberi efek menenangkan. Kitapun menyadari, coklat bukan hanya mengenakkan tapi juga mengandung banyak kalori, sehingga kalau terlalu banyak dan sering mengkonsumsinya bisa menyebabkan kegemukkan. Sebenarnya gak menjadi masalah seandainya kita bisa bijak menyikapinya. Makanlah coklat secukupnya saja, misalnya disaat sedang ingin sekali makan coklat, sedang susah hati, atau saat sedang bingung daripada bengong, kenapa tidak?

Monday, October 5, 2009

PRIBADI PEMAAF

Masih banyak diantara kita yang belum paham hakekat memaafkan. Maaf sekedar diplomasi kata-kata saja, sementara kesumat/dendam masih berkarat di alam bawah sadar. Begitu berhubungan dengan orang lain, lekas teringat kesalahannya di masa lalu yang belum kita maafkan. Istilahnya "forgived but not forgeted", padahal kata maaf sudah berkali-kali diucapkan oleh lisan.

"Rasanya seperti mengkhianati bagian hatiku yang terluka jika aku harus memaafkan seseorang yang menyakitiku dan seolah aku melepaskan sebagian harga diriku bila harus memohon maaf."

Rasa berat untuk memaafkan itu tidak muncul begitu saja. Mengutip kata-kata dari seorang Psikolog, bahwa ada alasan yang mendasarinya.
Pertama, ketakutan untuk disakiti dangan cara yang sama. Beberapa orang percaya saat memaafkan orang lain, artinya ia membuka diri kepada orang yang telah melukai dirinya. Padahal, memaafkan bukan berarti menerima begitu saja segala tindakan orang yang melukai.

Kedua, kekhawatiran dirinya terlihat lemah. Karena tidak ingin terlihat rendah dan tetap ingin meninggikan harga diri, ia menutup pintu maafnya. Padahal justru sebaliknya, saat memaafkan, kita sedang melakukan tindakan "memberi".

Meraih posisi pribadi pemaaf bukanlah pekerjaan gampang, tetapi bukan pula hal yang mustahil. Bukankah kita memiliki dasar agama yang mengajarkan keluhuran maaf, tetapi mengapa sesama muslim kita masih saja berkobar dendam? Akankah kita menjadikan maaf sebagai konsumsi lahiriah tanpa ketulusan jiwa?

Dan, memaafkan harus tulus dengan tidak tersisa secuilpun kesumat. Maka jika ingin hidup sehat lahir batin, berusahalah menjadi "pribadi pemaaf". Meski memang itu berat karena kita berhadapan dengan ego sendiri. Makanya harus dilatih dan yakinlah, hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa memberi maaf.

"Ketika engkau mengalahkan musuh, jadikan maaf sebagai syukur atas kemenangan itu" (Rasulullah)

Thursday, October 1, 2009

KEEP THE SOUL AND BEAUTIFUL MIND


"SELAMAT DATANG BULAN YANG FITRI"

Alhamdulillah, puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih berkesempatan menikmati masa-masa berharga di bulan penuh berkah dan bisa menikmati hari yang fitri.

Lewat satu minggu sudah kita lalui bulan Ramadhan, Masih terjagakah shalat Tarawih atau shalat malam kita? Sudah berapa juz tadarus Alquran yang sudah kita lantunkan selama Ramadhan? Sejauh mana persiapan kita untuk dapat merubah hidup kita menjadi lebih baik dan berkualitas, sehingga perilaku kita semakin arif dan lurus. Amin.

Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh layak untuk selalu kita ulangi sepanjang waktu.Sebagai manusia kita seringkali lupa, khilaf dan lalai. Karena itu, jangan pernah jemu untuk terus bertanya. Sudah sejauh mana ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan ini? Kita tentu tidak mau keberkahan dan kemuliaan Ramadhan berlalu begitu saja, tanpa pernah merubah hidup kita menjadi lebih baik. Betapa banyak waktu yang terbuang percuma, betapa sedikit yang bernilai ibadah.

Ramadhan boleh berakhir, tapi kesucian jiwa berkah puasa, tetap menjadi inti dari jiwa kehidupan. Kemanapun melangkah, pastikan itu adalah hasil kompromi dengan nurani yang fitri.
Dalam kebersihan hati, musnahlah segala prasangka dan amarah. Terutama kata maaf yang mengiringi silaturahmi. Saatnya berbagi kasih dan mengeratkan jalinan kasih dengan sesama.

Maka tak ada cara lain setelah melewati bulan yang suci dan menjalani hari yang fitri dengan mengisinya dengan amal terbaik yang mampu kita lakukan dan menatap masa depan dengan penuh kefitrahan. Amin!

Sunday, August 30, 2009

LAGI BETE NICH !

