My Collections

Tuesday, May 17, 2011

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu disuruh pel lantai sambil diawasi si manajer.

“Anda diterima, katanya. “Beri saya alamat e-mail anda dan saya akan kirim formulir lamaran untuk diisi dan tanggal anda mulai bekerja,” tambahnya.
“Saya tak punya computer. Juga tak punya e-mail,” sahut si pria.
“Maaf, jika anda tak punya e-mail, berarti anda tidak eksis. Siapa yang tidak eksis, tidak bisa punya pekerjaan,” kata manajer HR.


Pria itu pergi dengan rasa sedih dan kecewa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara uang yang ada di sakunya tinggal 50 ribu. Ia lalu pergi ke supermarket dan beli 10 kg tomat. Sesudah itu ia menjual tomat itu dari pintu ke pintu. Dalam 2 jam, modalnya meningkat 2 kali lipat.

Ia lalu melakukan hal yang sama sampai 3 kali dan pulang dengan mengantongi 300 ribu. Pria ini sadar, dia bisa bertahan hidup dengan cara seperti ini. Keesokkan harinya, dia berangkat dari rumah lebih pagi dan pulang sore. Uangnya meningkat dari hari ke hari. Tak lama kemudian, bisa beli gerobak, lalu beli truk untuk mengirim pesanan.


Lima tahun kemudian, pria ini buka toko ritel makanan terbesar di kotanya. Ia lalu merencanakan masa depan keluarganya dan memutuskan beli asuransi jiwa.
Ia lalu memanggil pialang asuransi dan memilih program perlindungan yang diinginkannya. Sesudah terjadi kesepakatan, pialang itu menanyakan e-mail-nya.

“Saya tak punya e-mail,” jawab pria itu.
Pialang asuransi itu heran.
“Bapak tak punya e-mail tapi berhasil membangun kerajaan bisnis? Coba bayangkan, apa jadinya Bapak jika Bapak punya e-mail,” kata si pialang.
Pria itu berpikir sejenak dan berkata, “Ya, saya akan jadi office boy di Microsoft.”


Dalam hidup ini, internet bukan segalanya. Kendati tidak punya internet, tak punya e-mail, jika kerja keras, anda tetap bisa jadi milliuner.

Sunday, March 20, 2011

BELAJAR DAN BELAJARLAH!!!

Manusia bisa belajar darimanapun dan dari siapapun. Kita bisa mengetahui banyak hal dengan mengamati, mendengar atau merasakan apa yang terjadi di sekitar kita atau belajar dari pengalaman orang lain.

Selama ini kita hanya mempertimbangkan nasehat dari orang-orang yang kita anggap pintar atau mereka yang lebih berpengalaman. Kita sering meremehkan orang-orang yang tidak menunjukkan kepandaian secara akademis atau mereka yang masih muda karena menganggap pengalaman mereka belum banyak. Padahal tak jarang mereka bisa berpikir lebih bijaksana dibanding orang-orang yang lebih tua atau yang lebih tinggi pendidikan akademinya.

Buat setiap hari bermakna. Hargai setiap saat dan nikmati segala sesuatu yang kita raih atau alami. Kemungkinan kita tak pernah bisa mengalaminya lagi.

Saturday, March 5, 2011

FILTER BIJAK SOCRATES

Socrates, Filsuf besar yang hidup di Yunani Kuno anatara 469 – 399 SM, terkenal dengan kebijakannya. Suatu hari, Socrates bertemu dengan seorang kenalan yang bersemangat tinggi mengatakan, baru saja mendengar sesuatu tentang salah satu muridnya.

“Mau tahu apa yang saya dengar?” tanyanya.
“Tunggu dulu. Anda boleh cerita sesudah lulus tes yang saya berikan. Namanya filter rangkap tiga, “kata Socrates.

“Benar,” jawab Socrates, lalu melanjutkan, “Sebelum Anda cerita tentang murid saya, mari kita saring dulu apa yang akan Anda katakan. Itu sebabnya, tes ini saya namakan tes filter rangkap tiga. Yang pertama namanya filter kebenaran.

“Apakah Anda benar-benar yakin, apa yang akan Anda katakan kepada saya itu benar?” tanya Socrates.

“Tidak. Saya tak thu apakah itu benar. Saya hanya mendengarnya dan sekarang ingin cerita kepada Bapak,” kata orang tersebut.

“Baiklah,” kata Socrates. “Jadi Anda tidak tahu persis apakah cerita itu benar atau tidak. Sekarang, kita coba filter kedua. Namanya filter kebaikan.

“Apakah yang akan Anda ceritakan kepada saya tentang murid saya itu sesuatu yang baik?” tanya Socrates.

“Bukan sesuatu yang baik,tapi justru kebalikannnya,”kata orang tersebut.

“Jadi,”lanjut Socrates,”Anda ingin menceritakan sesuatu yang buruk tentang murid saya itu kendati pun Anda tidak tahu persis apakah itu benar?”


