Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Monday, May 24, 2010

SAHABAT SEJATI

Suatu masa dalam Perang Dunia I, seorang serdadu yang berlindung dalam parit perlindungan melihat sahabatnya sejak masa kanak-kanak, roboh tertembak. Peluru terus berdesing dan tembakan berlangsung tak henti-hentinya. Dalam keadaan seperti itu, serdadu tersebut bertanya kepada komandannya, apakah dia boleh ke luar dari parit membawa temannya yang tertembak kembali ke tempat perlindungan mereka.

“Ya, kamu boleh pergi. Tapi saya rasa tak ada gunanya. Sahabatmu kemungkinan sudah meninggal dan kamu mungkin membahayakan nyawamu sendiri,” kata komandannya.

Serdadu itu tidak peduli dan nekad lari ke tempat sahabatnya di tengan desingan peluru. Dia berhasil menjangkau sahabatnya dan menyeretnya ke tempat perlindungan mereka. Komandannya segera memeriksa serdadu yang roboh dan sesaat kemudian, menatap serdadu yang membawa sahabatnya kembali.

“Saya sudah bilang, ini sia-sia. Sahabatmu sudah meninggal dan kamu hampir saja menuju kematian,” katanya.
“Ini tidak sia-sia, Pak,” sahutnya.
“Apa yang kamu maksudkan tidak sia-sia? Sahabatmu sudah meninggal,” kata sang komandan.
“Ya, Pak,” ujar serdadu itu lesu.
“Tapi ini tidak sia-sia karena waktu saya sampai kesana, dia masih hidup dan saya senang dia berkata, “Jim, saya tahu, kamu akan datang.”


Dalam hidup ini, sesuatu itu sia-sia atau tidak, benar-benar tergantung pada cara kita memandangnya. Karena yang perlu kita lakukan adalah kumpulkan seluruh keberanian dan lakukan sesuatu berdasarkan suara hati agar kita tidak menyesal tidak melakukannya di suatu hari nanti.

Ingatlah bahwa.....Teman sejati datang ketika semua pergi.

Thursday, May 20, 2010

TERSENYUMLAH !


Senyum tak perlu keluar biaya, tapi memberi banyak. Dan senyum tak bisa dibeli, diminta, dipinjam, atau dicuri karena senyum tak ada nilainya untuk siapapun, sampai senyum diberikan.

Senyum memperkaya yang menerima tanpa membuat miskin si pemberi. Senyum hanya berlangsung sesaat tapi kenangannya kadang berlangsung sampai selamanya.

Tak ada orang yang begitu kaya atau begitu kuat, sampai bisa bergaul dengan orang lain tanpa senyum, dan tak ada yang begitu papah sampai tak bisa menjadi kaya karena senyum.

Sebagian orang terlalu lelah untuk memberi kita senyuman. Berilah mereka senyuman, karena tak ada orang yang lebih membutuhkan senyuman selain orang yang tak bisa tersenyum.

Jadi, tersenyumlah, karena senyum menenangkan keresahan, membangkitkan semangat bagi yang berkecil hati, cahaya mentari bagi yang sedih, dan penangkal alamiah terbaik untuk masalah.

Thursday, May 13, 2010

KEBAHAGIAAN TERAKHIR

Perbuatan-perbuatan kecil yang kita lakukan, kadang tanpa kita sadari, punya makna besar dan berarti bagi seseorang. Orang-orang seringkali tak ingat apa persisnya yang kita lakukan, tapi akan selalu ingat perasaan yang kita bangkitkan dalam hati mereka.

Di masa muda, Budi yang tak ingin punya bos, bekerja sebagai supir taksi dan memilih shift malam. Tanpa disadarinya, ia juga menjadi tempat keluh kesah para penumpang yang dibawanya. Seringkali, begitu naik ke taksi, duduk di belakang, tanpa dikenali identitasnya, para penumpang bercerita tentang kehidupan mereka. Banyak kisah yang menyenangkan, yang membuatnya tertawa. Tapi banyak juga kisah sedih, yang membuatnya meneteskan airmata.

Suatu malam, Budi menerima panggilan untuk menjemput penumpang di sebuah rumah di kota yang tenang. Ia menduga akan menjemput undangan pesta yang akan pulang, atau seseorang yang bertengkar dengan pasangannya. Atau seorang pekerja shift dini hari di pabrik.

Budi tiba di sebuah rumah kecil di alamat yang disebutkan pada pukul 02.30 dini hari. Rumah dua tingkat tersebut gelap. Tampak hanya satu lampu yang menyala di lantai bawah. Dengan situasi seperti itu, kebanyakan supir taksi akan menekan klakson satu atau dua kali. Tunggu beberapa saat, lalu pergi. Tapi Budi lain. Sudah teramat sering ia melihat orang-orang mampu di negeri ini yang tergantung pada taksi sebagai sarana transportasi.

Seperti biasa, Budi mempelajari situasi di sekelilingnya. Jika terasa aman, ia selalu datang ke pintu rumah. Penumpang ini mungkin seseorang yang perlu bantuannya, begitu pikirnya. Budi lalu berjalan ke pintu dan mengetuknya.
“Tunggu sebentar,” terdengar jawaban seorang nenek dengan suara lemah.

Budi mendengar sesuatu diseret. Sesudah agak lama, pintu dibuka. Seorang perempuan kecil berusia 80-an berdiri di depan Budi. Ia mengenakan rok kembang-kembang kecil, mengenakan topi dengan penutup di depannya, seperti perempuan tua dalam film 40-an. Disampingnya terletak sebuah koper kecil. Rumah kecil itu tampak seakan lama tidak berpenghuni. Semua perabot ditutupi kain. Tak ada jam di dinding, tak ada peralatan di lemari dan di rak. Di sudut ruang terdapat sebuah lemari kayu dengan pintu kaca berisi foto dan piring gelas.

