Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Friday, November 6, 2009

INDAH PADA WAKTUNYA


Aku meminta kepada Allah setangkai bunga mawar......
Allah beri aku kaktus berduri,

Aku meminta kepada Allah binatang mungil cantik.....
Allah beri aku ulat berbulu,

Aku sedih, kecewa, protes....
betapa tidak adilnya Allah,

Namun kemudian.....
kaktus itu berbunga indah bahkan sangat indah.....

dan ulat berbulu itupun tumbuh.....
dan menjadi kupu-kupu yang amat cantik,

Itulah jalan Allah....
indah pada waktunya,

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi.....
Allah memberi apa yang kita perlukan"


Kadang kita sedih, kecewa, dan terluka.....
tapi....
jauh di atas segala-galanya.....
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.


(Sumber: Unknown)

Wednesday, October 28, 2009

MASSAGE KEHIDUPAN

Hari itu aku bersama sahabat-sahabatku memutuskan untuk "hang out" di sebuah cafe, seharian hanya untuk mengobrol dan membiarkan hari hilang percuma.

Aku ingat celetukkan seorang teman, “Dulu aku tidak pernah mengerti arah hidupku ini, hari-hari lewat tanpa ada tujuan atau target. Tapi setelah bapakku meninggal mendadak, aku seakan tersadar.” Dan memang, temanku itu yang aku kenal dulu urakan dan semaunya, kini terlihat lebih tenang dan religius.

Terjadi banyak jeda dalam obrolan kami. Larut dalam perenungan dan pikiran masing-masing. Dari kaca jendela raksasa café, diluar tampak orang-orang sudah mulai menampakkan diri berjalan hilir mudik di sepanjang trotoar jalan. Mobil-mobil bersiap memasuki area parkir.

Terbungkus hangat dalam sofa empuk, aku biarkan dua slize PIZZA dengan taburan tuna dan paprika itu tergolek sia-sia di atas meja. Entah kenapa hari itu kami mendadak menjadi lebih kalem. Biasanya setiap kali bertemu, canda tawa mendominasi, seakan dunia hanya milik kami, “yang lain numpang!!". Jadi harap tahu diri untuk tidak ikut membuat gaduh!” Hang out yang belum tentu sebulan sekali itu dimaksudkan utnuk tetap menjalin persahabatan meski kami dipisahkan pekerjaaan yang berbeda-beda. Berbagi cerita, berbagi kegembiraan dan kesedihan. Sebelumnya aku yang paling getol punya inisiatif untuk mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama, saat itu tidak aku lakukan. Aku merasa malas, aku lebih tertarik dengan topik pembicaraan kami saat itu.

Entah darimana pembicaraan ini bermula, topik yang kami bicarakan adalah tentang “kehidupan”. Yang aku ingat, berawal saat aku katakan, suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku lebih memilih melewatkan waktu dengan membaca sebuah novel percintaan. Dengan harapan, setelah mataku lelah melototi tulisan-tulisan yang ada di novel tersebut, mataku dapat terpejam secara alami. Kupromosikan bahwa cerita dalam novel tersebut, sangat bagus. Ada dialog di buku itu yang membekas di pikiranku. Intinya adalah alangkah indahnya bila setiap hari, saat kita bangun di pagi hari selalu diiringi kesadaran penuh untuk apa kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Menarik nafas berarti kita hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa tarik nafas dan membuang nafas yang selalu dilakukan berulang-ulang? Dalam novel itu, si ‘aktor’ menyatakan kepada kekasihnya, yaitu orang yang ia cintai, “Untuk selalu bersamamu…..karena setiap hari aku mengejar cintamu.” Artinya, dalam setiap tarikan nafas mesti punya tujuan. Buzzz !!


Persoalannya adalah, apakah kita menyadari pentingnya kesadaran akan tujuan hidup tersebut? Kita sudah terbiasa dengan aktifitas robot. Melaksanakan sesuatu secara spontan dan menganggap sudah sewajarnya, sehingga tanpa perlu berpikir dan tanpa sadar sepenuhnya. Padahal kesadaran adalah kunci menikmati hidup. Sementara kita seringkali baru sadar setelah sebuah masalah timbul. Baru tersentil setelah menerima paket sebuah cobaan.

