Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Tuesday, August 24, 2010

KISAH BEBEK YANG MALANG

Di saat libur sekolah Jonny dan Sally ke rumah kakek neneknya. Jonny yang baru pertama kali mendapat ketapel dengan bersemangat menembak apa saja. Tapi tembakannya meleset semua. Saat bermain di kebun belakang rumah, Jonny melihat bebek peliharaan neneknya. Ia sengaja membuat bebek itu terbang, lalu menembak dengan ketapelnya. Di luar dugaan, batu yang ditembakkan dari ketapelnya kali ini tepat sasarannya. Bebek itu jatuh dan mati.

Jonny panik. Bebek itu satu-satunya dan juga kesayanagn neneknya. Jonny bingung dan putus asa. Lalu menyembunyikan bebek itu dalam tumpukan kayu bakar. Ternyata Sally memergoki perbuatan Jonny. Tapi Sally tidak mengadukan Jonny kepada neneknya.
Siang itu, sesudah selesai makan, neneknya berkata,

“Sally, ayo, kita cuci piring.”
“Jonny bilang sama saya, hari ini dia ingin bantu di dapur. Benar kan, Jonny?” kata Sally. Lalu menambahkan dengan berbisik, “Ingat bebek itu.”
Jonny tak berdaya. Lalu membantu neneknya cuci piring di dapur.
Keesokkannya, kakeknya bertanya, apakah Jonny dan Sally mau ikut mincing.
“Saya perlu Sally untuk bantu memasak,” kata nenek.
Sally tersenyum dan berkata,
“Tenang, Nek. Jonny bilang ingin bantu nenek.” Sesudah itu, Sally kembali berbisik kepada Jonny, “Ingat bebek itu.”


Jonny tinggal di rumah membantu neneknya sementara Sally memancing dengan kakeknya.
Selama beberapa hari, Jonny mengerjakan tugasnya sendiri dan tugas Sally. Akhirnya Jonny tak tahan dan mengaku kepada neneknya, ia membunuh bebek kesayangan neneknya secara tak sengaja.

“Nenek tahu, Jonny,” kata neneknya sambil memeluknya.
“Nenek berdiri di jendela dan melihat semua kejadian itu. Nenek memaafkan kamu karena nenek sayang kepadamu. Dalam hati nenek bertanya-tanya, berapa lama kamu akan membiarkan Sally memperbudak kamu.”

Ternyata nenek memaafkan Jonny, bahkan sebelum Jonny minta maaf.

Pada dasarnya kita punya rasa bersalah. Sebelum mengakui kesalahan kita, rasa bersalah itu akan terus mengikuti dan memperbudak kita.

Mengakui kesalahan lalu memperbaikinya, membuat kita lepas dari beban, menjalani hidup ini dengan lebih nyaman, dan meraih kegembiaraan lainnya

Sebagian orang tak bisa bebas dari rasa bersalah dan merasa kebahagiaan hanya milik orang-orang yang lebih pantas dari mereka. Mereka tidak memahami makna kedamaian yang lebih dalam
.
Tuhan Maha Tahu dan Maha Pengasih, Tuhan tahu semua perbuatan kita. Tak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Dan Tuhan mengampuni dosa-dosa kita jika kita bertobat dan menyesalinya.

Sunday, August 8, 2010

HARUSKAH KUMILIKI?

Hari ini aku terusik membaca kata bijak dari Khalil Gibran: “Sejatinya cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan pribadi masing-masing”. Aku resah dengan pernyataan ini, karena kupikir aku memang harus menyadari bahwa intensitas komunikasi di antara kami yang kian hari kian meningkat telah menyeretku pada sebuah keadaan (yang tanpa kusadari) membuatku dependent (tergantung) kepadanya.

Harus jujur kuakui, semakin hari aku makin yakin dengan cinta yang kumiliki terhadap dia. Begitupun cinta yang dia berikan terhadapku, selalu memberikan kenyamanan dalam bathinku. Chemistry yang makin kuat menjadi salah satu indikasi bahwa di antara kami memang sudah semakin jelas pemahaman ke arah mana kami akan membawa biduk cinta kami.Walau aku tetap tidak mau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk relasi seumur jagung ini.