Pria itu kaget dan merasa malu.

“Sekarang kita sampai ke tes ketiga.Namanya tes filter manfaat.Apakah yang Akan anda ceritakan kepada saya tentang murid saya itu berguna untuk saya?”tanya Socrates.

Tidak sama sekali,”jawab pria itu.

“Jadi yang ingin Anda katakan kepada saya itu tidak benar,tidak baik, dan juga tidak berguna.Buat apa Anda cerita kepada saya?”tanya Socrates.


Pria itu malu dan segera berlalu.

Kisah ini merupakan salah satu contoh sikap Socrates yang menjunjung tinggi kebenaran.itu sebabnya, Socrates menjadi filsuf besar yang sangat dihargai dan dihormati


Moral cerita :

“Jika ingin menceritakan atau menyampaikan sesuatu yang anda dengar, selalu uji dulu dengan 3 filter ini: kebenaran,kebaikan, dan manfaat atau kegunaan.

Sunday, February 20, 2011

ALLAH SAJALAH YANG MEMILIHKAN UNTUK KU

“Ada maksud Allah dalam setiap proses. Karenanya setiap hal yang menghampiri mata kepala adalah tasbih yang menjadi pengingat-Nya.”

Aku layak menyebut duniaku kala itu sebagai abu-abu. Dunia tanpa sekat, tanpa batasan. Aku merasa berada dalam kemunduran titik nadir sebuah keimanan. Didorong oleh kondisi diri dan ketika usia mulai merambat naik, lalu tersadar akan kebutuhan seorang teman hidup, aku pun mulai menyadari dan jujur mengakui bahwa jodoh harus dicari. Namun, pencarian melalui biro jodoh dan membina hubungan jarak jauh, bukanlah cita-cita dalam hidupku. Tapi jika kenyataan itu akhirnya menghampiriku dan menjadi bagian dari setapak kehidupan yang harus aku jalani, bagaimana aku kuasa menolaknya?

BERMULA DARI INTERNET

Ini semua tak lepas dari keakrabanku di dunia internet. Teknologi yang menyuguhkan sebuah dunia baru, dunia maya yang terkadang terasa sangat nyata di depan mata. Salah satunya dalam situs perjodohan dan jaringan pertemanan online inilah, aku menemukan sebuah komunitas dunia maya yang nyaman dan menyenangkan. Disini pula aku menemukan sosok laki-laki yang mendekati kriteria calon suami yang aku harapkan. Mas Yusuf, begitu aku memanggilnya waktu itu. Pertama kali mengenalnya, kupastikan bahwa dia bisa menjadi pelabuhan terakhirku. Walau pada awalnya, aku tidak terlalu “ngeh” dengan kehadirannya di dalam situs pencarian jodoh walau dia sering melihat profilku dan mengirimkan salam.

Walau perkenalan kami melalui internet, selanjutnya komunikasi kami lakukan melalui telepon. Saat itu kami berkenalan, saling menjajaki, mengetes dan menimbang-menimbang. Aku terkesan dan menaruh respek kepadanya karena di awal pembicaraan memang sudah serius ke arah pernikahan, jadi bukan sekedar untuk main-main atau sekedar iseng saja. Mas Yusuf adalah sosok yang “unik” karena pemikirannya berbeda dengan kebanyakan laki-laki pada umumnya. Di mataku, dia punya kesan tersendiri karena pola pikirnya yang maju dan perfeksionis sehingga terkesan arogan. Dia sangat menikmati hidupnya dan kariernya bagus sebagai seorang pengusaha. Secara umum aku bisa menyelami pemikiran dan sikapnya dalam memandang hidup melalui pembicaraan panjang lebar. Terkadang muncul banyak perbedaan pandangan antara aku dan dia dalam menilai pasangan hidup. Baginya wajar jika kita harus selektif dan mempunyai kriteria ini dan itu. Sayangnya, kehidupannya hanya untuk bekerja dan bersenang-senang. Anehnya, aku bisa menerimanya, padahal aku tahu bahwa itu adalah kekurangannya yang sebenarnya tidak bisa aku terima seutuhnya.

Mungkin Mas Yusuf dengan mudah bisa menelusuri sejauh mana kehidupanku, kepribadianku melalui tulisan di blogku dan update statusku di jaringan pertemanan online. Aku ibarat buku terbuka, setiap orang yang membacanya akan mudah menangkap sosok bayanganku. Tapi lain dengan Mas Yusuf, bahkan “penampakannya” pun sulit aku lihat langsung.

Butuh waktu kurang lebih 4 bulan, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Namun sebelumnya, tentu saja aku tidak serta merta mengiyakan ajakannya karena aku merasa belum ada keberanian saat itu, apalagi keluargaku pasti tidak akan mengijinkan aku menemui seorang laki-laki seorang diri.

