Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Saturday, July 25, 2009

BERANI AMBIL RESIKO VS KEBURU KIAMAT

"To win without risk is to triumph without glory"

Kata orang nich, hidup tanpa mengambil resiko gak seru. Kenapa kata orang, selingkuh menyenangkan, first kiss rasanya melayang dan olah raga ekstrim sangat digemari? Artinya semua hal yang pertama kali dilakukan rasanya mengasikkan. Alasannya, semua beresiko besar. Mengambil resiko memang butuh keberanian dan gak semua orang bisa. Padahal nich, John F Kennedy aja pernah bilang "kalau berani melangkah, meski beresiko, jauh lebih aman daripada gak melangkah sama sekali". Aku sich setuju-setuju aja kalau ada juga yang bilang bahwa " hidup lebih berarti kalau kita ambil resiko". Tapi apa aku bisa ya?

Aku itu orang biasa-biasa aja. Gak terlalu ngotot untuk meraih sesuatu. Bukannya takut sich, soalnya selalu mikir kalo gak kesampaian, bakal kecewakan? So, nothing to lose aja dalam hal apa pun. itulah seringkali orang 'menyayangkan aku" dan membuat mereka penasaran, akhirnya membuat kesimpulan sendiri dengan pertanyaan-2 mereka.

"Hayo, kapan lagi, keburu kiamat lho...!!??!!

Terkadang aku sebel lho kalo ada orang bicara seperti itu. "Memang manusia tau kapan kiamat akan datang?" Mungkin terdengar bercanda atau sekedar basa-basi, tapi kalimat itu bukan untuk pertanyaan yang mengarah "kapan akan menikah", misalnya, gak segampang seperti membalikkan telapak tangan dech. Lantas, akankah persoalan terselesaikan jika uang dan calon sudah ada?

Namun, jika pertanyaan itu mengacu antara lain kepada hal-hal seperti ini, kapan lagi bikin usaha sendiri, kapan potong rambut, kapan kuliah lagi atau kapan lagi beramal, tentu jawabannya sesuatu yang sangat kita inginkan tapi belum berani dilakukan. Realisasinya mudah dan dapat segera dilakukan seandainya ada uang dan kesempatan. Memang gak salah klo kita harus berani ambil resiko. "Jangan kebanyakan mikir, kerjakan saja apa yang kita mau dan bisa kita lakukan sekarang. Bayangin besok memang beneran kiamat". Ya gak masalah!.

Segala sesuatu yang menyangkut urusan pribadi, aku selalu mengambil positifnya aja. Gak mau terbawa arus selama prinsipku benar. "I don't care what they say!"
Setiap manusia punya takdirnya masing-2. Ada yang jalan hidupnya "lurus-lurus" aja dan ada yang hidupnya penuh resiko tapi akhirnya "fine-fine" aja atau "rusak" selamanya.

Terkadang aku berpikir, untuk mengambil keputusan yang resikonya besar, apa perlu bertanya dengan orang yang pernah mengalami hal-hal yang "ekstrim" dalam hidupnya demi tujuan pribadi, sekalipun resiko yang diambil berakibat buruk bahkan merusak citra diri mereka, misalnya begini nich :
- Seorang perempuan yang berkeinginan menjadi orang kaya lalu mencari suami kaya raya. Walau dia gak cinta dan suami gak ganteng, atau bahkan rela menjadi istri kedua yang penting kaya?
- Ingin menjadi PNS, tapi dengan cara "sogokan sejumlah uang" atau karena "surat sakti" orang penting tapi gak punya kemampuan apa-apa?
- Lalu, terpaksa menikah/cepat menikah, karena MBA atau ada istilah "cinta ditolak, dukun bertindak"?

Nah lho! Kalo udah begini, pasti gak setuju dong? Bukankah perbuatan itu sudah merupakan "tanda-tanda adanya kiamat kecil"? Buat apa, demi mendapatkan kebahagiaan duniawi dengan jalan yang gak terpuji, lalu merasa terhormat dihadapan sesama manusia sudah merasa bangga. "Toch, bukankah lebih baik mulia dihadapan Allah?!"