Memang itu bukan kemauannya, dia justru berharap aku merasa bebas terhadapnya dan bersamanya. Jadi bukan sifat dia yang mau mengatur hidupku apalagi sampai mengendalikan sesuai keinginannya. Bahkan terkadang ada sedikit "kejengkelan" di hatiku, ketika aku menceritakan sesuatu hal mengenai diriku, masalahku. Aku sebenarnya sedang membutuhkan sedikit komentar darinya, tapi dia hanya akan berkata, “Aku bangga padamu, aku yakin kau bisa menyelesaikan semua itu dengan baik!”. Terkadang, yang kubutuhkan adalah perhatian, sedikit saja. Yah....lagi-lagi aku harus memaklumi, kalau untuk saat ini bukan cuma hanya aku yang menyita waktu dan pikirannya, tetapi juga pekerjaanya. Dia katakan, bahwa ini semua demi masa depan kita juga.

Memang, sebagai perempuan, sejak kecil sangat mandiri karena aku tidak percaya kepada siapapun untuk diajak sharing, saat ini aku satu-satunya putri yang dimiliki Papa dan Mamaku, sehingga lucu rasanya bicara masalah ‘jeroan’ perempuan dengan mamaku apalagi papaku karena aku tidak mau membebani pikiran mereka dengan masalah-masalahku ini, apalagi dengan orang lain.

Namun, harus terbuka kuakui... Cinta ternyata bisa merubah banyak hal. Dan konyolnya, aku yang sebenarnya sangat independent dalam membuat keputusan, bisa dengan pasrah menaklukkan diri supaya ada dalam kendalinya, bahkan tanpa dia ingini dan dia minta. Kutimbang-timbang dalam hatiku.... sepertinya, dengan bersikap demikian aku juga justru sedang berusaha untuk tahu banyak hal mengenai dirinya, intervensi dengan segala hal yang dia lakukan sebagai kebiasaan.

Dengan mengatas namakan CINTA dan berlindung di balik perasaan sayang, menginginkan yang terbaik untuk seorang kekasih, aku mulai terdengar sering berteriak agar jatah merokoknya dikurang, agar pola hidupnya lebih sehat, agar makannya dijaga dan teratur jadwalnya.... agar....agar....dan sekian “agar” lainnya, termasuk kata-kata seperti ini....Hati-hati ya? Doaku selalu bersamamu!" Alamak.....lazim sekali terdengarnya.

Ah..... aku mulai terseret pada perasaan memiliki yang lebih dalam, menganggap bahwa aku sepertinya lebih berpengetahuan dan lebih teratur hidupnya dari dia sehingga aku harus ikut untuk meng-"organize" dirinya yang diakuinya sangat tidak teratur dan sering tidak terkontrol. Padahal bukan berarti juga ketika dia bicara mengenai kejelekannya berarti dia sedang meminta aku turun tangan memegang kendali, kan?

Khalil Gibran memang mengusikku: “Cinta tidak harus memiliki demi menjaga kedaulatan masing-masing”. Sekarang aku resah, bagaimana mengatasi perasaan memiliki yang mulai tumbuh? Apakah mungkin tendensinya menjadi destruktif terhadap rasa aman dan rasa nyaman yang sudah mulai bisa terbangun ini???

Entahlah!

Friday, July 30, 2010

PELAJARAN HIDUP

Segala sesuatu di dalam hidup terjadi karena alasan tertentu, bukan karena kebetulan atau akibat nasib baik atau nasib buruk. Penyakit, cedera, cinta, kehilangan sesuatu yang berarti, dan kebodohan, semuanya terjadi untuk menguji kesabaran kita. Tanpa ujian-ujian kecil ini, hidup akan terasa datar, lurus dan tak ada tujuan.

Jika seseorang menyakiti kita, mengkhianati, atau membuat kita patah hati, maafkan mereka. Mereka membantu kita belajar tentang kepercayaan dan pentingnya sikap berhati-hati, kepada siapa kita membuka hati.

Jika seseorang mencintai kita, cintai balik secara tidak bersyarat, bukan hanya karena mereka mencintai kita, tapi karena mereka mengajari kita untuk mencintai dan membuka hati dan mata kita untuk hal-hal yang tak pernah akan kita lihat atau rasakan tanpa mereka.