Setelah komunikasi yang terjalin semakin akrab dan hangat, muncul keinginan di hati yang begitu besar untuk segera bertemu. Bahkan, aku langsung saja menerima ajakannya, sesuai dengan tanggal yang sudah ditetapkannya. Padahal aku menyadari bahwa ajakan itu sedikit bernada ancaman, jika aku tidak segera menemuinya, dia tidak akan bersedia menemuiku kapan pun. Aku dilema, apalagi keluargaku, tentu saja tidak bisa melepas kepergiaanku sendiri hanya untuk menemui seorang laki-laki. Akhirnya pertahananku jebol juga, hatiku mengatakan, bahwa kita harus segera bertemu.

KE JAKARTA MENJEMPUT CINTA

Pada September 2010, Bandara Soekarno Hatta menjadi saksi pertemuan pertama kami. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari kotaku, akhirnya aku pun menginjakkan kaki di Jakarta. Mas Yusuf menjemputku,“Duh, seperti apakah wujud nyata calon suamiku?” Jantungku berdebar-debar tak karuan. Hatiku pun masih diliputi kegundahan saat sms kukirim memberitahukan kedatanganku. Setelah antri mengambil bagasi, memastikan tidak ada yang tertinggal dan melewati custom chek, aku langsung menuju pintu keluar. Di luar pintu kedatangan, kulihat sosok laki-laki berkaos putih dan bercelana pendek menghampiriku. Dia segera mengenali kemunculanku dan tampak tersenyum dari kejauhan. Ah, rasa kikuk, malu dan deg-degan yang mendera sedari tadi langsung meleleh. Pelan dan pasti berubah menjadi rasa lega. Alhamdulillah...akhirnya bisa bertemu dengan laki-laki yang beberapa bulan terakhir penasaran ingin aku temui.

Di sepanjang perjalanan, sambil menyetir mobil, kami saling bercerita tentang latar belakang kehidupan, pekerjaan, keinginan, dan harapan ke depan. Sejauh itu komunikasi kami lancar-lancar saja, semuanya nyambung, nyaman dan mengalir. Sehingga kami menemukan kecocokan, lalu berkomitmen untuk melanjutkan pertemuan ini ke tahap yang lebih serius. Hanya dalam hitungan jam, aku bisa langsung jatuh cinta dengan sosok yang baru aku kenal itu, dan aku pun bisa merasakan hal yang sama terjadi pada dirinya. Mas Yusuf punya kesan tersendiri di pikiranku, laki-laki ini sungguh beda dengan kebanyakan laki-laki yang pernah aku kenal. Walau sisi hatiku yang lain mengatakan, mampukah aku mengimbangi “keunikan” pribadinya yang terlihat egois, keras kepala, dan arogan itu? Tapi bagiku, justru karena keunikannya itulah dia bisa meraih apa yang dia impikan selama hidupnya. Kerasnya kehidupan dia di masa lalu, memotivasi dirinya untuk menjadi orang sukses yang dihargai. Mungkin wajar menurutnya jika dia bisa percaya diri dengan apa yang dimilikinya sekarang karena dia bisa memberikan masa depan yang menjanjikan untuk orang yang dicintainya.


HAMPIR SAJA

Kondisi lalu lintas ibukota yang tidak asing lagi tersohor dengan kemacetannya, membuat perjalanan kami terasa lama. Namun, tidak demikian dengan hati kami yang sedang kasmaran saat itu. Perasaan kami mengatakan bahwa, seharusnya kami bisa berlama-lama menikmati perjalanan ini sampai ke rumah.
Rasa rindu yang sekian lama kami pendam, hampir saja menggiringku pada perbuatan nista. Entah apa yang sedang bergejolak di hati Mas Yusuf malam itu, tanpa sepengetahuanku, dia memarkirkan mobilnya di sebuah hotel mewah yang terletak di sudut kota Jakarta. Aku tidak sanggup bertanya. Tampak keletihan di wajahnya sehingga muncul keraguan, antara menolak usulannya untuk tidak beristirahat di hotel, atau mengiyakan tuntutan naluri untuk menghabiskan malam bersamanya, lalu menerima ajakannya untuk beristirahat sejenak? Kondisi ini membuat aku tidak berdaya.

Aku ingat mama....”Kebodohan seorang perempuan manakala dia tidak bisa menjaga kehormatannya.” Itulah sebuah pesan mamaku terutama kepada anak gadisnya saat pertama mendapat haid. Mama begitu wanti-wanti mengingatkan kami anak-anak gadisnya untuk tetap menjaga kehormatan. Aku pun berujar, “Astaghfirullahal’adziim... Ya Allah, aku telah salah menilai dia. Aku tidak bisa menerima cara-cara seperti ini, tapi lidah begitu kelu menyampaikan!” Itulah doa yang aku ucapkan di kalbu sepanjang perjalanan dari tempat parkir hingga masuk ke dalam kamar hotel yang menggugah gairah. Aku yang belum pernah berada di dalam kamar hotel hanya bersama seorang laki-laki dewasa, baru belakangan ini kuketahui, laki-laki yang bersamaku malam itu, ternyata biasa hidup bebas, sudah terbiasa melakukan perbuatan nista dengan kekasih-kekasihnya terdahulu. Hampir saja membuatku terlena dan lupa.