Kembali ke diri masing-masing dech. Seperti kata pepatah "pengalaman adalah guru yang paling berharga". Ada benarnya. Seharusnya pengalaman-pengalaman orang-orang di sekitarku, aku jadikan pengalaman dan aku jadikan alasan untuk mengurangi rasa takut gagal/takut kalah. Kenapa gak mau menanggung resiko gagal, jika pengalaman itu membuat aku lebih berani di masa depan.

Buat aku yang terpenting adalah aku gak akan ambil resiko yang akan merugikan diriku sendiri, mengecewakan keluargaku terutama kedua orang tuaku, juga orang lain. Aku nyaman dengan kehidupanku saat ini serta selalu berusaha melakukan perbuatan yang "mulia" dihadapan Allah SWT. Terserah dech orang mau ngomomg apa bahkan sampai bawa-bawa kiamat segala...heheeee.

Walau gak bisa dipungkiri, bahwa setiap keputusan dan perbuatan pasti ada resiko, asal kita bisa pitar-pintar menyikapinya.
Okey? Remember, life must go on.

Wednesday, July 22, 2009

SURAT UNTUK SAHABAT

Kota Musi, 20 July 2009

Sahabatku,

Aku hrs jujur sama kamu. Beberapa hari ini aku berusaha untuk menyenang-nyenangkan perasaan tapi gak bisa, ada yang ngeganjal. Sebelumnya, maaf klo aku cepat menyimpulkan untuk masalahku dengan dia, aku gak bisa nuruti pendapatmu.

Bukan aku gak berani atau takut gagal sebelum memulai, tapi aku gak bisa "keluar dari konsep diriku yang sebenarnya". Aku tetap berpendapat dan menuruti aturan/budaya yang ada bahwa "perempuan menunggu". Aku tau...kamu pasti sudah paham, dalam Islam saja, "seorang laki-laki muslim berhak melamar wanita muslimah yang sholeha walau dia gak kenal sama sekali." Jadi, gak ada alasan khan aku yang harus mengejar-ngejar dia, walau aku suka.

Aku gak bisa kalo harus, maaf, mengemis cinta. Mungkin sadis kedengarannya, tapi ini seumur hidupku, benar-benar baru aku alami. Bukan gengsi tapi gak etis aja buat aku dan aku gak harus seperti si ini atau si itu atau mengikuti cara-2 si ini atau si itu khan, friend? Mungkin beda persoalan kalo memang dah jadian atau ada kesepakatan apa lah, aku harus agresif untuk pria seperti itu, pasti!

Jujur, sebenarnya yang aku takutkan adalah klo aku sampai dicap"gak bener" lalu orang gak respect lagi sama aku, apalagi orang gak kenal aku mendetail. Aku paham pengertian "agresif" yang kamu maksud, tapi untuk agresif ke dia, fatal, friend!!! tanpa bantuan orang ketiga. Bukan aku gak mau berusaha dengan gigih, please diingat, aku wanita. Klo aku agresif sama kamu, kamu pasti ngerti dan paham tujuanku. Aku sudah kenal banyak orang dan "mahkluk laki-laki" dari beragam tipe. Tapi dia "istimewa bgt" dan ini benar-2 tantangan. Buat aku, kondisi seperti ini lebih menyakitkan daripada putus cinta lho, "sakiiit.....!!!(gaya bicaranya seperti gaya bicara Ruben lho, heee....!). Itulah mengapa setiap wanita berpendapat bahwa "lebih baik dicintai daripada mencintai".Apalagi kita gak dalam satu kota. Mungkin klo kita satu kota, aku bisa berusaha untuk memberikan dia perhatian dan mengambil kesempatan untuk sering bertemu. Tapi sulit friend untuk orang seperti dia walau aku tau dia gak "kuper dan alim-alim amat", itu yang aku baca sekilas dari kumpul-kumpul kita kemarin itu.

Sahabatku,

Makasih udah bantu aku. Jujur aku gak mau menyusahkan orang lain apalagi untuk bersusah payah ngurusi urusan pribadiku. Aku termasuk tipe orang yang selalu mikir panjang kalo mau merepotkan orang dan banyak segannya ke orang lain. Tapi di sisi lain, aku memang butuh orang lain dalam masalah ini.

