Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Sunday, January 24, 2010

UPSS......MALUNYA!!!!

Setiap orang pastinya pernah mengalami kejadian paling memalukan, misalnya, tidak bawa dompet saat naik angkot, setelah ngobrol ngalar-ngidul ternyata salah orang. Jika mengingat kejadian itu rasanya tidak ingin terulang lagi.

Kejadian-kejadian seperti itu bisa membuat muka kita merah seketika, tentunya, malunya bukan main. Saat kejadian memalukan itu berlangsung, kita seakan terlihat konyol dan ingin secepatnya lari agar terhindar dari rasa malu. Kendati demikian, kejadian itu tak perlu kita lupakan sebab akan menjadi cerita lucu yang layak kita kenang. Anehnya, banyak orang malu untuk menceritakan kejadian paling memalukan dalam hidupnya, entah karena aib atau takut ditertawai orang lain. Padahal kalau ditilik-tilik, pengalaman memalukan bisa jadi inspirasi bagi yang berbakat menulis novel atau skenario film (sinetron). Kenapa tidak?!

Rasanya aku pun pernah mengalami. Sebenarnya kejadiannya biasa-biasa saja, pastinya setiap orang bisa memaklumi, tapi bagiku, tetap kejadian itu membuat merah pipiku.

Waktu itu, aku bersama mama dalam perjalanan keluar kota. Aku biasa menggunakan travel dari biro perjalanan langgananku. Jambi – Palembang, waktu yang ditempuh kurang lebih 6 jam. Aku dan mama duduk di bangku paling belakang karena bangku nomor 5 atau bangku di belakang supir, dimana biasanya aku duduk disitu jika bepergian dengan travel, dan menurutku merupakan bangku yang paling nyaman dalam perjalanan, sudah dipesan penumpang lain.

Mobil melaju dengan kencang, perjalanan saat itu cukup menyenangkan. Namun sayang, suasana di dalam mobil sunyi senyap, semua penumpang tidak ada yang saling berbicara dan hanyut dalam pikirannya masing-masing, bahkan ada yang tertidur, begitu juga mamaku. Sedari awal perjalanan dimulai, supir tidak menghidupkan lagu dari tape mobil seperti biasanya, hingga setengah jam perjalanan. Aku pikir, mungkin tapenya rusak. Lalu, daripada aku pusing mendengarkan bunyi mesin mobil yang sesekali terdengar bising, aku pun berinisiatif menghidupkan musik dari handphoneku dan kudengar melalui headset saja.

Tiga jam sudah berlalu, aku masih asyik membaca sebuah novel sambil mendengarkan musik. Sekali-sekali, jika mataku sudah mulai lelah, aku berhenti membaca, melihat-lihat suasana diluar dari kaca mobil sambil bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang aku dengar dari headset. Lagu-lagu favoritku, , Cinta Pertama dan Terakhir-nya Serina, Karena Kucinta Kau dan Kecewa-nya BCL, dan semua lagu-lagu milik Rossa, hingga I’m Your’s milik Jazon Marz dan If Your not The One-Daniel Beddingfield, aku pilih untuk aku ikut menyanyikannya. Mungkin terbawa suasana, akupun menyanyikannya dengan sepenuh jiwa.

Tiba saatnya lagu Sahabat Jadi Cinta miliknya Zigas yang sedikit nge-beat, aku ikut nyanyikan juga,

“……Tak bisa hatiku menafikkan cinta….
Karna cinta tersirat bukan tersurat….
Walau bibirku terus berkata….. “tidaakkk”…..
Mataku trus pancarkan sinarnya…..

“Upss…kenapa semua penumpang memandang ke arahku? Sambil senyum-senyum lagi. "Ada apa nich?” Begitu pikirku saat itu. Bersegera aku lepaskan headset yang dari tadi menempel di kedua telingaku. Ternyata mobil sudah sampai di sebuah rumah makan yang merupakan tempat istirahat bagi supir maupun penumpang untuk segera mengisi perut setelah sekian lama di dalam perjalanan, sehingga keadaan menjadi sunyi senyap, tidak lagi terdengar suara mesin mobil. Itulah baru aku menyadari, ternyata pada saat kata-kata “tidak” pada lirik lagu tersebut, aku selalu menyanyikannya dengan sedikit teriak, “tidaaakkk” bersamaan dengan berhentinya suara mesin mobil.