Lalu kekuatan datang padaku, aku pun mampu menolak ajakannya dan dia bisa menerima walau dengan entengnya dia berujar, “Jika kamu terbebani dengan kondisi ini, jangan pernah lagi bermimpi kita akan naik ke pelaminan, karena aku sudah terhina ditolak seperti malam ini!” Semandiri atau semodern apapun, sebagai wanita, aku terhenyak dengan sikapnya. Aku merasa dibuang, diabaikan, dan direndahkan. Rasa sakitlah yang membuat aku terhenyak karena sama sekali tidak menyangka rencana indah yang sedari tadi dirangkai, porak-poranda dalam waktu sekejap. Laki-laki itu sungguh keterlaluan, mengabaikan cinta tulusku hanya karena emosi sesaat yang tidak tersalurkan. Dia seperti cuci tangan dari semua janji-janji dan mimpi-mimpi tentang sebuah pernikahan yang suci yang sudah kami bahas sepanjang perjalanan itu. Aku tidak bisa merasakan apapun, semua seperti mimpi. Bahkan aku pun tidak bisa meneteskan airmata padahal begitu dalamnya kekecewaan yang aku rasakan. Laki-laki yang sudah 4 bulan kukenal dan baru saja kutemui, ternyata laki-laki yang tidak punya hati dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Aku hanya bisa berlindung di balik sebuah kata permakluman....”Untung dia tidak berhasil merenggut milikku yang paling berharga!” Meski agak malu mengakui tapi selalu bersyukur karena Allah jua lah yang akhirnya menyelamatkanku.

TAMPARAN DARI SANG RABB

Yah, manusia boleh berencana, tapi Allah jua yang menentukan. Tiba-tiba aku seperti terbangun dari tidur panjang, lebih tepatnya tersentil keras. Kebodohan terus memayungi langkahku walau tidak sempat terjadi hal buruk pada diriku. Pengalaman-pengalaman buruk masa lalu, masih tergambar jelas di batok kepala. Seperti rekaman sebuah slide show yang diputar perlahan-lahan. Menyegarkan rasa takut dan sakit hati yang menggelegak bersemayam di dalam jiwaku. Aku mengadu sepuasnya pada-Nya. Aku berlinangan air mata saat bersimpuh pasrah di hadapan-Nya. Aku juga memohon ampun atas segala khilafku dan khilafnya. Aku tahu, Allah Maha Pengampun. Masya Allah, aku telah salah jika hanya mengharapkan kebahagian ragawi dan duniawi semata dari seorang manusia. Aku pun menyadari, justru perpisahan dengan laki-laki seperti Mas Yusuf itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Astaghfirullahal’adziim.... ini yang kesekian kalinya aku alami. Aku gagal lagi menilai seorang laki-laki yang bakal menjadi pasangan hidupku. Aku juga gagal memberikan kado terindah buat mama akan seorang calon mantu yang baik, beriman, sayang kepadaku dan juga keluargaku. Betapa besar harapan mama, agar aku segera menemukan calon pendamping dan secepatnya menikah. Agar mama sempat merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan. Hidup bahagia bersama suami yang mencintaiku dan kucintai, lalu membina rumah tangga yang diidam-idamkan semua orang, yaitu rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Amin!

Allah telah menegurku bahwa laki-laki itu bukanlah calon suami yang dikirimkan Allah untukku. Kuminta dengan sangat terperinci calon suami yang aku harapkan. Dan aku juga meminta agar Allah mengisi hatiku dengan keyakinan yang mantap ketika pria itu datang. Agar aku tahu dan yakin bahwa dialah jodoh yang Allah kirimkan untukku. Mungkin aku tidak pintar memilih, maka biar Allah sajalah yang memilihkan untukku. Bahwa cinta yang datang karena Allah. Bukan nafsu! Dan jodoh yang Allah kirimkan sudah pasti yang terbaik untukku.

Namun aku selalu belajar dari pengalaman. Benar, pengalaman adalah guru terbaik. Bahwa segala sesuatu di dalam hidup terjadi karena alasan tertentu, bukan karena kebetulan atau akibat nasib baik atau nasib buruk. Dan hidup di dunia akan selalu ditempa oleh kesulitan, kekayaan, kehilangan sesuatu yang berarti, kebodohan, penderitaan, kekayaan, dan keterpurukan, silih berganti. Dan manusia diuji dengan semua itu. Fainna ma’al ‘usri yusraa....Setelah kesulitan akan ada kemudahan.

Tamparan Allah yang disampaikan dengan cara yang santun itu membuatku tersadar. Aku tercenung.... teringat akan sebuah kalimat bijak yang mengatakan, ”Hati-hati, jangan mencintai manusia secara berlebihan. Cinta yang utama hanya kepada Allah SWT. Cinta kepada manusia tidak boleh melebihi cinta kepada Allah SWT.” Sabar dan tawakal kepada-Nya sajalah penghiburku. Bukankah jika Allah menghendaki seseorang baik, maka Allah akan memberinya ujian?