Seru sekali obrolan kami saat itu. Akupun digayuti kebahagiaan mempunyai sahabat yang bisa dibawa kedalam kondisi bukan cuma suka tapi juga duka, bisa sharing dan berempati. Topik pembicaraan kami pun tak terlepas dari problema kami yang sama yaitu bagaimana sulitnya “ being a single”.

Celetukkan temenku satunya tidak kalah seru, “Di pesta saudaraku kemaren, aku banyak bertemu keluargaku yang datang dari luar kota. Aku sebel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, like this; “why aren’t you getting married yet?, bla….bla…bla…
Kami semua memahami perasaan temanku itu disaat dia bercerita bahwa sulitnya berada di posisi orang seperti kita-kita ini. Sedangkan, "aku...baik-baik saja." (seperti lagunya Ratu yang dinyayikan Pinkan Mambo :)

Hey…, We could better not to say anything than answering some question like that! They must know, we lived in civillized world where some cases where “Taboo” to spoken. Aku tidak sendiri, kami tidak sendiri. Jadi, kami bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah, atau apapun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani ini.

“Waktu aku gagal dilamar si Roy dulu karena orang tuaku tidak setuju, aku down banget. Tapi kalo aku jadi menikah sama dia, barangkali, saat ini aku sudah jadi janda karena aku dengar si Roy menikah siri sama sekretarisnya. Dan aku mungkin tidak bisa sesukses ini kalau aku cepat menikah, aku bisa bantu ekonomi keluargaku dan merawat ibuku”. Begitulah kata temanku tentang pengalaman hidupnya.

Selalu ada massage dalam setiap peristiwa. Biasanya baru sampai ke jagat kesadaran setelah beberapa waktu berlalu. Yeach, kita bisa merasakan pudding caramel ini manis, setelah mengenal rasa pahit. Kurang lebih maksudnya adalah bahwa orang akan mengatakan hidup itu indah setelah pernah merasakan apa itu penderitaan.

Memahami massage dalam setiap kejadian itu, memang tidak mudah dicerna. Butuh waktu dan kesadaran yang diiringi dengan keikhlasan. Saat kita ikhlas, hati menjadi lapang, dan kelapangan hati adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jernih.

Jarum jam selalu menjadi penanda perpisahan. Saatnya pun kami harus meninggalkan café dengan berjuta hikmah yang kami dapat hari itu. Semoga kami bisa merealisasikan hikmah itu, bukan sekedar bualan dan kata-kata.

Thousands of words played in my hand. “My Lord, next time, I could make a very big step in my life.”

“Memang jalan hidup yang harus dilalui dalam menapaki hidup tidak selalu mulus. Kadang kita harus melalui beberapa bukit dan tikungan terlebih dahulu sebelum menemukan tempat datar yang indah. Menemukan kerikil-kerikil kecil yang sepintas tidak berguna, namun ialah sesungguhnya yang membantu pengerasan jalan.”

Monday, October 26, 2009

COKLAT....OH....COKLAT

"Kata orang, kalau hati lagi susah makan yang manis-manis"

Manusiawi kok kalau gak selamanya manusia itu bahagia terus. Wajar dong ya ada bete-betenya juga. Ada kalanya gembira, dan sebaliknya, tiba-tiba ditimpa masalah dan akhirnya merasa susah dan sedih. Beragam masalah dan beragam pula cara orang menyelesaikan masalahnya, setidak-tidaknya untuk meminimalisir suasana hati sehingga bisa melupakan masalah-masalah yang terjadi di depan mata.