“Bisa tolong bawa koper saya ke taksi?” katanya.

Budi membawa koper ke taksi dan kembali untuk membantu nenek tersebut. Ia menggandena lengan Budi dan berjalan perlahan di sampingnya menuju taksi sambil terus berterima kasih kepada Budi.

“Terima kasih kembali,” kata Budi.
“Saya cuma mencoba membantu penumpang saya seperti saya memperlakukan ibu saya,” tambahnya.
“Oh, Anda anak baik,” katanya.

Sesudah duduk di dalam taksi, perempuan tua itu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat, lalu bertanya,

“Apakah kita bisa lewat kota?”
“Itu buka jalan terpendek,” sahut Budi cepat.
“Tak apa. Saya tidak peduli. Saya tidak buru-buru. Saya sedang menuju panti jompo, “ katanya.

Budi memandangnya dari kaca spion. Mata nenek itu tampak bersinar.

“Saya tak punya keluarga, tak punya siapapun lagi. Kata dokter waktu saya tak lama lagi.”
Mendengar itu, perlahan Budi mematikan meteran argo.
“Ibu ingin melewati jalan apa?” tanyanya.


Dalam 2 jam berikutnya, taksi meluncur keliling kota. Nenek itu menunjukkan bangunan tempat dia bekerja sebagai operator lift. Lalu meluncur ke wilayah tempat dia dan suaminya tinggal ketika baru menikah. Ia lalu menyuruh Budi meluncurkan taksinya ke depan sebuah gudang perabot. Di zaman dulu, tempat itu adalah ballroom tempatnya belajar dansa ketika remaja. Kadang, nenek itu menyuruh Budi memperlambat laju kendaraan di depan bangunan tertentu atau di sudut jalan tertentu, sambil dia memandang ke dalam kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat cahaya sang surya mulai tampak di ufuk langit, nenek itu tiba-tiba berkata,

“Saya lelah. Mari kita pergi sekarang.”

Budi meluncurkan taksi ke tempat alamat yang diberikan dalam keheningan dan lalu tiba di sebuah rumah petirahan. Taksi lalu meluncur ke pekarangan. Dua perawat segera keluar dan mendekati taksi. Keduanya tampak khawatir dan tegang, dan memperhatikan setiap gerak-gerinya. Budi menduga kedua perawat tersebut pasti sudah menunggunya.

Budi membuka bagasi dan membawa koper kecil itu ke depan pintu bangunan. Nenek itu sudah duduk di kursi roda.

“Saya harus bayar berapa?” tanyanya sambil mengambil dompetnya.
“Tak usah bayar,” kata Budi.
“Ini mata pencaharian anda,” katanya
“Saya bisa dapat dari penumpang lain,” sahut Budi.


Budi lalu membungkuk dan memeluknya. Nenek itu memeluknya kuat.

“Anda sudah memberi seorang nenek tua kebahagiaan singkat yang terakhir,” katanya. Terima kasih.”

Budi menekan tangannya, lalu berjalan dalam cahaya pagi yang suram. Ia mendengar bunyi pintu ditutup. Bagi Budi, itu adalah bunyi penutupan hidup.

Sesudah itu Budi tidak menerima penumpang lainnya. Ia meluncurkan taksi tanpa tujuan, sambil terus membayangkan nenek tersebut. Sepanjang hari itu, Budi tidak banyak bicara. Bagaimana jika nenek itu dapat supir taksi yang pemarah? Atau supir yang ingin cepat-cepat pulang karena shift-nya berakhir? Atau supir taksi yang hanya klakson sekali, lalu pergi? Hari itu, dalam renungan singkatnya, Budi merasa belum pernah melakukan apapun yang sepenting itu selama hidupnya.

Seringkali kita merasa, hidup kita harus berputar di sekitar hal-hal hebat. Padahal seringkali kita tidak menyadari hal-hal hebat, yang terbungkus secara indah dalam kemasan yang dianggap remeh oleh orang-orang lain.

“Mulai hari ini, perlakukan semua orang yang kita temui seakan mereka akan meninggal pada tengah malam. Berikan mereka semua perhatian, kebaikan, dan pengertian yang bisa kita kerahkan, dan lakukan tanpa memikirkan imbalan. Hidup kita tak pernah akan sama lagi.” (OG Madino)

Sunday, May 9, 2010

ARTI HIDUP

Buat aku, HIDUP adalah masalah. Masalah yang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Kita tidak bisa menghindar atau lari dari masalah. Kalau tidak diselesaikan atau menghindarinya, satu saat pasti akan terakumulasi. Satu saat akan meledak dan menghancurkan diri kita sendiri. Jadi sebelum masalah itu membesar dan meledak, harus diselesaikan secepatnya. Kita tak bisa menghindar atau lari dari masalah, selesaikan secepatnya jangan ditunda.

HIDUP adalah ujian dan cobaan. Hidup harus dijalani dengan hati yang ikhlas dan lapang dada. Nah, sekarang bagaimana kita melewati berbagai ujian itu tanpa rasa emosi, tanpa harus terbakar amarah dan dendam pada orang lain.

Dan HIDUP juga sebagai pilihan. Kemanapun kita berjalan dan pergi selalu dihadapkan dengan pilihan. Pilihan antara yang baik dan buruk. Pilihan yang terkadang tidak mudah diputuskan. Setiap pilihan pasti punya konsekwensi sendiri. Setiap pilihan harus diperjuangkan, harus pintar-pintar dan hati-hati memilihnya. Jangan sampai salah dan keliru menentukan pilihan. Dan yang paling penting harus bisa mengelola pilihan dengan baik. Intinya, ambil hal-hal positif atau baik dari pilihan yang buruk, yang jelek atau jahat kita buang.

Friday, May 7, 2010

MITOS ; BELIEVE IT OR NOT?