Belajar berhubungan dengan keheningan di dalam diri sendiri, dan disadari, bahwa segala sesuatu di dalam hidup punya tujuan. Tak ada kesalahan, tak ada kebetulan. Semua kejadian adalah rahmat yang diberikan kepada kita untuk pembelajaran.
(Elizabeth Kubler Riss)

Thursday, July 1, 2010

CINTA ITU SABAR DAN PENGERTIAN

Alkisah, seorang perempuan yang baru menikah membawa sebuah kotak sepatu ketika pindah ke rumah suaminya di tanah pertanian, di kaki gunung. Kotak sepatu itu diletakkannya di lemari pakaian dan berpesan pada suaminya, agar tidak menyentuh kotak tersebut.

Si suami patuh. Selama 50 tahun, ia tidak pernah menjamah dan membuka kotak sepatu tersebut. Sampai suatu ketika, istrinya yang sakit-sakitan dan tampaknya hati-harinya hampir tiba.

Saat merapikan barang-barang di lemari, si suami menemukan kotak sepatu itu lagi dan mengira isinya penting. Ia lalu buka kotak itu dan menemukan dua taplak meja kecil hasil rajutan istrinya. Di bawahnya tersimpan sejumlah banyak uang tunai.
Ia lalu membawa kotak itu kepada istrinya dan menanyakan renda dan uang tunai tersebut.

“Ibu saya memberi saya kotak itu di hari pernikahan kita. Dia menyuruh saya merajut renda unutk membantu mengatasi rasa frustasi setiap kali saya marah kepadamu,”jelasnya.
Si suami terharu. Selama 50 tahun, istrinya hanya marah dua kali karena hanya ada dua renda.
“Lalu uang tunai itu darti siapa? Tanyanya.
“Oh, itu uang hasil penjualan taplak renda yang selama ini saya buat,”jelasnya.


Pada dasarnya, cara untuk menghindari konflik bukan dengan seni atau kerajinan tangan. Merajut renda memang bisa mengalihkan perhatian dari masalah, tapi tidak mengubah apapun.

Cara mencegah konflik dalam cinta adalah dengan melalui lembah pengertian, seperti kata Marge Piercy, hadiah pertama adalah hidup. Hadiah kedua adalah cinta dan hadiah ketiga adalah pengertian. Cinta membuat kita hidup dan member kita pengertian, yang lalu mendatangkan cinta.

Mungkin kita pernah mendengar bahwa, cinta itu sabar dan baik hati. Jika cinta itu sabar, mungkin itu disebabkan cinta benar-benar pengertian.

Friday, June 25, 2010

PENGALAMAN MASA LALU

Kita mudah bersikap negatif dengan kesalahan-kesalahan dan ketidakbahagiaan masa lalu. Tapi jauh lebih sehat memandang diri kita dan masa lalu sebagai pengalaman, penerimaan, dan pertumbuhan.

Kita menjalani pengalaman yang persis yang kita perlukan, untuk menjadi siapa kita hari ini. Maka Lepaskan pikiran negatif yang kita pendam tentang keadaan masa lalu atau hubungan masa lalu dan terima dengan rasa syukur, segala sesuatu yang membuat kita menjadi seperti hari ini.

Sunday, June 13, 2010

MOTIVASI CINTA

Suatu hari, seorang anak perempuan berumur 12 tahun mengajak adiknya yang cacat mental mencari kado untuk hadiah. Saat memasuki sebuah toko serba ada, si adik secara tak sengaja menabrak tumpukan tinggi kotak berisi sepatu. Akibatnya, sepatu berhamburan kemana-mana. Seorang pegawai segera mendatangi kedua anak itu. Dengan bertolak belakang, si pegawai berkata,

“Pungut semua sepatu itu! Rapikan sekarang juga!”
“Tidak! Saya tidak mau,” teriak anak laki-laki itu.
“Ayo, cepat pungut!” bentak si pegawai.
“Tak mau! Saya tidak mau!” bantah si anak laki-laki sambil teriak.


Anak perempuan itu lalu memunguti sepatu-sepatu itu. Melihat kakaknya bekerja, si adik lalu membantu kakaknya. Dan si pegawai itu ikut membantu. Sesudah itu, ketiganya bekerja memasukkan sepatu-sepatu ke dalam kotaknya sampai rapi seperti semula.

Sebelum berlalu, anak perempuan itu memberi pelajaran berharga kepada si pegawai toko,

“Ibu harus mencintai adik saya dulu, kalau mau minta dia bekerja membantu itu.”

Pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita ini, bahwa kata-kata mungkin juga bermanfaat bagi kita semua, yang bekerja dan hidup bersama orang lain. Jika ingin orang-orang merespon, cobalah mengasihi mereka agar mau bekerja. Semua orang suka madu yang manis. Jika kita memberi orang apa yang mereka inginkan, mereka berkemungkinan besar memberikan apa yang kita minta dari mereka.

Orang-orang termotivasi karena berbagai cara. Rasa takut misalnya, atau rasa bersalah. Tapi dalam hidup sehari-hari terbukti, jenis motivasi yang paling efektif agar orang-orang yang hidup dan bekerja dengan kita mau mengerjakan sesuatu adalah cinta yang diwujudkan dalam tindakan.


Steve Goodier – Situs Life Support System)

Tuesday, June 1, 2010

MENJADI ORANG PALING CANTIK DI DUNIA

Dulu Vina pernah menyesal karena Tuhan memberinya raut wajah yang tidak menarik. Vina merasa tersisih dan tak berguna karenanya. Namun sebuah peristiwa menyadarkannya bahwa kecantikan hati jauh lebih penting dibanding kemolekkan lahiriah semata. Dan Vina pun sadar bahwa cara berpikirnya selama ini, salah.

Ketika sadar Vina tidak secantik artis-artis dan model di televisi, dia mengalami krisis kepercayaan diri yang berlebihan. Sepertinya di dunia ini hanya dialah yang mempunyai masalah terberat di dunia. Ketika teman-temannya mulai naksir pada lawan jenis dan punya pacar, Vina justru merasa menjadi wanita jelek yang tidak pantas dicintai. Yang paling membuatnya rendah diri adalah pipinya dipenuhi oleh jerawat. Dalam kesendirian, kadang Vina menangisi nasibnya yang tidak memiliki paras secantik wanita lain.

Suatu hari Vina keluar rumah untuk belanja. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang kakek yang ingin menyeberang jalan raya, tampaknya kakek itu seorang pengemis. Penampilan kakek tersebut sangat memprihatikan dan tidak terurus. Vina membantu kakek itu menyeberangi jalan yang ramai dan padat dengan kendaraan yang lalu-lalang. Namun bukan sampai disitu, Vina mengantarkan kakek tersebut sampai di tempat tujuannya, yaitu ke sebuah rumah kardus di daerah kumuh. Ternyata itu adalah rumah si kakek. Melihat kondisi tersebut, Vina tidak tega dan merasa kasihan. Dengan sedikit uang yang dimilikinya, tanpa pikir panjang, Vina memberikan uang itu dan menyisihkan sedikit saja dari uang yang dia miliki untuk ongkos pulang ke rumah. Dan melupakan niatnya untuk berbelanja.

“Terima kasih banyak ya cu atas bantuannya dan uang yang cucu berikan, dengan uang ini bisa untuk makan kakek selama beberapa hari. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan cucu.”

“Sama-sama kek, itu tidak seberapa. Saya senang bisa membantu kakek. Alhamdulillah….sesama makhluk Allah harus saling menyayangi ya…” ujar Vina
Hari itu tiba-tiba di dada Vina terasa mengalir udara sejuk yang menghapuskan segala kegalauan hatinya.

Namun peristiwa itu belum bisa menghapus pikiran Vina tentang dirinya yang selalu menyesali dirinya yang memiliki fisik tidak menarik. Kegalauan itu muncul lagi, Vina kembali menyesali nasibnya menjadi si buruk rupa. Apalagi bila metatap cermin dan melihat pipinya yang penuh dengan jerawat. Pipinya tampak rusak. Kenapa dia merasa tidak diciptakan sebagai wanita yang berpipi mulus, berbadan langsing dan berkulit putih mulus? Ternyata Tuhan tidak adil, pikirnya saat itu.

Saat itu Hari Raya dan Vina harus bersilaturahmi dengan tetangga sekitar. Ketika mengunjungi rumah tetangganya yang masih terbuat dari bambu, Vina menjadi tertegun. Keadaan tetangganya itu sungguh payah, si empunya rumah sedang sakit parah dan wajahnya cekung karena sakit. Vina langsung menyerahkan sejumlah uang sambil menyalaminya. Tetangganya itu terharu sampai menitikkan air mata. Beliau mengucapkan terima kasih yang begitu menyejukkan hati Vina. Melihat kebahagiaannya, seharian itu Vina merasakan kembali udara segar memenuhi dadanya sehingga tak terpikirkan lagi kekurangan yang ada pada dirinya. Vina merasa cantik. Ternyata dengan menolong makhluk Tuhan, Vina merasa dirinya menjadi cantik dan berguna. Itu sangat membahagiakannya.