Mungkin cara ini hanyalah sebagian kecil dari penyelesaian masalahnya, yaitu mengkonsumsi COKLAT. Percaya gak percaya sih! Menurut apa yang pernah aku baca, bahwa coklat mengandung ZAT TANIN yang juga berguna untuk mengatasi rasa sedih. Terlepas dari teori-teori yang ada, bagi aku coklat adalah salah satu makanan favoritku karena sekalin coklat memang enak, coklat sangat membantu dalam keadaan darurat. Disaat keburu lapar misalnya, tapi gak ada yang bisa dimakan sedangkan sikon tidak memungkinkan. Coklat gampang dibawa kemanapun dan bisa dimakan kapanpun.


Inilah kebiasaanku, aku tidak pernah melewatkan "tradisiku" untuk selalu membawa coklat di dalam tas dan tentu saja akan selalu terbawa kemanapun aku pergi. Mungkin ini merupakan kebiasaan yang tanpa sadar menjadi kondisi yang wajib dilakukan. Namun disisi lain aku menyadari, terkadang bisa menjadi hal yang mubasir, misalnya saat aku lupa atau tidak sempat untuk memakannya, sehingga sering pula si coklat menjadi lembek/mencair karena kepanasan dan aku pun merasa kadaluarsa dan gak enak lagi kalau dimakan. Lucunya lagi, pernah ada perasan sayang untuk memakannya, bisa jadi disaat aku merasa tidak terlalu lapar. Dikesempatan lain, disaat melihat anak kecil, akupun dengan iklhas hati akan memberikan coklat yang telah sekian lama bercokol di dalam tasku. Yach, tanpa disadari ternyata gak menjadi mubazir lagi khan dan aku pun sudah menyenangkan hati anak kecil dengan memanfaatkan keberadaan si coklat yang sering terlupakan untuk segera dimakan. Coklatku....oh coklatku....

Nah, kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa coklat bisa menjadi obat pelipur lara, sah-sah saja. Pengalamanku mengatakan, "makan coklat mengasyikkan!". Boleh dibilang mungkin sama dengan kebiasaan orang-orang terutama pria-pria yang mengkonsumsi rokok. Bedanya, makan coklat gak setiap saat dan yang pasti coklat lebih menyehatkan dibandingkan rokok. Iya khan?

Buat yang merokok nich, kalo udah tahu begitu, kenapa gak beralih ke coklat aja sih daripada merokok yang jelas-jelas gak baik buat kesehatan? Coklat telah terbukti menyehatkan dan memberi efek menenangkan. Kitapun menyadari, coklat bukan hanya mengenakkan tapi juga mengandung banyak kalori, sehingga kalau terlalu banyak dan sering mengkonsumsinya bisa menyebabkan kegemukkan. Sebenarnya gak menjadi masalah seandainya kita bisa bijak menyikapinya. Makanlah coklat secukupnya saja, misalnya disaat sedang ingin sekali makan coklat, sedang susah hati, atau saat sedang bingung daripada bengong, kenapa tidak?

Monday, October 5, 2009

PRIBADI PEMAAF

Masih banyak diantara kita yang belum paham hakekat memaafkan. Maaf sekedar diplomasi kata-kata saja, sementara kesumat/dendam masih berkarat di alam bawah sadar. Begitu berhubungan dengan orang lain, lekas teringat kesalahannya di masa lalu yang belum kita maafkan. Istilahnya "forgived but not forgeted", padahal kata maaf sudah berkali-kali diucapkan oleh lisan.

"Rasanya seperti mengkhianati bagian hatiku yang terluka jika aku harus memaafkan seseorang yang menyakitiku dan seolah aku melepaskan sebagian harga diriku bila harus memohon maaf."

Rasa berat untuk memaafkan itu tidak muncul begitu saja. Mengutip kata-kata dari seorang Psikolog, bahwa ada alasan yang mendasarinya.
Pertama, ketakutan untuk disakiti dangan cara yang sama. Beberapa orang percaya saat memaafkan orang lain, artinya ia membuka diri kepada orang yang telah melukai dirinya. Padahal, memaafkan bukan berarti menerima begitu saja segala tindakan orang yang melukai.