Sering kan, mendengar mitos yang tampaknya nggak masuk akal, tapi orang tetap percaya. Mitos seakan jadi keyakinan plus tantangan yang tidak boleh dilanggar. Katanya, menentang mitos bisa kualat, loh! Nah, kita harus mematuhi mitos itu nggak sih? Hmm.....meski sulit dipercaya, sebagian mitos itu tujuannya baik, kok! Let’ see....

Nyapu di malam hari = Buang rejeki

Dianggap sama aja membuang rejeki, dan rejeki akan sulit datang lagi.

Logikanya = Rejeki datang tergantung usaha dan doa kita. Tapi.....nggak ada salahnya kita turuti. Karena, nggak asyik banget dong, ya....masih sibuk nyapu di malam hari saat orang-orang di sekitar udah mulai istirahat. Debu yang berterbangan mengganggu pernafasan. Lagipula, nyapu malam hari kan jadi nggak keliatan jelas bersih atau nggak.

Buka payung di dalam rumah = Meninggal

Mitosnya, ada orang terdekat atau saudara yang akan meninggal atau terkena musibah kalu kita membuka payung di dalam rumah.

Logikanya = Tentunya hidup atau mati seseorang ditentukan Tuhan, bukan payung. Tapi, sebaiknya memang nggak buka payung di dalam rumah, karena ngapain juga kita iseng nggak jelas gitu, khan? Kecuali kalau genteng rumah bocor..... :D

Duduk atau makan di pintu = Jauh jodoh

Biasanya orang tua atau kakek nenek yang sering mengingatkan. Katanya pamali, dan jadi lama ketemu jodoh.

Logikanya = Tentunya jodoh juga lebih tergantung dari usaha dan doa. Tapi…pintu tuh tempat orang berlalu lalang, jadi ya mengganggu banget kalau kita duduk di situ. Makan juga jadi nggak higienis kalau di pintu.

Kejatuhan cicak = Musibah

Akan ada kesedihan menimpa keluarga kita. Kalau jatuhnya tepat di kepala, kita akan mengalami kesedihan yang sangat.

Logikanya = Musibah itu ditentukan Tuhan, jadi nggak ada kaitannya dengan cicak yang kehilangan keseimbangan. Yah…lagi sial aja. Mendingan sering-sering liat ke atas kalau lagi di ruangan yang banyak cicak. Khan nggak asyik aja kalau kejatuhan, berasa geli dan jijik kali ya?

Nyapu nggak tuntas = Rejeki susah

Kalau menyapu ruangan trus sampahnya cuma dikumpulin di pojok, rejeki buat kita akan nggak lancar.

Logikanya = Rejeki memang nggak ditentukan dari menyapu, tapi kalau menyapu dan cuma ditaruh di pojok, berarti kita pemalas. Orang malas ya bakal jauh dari rejeki.

Sunday, May 2, 2010

MAMAKU ADALAH MATAHARIKU

“Surga dibawah telapak kaki ibu! Benarlah jika pepatah ini dimaksudkan secara tidak langsung untuk mengingatkan kita semua bahwa, jika kita ingin mencari surga, hormatilah ibu kita.”

Orang bisa mengukur kesuksesan dari banyak segi. Bagiku kesuksesan dari segi materi adalah ketika aku menginginkan sesuatu, aku tidak perlu bertanya berapa harganya. Mungkin orang menganggap standarku terlalu tinggi, tapi bukan itu maksudnya. Aku juga memiliki standar hidup dimana aku bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhanku tanpa bergantung pada orang lain. Bahkan dengan pencapaianku itu aku bisa membahagiakan keluargaku juga orang lain untuk berbagi.

Namun, arti kesuksesan secara umum bagiku adalah ketika aku sudah bisa membuat orang tuaku, terutama mamaku bahagia, tenang dan selalu tersenyum. Mama adalah matahari bagiku. Setelah Allah, dialah yang terpenting bagiku.

Roda kehidupan memang berputar. Kadang berada di atas, suatu saat, roda itu akan berhenti di bawah. Begitu juga manusia, setelah tersentil baru terasa. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari sebuah pengalaman. Aku masih ingat sebuah pengalaman bersama mama yang mengajarkanku arti ketabahan dan kesabaran yang sesungguhnya. Masa itu merupakan titik balik kehidupanku. Aku belum bekerja, mama sedang mengalami kesulitan keuangan dan papa sedang berada di luar kota. Jadi di rumah hanya ada aku dan mama. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya sudah berkeluarga dan tinggal di lain kota.

Hari itu tanggal tua, kata orang tanggal yang sangat rawan bagi pegawai negeri apalagi pensiunan PNS seperti orang tuaku. Rekening saldo tabungan tinggal Rp 20.000,-, hanya cukup untuk mempertahankan rekening bank agar tidak ditutup, kala itu. Kalaupun diambil melalui ATM juga tidak bisa. Di dompetku cuma ada uang Rp 5.000,- dan di dompet mama hanya Rp 10.000,-. Hari sudah siang, hari itu aku dan mama bingung mau makan apa siang ini karena uang yang kami miliki tidak cukup untuk makan sedangkan persiapan bahan-bahan makanan di kulkas dan di lemari sudah habis. Untungnya masih ada beras, telur, beberapa bumbu dapur dan mentega. Parahnya lagi, gas untuk memasak juga habis, apalagi minyak tanah tinggal sedikit. “Bagaimana ini?”, pikirku saat itu.

Saat bersamaan, datang ke rumah anak dari Yayasan Panti Asuhan untuk meminta sumbangan. Aku putuskan untuk menyerahkan uang Rp 5.000,- . Aku pasrah saja walaupun cuma itu yang aku miliki, sedangkan hari sudah siang dan kami sudah lapar. Mama hanya bisa memandangi aku dan belum tahu harus berbuat apa. Tetapi, kemudian aku mendapatkan ide,

“Kita masak bikin tungku aja ya, ma, kan masih ada sedikit minyak tanah untuk memancing kayu bisa menjadi api. Sayurnya kita petik dari kebun belakang rumah. Lumayan buat mengganjal perut, jadi uang yang ada bisa buat besok menjelang gaji mama masuk ke ATM.”