Akhirnya Vina punya cara tersendiri untuk membuat hidupnya lebih ringan, meski Vina tidak secantik artis. Kini dia sadar Tuhan itu adil. Dia memberikan kebahagiaan pada setiap manusia dengan cara yang berbeda, tidak harus melalui bentuk fisik manusia.

Buktinya setiap kali menolong orang lain, Vina bahagia dan hal itu membuatnya menjadi orang yang paling cantik di dunia cantik. Kini, Vina berusaha untuk selalu menolong sesama, karena dengan melakukan hal itu dia merasa semakin cantik setiap hari.

“Memberi pada sesama makhluk Tuhan dengan tulus, kita akan merasakan kebahagiaan yang tak dapat dibandingkan dengan harta apapun di dunia ini.” Dan bila kita berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kita akan kembali dalam perasaan nyaman dengan diri sendiri.

Monday, May 24, 2010

SAHABAT SEJATI

Suatu masa dalam Perang Dunia I, seorang serdadu yang berlindung dalam parit perlindungan melihat sahabatnya sejak masa kanak-kanak, roboh tertembak. Peluru terus berdesing dan tembakan berlangsung tak henti-hentinya. Dalam keadaan seperti itu, serdadu tersebut bertanya kepada komandannya, apakah dia boleh ke luar dari parit membawa temannya yang tertembak kembali ke tempat perlindungan mereka.

“Ya, kamu boleh pergi. Tapi saya rasa tak ada gunanya. Sahabatmu kemungkinan sudah meninggal dan kamu mungkin membahayakan nyawamu sendiri,” kata komandannya.

Serdadu itu tidak peduli dan nekad lari ke tempat sahabatnya di tengan desingan peluru. Dia berhasil menjangkau sahabatnya dan menyeretnya ke tempat perlindungan mereka. Komandannya segera memeriksa serdadu yang roboh dan sesaat kemudian, menatap serdadu yang membawa sahabatnya kembali.

“Saya sudah bilang, ini sia-sia. Sahabatmu sudah meninggal dan kamu hampir saja menuju kematian,” katanya.
“Ini tidak sia-sia, Pak,” sahutnya.
“Apa yang kamu maksudkan tidak sia-sia? Sahabatmu sudah meninggal,” kata sang komandan.
“Ya, Pak,” ujar serdadu itu lesu.
“Tapi ini tidak sia-sia karena waktu saya sampai kesana, dia masih hidup dan saya senang dia berkata, “Jim, saya tahu, kamu akan datang.”


Dalam hidup ini, sesuatu itu sia-sia atau tidak, benar-benar tergantung pada cara kita memandangnya. Karena yang perlu kita lakukan adalah kumpulkan seluruh keberanian dan lakukan sesuatu berdasarkan suara hati agar kita tidak menyesal tidak melakukannya di suatu hari nanti.

Ingatlah bahwa.....Teman sejati datang ketika semua pergi.

Thursday, May 20, 2010

TERSENYUMLAH !


Senyum tak perlu keluar biaya, tapi memberi banyak. Dan senyum tak bisa dibeli, diminta, dipinjam, atau dicuri karena senyum tak ada nilainya untuk siapapun, sampai senyum diberikan.

Senyum memperkaya yang menerima tanpa membuat miskin si pemberi. Senyum hanya berlangsung sesaat tapi kenangannya kadang berlangsung sampai selamanya.

Tak ada orang yang begitu kaya atau begitu kuat, sampai bisa bergaul dengan orang lain tanpa senyum, dan tak ada yang begitu papah sampai tak bisa menjadi kaya karena senyum.

Sebagian orang terlalu lelah untuk memberi kita senyuman. Berilah mereka senyuman, karena tak ada orang yang lebih membutuhkan senyuman selain orang yang tak bisa tersenyum.