Saturday, February 12, 2011

MENGUNDANG CINTA

Suatu hari, seorang ibu yang hidup di suatu mas melihat tiga kakek berjenggot putih duduk di pekarangan rumahnya. Karena merasa tidak mengenal ketiga kakek itu, ibu tersebut lalu berkata,

"Rasanya saya tidak mengenal kalian. Tapi, kalian pasti lapar. Mari masuk dan makan apa adanya."
"Apakah ada pria di dalam rumah?" tanya mereka.
"Tidak. Mereka belum pulang dari bekerja," jawabnya.
"Kalau begitu, kami tidak bisa masuk," sahut mereka.


Di malam hari, ketika suami dan anak laki-lakinya pulang, ibu itu lalu bercerita tentang apa yang terjadi."Sana, bilang sama mereka saya sudah pulang. Undang mereka untuk makan bersama," kata suaminya.

Ibu itu lalu keluar dan mengundang ketiga kakek itu ke dalam rumahnya.
"Kami tak bisa masuk ke rumah ibu bersama-sama," kata mereka serentak.
"Mengapa?" tanya ibu itu.

Salah satu dari kakek itu menjelaskan.
"Namanya adalah Kekayaan," katanya sambil menunjuk salah satu dari temannya. Sesudah itu, lalu menunjuk ke temannya yang lain, "Dia adalah Sukses, dan saya adalah Cinta. Sekarang diskusikan dengan suami ibu, siapa diantara kami yang akan diundang makan bersama," tambahnya.

Ibu itu lalu masuk ke dalam dan menceritakan hal ini kepada suaminya. Sesudah mendengar itu. suaminya sangat senang dan berkata,
"Bagus sekali!" katanya.
"Kalau begitu, mari kita undang Kekayaan. Ajak dia masuk dan biarkan dia mengisi rumah kita dengan kekayaan."
Ibu tidak setuju.
"Sayangku, mengapa kita tidak mengundang Sukses saja?"


Menantu perempuan yang ikut mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu mertuanya mengajukan usul lain.

"Apakah tidak lebih baik jika kita mengundang Cinta saja? Rumah kita akan dipenuhi dengan cinta!" katanya.
"Benar juga menantu kita. Kalau begitu, kita undang Cinta sebagai tamu kita," kata si suami.


Ibu itu lalu keluar dan bertanya kepada ketiga kakek itu, "Yang mana yang namanya Cinta? Mari masuk dan menjadi tamu kami."

Cinta lalu berdiri dan mulai berjalan mengikuti ibu itu ke rumahnya. Kedua temannya juga berdiri dan berjalan mengikutinya. Melihat itu, si ibu kaget dan berkata, "Saya hanya mengundang Cinta. Mengapa kalian berdua ikut? Katanya hanya salah satu yang boleh masuk?"

Ketiga kakek itu menjawab serentak,
"Jika ibu mengundang Kekayaan, Sukses dan Cinta tak bisa masuk. Jika ibu mengundang Sukses, Kekayaan dan Cinta tak bisa masuk. Tapi karena ibu mengundang Cinta, kemanapun dia pergi, kami selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, di sana juga ada Kekayaan dan Sukses."

Monday, January 24, 2011

JANGAN BELI KUCING DALAM KARUNG

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku bahwa aku akan menjalani kehidupan perjodohan seperti ini. Didorong oleh kondisi diri dan ketika usia mulai merambat naik, lalu tersadar akan kebutuhan seorang teman hidup, aku pun mulai menyadari dan jujur mengakui..."Bahwa jodoh memang harus dicari!"

Kalimat ini sering kita dengar, "bahwa jodoh Allah yang menentukan". Bila Allah sudah menentukan, di tengah gelombang laut jawa pun, jodoh bisa bertaut. Cepat atau lambat, jodoh adalah masalah takdir dan rejeki, Allah yang menentukan, bukan manusia. Tapi manusia mempunyai pilihan dalam menjalani kehidupannya. Pilihan antara yang baik dan buruk. Setiap pilihan mempunyai konsekwensi masing-masing. Begitu juga Allah menentukan jodoh manusia, namun jalan dan caranya tergantung kepada manusia itu sendiri, karena Allah sudah menjanjikan antara surga dan neraka. Nah, kita mau memilih yang mana?

Sebesar apapun usaha kita, jika belum waktunya Allah memberi restu, pasti tidak akan terwujud karena segala sesuatu pasti ada saat dan waktunya juga. Tapi Allah suka kepada umatnya yang berusaha/berikhtiar, bukan sekedar doa dan harapan semata. Dan bila tidak berikhtiar, mana mungkin pasangan bisa tiba-tiba datang ke pelukan?