Ya ampyuuun…selama di perjalanan, aku begitu menikmati lagu-lagu yang aku nyanyikan hingga aku tidak sadar hingga volume suara yang aku keluarkan semakin membesar. Aku cuma tersenyum simpul, apalagi ada seorang bapak yang membuat aku seperti melayang-layang di udara, gak tahan denger pujiannya; “Bagus kok suaranya, asyik banget cara menyanyikannya, dari tadi saya sudah mendengarkan suaranya, begitu menghayati. Lagu-lagunya juga bagus-bagus.”

Selalu ada permakluman atas sebuah kejadian. Seperti sudah menjadi budaya di negeri kita, kalau kata-kata “untung” dan “selamat” selalu dijadikan kambing hitam. “Untung…suaraku bagus, jadi gak malu-maluin banget.” Mungkin saja, tanpa disadari ternyata mereka sedari tadi sudah terhibur dengan suaraku. Siapa tahu, diantara penumpang itu ada seorang produser musik sehingga bisa mengorbitkan aku menjadi seorang penyanyi benaran? Siapa tahu.... :)

Aduh, malu-maluin deh! Walau kata mamaku, tidak apa-apa, tetap saja aku merasa malu, bukan karena suaraku, tapi aku takut saja kalau aku dibilang mengganggu, narsis, norak, tidak tahu diri, dan lain-lain. Apalagi ada cowok manis dan keren, sepanjang perjalanan dia sesekali melirik-lirik ke arahku, semoga saja dia semakin kagum denganku sejak kejadian itu :D

Kalau ingat kejadian itu, kadang aku ingin tertawa sekaligus malu dan ge-er juga, tapi bagaimanapun aku tidak ingin melupakan peristiwa itu. Apapun peristiwa yang kita alami, jangan pernah merasa minder apalagi mengubur dalam-dalam peristiwa apapun.

Ingatlah waktu tak akan berjalan mundur, sebuah kejadian yang berlalu akan menjadi sebuah kenangan terindah dalam hidup ini, sekalipun itu sebuah kejadian yang konyol.

Monday, January 18, 2010

FILOSOFI SUPIR TAKSI

Suatu hari, seorang supir taksi mengantar penumpang ke airport. Taksi meluncur dengan kecepatan normal di jalur yang tepat. Tiba-tiba sebuah mobil sedan keluar dari persimpangan dan hampir menabrak taksi.

Supir taksi dengan sigap menginjak rem. Sedan terhenti hanya beberapa inci dari mobil sedan. Pengemudi sedan menjulurkan kepala dari jendela mobil dan membentak supir taksi dengan suara keras. Supir taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke supir sedan dengan sikap ramah.


“Sedan itu hampir saja menabrak mobil kita. Mungkin bisa membuat kita berada di rumah sakit. Mengapa anda masih ramah kepadanya?” Tanya penumpang.

Di luar dugaan, supir taksi menjawab,

“Banyak orang yang seperti truk sampah. Mereka ke mana-mana dengan penuh sampah, penuh frustasi, penuh kemarahan, dan penuh kekecewaan. Ketika sampah makin menumpuk, mereka perlu tempat untuk menumpahkannya. Kadang, mereka menumpahkannya kepada kita.

“Jadi jangan masukkan ke hati. Senyum saja, lambaikan tangan, doakan yang terbaik, dan jalan. Jangan terima sampahnya dan menyebarkannya kepada orang lain, di tempat kerja, di rumah, atau di jalan-jalan.”

Tanpa aku sadari, ternyata aku termasuk orang yang sangat peduli dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar, lantas aku mengamati dan mengambil pesan moral dari apa yang terjadi, dari apa yang aku lihat, aku baca, dan aku alami.