Beberapa hari ke belakang aku gak mood untuk menyelesaikan tugas-tugasku, termasuk menyelesaikan bahasan yang akan aku posting kedalam blog ku ini. Begitu juga cerpen yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Padahal sudah bertumpuk ide dan konsep-konsep yang ada difikiranku, konsep-konsep dan ide-ide itu serasa menari-nari diotakku namun belum mampu aku tuangkan kedalam bentuk tulisan. Hingga akhirnya aku hanya bisa berkomentar untuk sebuah permakluman....

"Lagi beteh nich! Ada apa dengan moodku...kadang semangat, kadang lesu!".

Kalimat itu juga yang akhirnya aku tuangkan didalam "status" di Facebook ku pada suatu saat dimana aku lagi bete, saat mood lagi down.
Meski agak malu mengakui, aku sering merasakannya. Dan berharap mendapatkan "keringanan" dan menjadi obat dikala mendapat banyak tanggapan dan komentar dari teman-teman atas apa yang sudah aku curahkan. Setidak-tidaknya, mereka ikut merasakan apa yang aku rasakan. Aku pun berkomentar balik, bahwa "I am just a human being". Punya mood yang notabene tetanggaan dekat dengan urusan hati dan perasaan. Walau aku sendiri gak mengerti, apa yang sedang terjadi pada diriku atau apa yang menyebabkan diriku sering mengalami up and down dalam menjalani hidup ini. Atau bisa jadi karena "siklus para wanita" yang terjadi tiap bulannya? Entahlah!

Bagai sebuah ponsel, kadang batereinya kuat, kadang lowbat. Bagitu juga dengan mood (suasana hati). Kadang dalam kondisi up saat merasa bahagia, dan kadang down kala hati gundah. Saat bahagia, mendadak pagi terasa cerah, siang lebih bergairah, sore begitu indah, dan malam seakan menyajikan harmonisasi orkestra musik pengantar tidur (meski itu suara jangkrik dan kodok).

Di lain hari, saat hati down, yaitu ketika beban kerja bertambah, masalah satu demi satu menampakkan wajah, kebahagiaan menjadi melumer. Jadilah saat bangun tidur, tubuh terasa pegal dan lesu. Siang berjalan lambat dan membosankan. Puncaknya, malam seperti "nightmare", berisi "slide" mimpi-mimpi seram.

Adakah kaitannya dengan perasaan bahagia? Dan bukankah perasaan bahagia dan kesedihan hanya dibatasi oleh seutas benang tipis? Kembali ke diri masing-masing, bahwa kebahagiaan ada di dalam hati kita. Mood atau suasana hati gak pernah bisa kita prediksi, kapan si moody akan datang dan kapan pula dia akan pergi.

Dibalik persoalan itu, tiap orang pasti mengalaminya juga. Aku tidak menjadikannya permasalahan yang besar dan mengikutinya aja. Selagi tidak parah-parah banget, gak masalah toch! Bak air yang mengalir.
Dan pada akhirnya, akupun harus menyadari bahwa hidup di dunia ini akan selalu ditempa oleh kesakitan, kebahagiaan, penderitaan, kesenangan dan keterpurukan, silih berganti.
Bukankah manusia memang diuji dengan semua itu???

Friday, August 21, 2009

AKU WANITA BIASA

Aku ini wanita biasa
Bisa sakit luka karena cinta
Dingin sepi kerap menyapa
Air mata jatuh lukisan raga

Kadang ku kuat setegar karang
Kadang ku rapuh lemah liar merana

[chorus1]

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih hatiku

Kekasih hatiku maafkan aku
Aku wanita biasa

Dingin sepi kerap menyapa
Air mata jatuh lukisan raga

Kadang ku kuat setegar karang
Kadang ku rapuh lemah liar merana

[chorus2]

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih
Hatiku… maafkan aku..

(Songs by Krisdayanti)

Tuesday, August 4, 2009

SANTAI DULU ACH !

Kesibukan dan tekanan pekerjaan terkadang membuat stress, tegang dan akhirnya mood dalam bekerja pun menurun. Kalau sudah begini, jangankan mengeluarkan ide, menghidupkan komputer di kantor aja malesss…banget.

Dalam keadaan tertekan, jangan dech memaksakan diri mencoba mencari solusi, ketimbang malah makin stress. Setelah mengenali sumber masalah, biarin dech semua mengalir. Kalau perlu, lupain sejenak dan jauhi sumber masalah.

Jalan-jalan, ”window shopping”, nonton atau sekedar ngobrol bareng teman-teman dekat bisa menjadi ”terapi relaksasi pikiran”.

Memang sich sulit dipercaya. Tapi kadang solusi muncul bahkan ketika kita sedang berusaha melupakan masalah....! Nah lho..?!
Setuju khan?

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...