Aku tau maksud kamu baik dan kamu sudah berusaha demi aku. Aku bersyukur, aku ketemu seorang teman seperti kamu, baik, tulus, perhatian, peduli, friendly banget, dan seseorang yang bisa aku hubungi tanpa ragu-2 dan aku minta tolong sesuatu tanpa aku pikir-pikir dulu. Kamu teman baikku tapi bisa "klik" melebihi seorang sahabat.

Tentang dia, untuk jadi seorang suami bagiku, jujur aku suka. "Dia low profile juga alim". Pernah terlintas, klo memang dia kata Allah, aku akan berbakti sebagai istri dan menuruti apapun kehendaknya, asalkan kehendak dan pendapatnya juga yang terbaik menurut Allah. Tapi dengan dia, prosesnya sulit. Untuk masalahku dengan dia gak bisa tanpa bantuan kamu sampai setuntas-tuntasnya. Tapi di sisi lain, aku gak mungkin selalu merepotkan kamu, friend. Kamu juga punya kehidupanmu sendiri.

Aku dan dia sudah dewasa, seharusnya bisa memahami, tapi dia beda dari "konsep pria pada umumnya". Aku juga gak perlu bingung-bingung khan menghadapi ini. Dalam hidupku, aku "nothing to lose" dan "easy going" aja menghadapi apapun. Makanya aku menganggap jalan-jalan ber-empat kita kemaren itu hal yang biasa, bukan hal yang luar biasa lagi buat aku. Take it easy my friend, "I'm single and I'm very happy."

Sahabatku,

Aku percaya, Allah tidak pernah salah memilihkan pria terbaik untuk mendampingi hidupku. Namun aku tidak mau terlalu muluk mengartikan cinta seseorang. Aku gak mau kecewa. Biarlah untuk saat ini, cintaku hanya untuk Allah SWT, orang tua dan keluargaku. Jadi intinya, aku menjalani kehidupan ini "bak air yang mengalir", apa adanya, tidak banyak aturan, jujur, saling menghargai dan terbuka.
And you must to know...."I always hopping for the best but expecting the worsth."
Thank u so much my friend.....

Thursday, July 9, 2009

BE POSITIVE !

Kalau kita harus berkata yang baik tentang segala hal, kenapa tidak tentang diri sendiri? Bicara positif tentang diri sendiri berarti menegaskan tentang siapa jati diri kita, keyakinan-keyakinan kita akan kebenaran, bukannya untuk menghidupkan kesombongan.

Berbicara yang baik tentang diri sendiri merupakan cara untuk ”me-maintenance” pikiran dan perilaku kita supaya tetap positif. Itulah kenapa dalam pelatihan-pelatihan motivasi biasanya kita diminta membuat penghargaan terhadap diri sendiri, memberi motivasi untuk berfokus mengembangkan kelebihan dibandingkan menyesali kelemahan diri.

"Selalu bersikap positif dalam kondisi yang paling buruk sekalipun akan menjaga arah masa depan tetap berada pada jalur yang tepat."

Menurut para ahli psikomotorik, jika kita sering mengucapkan hal-hal positif tentang diri sendiri, baik ketika akan tidur maupun saat bangun, alam bawah sadar akan bekerja, sehingga segenap pikiran kita dipenuhi hal-hal positif setiap saat. Cara berpikir yang penuh optimisme akan membuka jalan pada sikap-sikap positif lainnya, termasuk rasa bersyukur dan menyadari dengan iklhas pemberian kondisi apapun bagi diri kita terhadap apa yang telah terjadi, tanpa menyalahkan orang lain.

Itulah kenapa orang-orang sukses melakukan ini. So, be positive...!!!

"Sukses adalah proses mmelakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan orang biasa untuk memperoleh hasil luar biasa."

Sunday, July 5, 2009

KERANJANG SAMPAH ?

Gak kerasa, ternyata usiaku udah kepala 3. Perasaanku baru kemaren 17 tahun, he...:-D?. Waktu berlalu begitu cepat dan banyak yang sudah terjadi. Apa yang terjadi dan aku alami seperti mimpi. Begitu juga pelajaran hidup yang aku dapat bersamaan dengan berjalannya waktu.