Kedua, kekhawatiran dirinya terlihat lemah. Karena tidak ingin terlihat rendah dan tetap ingin meninggikan harga diri, ia menutup pintu maafnya. Padahal justru sebaliknya, saat memaafkan, kita sedang melakukan tindakan "memberi".

Meraih posisi pribadi pemaaf bukanlah pekerjaan gampang, tetapi bukan pula hal yang mustahil. Bukankah kita memiliki dasar agama yang mengajarkan keluhuran maaf, tetapi mengapa sesama muslim kita masih saja berkobar dendam? Akankah kita menjadikan maaf sebagai konsumsi lahiriah tanpa ketulusan jiwa?

Dan, memaafkan harus tulus dengan tidak tersisa secuilpun kesumat. Maka jika ingin hidup sehat lahir batin, berusahalah menjadi "pribadi pemaaf". Meski memang itu berat karena kita berhadapan dengan ego sendiri. Makanya harus dilatih dan yakinlah, hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa memberi maaf.

"Ketika engkau mengalahkan musuh, jadikan maaf sebagai syukur atas kemenangan itu" (Rasulullah)

Thursday, October 1, 2009

KEEP THE SOUL AND BEAUTIFUL MIND


"SELAMAT DATANG BULAN YANG FITRI"

Alhamdulillah, puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih berkesempatan menikmati masa-masa berharga di bulan penuh berkah dan bisa menikmati hari yang fitri.

Lewat satu minggu sudah kita lalui bulan Ramadhan, Masih terjagakah shalat Tarawih atau shalat malam kita? Sudah berapa juz tadarus Alquran yang sudah kita lantunkan selama Ramadhan? Sejauh mana persiapan kita untuk dapat merubah hidup kita menjadi lebih baik dan berkualitas, sehingga perilaku kita semakin arif dan lurus. Amin.

Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh layak untuk selalu kita ulangi sepanjang waktu.Sebagai manusia kita seringkali lupa, khilaf dan lalai. Karena itu, jangan pernah jemu untuk terus bertanya. Sudah sejauh mana ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan ini? Kita tentu tidak mau keberkahan dan kemuliaan Ramadhan berlalu begitu saja, tanpa pernah merubah hidup kita menjadi lebih baik. Betapa banyak waktu yang terbuang percuma, betapa sedikit yang bernilai ibadah.

Ramadhan boleh berakhir, tapi kesucian jiwa berkah puasa, tetap menjadi inti dari jiwa kehidupan. Kemanapun melangkah, pastikan itu adalah hasil kompromi dengan nurani yang fitri.
Dalam kebersihan hati, musnahlah segala prasangka dan amarah. Terutama kata maaf yang mengiringi silaturahmi. Saatnya berbagi kasih dan mengeratkan jalinan kasih dengan sesama.

Maka tak ada cara lain setelah melewati bulan yang suci dan menjalani hari yang fitri dengan mengisinya dengan amal terbaik yang mampu kita lakukan dan menatap masa depan dengan penuh kefitrahan. Amin!

Sunday, August 30, 2009

LAGI BETE NICH !

Beberapa hari ke belakang aku gak mood untuk menyelesaikan tugas-tugasku, termasuk menyelesaikan bahasan yang akan aku posting kedalam blog ku ini. Begitu juga cerpen yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Padahal sudah bertumpuk ide dan konsep-konsep yang ada difikiranku, konsep-konsep dan ide-ide itu serasa menari-nari diotakku namun belum mampu aku tuangkan kedalam bentuk tulisan. Hingga akhirnya aku hanya bisa berkomentar untuk sebuah permakluman....

"Lagi beteh nich! Ada apa dengan moodku...kadang semangat, kadang lesu!".