Aku mengambil beberapa kayu sisa-sisa renovasi bangunan rumahku. Aku segera membuat tungku api untuk pembakarannya, lalu berpanas-panasan bahkan sesekali mataku perih karena tertimpa asap dari kayu bakar. Dalam keadaan seperti itu, sambil mengipasi bara api, batinku menjerit, sedih dan ingin menangis rasanya, tapi aku tahan agar mama tidak ikut sedih. Aku melirik mama, kuteliti wajahnya. Tidak ada tanda-tanda tertekan ataupun susah. Tapi aku juga tidak yakin, apakah mama juga menutupi perasaanya saat itu. Padahal sebelumnya mama adalah orang yang tidak bisa menerima keadaan. Latar belakang hidup mama dimasa mudanya yang tidak pernah susah dan terpenuhi segala kebutuhannya. Namun setelah pensiun, setiap kali ada masalah, mama selalu marah-marah. Kalau sudah begitu, akulah yang selalu menjadi tempat pelampiasan mama disaat hati mama sedang tidak enak. Tapi hari itu tidak. Sepertinya semua masalah yang ada sudah diterima dengan lapang, tabah dan tegar.

“Yang belum pernah kita alami, sekarang kita jalani, yang terpenting tidak ada yang tahu kita begini. Jangan beritahu saudara-saudara, mama tidak pernah mau meminta ke anak, dan mama juga tahu, mereka semua punya kebutuhan masing-masing. Kalau dipikir lucu juga, tinggal di rumah yang bagus, punya mobil dan kelihatan sama orang kita bukan orang susah tapi tidak punya uang. Sekarang kita nikmati saja, masih bisa bersyukur punya rumah sendiri, Alhamdulillah mama tidak merasa susah.” Begitu kata mama optimis.

Sikap mama yang tegar saat itu semakin mengajarkanku bagaimana menghadapi hidup. Aku yang terbiasa dengan kehidupan yang stabil harus mulai membiasakan diri hidup dalam menghadapi kondisi apapun. Itulah sebabnya, terkadang aku “sebal” melihat orang yang “rapuh” karena masalah uang/ekonomi. Ketika terkena masalah sedikit, rasanya “down” setengah mati. Padahal banyak orang di sekeliling kita yang lebih sengsara. Bagiku, intinya aku harus selalu bersyukur masih diberi pikiran yang sehat, hati yang baik, dan yang terpenting, aku masih memiliki semangat dan memiliki mama. Hikmah yang aku dapat adalah bahwa suatu saat kita hidup sendiri, karena itu harus mandiri dan kuat bertahan sebagai individu yang penuh tanggung jawab.

Mama adalah segalanya bagiku, lengkap dengan segala kelebihan juga kekurangannya. Mama juga manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Walau sesekali kami masih terlibat pertengkaran-pertengkaran kecil karena salah paham tapi aku sangat mencintai mama dan tidak ingin melihat mama terluka. Aku sempat berpikir, biarlah aku saja yang “menyakiti” mama dengan caraku, jangan orang lain. Maksudnya, selama ini jika ada kata-kata mama yang tidak berkenan di hati orang lain, sehingga orang lain salah pengertian atau tersinggung, lalu mereka “memojokkan” mama atau bahkan jika ada orang lain “menyakiti” mama, aku tidak pernah bisa terima. Aku menjadi benteng dan penasehat mama yang selalu mengingatkan mama dengan cara dan gayaku.

Berbahagialah kita yang masih mempunyai ibu, berarti kita masih diberi kesempatan untuk membahagiakannya. Dan betapa tidak beruntungnya kita, jika kita menyia-nyiakan mereka terutama di masa tuanya. Suatu saat kita akan menjadi orang tua, punya anak dan menjalani masa tua seperti ibu kita. Kita akan menjadi orang tua dari anak-anak kita. Begitu pula harapan kita terhadap anak-anak kita kelak. Harapan setiap orang tua adalah anak-anak mereka akan menjadi anak-anak yang sholeh dan sholeha, anak-anak yang berbakti terhadap orang tuanya, dan anak-anak yang dapat membahagiakan dan selalu mendoakan orang tuanya, terutama ibu kita.

Jangan menunggu sesuatu yang buruk menimpa sebelum kita sempat membahagiakan ibu kita. Karena sebuah kata menyesal takkan merubah apapun dan tidak akan berarti apa-apa. Bukan pula sekedar niat di hati dan kata-kata di mulut bahwa “Aku sangat sayang dan cinta sama Ibu” tapi perbuatan dan tingkah laku, masih sering membuat Ibu kita menangis. Berbuatlah sesuatu dari sekarang. Jika kita tidak bisa membahagiakannya dengan materi, bahagiakanlah selalu perasaannya dan doakanlah. Jika Ibu sudah tiada namun teruslah berdoa untuknya agar dia tenang, bahagia dan selalu tersenyum berada di surga.

Mama.......
Ini bukan sekedar kata-kata namun kata-kata ini lahir dari batinku yang terdalam yang mengatakan bahwa kebahagiaan mama adalah kebahagiaanku dan kesedihan mama adalah kesedihanku juga.
Ijinkan anakmu ini membahagiakanmu….teruslah berbahagia….
Semua sudah kita dapatkan …. Semua juga sudah kita serahkan kepada Allah saja.
Aku hanya ingin selalu bersyukur dan aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan.

Mama.......
Walau tidak pernah tersurat, tapi tersirat kalau mama juga ingin aku bahagia……
Suatu saat jika “anugerah” itu datang padaku, aku ingin mama bahagia dengan pilihanku. Seperti mama juga mengamininya.....