”Ety, apa kabar?” Kapan kita bisa ketemu? Kita facial bareng lagi yuk?! Mukaku dah banyak komedo dan kotor nih. Sesudah facial, aku mau curhat, lagi banyak masalah. Cuma Ety teman yang bisa diajak ’Sharing”.

Kalimat barusan adalah sms dari seorang temanku, kita sudah lama gak ketemu dan ingin curhat sama aku. Bukan bermaksud ge er ataupun tujuan untuk membangga-banggakan diri sendiri. Banyak teman/orang yang menilai aku sosok yang sabar, friendly, menyenangkan dan bisa diajak bicara. Mungkin orang menilai ada nilai ”kedewasaan” yang lebih dibandingkan dengan orang lain. Seperti kata temanku yang lain melalui smsnya;

”Maaf ya mb Ety, ama kejutekanqu kemaren2. Aq lg byk masalah. Aq gak mau kehilangan sahabat spt mb. Aq byk merenung, smua kata2 mb benar. Jujur, mb tetap teman terbaik yg aq pny. Tmn yg lain byk bikin aq tertekan dan menangis. Mereka byk tusuk aq dr belakang dan menyakitkan hati. Aq byk belajar dr kata2 mb utk lbh selektif memilih teman.”

Nilai kedewasaan yang aku miliki adalah ’positif value’ yang harus aku syukuri dan aku manfaatkan sebaik-baiknya. Namun gak bisa dipungkiri, aku cuma manusia biasa. Aku juga punya masalah. Bedanya, tidak semua orang mau cuhat/sharing kepada orang lain yang belum tentu bisa dipercaya. Begitu juga aku, untuk hal-hal yang sifatnya pribadi banget, aku begitu selektif memilih orang yang bisa aku percaya. Semata-mata karena aku menganggap masalah yang kita ceritakan kepada orang lain pada akhirnya, keputusan ada di tangan kita sendiri. Jadi, selama aku bisa mengatasinya sendiri, "gak perlu dong orang lain tau". Aku tau, ada yang patut untuk diceritakan kepada orang lain dan ada yang tidak.

Belum lagi masalah-masalah yang dihadapi teman-temanku yang lain, yach, tentang keluarganya, orang tuanya, kekasihnya, ataupun tentang pekerjaannya dan dilema mereka. Keluh kesah mereka yang dituturkan kepadaku, sejujurnya, membuat aku menghela nafas panjang, "Ya Allah, ternyata kesulitan dan masalah ada dimana-mana, tidak mengenal usia, siapaun, dimanapun dan kapanpun. Masalah pasti datang".

Aku berfikir dan merenung, aku diibaratkan bagai "keranjang sampah", aku adalah keranjangnya dan masalah mereka adalah sampahnya. Terdengar "naif banget" memang, tapi itu sekedar perumpamaan. Justru aku mensyukuri apa yang aku alami. Berbagi dengan orang lain walau sekedar menjadi pendengar yang baik bagi teman-temanku juga orang-orang yang ada di sekelilingku dan menjaga amanah mereka juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukurku.

Buat aku, menjadi orang yang dapat dipercaya (amanah) itu adalah kenikmatan yang luar biasa. Alhamdulillah, kebahagiaan yang menurutku jauh lebih berharga daripada materi. Selama mereka mempercayai aku, aku rela menjadi "keranjang sampah" bagi mereka yang ingin mencurhkan isi hatinya kepadaku. Sebaliknya akupun berharap,tidak ada seorangpun yang justru menganggap aku 'sampah' yang seenaknya dicampakkan dan dimanfaatkan. Duch, semoga tidak.

"Kebijakan hidup bukan diukur dari seberapa pandainya kita tapi dari seberapa banyak masalah yang telah kitaselesaikan"

Sunday, June 28, 2009

INGIN JADI PSIKOLOG

Pagi itu aku langkahkan kakiku menuju kampus. Itu adalah hari pertama perkuliahan dimulai, setelah melewati satu minggu masa orientasi dan menyandang status sebagai seorang mahasiswi.