Kalimat itu juga yang akhirnya aku tuangkan didalam "status" di Facebook ku pada suatu saat dimana aku lagi bete, saat mood lagi down.
Meski agak malu mengakui, aku sering merasakannya. Dan berharap mendapatkan "keringanan" dan menjadi obat dikala mendapat banyak tanggapan dan komentar dari teman-teman atas apa yang sudah aku curahkan. Setidak-tidaknya, mereka ikut merasakan apa yang aku rasakan. Aku pun berkomentar balik, bahwa "I am just a human being". Punya mood yang notabene tetanggaan dekat dengan urusan hati dan perasaan. Walau aku sendiri gak mengerti, apa yang sedang terjadi pada diriku atau apa yang menyebabkan diriku sering mengalami up and down dalam menjalani hidup ini. Atau bisa jadi karena "siklus para wanita" yang terjadi tiap bulannya? Entahlah!

Bagai sebuah ponsel, kadang batereinya kuat, kadang lowbat. Bagitu juga dengan mood (suasana hati). Kadang dalam kondisi up saat merasa bahagia, dan kadang down kala hati gundah. Saat bahagia, mendadak pagi terasa cerah, siang lebih bergairah, sore begitu indah, dan malam seakan menyajikan harmonisasi orkestra musik pengantar tidur (meski itu suara jangkrik dan kodok).

Di lain hari, saat hati down, yaitu ketika beban kerja bertambah, masalah satu demi satu menampakkan wajah, kebahagiaan menjadi melumer. Jadilah saat bangun tidur, tubuh terasa pegal dan lesu. Siang berjalan lambat dan membosankan. Puncaknya, malam seperti "nightmare", berisi "slide" mimpi-mimpi seram.

Adakah kaitannya dengan perasaan bahagia? Dan bukankah perasaan bahagia dan kesedihan hanya dibatasi oleh seutas benang tipis? Kembali ke diri masing-masing, bahwa kebahagiaan ada di dalam hati kita. Mood atau suasana hati gak pernah bisa kita prediksi, kapan si moody akan datang dan kapan pula dia akan pergi.

Dibalik persoalan itu, tiap orang pasti mengalaminya juga. Aku tidak menjadikannya permasalahan yang besar dan mengikutinya aja. Selagi tidak parah-parah banget, gak masalah toch! Bak air yang mengalir.
Dan pada akhirnya, akupun harus menyadari bahwa hidup di dunia ini akan selalu ditempa oleh kesakitan, kebahagiaan, penderitaan, kesenangan dan keterpurukan, silih berganti.
Bukankah manusia memang diuji dengan semua itu???

Friday, August 21, 2009

AKU WANITA BIASA

Aku ini wanita biasa
Bisa sakit luka karena cinta
Dingin sepi kerap menyapa
Air mata jatuh lukisan raga

Kadang ku kuat setegar karang
Kadang ku rapuh lemah liar merana

[chorus1]

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih hatiku

Kekasih hatiku maafkan aku
Aku wanita biasa

Dingin sepi kerap menyapa
Air mata jatuh lukisan raga

Kadang ku kuat setegar karang
Kadang ku rapuh lemah liar merana

[chorus2]

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih

Maafkan aku bila hasratku keliru
Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih
Hatiku… maafkan aku..

(Songs by Krisdayanti)

Tuesday, August 4, 2009

SANTAI DULU ACH !

Kesibukan dan tekanan pekerjaan terkadang membuat stress, tegang dan akhirnya mood dalam bekerja pun menurun. Kalau sudah begini, jangankan mengeluarkan ide, menghidupkan komputer di kantor aja malesss…banget.

Dalam keadaan tertekan, jangan dech memaksakan diri mencoba mencari solusi, ketimbang malah makin stress. Setelah mengenali sumber masalah, biarin dech semua mengalir. Kalau perlu, lupain sejenak dan jauhi sumber masalah.

Jalan-jalan, ”window shopping”, nonton atau sekedar ngobrol bareng teman-teman dekat bisa menjadi ”terapi relaksasi pikiran”.

Memang sich sulit dipercaya. Tapi kadang solusi muncul bahkan ketika kita sedang berusaha melupakan masalah....! Nah lho..?!
Setuju khan?