“Nak, tidak perlu ganteng dan kaya, karena semua itu semu, tapi yang terpenting kaya hatinya, tulus berkomitmen, yang bisa membimbingmu ke jalan Agama, sayang kepadamu dan keluarga karena Allah SWT.”

Dan suatu masa, jika aku kelak menjadi ibu bagi anak-anakku.....aku akan mendidiknya seperti harapanmu seiring dengan doa-doamu yang tak pernah putus untukku.
Terima kasih mamaku, engkau adalah matahariku....
Engkaulah yang sebenar-benarnya belahan jiwaku.

Kasih ibu tanpa pamrih..... Seandainya kasih ibu bisa dibalas, sampai matipun jutaan anak di dunia ini tidak akan pernah selesai membalasnya.

Tuesday, April 27, 2010

MENILAI DIRI SENDIRI

Seorang anak laki-laki kecil masuk ke sebuah toko kelontong dan mencoba menggunakan telepon umum yang terpasang di depan toko. Karena tinggi, ia lalu menarik sebuah peti kayu kosong agar bila memencet nomor telepon. Pemilik toko mengawasinya secara diam-dian.

“Ibu, apakah saya bisa bekerja sebagai pemotong rumput di halaman rumah ibu?” Tanya anak itu.
Ibu di seberang sana rupanya menolak.
“Oh, Ibu sudah punya pemotong rumput? Bagaimana kalau Ibu membayar separuh dari upah yang dibayarkan kepada pemotong rumput?” tanyanya lagi.

Sesaat kemudian, anak kecil itu berkata lagi,
“Kalau Ibu sangat puas dengan pekerjaan orang itu, saya juga bisa bekerja dengan cara yang sangat memuaskan. Saya juga bersedia menyapu seluruh pekarangan Ibu sehingga pekarangan itu jadi yang terindah di kota ini, “ bujuk si anak lagi.
Ibu di seberang sana ternyata menolak dan si anak menghentikan pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Dengan senyum di wajah, ia meletakkan gagang teleponnya.

Pemilik toko yang mendengar pembicaraan itu lalu mendekati si anak kecil.
“Nak, saya suka sikapmu. Saya suka dengan semangat positif seperti itu dan ingin menawarkan pekerjaan kepadamu,” katanya.
“Tidak, terima kasih,” kata si anak.
“Bukankah kamu perlu pekerjaan? Tadi saya dengar kamu seperti memohon-mohon untuk mendapatkan pekerjaan itu.”
Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana penilaian atas pekerjaan saya. Saya sudah bekerja dengan ibu itu sebagai pemotong rumput.”

“Inilah yang dimaksud dengan menilai diri sendiri. Sering terjadi, yang berani menilai dirinya sendiri adalah orang-orang yang bersikap baik dan bekerja baik.”

Thursday, April 22, 2010

KECANTIKAN DARI HATI

Setiap wanita mungkin pernah berkecil hati karena merasa kurang cantik. Apalagi bila menyaksikan artis-artis perempuan di televisi yang kebanyakan bertubuh langsing dan seksi, rambut yang terawat, pipi yang mulus, dan penampilan serba wah dan masa kini.


Jangan heran bila kebanyakan mereka berusaha untuk memperbaiki penampilan diri. Mungkin bisa dengan sedot lemak, minum ramuan pelangsing super, operasi wajah, dan memakai produk kecantikan yang serba mahal. Meskipun sudah berolahraga setiap hari dan mengurangi makan, tetapi semua sia-sia. Jika dengan jalan itu bisa terbukti dan membuat seseorang merasa cantik, kenapa tidak.


Bagi yang bertubuh gemuk, rasanya begitu nelangsa melihat mereka yang bertubuh langsing itu. Bisa jadi sebagian besar perempuan yang bertubuh besar pernah merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak? Mereka tidak pernah merasakan betapa susahnya menyembunyikan tonjolan lemak di sekitar perut dan sedihnya tidak mudah mendapatkan ukuran baju yang sesuai di bak-bak bertuliskan SALE.


Meski kepalaku mengangguk saat orang-orang di sekitarku bilang bahwa, yang penting kan inner beauty seorang wanita., bukan sekedar cantik lahiriah saja,” ucap mereka menghibur. Namun hatiku tak sepenuhnya setuju kala itu, mana ada pria tertarik pertama kali pada inner beauty seorang wanita? Kebanyakan pasti tertarik pada kecantikan wajah atau tubuhnya yang langsing aduhai.

Pandanganku terhadap konsep cantik berubah saat aku membandingkan dua orang wanita, tepatnya ibu muda yang mempunyai kepribadian yang sangat jauh berbeda alias sangat bertolak belakang. Mereka adalah tetangga dekat rumahku.

Ibu Rina, orangnya sangat cantik, walau sudah dikaruniai dua orang anak, tetapi tubuhnya masih terawat dengan baik dan bertubuh langsing, Bisa dimaklumi karena Ibu Rina cukup bermodal untuk merawat dirinya dan dianggap orang dari kalangan menengah ke atas, namun suka berkata sinis dan seenaknya terhadap orang lain. Jangan tanya bagaimana sikap Ibu Rina terhadap anaknya, wuihh galak! Bahkan anak tetangga, tidak ada yang berani mendekati Ibu Rina.

Sangat berbeda dengan Ibu Eni, tetangga depan rumahku. Walaupun sudah lima tahun berumah tangga dan belum dikaruniai anak, ia justru terlihat sangat keibuan. Ibu Eni memang tidak secantik Ibu Rina, tapi dalam bertutur kata selalu mengucapkan kata-kata yang menyejukkan hati teman bicaranya, sabar dalam bersikap dan tidak pelit dengan sesama.