Ikhtiar yang dilakukan salah satunya melalui kontak jodoh/Biro Jodoh di internet. Internet yang diciptakan di abad 20 ternyata menyumbangkan perubahan yang sangat signifikan atas pola hubungan saat ini. Begitu pula bagaimana sikap orang untuk memutuskan bergabung menjadi anggota di salah satu situs pencarian jodoh.

Begitu juga aku dalam menyikapi konsekwensi yang bakal terjadi saat aku terlibat di dalamnya. Banyak sekali masukan dari teman-teman lengkap dengan saran-saran, bahkan cerita-cerita yang terkesan "menyeramkan", dengan tujuan agar aku waspada/hati-hati dalam mencari calon suami/laki-laki di dunia maya yang akan menjadi pasangan hidupku di dunia nyata.

Berjuta pertanyaan dan keraguan sempat muncul di awalnya. "Bagaimana mungkin bisa menerima seseorang yang tidak diketahui latar belakang dan kepribadiannya begitu saja? Begitu banyak kebohongan di dunia ini. Tidak sedikit kisah anak manusia yang berakhir bahagia menemukan belahan jiwanya di dunia maya, tapi banyak juga yang tertipu dan kecewa.

Aku tidak mau "menjudge" orang lain, apalagi menyamaratakan atas perbuatan buruk seseorang terhadap orang lain, dimana belum tentu semua orang mau dan atau mampu melakukannya. Terutama dalam urusan mencari jodoh, setiap orang pasti punya niat dan tujuan yang berbeda-beda. Kembali ke diri masing-masing, bagaimana menerima konsekwensi dari perbuatannya sendiri.

Seperti pengalaman-pengalaman berikut yang aku dapati dari "sharing" beberapa teman yang bergabung di dalam situs kontak jodoh :

1. Laki-laki yang mendambakan istri yang sholeha, justru laki-laki yang tidak bersikap seorang laki-laki sholeh. Laki-laki yang diharapkan bisa menjadi imam di dalam keluarga, nyata-nyata laki-laki munafik yang hanya mengharapkan kesenangan duniawi dengan cara-cara yang justru melecehkan kaum perempuan. Punya maksud-maksud dan intrik-intrik tertentu, padahal sang wanita tulus dan rela berbuat apapun demi membuktikan kesungguhannya.

2. Laki-laki yang "tidak punya hati", hanya bermodalkan materi dan pundi-pundi duniawi serta dilandasi oleh kriteria ini itu yang tidak masuk akal, sehingga terkesan bahwa "wanita bisa dibeli". Menganggap cinta itu diibaratkan seperti "proses jual-beli"....tidak cocok, ya...tidak jadi!" Sungguh menyakitkan hati.

3. Laki-laki yang tutur katanya baik, bijaksana bak seorang nabi. Setelah berkomitmen sehidup semati dan berjanji akan menikahi sang pujaan hati, nyata-nyata mengingkari janji. Pergi begitu saja tanpa berita dan meninggalkan berjuta-juta tanya.

4. Laki-laki yang mengaku di profil seorang duda, sudah lama hidup sendiri dan segera ingin mendapatkan pengganti, nyata-nyata masih mempunyai istri tapi hanya mencari "mangsa". Setelah mendapatkan "mangsa", berubah menjadi "KEONG RACUN' hanya ingin menikmati CINTA SATU MALAM".

5. Laki-laki yang mempunyai profil bagus dan testimoni yang menarik, nyata-nayata cuma laki-laki iseng yang tidak berani berkomitmen, selalu menunda-nunda pertemuan tapi lebih doyan memilih "PHONESEX" dibandingkan berkomitmen untuk menuju seks yang halal dalam sebuah ikatan perkawinan yang halal pula.

Terkadang muncul pemikiran manusiawiku...."Apa sebenarnya yang diingini dari seorang laki-laki? Bukankah wadah ini merupakan jalan untuk mendapatkan pasangan hidup yang "bener" bukan untuk satu atau dua hari saja? Bukan di sini tempatnya jika cuma ingin kenikmatan sesaat...Maaf jika aku harus katakan ini, walau tidak semua orang (siapapun dia), "Anda punya uang? Anda bisa beli perempuan yang juga mempunyai tujuan dan maksud-maksud yang sama! Sehingga tidak ada wanita yang tersakiti dan merugikan orang lain yang punya niat tulus mencari pasangan hidup yang bisa menjadi imam/pendamping dalam keluarga untuk mendapatkan ridho-Nya.

Yah, begitulah kehidupan, terkadang sulit dimengerti dan dipahami. Terkadang muncul ego masing-masing dalam menyikapi hidup. Aku yakin semua ciptaan Allah itu baik dan bermanfaat. Tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang bisa berubah dan bijak rasanya jika tidak lagi mau terjatuh dalam kubangan yang sama. Rasanya juga tidak baik menilai orang terlalu cepat. Kita pikir seseorang hidupnya "ngasal" ternyata hatinya tulus. Kita pikir seseorang sholeh/sholehah dan tutur kata yang super hebat bak seorang pemimpin yang bijaksana, nyatanya hatinya picik dan munafik. Kita tidak pernah tahu, karena mnusia tidak boleh dinilai dari penampilan luar, tapi dari dalam hatimya. Itulah pula sebabnya dalam mencari pasangan hidup, jangan melihat "chasing-nya" saja, apalagi punya kriteria ini dan itu, sedangkan diri sendiri tidak pernah dan tidak mau mengoreksi diri sendiri. Terimalah apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya karena sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu baik dan sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik.