Saturday, July 25, 2009

BERANI AMBIL RESIKO VS KEBURU KIAMAT

"To win without risk is to triumph without glory"

Kata orang nich, hidup tanpa mengambil resiko gak seru. Kenapa kata orang, selingkuh menyenangkan, first kiss rasanya melayang dan olah raga ekstrim sangat digemari? Artinya semua hal yang pertama kali dilakukan rasanya mengasikkan. Alasannya, semua beresiko besar. Mengambil resiko memang butuh keberanian dan gak semua orang bisa. Padahal nich, John F Kennedy aja pernah bilang "kalau berani melangkah, meski beresiko, jauh lebih aman daripada gak melangkah sama sekali". Aku sich setuju-setuju aja kalau ada juga yang bilang bahwa " hidup lebih berarti kalau kita ambil resiko". Tapi apa aku bisa ya?

Aku itu orang biasa-biasa aja. Gak terlalu ngotot untuk meraih sesuatu. Bukannya takut sich, soalnya selalu mikir kalo gak kesampaian, bakal kecewakan? So, nothing to lose aja dalam hal apa pun. itulah seringkali orang 'menyayangkan aku" dan membuat mereka penasaran, akhirnya membuat kesimpulan sendiri dengan pertanyaan-2 mereka.

"Hayo, kapan lagi, keburu kiamat lho...!!??!!

Terkadang aku sebel lho kalo ada orang bicara seperti itu. "Memang manusia tau kapan kiamat akan datang?" Mungkin terdengar bercanda atau sekedar basa-basi, tapi kalimat itu bukan untuk pertanyaan yang mengarah "kapan akan menikah", misalnya, gak segampang seperti membalikkan telapak tangan dech. Lantas, akankah persoalan terselesaikan jika uang dan calon sudah ada?

Namun, jika pertanyaan itu mengacu antara lain kepada hal-hal seperti ini, kapan lagi bikin usaha sendiri, kapan potong rambut, kapan kuliah lagi atau kapan lagi beramal, tentu jawabannya sesuatu yang sangat kita inginkan tapi belum berani dilakukan. Realisasinya mudah dan dapat segera dilakukan seandainya ada uang dan kesempatan. Memang gak salah klo kita harus berani ambil resiko. "Jangan kebanyakan mikir, kerjakan saja apa yang kita mau dan bisa kita lakukan sekarang. Bayangin besok memang beneran kiamat". Ya gak masalah!.

Segala sesuatu yang menyangkut urusan pribadi, aku selalu mengambil positifnya aja. Gak mau terbawa arus selama prinsipku benar. "I don't care what they say!"
Setiap manusia punya takdirnya masing-2. Ada yang jalan hidupnya "lurus-lurus" aja dan ada yang hidupnya penuh resiko tapi akhirnya "fine-fine" aja atau "rusak" selamanya.

Terkadang aku berpikir, untuk mengambil keputusan yang resikonya besar, apa perlu bertanya dengan orang yang pernah mengalami hal-hal yang "ekstrim" dalam hidupnya demi tujuan pribadi, sekalipun resiko yang diambil berakibat buruk bahkan merusak citra diri mereka, misalnya begini nich :
- Seorang perempuan yang berkeinginan menjadi orang kaya lalu mencari suami kaya raya. Walau dia gak cinta dan suami gak ganteng, atau bahkan rela menjadi istri kedua yang penting kaya?
- Ingin menjadi PNS, tapi dengan cara "sogokan sejumlah uang" atau karena "surat sakti" orang penting tapi gak punya kemampuan apa-apa?
- Lalu, terpaksa menikah/cepat menikah, karena MBA atau ada istilah "cinta ditolak, dukun bertindak"?

Nah lho! Kalo udah begini, pasti gak setuju dong? Bukankah perbuatan itu sudah merupakan "tanda-tanda adanya kiamat kecil"? Buat apa, demi mendapatkan kebahagiaan duniawi dengan jalan yang gak terpuji, lalu merasa terhormat dihadapan sesama manusia sudah merasa bangga. "Toch, bukankah lebih baik mulia dihadapan Allah?!"