Lama-lama aku bisa menilai mereka. Meski Ibu Eni lebih tua 12 tahun dari Ibu Rina yang baru 27 tahun, tapi dia justru terlihat lebih muda. Kebaikan hatinya terpancar dari aura wajanya. Tak heran bila suami Ibu Eni tidak berniat mencari istri lagi meski mereka belum dikaruniai anak.

“Barang antik susah carinya,” begitu seloroh sang suami ketika ditanya mengapa dulu jatuh hati pada sang istri.

Sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangga Ibu Rina. Dengar-dengar dari pembantunya, mereka sering bertengkar hebat. Bisa berhari-hari baru baikan lagi. Padahal tadinya kupikir, suaminya pasti betah di rumah karena memiliki istri yang cantik dan langsing, masih muda pula.


Inner beauty bisa terlihat dari pancaran mata seseorang, yang terasa damai dan nyaman saat ditatap. Pancaran mata itu terlihat indah meski tidak dibingkai eye-liner dan sapuan eye-shadow merek terkenal. Wajah yang selalu dipenuhi senyum akan terlihat cantik meski tanpa make-up. Orang yang memiliki inner beauty adalah orang yang penuh cinta kasih terhadap sesama dan berhati tulus. Meski secara fisik dia biasa saja, namun aura yang dipancarkannya terasa luar biasa.

Aku tidak mengatakan bahwa cantik fisik itu tidak penting, tapi kecantikan hati jauh lebih bernilai. Paling tidak keduanya harus seimbang. Kita harus ingat bahwa kecantikan fisik lama-kelamaan akan memudar seiring pertambahan usia. Berbeda dengan inner beauty yang abadi meski kita sudah tua. Bahkan saat kita sudah tidak ada di dunia ini, akan tetap menjadi kenangan manis oleh orang yang merasakannya.

Bukankah benar pepatah ini yang mengatakan bahwa ”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan budi?” Dan kecantikan yang berasal dari hati jauh lebih bermakna.

Sunday, April 18, 2010

KAMU YANG AKU CARI.....

Diaryku.....

Masalah tak pernah habis, tak akan usai dan tak bisa dihindari. Masalah datang dan pergi silih berganti tanpa permisi. Oleh sebab itu, apapun upaya menolak atau lari dari kenyataan adalah sesuatu yang sia-sia belaka.


Masalah menjadi mudah bila tidak dijadikan beban. Sebab kegelisahan, ketakutan, kemarahan dan sebagainya tidak akan merubah kenyataan. Tidak ada timbangan yang bisa menakar berat ringannya bobot masalah, sebab yang diperlukan hanyalah kemudahan melaluinya. Kekuatan batinlah yang akhirnya berperan besar menjadikan masalah terasa ringan.

Dan kekuatan dari dalam itu kita mohonkan pada Allah agar terus diberi energi yang prima. Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa sesungguhnya masalah hadir di setiap sendi kehidupan kita adalah sebagai sarana menempa diri supaya lebih peka menghadapi berbagai liku-liku hidup.

Diaryku....

Engkau tempat aku mencurahkan segala isi hatiku, baik itu perasaan kala aku senang, bahagia, susah, sedih, gelisah, takut, gundah, dan sebagainya..... tapi aku tidak susah jika aku sudah bisa jujur pada hatiku sendiri, bahwa inilah aku.

Diaryku....

Engkau tau hatiku...jujur apa adanya....aku takkan membiarkan orang lain memanfaatkan kebaikanku itu. Dan aku bangga jadi diriku.....

Engkau juga tau.... aku punya Tuhanku, aku hanya percaya kepada-Nya, karena aku hanya mengadu kepada-Nya.
Lalu, jika kalian tanya apa mauku? Inilah yang aku mau dan aku butuhkan.......
seperti yang aku tulis di status FB ku hari ini........

“......Jemput aku jika kamu.....seorang laki-laki yang tiada henti-hentinya menganggapku selalu cantik. Yang memberi tanpa pamrih. Yang takkan membiarkan air mataku jatuh krn keklhilafanmu. Yang mengusap airmataku dan mencium keningku kala aku lara. Yang tidak membuat aku cemburu saat kamu melangkahkan kaki keluar dari rumah. Yang selalu menggenggam hatiku dan membawa kemanapun kamu pergi.....memamerkan kepada dunia bahwa akulah satu-satunya milikmu.....bahwa kamu bangga dan beruntungnya kamu memiliki aku.
Kamu takut hanya kepada Tuhan mu.

Kamulah yang aku tunggu!!!!! Aku akan membalasnya lebih dari yang kamu beri, dengan ketulusan dan keikhlasanku serta doa-doaku........”

LELAH BERJALAN SENDIRI

Suatu hari, seorang sahabat curhat kepadaku. Dia percaya kepadaku dan tidak bisa curhat kepada teman yang lain bahkan keluarganya. Tampak dari luar kelihatan dia baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Apalagi dia adalah seorang wanita karir yang sukses. Walau usia perkawinan mereka baru berjalan satu tahun, namun dia merasa hambar dengan kehidupan perkawinannya. Dia merasa kurang dekat dengan suaminya. Pertemuan mereka lantaran diperkenalkan, tapi dia sangat mencintai suaminya.

Menurut pengakuan temanku itu, suaminya memang pendiam, tidak terbuka, cuek, tapi kadang agak temperamen dan sewot kalau berbicara dengan dia. Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun atau membantah omongan suaminya. Kadang dia berpikir, apa suaminya tidak terlalu mencintainya? Bahkan suaminya malah bisa lebih ramah dan hangat dengan orang lain. Dia selalu sabar dan lemah lembut menghadapi sikap suaminya. Bahkan suaminya sering memuji wanita cantik, sehingga dia merasa tidak dihargai. Dia sudah berusaha bicara dari hati ke hati dan dengan cara baik-baik, tapi suaminya tidak mau menjawab dan berlalu begitu saja. Terkadang jawabannya menyinggung perasaan, “Saya sudah pusing di kantor, gak usah nambah-nambah masalah deh!”. Akhirnya setiap masalah tidak pernah ada penyelesaian.