Termasuk dari cerita ini yang aku kutip dari Tabloid AURA edisi Juli 2009. Cerita ini bukan sekedar cerita, namun sering kita jumpai, mungkin pernah kita alami atau kita lihat, atau bahkan suatu saat, bisa terjadi pada diri kita sendiri.

Pesan moral yang bisa kita ambil adalah :

Bahwa orang sukses tidak membiarkan truk sampah mencemari dan merusak harinya.

Hidup terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan.
Jadi, cintai orang lain yang memberlakukan kita secara baik dan doakan mereka yang memberikan perlakuan buruk kepada kita.

Dalam hidup ini bisa terjadi apa saja.
Yang paling menentukan adalah, bagaimana cara kita menghadapinya dan menyikapinya.


“Benar itu benar, kendatipun semua orang menentangnya. Dan salah itu tetap salah, kendatipun semua orang membelanya.” (William Penn)

Tuesday, January 12, 2010

MALAM.... KALA MATA TAK MAMPU TERPEJAM

Ruang ini memang indah..............
Di ruang ini aku sanggup melepaskan diri dari mimpi masa silam. Sama sekali bukan mimpi. Ini hanya perkara sikap dan cara pandang atas diriku dan hidupku..............

Penyendiri adalah salah satu gaya hidup yang paling kusuka. Total hidup dalam sepi, tapi sepi yang kubikin sendiri dari batas-batas yang ditarik tegas, antara mereka, lingkungan, dan diri sendiri....................

Memang merasa tidak canggung, tapi di hati ada kubangan curam, tempat kumemainkan dan mengubur satu peran yang tidak diketahui oleh siapa pun. Memang tidak gampang, karena ketakutan selalu menyertai............
Rasa malu berbagipun kuhindari................

Disisi lain, aku adalah sepi dunia ini..........
Disini aku hanya berteman imajinasi dan jika ada sisa waktu aku meneguk. Suatu hari aku pasti tidak sanggup dan aku mungkin menemukan dunia itu. Ia tidak hilang. Ini pilihan dan persetujuan yang kusadari adanya..............
Aku memaknainya dan memuliakannya..........

Aku tidak mungkin menampiknya, dengan cara dan alasan apapun. Aku mulai bisa merasakan. Biarlah mereka tidak mengerti dan tidak pernah tahu. Aku hanya punya waktu yang kucolong, sangat sedikit, dan tidak bebas. Penuh resiko. Paling aku hanya mengecap ulang memori itu bersama imajinasi hampa.

Sedih kumembayangkan masa lalu. Tidak ada yang salah. Semuanya dalam keadaan baik dan biasa saja. Inilah caraku menerima realitas..................

Mau kuapakan sisa memori itu? Kulumatkan jadi debu, lantas kuhanyutkan di sungai? Rasanya tidak mungkin. Memori ini mengisi jiwaku. Memberiku getaran. Menyisakan ikatan dengan cakrawala terbaik yang pernah aku temui.................

Cinta tak bisa dijelaskan. Cinta yang panjang dan sangat rumit..........
Kenapa cinta semacam ini membelenggu diriku? Bukan satu pertanyaan yang harus kusampaikan........... Bukan. Tetapi satu pernyataan, cinta semacam ini membelenggu diriku. Aku takluk dan takut kehilangan. Apakah aku tengah menjalin ikatan di ruang yang gelap? Lalu di dalamnya aku tidak hanya terkurung namun busuk sekaligus? Aku tidak sudi kalau cinta ini menjadi racun yang menjadikan batas itu pekat, pahit, kabut.......................

Apakah kupu-kupu merasakan sepi? Atau mereka hanya menyerahkan seluruh hidupnya kepada waktu dan musim? Karena kupu-kupu pasti akan tiba waktunya, saat mereka menarikan musim penuh bunga, menjemur sayap indah di bawah matahari pagi. Jika kupu-kupu luput dari sepi dan tidak ada batas antara rasa sesak dan lapang, siang dan malam, hari tiada bernama, maka aku mungkin sebaliknya, seekor kupu-kupu yang terbelenggu. Aku ingin lepas namun aku ringkih.................