Kembali ke diri masing-masing dech. Seperti kata pepatah "pengalaman adalah guru yang paling berharga". Ada benarnya. Seharusnya pengalaman-pengalaman orang-orang di sekitarku, aku jadikan pengalaman dan aku jadikan alasan untuk mengurangi rasa takut gagal/takut kalah. Kenapa gak mau menanggung resiko gagal, jika pengalaman itu membuat aku lebih berani di masa depan.

Buat aku yang terpenting adalah aku gak akan ambil resiko yang akan merugikan diriku sendiri, mengecewakan keluargaku terutama kedua orang tuaku, juga orang lain. Aku nyaman dengan kehidupanku saat ini serta selalu berusaha melakukan perbuatan yang "mulia" dihadapan Allah SWT. Terserah dech orang mau ngomomg apa bahkan sampai bawa-bawa kiamat segala...heheeee.

Walau gak bisa dipungkiri, bahwa setiap keputusan dan perbuatan pasti ada resiko, asal kita bisa pitar-pintar menyikapinya.
Okey? Remember, life must go on.

Wednesday, July 22, 2009

SURAT UNTUK SAHABAT

Kota Musi, 20 July 2009

Sahabatku,

Aku hrs jujur sama kamu. Beberapa hari ini aku berusaha untuk menyenang-nyenangkan perasaan tapi gak bisa, ada yang ngeganjal. Sebelumnya, maaf klo aku cepat menyimpulkan untuk masalahku dengan dia, aku gak bisa nuruti pendapatmu.

Bukan aku gak berani atau takut gagal sebelum memulai, tapi aku gak bisa "keluar dari konsep diriku yang sebenarnya". Aku tetap berpendapat dan menuruti aturan/budaya yang ada bahwa "perempuan menunggu". Aku tau...kamu pasti sudah paham, dalam Islam saja, "seorang laki-laki muslim berhak melamar wanita muslimah yang sholeha walau dia gak kenal sama sekali." Jadi, gak ada alasan khan aku yang harus mengejar-ngejar dia, walau aku suka.

Aku gak bisa kalo harus, maaf, mengemis cinta. Mungkin sadis kedengarannya, tapi ini seumur hidupku, benar-benar baru aku alami. Bukan gengsi tapi gak etis aja buat aku dan aku gak harus seperti si ini atau si itu atau mengikuti cara-2 si ini atau si itu khan, friend? Mungkin beda persoalan kalo memang dah jadian atau ada kesepakatan apa lah, aku harus agresif untuk pria seperti itu, pasti!

Jujur, sebenarnya yang aku takutkan adalah klo aku sampai dicap"gak bener" lalu orang gak respect lagi sama aku, apalagi orang gak kenal aku mendetail. Aku paham pengertian "agresif" yang kamu maksud, tapi untuk agresif ke dia, fatal, friend!!! tanpa bantuan orang ketiga. Bukan aku gak mau berusaha dengan gigih, please diingat, aku wanita. Klo aku agresif sama kamu, kamu pasti ngerti dan paham tujuanku. Aku sudah kenal banyak orang dan "mahkluk laki-laki" dari beragam tipe. Tapi dia "istimewa bgt" dan ini benar-2 tantangan. Buat aku, kondisi seperti ini lebih menyakitkan daripada putus cinta lho, "sakiiit.....!!!(gaya bicaranya seperti gaya bicara Ruben lho, heee....!). Itulah mengapa setiap wanita berpendapat bahwa "lebih baik dicintai daripada mencintai".Apalagi kita gak dalam satu kota. Mungkin klo kita satu kota, aku bisa berusaha untuk memberikan dia perhatian dan mengambil kesempatan untuk sering bertemu. Tapi sulit friend untuk orang seperti dia walau aku tau dia gak "kuper dan alim-alim amat", itu yang aku baca sekilas dari kumpul-kumpul kita kemarin itu.