Dengan langkah pasti aku berjalan bersama kedua temanku satu kost di sudut kota Bandung. Jarak yang aku tempuh dari kost-an ku menuju kampus kurang lebih 200 meter. Ada jalur alternatif melalui pintu belakang dari kampusku sehingga waktu yang aku lalui dengan berjalan kaki tidak terlalu lama hanya berkisar 7 - 10 menit saja.

Ada yang berkesan tiap kali aku pergi ke kampus. Kampusku bertetangga dekat dengan Universitas Padjajaran Bandung Fakultas Psikologi, dimana fakultas tersebut adalah tujuan utama aku disaat mengikuti ujian UMPTN (sekarang SNMPTN) karena aku pernah bercita-cita menjadi seorang "Psikolog".



"Teman-teman, tau gak, seharusnya aku jalan lurus lho bukan belok ke kanan!". Begitu kataku kepada kedua temanku suatu ketika aku katakan bahwa jalan lurus itu menuju kampus Fakultas Psikologi yang menjadi kampus impianku. Sedangkan jalan yang belok ke kanan adalah jalan menuju kampusku yang sekarang menjadi kampus almamaterku. Akhirnya, aku ceritakanlah kepada mereka mengapa aku bicara seperti itu.
Tiap kali mengenang peristiwa itu, aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati, "Ya Allah, ternyata disini tempatku, Engkau punya rencana lain untukku."

Disaat aku merasa cita-citaku kandas untuk menjadi seorang Psikolog, jujur, aku gak kecewa dan sedih-sedih amat. Walaupun ada, namun hanya sebentar. Karena di kampusku, aku juga belajar Psikologi. Bahkan ruang lingkup pelajaran yang aku dapat justru lebih luas daripada Psikologi yang hanya menangani manusia secara pribadi atau orang per orang. Sedangkan di jurusanku "Kesejahteraan Sosial", lebih luas dan lebih menekankan kepada penanganan masalah manusia secara keseluruhan di dalam lingkungan sosialnya.

Hikmahnya, aku jadi lebih memahami, bahwa apa yang kita inginkan, tidak selamanya bisa kita dapatkan. Setidak-tidaknya, saat ini aku selalu menjadi "Psikolog bagi diriku sendiri". That's life !

"Tak ada yang hilang di dunia ini, yang ada hanyalah perpindahan tempat dan perubahan bentuk. Adalah tugas kita untuk menentukan proses dan hasilnya."

Friday, June 19, 2009

SOMEWHERE OUT THERE

Somewhere out there
Beneath a pale moonlight
Someone’s thinking of me
And loving me tonight

Somewhere out there
someone’s saying a prayer
That’s ‘ll we’ll find one another
Someone out there

And eventhough I know how every far apart we are
It helps to think we might be wishing on the same bright star
To sing alonesome lullaby
It helps to thin we’re sleeping under neath the same big sky

Somewhere out there if love can see us through
Then we’ll be together
Somewhere out there
Out there dreams come true

Wednesday, June 17, 2009

KITA CANTIK KOK


”Big is beautiful, as long as it’s not an obese!.”


Semua orang pasti setuju dengan pendapat ini, bahwa wanita adalah mahkluk yang indah, “makhluk Tuhan paling seksi, menurut lagunya Ahmad Dhani”. Walau tidak bermaksud sengaja untuk tampil seksi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap wanita ingin cantik dan memiliki tubuh ideal. Akhirnya, saat merasa bentuk tubuh kita gak “se-ideal” mereka yang dianggap ideal, dengan segala upaya berusaha “memangkas ukuran”. Entah itu lewat olahraga membabi buta, diet gila-gilaan, sedot lemak, akupunktur, pokoknya segala cara ditempuh dech.

Di sisi lain, ada yang berpendapat, tubuh gemuk, berarti sehat dan makmur. Gak selamanya benar karena terlalu gemuk malah jadi sumber penyakit. Lucunya nich, ada alasan lain mengapa perempuan bertubuh montok berisi justru terlihat seksi. Seperti bodynya Sarah Ashari, kali yee….