Sebagai seorang sahabat yang baik apa yang harus aku lakukan? Memberikannya masukan, nasehat, pandangan, pendapat atau apa yang harus aku katakan? Hatiku benar-benar berkecamuk. Sahabatku seharusnya konsultasi ke Psikolog atau Lembaga yang berwenang mengurusi masalah dalam rumah tangga, bukan kepadaku! Aku tidak tahu bagaimana perilaku suaminya yang sebenarnya, tidak pula mengenal suaminya dan tentu saja karena aku belum menikah, jadi sebenarnya aku sendiri yang harus banyak belajar dari kehidupan orang yang sudah berkeluarga.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengemukakan pendapatku dan memposisikan diri tidak memihak kepada siapapun. Walau aku belum punya pengalaman dalam berumah tangga, namun aku berprinsip seperti ini, bahwa manusia bisa belajar darimana pun dan dari siapapun. Kita juga tidak perlu mengalami suatu masalah terlebih dahulu baru bisa memahami orang lain dan jangan takut untuk mengeluarkan pendapat, selagi pendapat kita itu tidak menggurui bahkan berlebihan. Kita bisa mengetahui banyak hal dengan mengamati, membaca, mendengar atau merasakan apa yang terjadi di sekitar kita atau belajar dari pengalaman orang lain.

Sejujurnya, aku cuma bisa berteori saat ini. Aku tahu dan sadar sepenuhnya bahwa, kehidupan berumah tangga tidak segampang seperti membalikan telapak tangan. Perkawinan tak akan bertahan lama kalau hanya istri yang mencintai suami, atau suami saja yang melihat bahwa perkawinan itu patut dipertahankan. Apalagi jika tercetus kata-kata seperti ini, “Mau sama saya ya syukur, tak maupun tak apa-apa. ”Apapun kondisi istri ataupun suami saat ini dan kondisi mereka sebelumnya karena pengalaman hidup dan latar belakang kehidupan mereka sebelum menikah, sebelum memutuskan untuk menikah, mereka seharusnya bisa saling memahami bahwa “Pernikahan bukanlah berusaha mencari pasangan yang cocok bagi kita, melainkan kita berusaha menjadi pasangan yang cocok bagi sesiapa pun dia.” Ini jelas bahwa kenyataannya sebenarnya suami istri memang dua makhluk yang berbeda.

Setiap orang sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mempunyai alasannya. Langgeng atau tidaknya suatu perkawinan tidak terlepas dari niat masing-masing. Untuk kondisi jaman sekarang, bermodalkan cinta saja tidak cukup, tapi cinta perlu dan harus selalu dipupuk. Karena didalam cinta ada rasa sayang, pengertian dan komunikasi.

Akan tetapi, dengan sedih aku katakan bahwa, ada pula suami yang memang sengaja tidak mengagendakan kenyamanan istrinya sebagai prioritas hidupnya, sehingga ia lalu malah menganggap bahwa istri adalah sumber ketidaknyamanan. Suami tidak terbuka, tidak bicara dari hati ke hati, dan minim perhatian. Laki-laki seperti ini biasanya tidak membawa istrinya ke lingkungan sosialnya, mengenalkan pada sahabat-sahabatnya di masa bujang dan menolak melakukan aktifitas bersama-sama. Parahnya lagi, seorang lelaki menikah istrinya, utamanya karena desakan keluarga, sudah terlalu lama sendiri, hanya untuk memehuhi harapan ibunya padahal dia sendiri belum siap untuk menikah (lagi), atau bahkan karena ia melihat bahwa istri adalah sumber kemapanan bagi dirinya secara financial. Menyedihkan sekali.

Setiap wanita butuh perhatian dan kasih sayang karena secara kodrati, sekuat-kuatnya dan setegar-tegarnya wanita, membutuhkan sosok pria disampingnya untuk memberikannya rasa aman dan nyaman dalam mengarungi bahtera perkawinan yang harmonis secara bersama-sama. Oke lah setiap orang berbeda-beda cara mengekspresikan cinta dan rasa sayangnya, paling tidak, ia bisa mengekspresikan respek atau rasa hormat pada pasangan hidupnya, misalnya dengan mendengarkan saat istri berbicara dan memenuhi harapan istri tentang kejelasan sikap suami yang tidak sesuai dengan harapannya, begitu pula istri terhadap suami.

Ach, mungkin terdengar terlalu berteori. Aku cuma bilang kepada sahabatku,

Sahabatku……

Pertahankan rasa percaya diri, walau suami tidak pernah memuji dan suami tidak pernah mengatakan bahwa kamu cantik, kamu pasti punya hal-hal positif dalam diri.

“Bahwa tidak ada orang yang bisa membuat kamu rendah diri kecuali kamu memang mengijinkan orang untuk merendahkanmu.” Lindungi diri dari erosi rasa percaya diri karena perlakuan suami.”

Sahabatku……

Pertahankanlah hal positif yang kamu peroleh dari interaksi dengan rekan kerja atau keluargamu. Bila kita berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kita akan kembali dalam perasaan nyaman dengan diri sendiri. Pada akhirnya kamu harus memperhatikan diri sendiri, bukan? Karena kalau bukan kita sendiri yang sayang pada diri kita, siapa lagi yang akan melakukannya?

Sahabatku……

Life mus go on. Jangan biarkan ikatan dengan suami malah menenggelamkan kesedihan. Usaha minta petunjuk Tuhan. Jangan takut untuk hidup sendiri, ketimbang kawin tetapi sebenarnya tetap sendirian, karena kamu merasa suami tak kunjung menjadikanmu sebagai bagian terpenting dari hidupnya.