Jadi, tersenyumlah, karena senyum menenangkan keresahan, membangkitkan semangat bagi yang berkecil hati, cahaya mentari bagi yang sedih, dan penangkal alamiah terbaik untuk masalah.

Thursday, May 13, 2010

KEBAHAGIAAN TERAKHIR

Perbuatan-perbuatan kecil yang kita lakukan, kadang tanpa kita sadari, punya makna besar dan berarti bagi seseorang. Orang-orang seringkali tak ingat apa persisnya yang kita lakukan, tapi akan selalu ingat perasaan yang kita bangkitkan dalam hati mereka.

Di masa muda, Budi yang tak ingin punya bos, bekerja sebagai supir taksi dan memilih shift malam. Tanpa disadarinya, ia juga menjadi tempat keluh kesah para penumpang yang dibawanya. Seringkali, begitu naik ke taksi, duduk di belakang, tanpa dikenali identitasnya, para penumpang bercerita tentang kehidupan mereka. Banyak kisah yang menyenangkan, yang membuatnya tertawa. Tapi banyak juga kisah sedih, yang membuatnya meneteskan airmata.

Suatu malam, Budi menerima panggilan untuk menjemput penumpang di sebuah rumah di kota yang tenang. Ia menduga akan menjemput undangan pesta yang akan pulang, atau seseorang yang bertengkar dengan pasangannya. Atau seorang pekerja shift dini hari di pabrik.

Budi tiba di sebuah rumah kecil di alamat yang disebutkan pada pukul 02.30 dini hari. Rumah dua tingkat tersebut gelap. Tampak hanya satu lampu yang menyala di lantai bawah. Dengan situasi seperti itu, kebanyakan supir taksi akan menekan klakson satu atau dua kali. Tunggu beberapa saat, lalu pergi. Tapi Budi lain. Sudah teramat sering ia melihat orang-orang mampu di negeri ini yang tergantung pada taksi sebagai sarana transportasi.

Seperti biasa, Budi mempelajari situasi di sekelilingnya. Jika terasa aman, ia selalu datang ke pintu rumah. Penumpang ini mungkin seseorang yang perlu bantuannya, begitu pikirnya. Budi lalu berjalan ke pintu dan mengetuknya.
“Tunggu sebentar,” terdengar jawaban seorang nenek dengan suara lemah.

Budi mendengar sesuatu diseret. Sesudah agak lama, pintu dibuka. Seorang perempuan kecil berusia 80-an berdiri di depan Budi. Ia mengenakan rok kembang-kembang kecil, mengenakan topi dengan penutup di depannya, seperti perempuan tua dalam film 40-an. Disampingnya terletak sebuah koper kecil. Rumah kecil itu tampak seakan lama tidak berpenghuni. Semua perabot ditutupi kain. Tak ada jam di dinding, tak ada peralatan di lemari dan di rak. Di sudut ruang terdapat sebuah lemari kayu dengan pintu kaca berisi foto dan piring gelas.

“Bisa tolong bawa koper saya ke taksi?” katanya.

Budi membawa koper ke taksi dan kembali untuk membantu nenek tersebut. Ia menggandena lengan Budi dan berjalan perlahan di sampingnya menuju taksi sambil terus berterima kasih kepada Budi.

“Terima kasih kembali,” kata Budi.
“Saya cuma mencoba membantu penumpang saya seperti saya memperlakukan ibu saya,” tambahnya.
“Oh, Anda anak baik,” katanya.

Sesudah duduk di dalam taksi, perempuan tua itu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat, lalu bertanya,

“Apakah kita bisa lewat kota?”
“Itu buka jalan terpendek,” sahut Budi cepat.
“Tak apa. Saya tidak peduli. Saya tidak buru-buru. Saya sedang menuju panti jompo, “ katanya.

Budi memandangnya dari kaca spion. Mata nenek itu tampak bersinar.

“Saya tak punya keluarga, tak punya siapapun lagi. Kata dokter waktu saya tak lama lagi.”
Mendengar itu, perlahan Budi mematikan meteran argo.
“Ibu ingin melewati jalan apa?” tanyanya.