Menjaga penampilan itu penting, apapun profesi dan siapa pun kita. tapi bukan berarti ikut berubah total demi penerimaan masyarakat, khan? Apalagi sampai menyiksa diri demi mendapatkan tubuh langsing. Setelah itu sakit…? Gak dech! Persepsi orang lain bukan saja beda, tapi kalau kita suka? mau apa? Lagipula, malas banget khan kalau tubuh kita seenaknya didefinisikan atau nggak oleh orang lain.


Melihat definisi tubuh ideal yang berubah-ubah, seharusnya sich kita menyadari bahwa gak ada standar yang bernilai mutlak, tetapi yang lebih penting merasa enjoy dengan keadaan diri sendiri. Saat itulah sebenarnya kita cantik dan ideal.

Dengan terlihat gemuk dan sehat, otomatis dianggap terlihat cantik juga kok. Penampilan penting, tapi isi otak dan kepribadian oke jauh lebih penting dong!
Nah, para wanita....kita cantik kok, selama kita bisa menjaganya dengan pola hidup sehat dan gaya hidup sehat. Setuju khan?

Wednesday, June 10, 2009

GAK PENTING KALAU HARUS.....

Kata orang, patah hati ada baiknya. Karena dari patah hati kita belajar dari kegagalan. Apa yang menyebabkan seseorang patah hati beragam. Bisa karena trauma dan shock setelah disakiti kekasih, atau karena banyaknya pengalaman pahit selama berhubungan dengan orang lain, dan lain-lain. Sah-sah aja jika akhirnya kita sedih. Penampilan kita saja seperti ”Charlie Angels”, tapi kalau disakiti seseorang tetap aja sedih banget. Ternyata bertampang sangarpun, gak mengurangi patah hati. Kalau kondisinya sudah seperti ini, kalau cuma ditunggu dan dibiarkan, patah hati gak bakal sembuh.
Mendingan kita beresin dech!

Ngeles? No way!

Rasanya gak perlu sedih berlarut-larut, yang penting mengakui bahwa kita sedang punya masalah. Caranya, biarpun rasanya kita bisa sendiri saja, paling benar adalah berbagi cerita dengan sahabat yang bisa dipercaya. Tapi kalau gak yakin sama teman, selama di dalam kamar, bernyanyilah dengan keras dan goyang suka-suka untuk melampiaskan kekesalan hati. Legaaa...kan?

Pasang mental positif. Enjoy aja!

Akan buang-buang energi dan waktu kalo kepikiran terus karena patah hati yang dibiarkan berlarut-larut, metabolisme tubuh juga bisa terganggu. Hayo....berolahraga dan pijat tradisional, bisa menolong untuk mengurangi stres. Atau ikutan kelas yoga, karena yoga mengajari kita membentuk pikiran menjadi "happy and healthy".

Sibuk...sibuk....sibuk....!

Yach...dengan cara menyibukkan diri, Setiap bangun pagi sempatkan membuat rencana kegiatan hari itu. Penuhi jadwal dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Main bowling atau nge-gym juga gak ada salahnya.

Cari kesenangan baru

Kursus Bahasa Inggris pasti seru atau untuk yang senang menyanyi, ikutan kelas vokal, kenapa tidak? Mau yang simpel aja? Browshing internet atau chatting, khan lagi nge-trend tuch!

Nah, yang ini, perlu banget. Dengan cara mengubah penampilan yang lebih fresh, bisa banget dicoba. Ke salon dengan merubah model potongan rambut. Jangan takut mencoba model baru, asal kita bisa memilih model yang keren dan cocok, pasti penampilan kita juga lebih oke!

Jadi, masih stress karena patah hati......capeee dech!!!

Sunday, May 24, 2009

Catatan Harian 3

Minggu, 2 Maret, 19.15

Pesta ulang tahunku!
Kali ini aku memutuskan untuk membuat sebuah pesta kecil di rumah. Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu merayakan ulang tahun berdua dengan pasangan. Kini, selain alasan belum ada pasangan resmi yang dapat kuajak berkencan, aku ingin merayakan pula kebebasanku dari rasa cemburu melihat pasangan mantanku dengan pasangannya. Kebersamaan mereka di depan mataku tidak lagi membuat perut melilit.
Satu lagi yang menurutku patut dirayakan pula adalah kehadiran seseorang, kenalan baruku, di sebuah acara amal bulan lalu. Sebenarnya, sudah lama ia mengajakku kencan, tetapi belum pernah kutanggapi dengan serius belum merasa siap. Namun, besok malam kami sepakat akan mencicipi pizza favoritku di sebuah restoran pizza terkenal di kotaku. Mungkin, lain kali kami bisa kencan ganda dengan mantanku dan pasangannya? Ya, siapa tahu?