Sahabatku,

Makasih udah bantu aku. Jujur aku gak mau menyusahkan orang lain apalagi untuk bersusah payah ngurusi urusan pribadiku. Aku termasuk tipe orang yang selalu mikir panjang kalo mau merepotkan orang dan banyak segannya ke orang lain. Tapi di sisi lain, aku memang butuh orang lain dalam masalah ini.

Aku tau maksud kamu baik dan kamu sudah berusaha demi aku. Aku bersyukur, aku ketemu seorang teman seperti kamu, baik, tulus, perhatian, peduli, friendly banget, dan seseorang yang bisa aku hubungi tanpa ragu-2 dan aku minta tolong sesuatu tanpa aku pikir-pikir dulu. Kamu teman baikku tapi bisa "klik" melebihi seorang sahabat.

Tentang dia, untuk jadi seorang suami bagiku, jujur aku suka. "Dia low profile juga alim". Pernah terlintas, klo memang dia kata Allah, aku akan berbakti sebagai istri dan menuruti apapun kehendaknya, asalkan kehendak dan pendapatnya juga yang terbaik menurut Allah. Tapi dengan dia, prosesnya sulit. Untuk masalahku dengan dia gak bisa tanpa bantuan kamu sampai setuntas-tuntasnya. Tapi di sisi lain, aku gak mungkin selalu merepotkan kamu, friend. Kamu juga punya kehidupanmu sendiri.

Aku dan dia sudah dewasa, seharusnya bisa memahami, tapi dia beda dari "konsep pria pada umumnya". Aku juga gak perlu bingung-bingung khan menghadapi ini. Dalam hidupku, aku "nothing to lose" dan "easy going" aja menghadapi apapun. Makanya aku menganggap jalan-jalan ber-empat kita kemaren itu hal yang biasa, bukan hal yang luar biasa lagi buat aku. Take it easy my friend, "I'm single and I'm very happy."

Sahabatku,

Aku percaya, Allah tidak pernah salah memilihkan pria terbaik untuk mendampingi hidupku. Namun aku tidak mau terlalu muluk mengartikan cinta seseorang. Aku gak mau kecewa. Biarlah untuk saat ini, cintaku hanya untuk Allah SWT, orang tua dan keluargaku. Jadi intinya, aku menjalani kehidupan ini "bak air yang mengalir", apa adanya, tidak banyak aturan, jujur, saling menghargai dan terbuka.
And you must to know...."I always hopping for the best but expecting the worsth."
Thank u so much my friend.....

Thursday, July 9, 2009

BE POSITIVE !

Kalau kita harus berkata yang baik tentang segala hal, kenapa tidak tentang diri sendiri? Bicara positif tentang diri sendiri berarti menegaskan tentang siapa jati diri kita, keyakinan-keyakinan kita akan kebenaran, bukannya untuk menghidupkan kesombongan.

Berbicara yang baik tentang diri sendiri merupakan cara untuk ”me-maintenance” pikiran dan perilaku kita supaya tetap positif. Itulah kenapa dalam pelatihan-pelatihan motivasi biasanya kita diminta membuat penghargaan terhadap diri sendiri, memberi motivasi untuk berfokus mengembangkan kelebihan dibandingkan menyesali kelemahan diri.

"Selalu bersikap positif dalam kondisi yang paling buruk sekalipun akan menjaga arah masa depan tetap berada pada jalur yang tepat."

Menurut para ahli psikomotorik, jika kita sering mengucapkan hal-hal positif tentang diri sendiri, baik ketika akan tidur maupun saat bangun, alam bawah sadar akan bekerja, sehingga segenap pikiran kita dipenuhi hal-hal positif setiap saat. Cara berpikir yang penuh optimisme akan membuka jalan pada sikap-sikap positif lainnya, termasuk rasa bersyukur dan menyadari dengan iklhas pemberian kondisi apapun bagi diri kita terhadap apa yang telah terjadi, tanpa menyalahkan orang lain.

Itulah kenapa orang-orang sukses melakukan ini. So, be positive...!!!

"Sukses adalah proses mmelakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan orang biasa untuk memperoleh hasil luar biasa."

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...