Perpisahan sama sekali bukan pilihan untuk mengakhirinya..................
Kemanakah aku harus melanjutkan hidup? Membawa masa lalu kembali? Atau melanjutkan pelarian menuju ruang baru? Aku tahu, segalanya terhenti oleh batas waktu yang dimiliki hidup. Aku hanya ingin menyelamatkan diri dan membebaskan jiwa dari rasa bersalah......................

Kenapa bimbang? Jika mencari dunia itu, kita mesti menemukannya sendiri. Tapi ketika kita sampai, lantas mengapa harus dihancurkan?......................

Suatu waktu, pasti tiba, harus memilih…. Disinilah keputusan itu mesti dihadapi, dibawa, dilakukan, dan diterima dengan kesiapan penuh karena pasti akan ada konsekuensi...........................

Aku tidak hanya membohongi diri sendiri, tetapi orang-orang tercinta pun kukorbankan. Apa ini hanya butuh satu vonis untuk diriku, pengecut atau pendurhaka? Mungkin tidak karena aku hanya ingin menemukan yang ingin kuraih di tengah hidupku, dengan sadar dan sepenuh jiwa..................!

Monday, January 11, 2010

MAAF, GESER SEDIKIT BU !


Usia masih bisa disembunyikan, wajah dan kerut merut kulit? Ditunjang tubuh yang berkembang sesuai dengan pertambahan usia, sudah pasti menunjang seseorang terutama seorang perempuan untuk dipanggi “ibu” tanpa harus melihat status.

Jadi teringat tiga bulan yang lalu, saat jam istirahat, seorang teman datang ke kantor dengan wajah yang cemberut dan muka ditekuk seperti menyimpan segumpal kekesalan yang dalam. Why?

“Aku kesel banget di Mal kemaren, waktu naik lift, karena penuh, eh, ada cowok dengan enteng bilang, “Maaf bu, bisa geser dikit?” “ Aku pikir bukan sama aku, ternyata mata cowok itu menatapku dengan santun. Saat itu belum terlalu kesel sih, tapi pas angkot yang penuh pun, kenek di sampingku bilang sambil agak menyentuh bahuku memintaku untuk bergeser, “Maaf bu, geser sedikit.”

Mendengar penjelasannya, kita semua tertawa. “Oh itu yang membuat sahabatku mukanya muram bak mendung gak jadi hujan.” Kalau ditilik sejarahnya, siapa yang gak kesel dan marah, “Lha wong dia masih gadis, muda, dan kulitnya pun masih kencang. Tapi kenapa dipanggil ibu?”. Tetap saja dia ngotot tidak terima dengan panggilan itu, “Aku khan belum jadi ibu, panggil ‘mbak’ apa salahnya, toh aku masih kelihatan muda, walau badanku melar.” Gerrr…..kita semakin tertawa mendengar celotehannya.

Lain pula cerita temanku yang lain, “Aku boleh saja dibilang orang masih muda, sekarang baru 29 tahun, sudah menikah dan punya buntut dua, dan masih kuat jalan kemanapun. Tapi kalau malam tiba dan menjelang tidur, rasa lelah dan letih mulai terasa. Sudah mulai sering sakit kepala. Kata orang, semakin bertambah usia semakin banyak keluhan. Tapi aku masih ingin bergaya dengan busana jins walau tidak ketat, serta ikut teman-teman kantor yang masih muda-muda, jalan-jalan ke Mal walau kakiku seringkali terasa sakit, telapak kaki sudah terasa “nyut-nyut an” jika kelelahan akibat banyak jalan.”

Status antara kita yang masih lajang dengan yang sudah menikah, tidak menjadi penghalang untuk berbagi masalah apa saja. Ada seorang rekan di kantor yang sudah berumur, bahkan paling berumur diantara rekan perempuan, kami tidak menyangka, kalau dia sudah berumur, tapi belum terlihat seperti ibu-ibu yang biasanya bertubuh subur padahal anaknya sudah empat orang, dan yang tertua sudah beranjak dewasa. Bahkan kita tidak percaya kalau usianya sudah mencapai angka 47 tahun, namun pembawaannya selalu ceria, ramah, energik, dan menyenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. Lantas wajar pula, jika rekan-rekan di kantor memanggilnya dengan sebutan “mbak” bahkan “bunda”.