Diaryku,
Ini sekedar berbagi, untuk menenangkan hati ketika mimpi buruk itu terpaksa dilalui.
Perasaan iri dan marah wajar timbul bila melihat mantan kekasih dengan pasangan barunya. Emosi tersebut muncul karena ada “peperangan” dalam hati, antara menghadapi kenyataan dengan keinginan yang tidak tercapai. Namun perlu disadar, bahwa, inti pemecahannya adalah bersikap dewasa, menerima kenyataan bahwa pria tersebut bukan milik kita. Walaupun demikian, pertemuan dengan mantan dengan kekasih barunya tetap saja bukan pengalaman yang menyenangkan.

Dalam keadaan iri, wanita cenderung sensitive dan berkomentar bahwa karena kualitas wanita tersebut “lebih”, padahal, belum tentu ia lebih menarik. Meskipun, mungkin benar kekasih baru itu lebih cantik, belum tentu dia terpikat karena kecantikannya, ada hal yang lain kalee..."I love being single!"

Kalau demikian, kenapa harus iri? Percaya diri aja, cobalah berbesar hati dan menerima kehadirannya sebagai seorang teman. Daripada bersusah payah mencoba membenci wanita itu, lebih baik pelajari saja tingkah lakunya. Siapa tahu, dapat mecuri sedikit ilmunya demi perkembangan diri sendiri. Walau tetap berpegangan pada kata-kata ini, tidak semua orang sama, karena setiap manusia punya kepribadian dan style-nya masing-masing.

Thursday, May 21, 2009

Caatatan Harian 2

Minggu, 11 Pebruari, 06.10

Berawal dari perkenalan di sebuah acara, status hubunganku dengan dia berkembang menjadi sepasang kekasih dalam waktu sebulan saja. Walaupun kami tidak memiliki hubungan yang tergolong serius, tetapi tetap saja aku merasa kecewa sewaktu keputusan untuk berpisah itu terlontar karena kesepakatan berdua. Tidak cocok lagi, duh! Aku berusaha melupakan dia dengan giat nge-gym, jogging dan menyibukkan diri dengan membaca sebuah novel horror (aku sengaja menghindari novel-novel romantis yang ceritanya penuh derai air mata).
Skenario yang ada dalam bayanganku hingga saat ini adalah mencari pasangan baru yang lebih baik dalam segala hal dibandingkan dia. Lebih ganteng, lebih pintar, lebih keren, dan lain-lain. Aku ingin menggandengnya kemana-mana sehingga dia akan tahu bahwa aku telah pulih dan mampu mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya. Namun, kondisinya terbalik. Skenario sempurna itu ternyata telah direbut terlebih dahulu oleh dia dan akulah orang yang mesti gigit jari lantaran belum juga memiliki pasangan.

Selasa, 13 Pebruari, 16.00

Akhir-akhir ini kotaku sering diguyur hujan deras, seperti juga sore ini. Aku dan seorang teman sedang duduk-duduk di sebuah cafe di muka Mal, ketika tatapanku membentur sosok mantanku yang sedang merangkul bahu seorang wanita. Tubuh wanita itu ramping dengan rambut sebahu dan senyum memikat. Dia mengenakan busana pink berenda yang membuatnya tampil amat feminism. Kuakui, ia cantik!
Malamnya, aku membuat sebuah “konferensi pers” di rumahku, dengan mengundang tiga orang sahabat karibku. Kami mengobrol hingga larut malam dan membahas setiap sentimeter tubuh wanita yang tadi sore aku lihat bersama mantanku.. Lucunya, teman-temanku itu mencela habis, walau mereka belum pernah melihatnya sama sekali.
Anehnya, aku merasa sedikit terhibur mendengar cercaan mereka, walaupun masih ada satu hal yang mengganjal. Jika memang aku istimewa, mengapa dia memilih cewek itu dan bukannya aku? Jika aku tidak dapat membuat dia bahagia, berarti aku pun tidak akan bisa membuat pria manapun bahagia. Duh, sedihnya.