Dalam 2 jam berikutnya, taksi meluncur keliling kota. Nenek itu menunjukkan bangunan tempat dia bekerja sebagai operator lift. Lalu meluncur ke wilayah tempat dia dan suaminya tinggal ketika baru menikah. Ia lalu menyuruh Budi meluncurkan taksinya ke depan sebuah gudang perabot. Di zaman dulu, tempat itu adalah ballroom tempatnya belajar dansa ketika remaja. Kadang, nenek itu menyuruh Budi memperlambat laju kendaraan di depan bangunan tertentu atau di sudut jalan tertentu, sambil dia memandang ke dalam kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat cahaya sang surya mulai tampak di ufuk langit, nenek itu tiba-tiba berkata,

“Saya lelah. Mari kita pergi sekarang.”

Budi meluncurkan taksi ke tempat alamat yang diberikan dalam keheningan dan lalu tiba di sebuah rumah petirahan. Taksi lalu meluncur ke pekarangan. Dua perawat segera keluar dan mendekati taksi. Keduanya tampak khawatir dan tegang, dan memperhatikan setiap gerak-gerinya. Budi menduga kedua perawat tersebut pasti sudah menunggunya.

Budi membuka bagasi dan membawa koper kecil itu ke depan pintu bangunan. Nenek itu sudah duduk di kursi roda.

“Saya harus bayar berapa?” tanyanya sambil mengambil dompetnya.
“Tak usah bayar,” kata Budi.
“Ini mata pencaharian anda,” katanya
“Saya bisa dapat dari penumpang lain,” sahut Budi.


Budi lalu membungkuk dan memeluknya. Nenek itu memeluknya kuat.

“Anda sudah memberi seorang nenek tua kebahagiaan singkat yang terakhir,” katanya. Terima kasih.”

Budi menekan tangannya, lalu berjalan dalam cahaya pagi yang suram. Ia mendengar bunyi pintu ditutup. Bagi Budi, itu adalah bunyi penutupan hidup.

Sesudah itu Budi tidak menerima penumpang lainnya. Ia meluncurkan taksi tanpa tujuan, sambil terus membayangkan nenek tersebut. Sepanjang hari itu, Budi tidak banyak bicara. Bagaimana jika nenek itu dapat supir taksi yang pemarah? Atau supir yang ingin cepat-cepat pulang karena shift-nya berakhir? Atau supir taksi yang hanya klakson sekali, lalu pergi? Hari itu, dalam renungan singkatnya, Budi merasa belum pernah melakukan apapun yang sepenting itu selama hidupnya.

Seringkali kita merasa, hidup kita harus berputar di sekitar hal-hal hebat. Padahal seringkali kita tidak menyadari hal-hal hebat, yang terbungkus secara indah dalam kemasan yang dianggap remeh oleh orang-orang lain.

“Mulai hari ini, perlakukan semua orang yang kita temui seakan mereka akan meninggal pada tengah malam. Berikan mereka semua perhatian, kebaikan, dan pengertian yang bisa kita kerahkan, dan lakukan tanpa memikirkan imbalan. Hidup kita tak pernah akan sama lagi.” (OG Madino)

Sunday, May 9, 2010

ARTI HIDUP

Buat aku, HIDUP adalah masalah. Masalah yang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Kita tidak bisa menghindar atau lari dari masalah. Kalau tidak diselesaikan atau menghindarinya, satu saat pasti akan terakumulasi. Satu saat akan meledak dan menghancurkan diri kita sendiri. Jadi sebelum masalah itu membesar dan meledak, harus diselesaikan secepatnya. Kita tak bisa menghindar atau lari dari masalah, selesaikan secepatnya jangan ditunda.

HIDUP adalah ujian dan cobaan. Hidup harus dijalani dengan hati yang ikhlas dan lapang dada. Nah, sekarang bagaimana kita melewati berbagai ujian itu tanpa rasa emosi, tanpa harus terbakar amarah dan dendam pada orang lain.

Dan HIDUP juga sebagai pilihan. Kemanapun kita berjalan dan pergi selalu dihadapkan dengan pilihan. Pilihan antara yang baik dan buruk. Pilihan yang terkadang tidak mudah diputuskan. Setiap pilihan pasti punya konsekwensi sendiri. Setiap pilihan harus diperjuangkan, harus pintar-pintar dan hati-hati memilihnya. Jangan sampai salah dan keliru menentukan pilihan. Dan yang paling penting harus bisa mengelola pilihan dengan baik. Intinya, ambil hal-hal positif atau baik dari pilihan yang buruk, yang jelek atau jahat kita buang.

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...