Sesaat aku termenung lalu tersenyum simpul penuh makna. Teringat beberapa tahun yang lalu, karena kendaraan pribadi yang biasa aku bawa ke kantor sedang diperbaiki di bengkel langgananku, aku memutuskan berangkat ke kantor menggunakan kendaraan umum yaitu, angkutan kota (angkot). Berbusana kantor yang rapi, lengkap dengan tas di tangan dan sepatu pantofelku yang berwarna hitam mengkilap, aku menghentikan angkot yang melintas di pinggir jalan tak jauh dari rumahku. Di dalam angkot, aku mengambil bangku sebelah kanan dekat pintu, saat ada penumpang lain yang masuk, aku sempat termangu saat sopir angkot itu dengan hormat menyapa, “Maaf Bu, bisa agak kedalam?”. Anehnya, panggilan itu terasa menghujam batinku. Padahal panggilan “ibu” sering aku terima saat di kantor atau saat jam-jam kerja. Sebutan itu tidak menjadi masalah bagiku. Tapi mengapa hari itu terasa aneh. Entahlah.


Ternyata panggilan “ibu” dari orang lain yang diterima bagi seorang yang menganggap dirinya masih muda, baik yang masih lajang maupun yang tidak, membuat aku dan sahabat-sahabatku termotivasi untuk berjuang menurunkan berat badan dan beresolusi untuk sehat lahir maupun batin. “Mulai saat ini kita harus cantik!”, Ayo semangat, walau kita sudah berkepala tiga, gak salah harus tetap cantik, harus “laku” tahun ini!” Begitulah kita bersepakat. “Jangan mau kalah sama Rina yang hitam, judes, cupu...korban mode, tapi bisa dapat suami kaya dan ganteng, walau sebenernya kita sudah tahu sih gimana kelakuan suaminya, Ridho, saat mereka memutuskan untuk cepat-cepat menikah.” Begitulah rumpii-an temanku saat dia menumpahkan kekesalannya terhadap salah seorang temannya. Diantara kita, memang dia yang paling bawel, apa adanya tapi menyenangkan dan setia kawan banget. Kita pun terus digayuti kebahagiaan, saling berbagi, diselingi dengan candaan dan tertawa tiada henti. Suasana saat itu benar-benar heboh.

Atas saranku juga, aku yang sangat getol dan rajin berolahraga, mengajak teman-temanku untuk masuk kelas kebugaran, aerobic dan fitness serta jogging dan senam pagi di lapangan setiap minggu pagi, sambil melakukan diet sehat. Sayur bening, tahu tempe, ayam tanpa kulit dan ikan tanpa digoreng, serta buah, akhirnya menjadi menu kita setiap hari ke kantor untuk makan siang. Tidak makan makanan yang mengandung karbohidrat saat sarapan pagi dan di malam hari, serta banyak minum air putih.

Hampir dua bulan menu tanpa bumbu kental itu menjadi santapan favorit kita. Alhamdulillah, kemauan keras itu menutup mata kita untuk tidak tergoda oleh makanan enak yang kita santap setiap siang, atau gorengan dan martabak keju yang yummy. Kita berkomitmen dengan program diet ini.

Aku yang saat itu tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi teman-teman yang hampir semuanya mengeluhkan soal bentuk tubuh, aku hanya berprinsip yang terpenting adalah bagaimana “menjalani hidup sehat” yaitu sehat lahir maupun batin. Terutama sehat secara batin, maka lahiriah kitapun akan terlihat sehat pula, terutama jika selalu beribadah. Jika pikiran kita sehat, kita ikhlas menerima kondisi apapun, tidak cepat tersinggung, tidak gampang marah, tidak sombong dan menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain. Otomatis jika kita sehat lahir batin, setiap hari kita bersemangat, percaya diri dan ikhlas memberikan keramahan tanpa pamrih dan selalu tersenyum dengan tulus kepada siapa pun. Menurutku itulah yang terpenting karena itu juga merupakan bentuk ibadah yang tidak bisa dibayar dengan materi dan sangat manis hasilnya.