"Jangan terjebak ekspektasi yang terlalu tinggi dan mengharap terlalu banyak, karena yang indah-indah itu terjadi kalau kita siap memberi."

Akhirnya aku harus mengatakan, "Aku tidak sendiri, kita tidak sendiri!". Tidak ada kata terlambat walau orang memandang wanita yang sudah berusia di atas 30 tahun belum juga menikah itu "berat jodoh" atau dianggap terlalu pemilih atau terlalu mementingkan karir, namun mereka juga layak berusaha mencari yang terbaik menurut kapasitasnya. Pencarian cinta untuk mendapatkan pasangan hidup melalui kontak jodoh bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah atau pun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tidak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani perjodohan seperti ini. Sekali lagi, kembali ke diri masing-masing tiap-tiap orang. Bagiku, selagi jalan yang ditempuh lurus dan demi tujuan untuk mengharapkan ridho ALLAH SWT, Allah selalu membukakan jalan bagi umat-Nya yang meminta dengan ikhlas dan pasrah sesuai kaidah-kaidah-NYa.

Di sisi lain, aku pun harus tersadarkan, bahwa harus siap, kuat, dan tegar menerima sisi-sisi negatif dari hubungan yang (mungkin) sebagian orang menganggap tidak masuk akal. Termasuk menerima berjuta nasehat yang mengatakan "MEMILIH JODOH JANGAN SEPERTI MEMBELI KUCING DALAM KARUNG!" Tapi aku yakin, seperti janji Allah, bahwa semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan, artinya setiap manusia pun ada jodohnya apalagi bagi orang yang tiada putus berdoa dan berikhtiar.

Aku juga jauh dari sempurna, jadi aku tidak pernah menuntut siapapun. Kecuali aku menginginkan ketulusan yang terlihat/tampak dari perbuatannya. Kita menuntut karena kita merasa memilikinya seutuhnya. Prinsipku...Berjalan saja mengikuti alur. Luruskan niat baik, lalu jalankan niat itu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Sisanya, serahkan semua urusan kepada Allah SWT. Dan yakin, bahwa semua tidak akan terjadi tanpa ijin Allah. Pada akhirnya, syukuri saja semua hal yang kita capai dalam hidup. It's simple!

Thursday, January 13, 2011

HIKMAH YANG KUPETIK!

Ternyata pengalaman waktu tidak akan pernah bisa ditahan. Begitu juga saat alam mengubah apa yang ada dalam diri manusia. Tuhan bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki, kita hanya debu yang bisa terhembus kapanpun.

Beberapa hari ini aku mala meng-update blog ku ini. Lagi-lagi aku hanya bisa berlindung di balik kata-kata permakluman...."Lagi sibuk, lagi malas, dan lagi tidak mood!" Tiga kata yang ternyata akhirnya menimbulkan kesan ketidak konsekwensian ku akan sebuah mimpi menjadi seorang penulis sejati. Tapi apa mau dikata jika ternyata cita-cita tersebut akan terwujud jika salah satu bahkan tidak ada sama sekali tiga kata itu melekat di hari-hari ku. Iya seharusnya, jangan ada kata malas, tidak mood, atau karena kesibukan. Sesibuk apapun, kejadian apapun yang disebabkan karena lagi malas, lagi sibuk, atau karena lagi tidak mood, justru bisa menjadi sebuah cerita. Dan aku harus profesional dan total!

Banyak yang terjadi pada diriku beberapa bulan ke belakang. Kejadian-kejadian berlalu tanpa mampu aku uraikan tapi seperti selalu aku komitkan ke dalam diriku, bahwa aku selalu koreksi diri mencoba mengetahui apa yang salah pada diriku ketimbang harus menyalahkan orang lain, apalagi harus menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain atas buruknya kehidupan, adalah reaksi alamiah orang yang malas memperbaiki kehidupannya sendiri. Aku pikir, kejadian-kejadian menyedihkan yang aku alami tahun kemaren adalah akhir dari segalanya, tapi ternyata justru awal dari proses kehidupanku selanjutnya.

Aku yakin, tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang bisa berubah. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Bijaksana rasanya jika mau belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu. Dan bodoh namanya, jika tidak mau merubah diri dan jatuh ke dalam kubangan yang sama.