Bersiap-siaplah untuk bisa bicara dengan ketegasan yang lebih mengemuka. Jangan takut padanya karena kamu berhak memperoleh penghargaan darinya sebagai suami. Pikirkan kemungkinan lain, walau aku tidak menyarankan untuk sebuah perpisahan, bahwa dia memang bukan sosok yang pantas kamu pertahankan sebagai seorang suami yang bisa mengayomi istri.

Mengutip pendapat dari seorang teman, aku setuju banget dengan pendapatnya tentang sebuah pernikahan bahwa, "Kekurangan yang ada untuk memakluminya apa adanya.....ini sebagai bahan intropeksi karena selain bersyukur di beri kemudahan untuk mencari pasangan, kita tdk bisa menilai seseorang dari sudut pandang diri sendiri."

"Mata manusia berada di bagian depan, hanya dapat melihat kekurangan orang lain, maka sama sekali tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri."

Tuesday, April 6, 2010

DEL AIDELAN

Bu Mina berhasil mencuri hati banyak orang di kompleks kami. Tubuhnya yang tegap memantapkan statusnya sebagai tukang pijat ideal dan dirindukan. Ia tak gentar bersaing dengan para tukang pijat refeksi yang tumbuh menjamur di lingkungan kami. Kemujaraban jemarinya menjadikan wanita asal Madura ini tukang pijat segala usia.

Mungkin karena terkena sugestimya, aku sering memercayai diagnosis primitifnya. Khusus untuk gejala oenyakit yang berhubungan dengan angin, dialah ahlinya. Dengan keping gobang kuno yang selalu terselip di stagennya, ia mampu mentransfer angin jail keluar dari tubuh para kliennya, termasuk aku. Dengan rapi, ia pindahkan garis zebra merah ke seluruh permukaan punggungku. Ia senang mendengarkan suara angin itu keluar dari semua arah.

Saat ritual itu rampung, ia racik health drink untukku, secangkir wedang jahe panas campur kayu manis dengan aroma yang khas. Treatment itu ia akhiri dengan baluran minyak kayu putih ke sekujur tubuhku. Usai jemarinya menjelajahi daerah-daerah kritis, aku selalu merasa reborn.

Dari waktu ke waktu, pergaulan kami makin akrab. Kami mengenal kegemaran masing-masing. Aku selalu menyuguhinya segelas kopi three-in-one dari 2 sachet, plus gula 2 sendok teh. Sepotong kue lapis Surabaya, juga selalu kubelikan untuknya tiap kali jadwal pijatku tiba.
Dia juga paham, aku senang menikmati kisah masa lalunya. Dengan logat Maduranya yang kental, ia meninabobokanku dengan bad time story yang tak pernah habis.

Aku kagum pada ketegarannya. Pada usia sekitar 70 tahun, ia masih menjadi “ATM” bagi sebagian anak-anaknya, plus 18 orang cucunya. Ia sangat concern pada nasib keluarga besarnya. Dari ocehannya, aku tahu ia begitu menyayangi Madro’I, cucu dari anaknya nomor empat.

Untuk meringankan bebannya, sesekali Madri’o ikut bantu-bantu merawat kebun atau taman rumahku. Seringkali kudengar suara merdunya melantunkan tembang-tembang masa kini yang sedang in, seperti lagu-lagu milik Anang, Zigas, Dewa, Pasto, Slank, dan banyak lagi. Apakah ia menyimpan cita-cita jadi penyanyi? Rasa penasaran itu tak terjawab, sampai ia pamit pulang ke Madura.

Sampai beberapa bulan lalu, saat Bu Mina datang. Seraya bersimpuh di kakiku, Bu Mina menyodorkan sebuah kotak beludru warna biru, yang isinya membuatku terkesima. Bintang jasa terbuat dari emas, yang konon dulu diserahkan langsung oleh Presiden Soekarno kepada suaminya semasa hidup, sebagai bagian dari anggota veteran di kawasan Blitar.


Tersedu-sedu ia menyampaikan isi hatinya. Dengan logat Maduranya yang kental, ia bilang bahwa dirinya sedang stres. “Seluruh Madura sekarang sedang kesengsem del aidelan. Jadi Madro’I juga pingin ikut del aidelan. Marpuah, ibunya, bingung tak punya ongkos untuk kirim Madro’I ikut del aidelan. Hasil panen jagungnya juga tak cukup buat ongkos anaknya itu kesini,” katanya, sambil menyusut airmata. “Saya mau pinjam uang sama sampeyan, Rp300.000 saja, buat ongkos Madro’I ikut del aidelan. Jaminannya, bintang emas ini,” sambungnya.

Aku masih belum menangkap, apa maksud istilah del aidelan yang terdengar menggelikan itu. Aku langsung menyodorkan uang yang ia perlukan, dan mengembalikan jaminan hutang itu ke tangannya. “Sudahlah, tak usah pakai jaminan. Pokoknya, Madro’I ikut del aidelan,” ucapku kemudian.

Baru minggu lalu aku tahu maksud dari del aidelan itu. Dengan bangga Bu Mina bercerita bahwa Madro’I tampil audisi dalam acara popular Indonesian Idol. Walaupun ia kecewa, cucu kesayangannya itu gagal masuk final, ia bangga karena Madro’I sudah ditonton semua kerabat di Madura lewat layar televisi.

Sambil menikmati kemujaraban jari jemarinya, kusampaikan simpati kepadanya. “Mudah-mudahan ia berhasil pada kesempatan lain, bukan Cuma del aidelan,” kataku. Tapi, kalimat yang kemudian meluncur dari bibirnya, sungguh mengejutkanku. Ia mengajukan usul yang tak pernah mampu kutolak. “Bu, “katanya, “bagaimana kalau utang saya dituker dengan angsuran pijet sepuluh kali, ta’iyeeeh…!”

Ahhh, mana mungkin aku beroposisi pada ‘sahabatku’ yang satu ini. (YAL)

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...