Kamis, 26 Pebruari, 18.30

Tampil dengan jins berpotongan boot cut berwarna biru pudar dan atasan putih feminism yang memperlihatkan sebagian kulit bahu, aku muncul dengan penuh percaya diri pada pesta ulang tahun temanku. Rambutku sudah ditata rapi di salon. Ruang restoran tempat diadakannya pesta, berselimut cahaya kuning temaram yang menambah sejuk perasaanku. Namun, ternyata perasaan itu hanya bertahan selama 15 menit, sampai kutangkap baying-bayang mantanku dan kekasihnya yang baru sedang duduk santai di sebuah sofa, bersama beberapa orang tamu.
Gawat! Aku benar-benar lupa bahwa temanku yang sdang berulang tahun adalah sepupu mantanku. Mandadak, rontoklah mood baikku yang sudah kubangun sejak siang tadi. Di pesta, terlihat semua orang memperlakukan mereka dengan wajar, seperti sudah terbiasa melihat mereka tampil berdua. “Oh Tuhan….aku benar-benar berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah pula!

Tak lama kemudian. Dia menghampiriku untuk berbincang-bincang. Mungkin sekedar basa-basi, mengingat kami pernah berhubungan dekat. Ternyata, tak jauh beda dengan dulu, pembicaraan kami tidak nyambung! Aku jadi ingat, dulu sulit sekali kami mencari topic pembicaraan yang menarik bagi kedua belah pihak. Pernah, ketika aku asyik membahas beberapa nama selebriti yang masuk daftar caleg, dia malah membelokkan pembicaraan, membahas tempat-tempat melancong teranyar di Indonesia.

Catatan Harian 1


Diary...
Engkau teman sejati selalu menemaniku
Dalam suka & duka kutulis dalam lembaranmu
Kisah-kisah pengalamanku,
dan perasaanku hanya padamu.....
Kau selalu setia mendengar ceritaku,
Menjadi teman curhatku,
Dan menyimpan rahasiaku.........

Kisah kasihku sudah lama berakhir. Namun, kebersamaan mantan kekasih dengan pasangan barunya, terasa mengiris-iris. Apa yang salah?

Di sebuah kafe terapung di sudut kota, aku dan dia makan malam bersama, setelah kami menikmati sebuah film di bioskop untuk yang terakhir kalinya sebagai seorang kekasih. Makan malam yang romantis, sekaligus ironis, diakhiri dengan kesepakatan kami untuk berpisah.
Kini setelah setahun berlalu, aku nyaris tidak lagi mengilas balik kenangan-kenangan yang sempat kami nikmati bersama. Rasanya, aku telah benar-benar melupakan dia dan sanggup memulai hubungan baru. Namun, kejadian baru-baru ini menyadarkanku, bahwa ternyata bayang-bayang dia belum sepenuhnya tersingkir dari dalam benakku!

Sabtu, 10 Pebruari, 19:30

Di sebuah toko bakery kesukaanku, pada siang hari yang panas, aku tengah asyik memilih kue-kue yang juga tersedia di toko bakery tersebut. Ketika kugeserkan tubuh beberapa langkah ke belakang untuk melihat dan memilih kue di sudut rak yang lain, tak sengaja kudengar percakapan antara seorang pria dan wanita.
“Saya dengar, kamu sekarang sedang jatuh cinta ya?” Berarti, tak percuma kan, aku bersusah payah menjodohkan kalian?” ujar si wanita, bernada menggoda. “Ha…ha…ha….ya, deh, Rin. Aku akui, kamu memang mak comblang jempolan!” balas si pria. Ups! Tunggu dulu. Suara itu….sepertinya sudah amat kukenal. Kupalingkan kepala sedikit ke arah kiri, dan….benar saja itu suara dia, mantanku!

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...