Aku memandang hidup sebagai pilihan. Kemanapun kita berjalan dan pergi selalu dihadapkan dengan pilihan. Pilihan antara yang yang baik dan buruk. Pilihan yang terkadang tidak mudah mudah diputuskan. Setiap pilihan pasti punya konsekwensi sendiri. Setiap pilihan harus diperjuangkan, harus pintar-pintar dan hati-hati memilihnya. Jangan sampai salah dan keliru menentukan pilihan. Dan yang paling penting harus bisa mengelola pilihan dengan baik. Intinya, ambil hal-hal positif atau baik dari pilihan yang buruk, yang jelek atau jahat kita buang.

Manusia tidak boleh dinilai dari penampilan luar, tapi dari dalam dan hatinya. Yang terlihat baik dari luar, belum tentu baik dalamnya. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan, mungkin ada kepura-puraan.Tidak baik menilai orang lain. Kita pikir seseorang hodupnya "ngasal" ternyata hatinya tulus. Kita pikir seseorang taat dan hebat dalam bertutur kata, ternyata hatinya picik. Kita tidak akan pernah tau, yang terlihat baik di luar, belum tentu baik dalamnya. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan, mungkin ada kepura-puraan.

Aku yakin semua ciptaan Allah itu baik dan bermanfaat, jadi jangan melihat fisiknya. Jangan punya kriteria ini dan itu. Yang terpenting adalah bisa mengerti dan menerima apa adanya. Terimalah apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Aku justru melihat sisi positif dari kegagalanku kemaren. Terutama dalam percintaan. Kesannya perempuan itu lemah terhadap cinta, tidak berdaya. Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin menjadi wanita yang tegar dan kuat terhadap cinta. Tidak cengeng begitu ditinggal kekasihnya dan tidak mengemis cinta. Dan aku menyadari, hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. Memang tidak mudah memahami dan mengenali pasangan secara utuh. Terkadang muncul ego masing-masing dalam menyikapi masalah. Muncul konflik baru. Perlu berbagi kesabaran untuk saling mengerti dan saling memahami.

Aku percaya pada proses. Proses yang baik akan menghasilkan hal yang baik juga. Dan proses itu butuh kesabaran dan waktu. Karena cepat atau lambat itu masalah takdir dan rejeki. Allah yang menentukan bukan manusia. Sebesar apapun usaha kita, jika belum waktunya, Allah belum memberi restu, pasti tidak akan terwujud. Karena segala seuatu pasti ada saat dan waktunya.

Harus selalu bersyukur sama Allah. Harus bersyukur dengan segala pemberian Allah. Ketika turun, pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Sejauh mana perjuangan hidup kita, bisa bangkit kembali. Jangan terus-menerus di bawah.

Segala sesuatu di dalam hidup terjadi karena alasan tertentu, bukan karena kebetulan atau akibat nasib baik atau nasib buruk. Penyakit, cedera, cinta, kehilangan sesuatu yang berarti, dan kebodohan, semuanya terjadi untuk menguji kesabaran kita. Tanpa ujian-ujian kecil ini, hidup akan terasa datar, lurus dan tak ada tujuan.

Jika seseorang menyakiti kita, mengkhianati, atau membuat kita patah hati, maafkan mereka. Mereka membantu kita belajar tentang kepercayaan dan pentingnya sikap berhati-hati, kepada siapa kita membuka hati. Sebaliknya, jika seseorang mencintai kita, cintai balik secara tidak bersyarat, bukan hanya karena mereka mencintai kita, tapi karena mereka mengajari kita untuk mencintai dan membuka hati dan mata kita untuk hal-hal yang tak pernah akan kita lihat atau rasakan tanpa mereka.

Aku berubah? Sesungguhnya yang terjadi sebelum ini adalah, justru aku berubah menjadi orang yang "kerdil", tidak berdaya karena kebodohanku sendiri, dan menentang kehendak Allah. Aku menyadari aku telah "bodoh". Tapi sesungguhnya pula aku bukan orang bodoh yang mau berlama-lama larut dalam kesengsaraan hati. Aku selalu berprinsip begini...

"Serahkanlah hatimu kepada kebaikan, karena hanya dengannya hatimu menjadi bening. Dan ketahuilah bahwa kebeningan hatimu menentukan kemampuanmu untuk melihat yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang hatinya suram."

"Aku ingin membuat setiap hari bermakna. Hargai setiap saat dan nikmati segala sesuatu yang kita raih atau alami. Kemungkinan kita tak pernah bisa mengalaminya lagi."


Aku boleh saja bangga, aku tetap saja manusia biasa yang terkadang masih sering lupa. Alhamdulillah....Aku selalu mengambil hikmah positif dari setiap peristiwa dan kejadian yang aku alami. Dan selalu berharap yang terbaik selalu menghampiri hidupku!

Tuhan tidak akan menaruh kita dalam keadaan yang kesulitannya lebih besar daripada kemampuan kita untuk mengatasinya.
Kita tidak akan pernah mengenali kekuatan kita, sampai kita menemui kesulitan. Dan aku tidak pernah menyalahkan Allah untuk sesuatu yang bisa diperbaiki."