
Jangan heran bila kebanyakan mereka berusaha untuk memperbaiki penampilan diri. Mungkin bisa dengan sedot lemak, minum ramuan pelangsing super, operasi wajah, dan memakai produk kecantikan yang serba mahal. Meskipun sudah berolahraga setiap hari dan mengurangi makan, tetapi semua sia-sia. Jika dengan jalan itu bisa terbukti dan membuat seseorang merasa cantik, kenapa tidak.
Bagi yang bertubuh gemuk, rasanya begitu nelangsa melihat mereka yang bertubuh langsing itu. Bisa jadi sebagian besar perempuan yang bertubuh besar pernah merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak? Mereka tidak pernah merasakan betapa susahnya menyembunyikan tonjolan lemak di sekitar perut dan sedihnya tidak mudah mendapatkan ukuran baju yang sesuai di bak-bak bertuliskan SALE.

Pandanganku terhadap konsep cantik berubah saat aku membandingkan dua orang wanita, tepatnya ibu muda yang mempunyai kepribadian yang sangat jauh berbeda alias sangat bertolak belakang. Mereka adalah tetangga dekat rumahku.
Ibu Rina, orangnya sangat cantik, walau sudah dikaruniai dua orang anak, tetapi tubuhnya masih terawat dengan baik dan bertubuh langsing, Bisa dimaklumi karena Ibu Rina cukup bermodal untuk merawat dirinya dan dianggap orang dari kalangan menengah ke atas, namun suka berkata sinis dan seenaknya terhadap orang lain. Jangan tanya bagaimana sikap Ibu Rina terhadap anaknya, wuihh galak! Bahkan anak tetangga, tidak ada yang berani mendekati Ibu Rina.

Lama-lama aku bisa menilai mereka. Meski Ibu Eni lebih tua 12 tahun dari Ibu Rina yang baru 27 tahun, tapi dia justru terlihat lebih muda. Kebaikan hatinya terpancar dari aura wajanya. Tak heran bila suami Ibu Eni tidak berniat mencari istri lagi meski mereka belum dikaruniai anak.
“Barang antik susah carinya,” begitu seloroh sang suami ketika ditanya mengapa dulu jatuh hati pada sang istri.
Sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangga Ibu Rina. Dengar-dengar dari pembantunya, mereka sering bertengkar hebat. Bisa berhari-hari baru baikan lagi. Padahal tadinya kupikir, suaminya pasti betah di rumah karena memiliki istri yang cantik dan langsing, masih muda pula.

Aku tidak mengatakan bahwa cantik fisik itu tidak penting, tapi kecantikan hati jauh lebih bernilai. Paling tidak keduanya harus seimbang. Kita harus ingat bahwa kecantikan fisik lama-kelamaan akan memudar seiring pertambahan usia. Berbeda dengan inner beauty yang abadi meski kita sudah tua. Bahkan saat kita sudah tidak ada di dunia ini, akan tetap menjadi kenangan manis oleh orang yang merasakannya.
Bukankah benar pepatah ini yang mengatakan bahwa ”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan budi?” Dan kecantikan yang berasal dari hati jauh lebih bermakna.
sangat berarti sekali buat saya http://ghinacomsrv.blogspot.com
ReplyDeleteberkunjung yah