Akhirnya aku menyadari, panggilan atau sebutan “ibu” diucapkan orang lain sebagai suatu sapaan sebagai tanda hormat. Juga merupakan sapaan bagi seseorang karena ruang lingkupnya, bisa karena pekerjaan atau menghargai orang yang lebih tua. Kini kita memang tidak bisa lagi menghindar dari “panggilan takdir”, ditunjang usia memang akan terus melaju dan perkembangan tubuh yang semakin melebuarr.....karena semakin berkurangnya metabolisme tubuh kita. Gak perlu resah, karena itu bisa terjadi pada siapa pun laki-laki maupun perempuan.


Pengalaman sahabat-sahabatku dan orang –orang di sekillingku, “Ahh…..benar-benar oase di padang gersang.” Aku harus tetap memegang erat janji pada diriku sendiri bahwa aku harus “Konsisten terhadap komitmen, segala sesuatu yang berlebihan dan serba instan itu, tidak baik akibatnya.”


“Jangan berpikir untuk cantik, tapi menjadi ramah dan menyenangkan”

Tuesday, January 5, 2010

SENYUM KARENA MUSUH

Orang bilang "tertawa itu sehat". Asal mula tawa bisa beragam, bisa dari pengalaman yang lucu lalu menimbulkan tawa.

Namun ceritaku ini ada hubungannya dengan "musuh". Berbicara tentang musuh, musuh bukan saja manusia. Tapi tahukah kita bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang mengikuti kemana saja kita pergi dan berkelana. Dialah musuh yang pandai sekali membawa diri.

Lalu apa hubungannya senyum dengan musuh?

Ini pengalamanku di tengah malam dari sebuah perjalanan dari luar kota. Bukan urusan yang mudah jika sudah menyangkut rasa kantuk yang teramat sangat saat itu.

Kepayahan duduk terlalu lama selama 6 jam di dalam travel yang membawaku pulang ke rumah di malam itu, aku terhenyak tidur di kasur empuk di kamarku.

"Oh damai rasanya bisa kembali ke rumah, aku rindu kamarku, aku rindu untuk bisa lagi memeluk guling kesukaanku dan tidur kembali di ruang favorite serta tempat paling privacy bagian dari rumahku yang selalu memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja." Betapa lelahnya tubuh ini. Maka setelah merapikan diri, aku segera merebahkan diri. Aku pun terhanyut dibuai mimpi yang begitu nyaman.

Karena sudah terbiasa, aku selalu memasang alarm dari handphone ku sebagai pertanda harus segera bangun di kala suara adzan terdengar. "Hayya alash shalaah"....(Marilah shalat). Dari sebuah speaker Masjid di lingkungan rumahku terdengar di telingaku.
"Ah, subuh sudah datang, pikirku."

Namun aku membuka mata terasa sangat berat. Dengan mata yang masih kabur, aku lihat jam di handphone ku, angka digital menunjukkan 4.30. Tiba-tiba, tidak ditanya dan tidak diharapkan, musuh berselimut yang sudah ada disisiku membisikan dengan lincahnya, "baru jam 3!". Bisikannya benar-benar menggedor-gedor nuraniku.

Mataku berkejap-kejap, kepalaku sedikit pusing dan terdengar lagi bisikan perlahan-lahan yang menggedor-gedor lagi nuraniku "kamu masih bisa tidur dua jam lagi, hilangkan kelelahanmu dan puaskan tidurmu! tidurlah dengan tenang! Nanti saja ibadahnya!"


Aku terkejut dan curiga, "apa-apaan maksud bisikan ini?". Mengapa bisikan ini begitu gencar menyerang benteng jiwa ku. Dan astaga! Musuh, ya musuh! Aku langsung tersadar. Darah perlawanan pun mengguncang-guncang tubuhku. Aku bangun melompat untuk melepaskan rantai kemalasan dan berta'awudz, "A'uzu billahi minasysyaitaanirrajiim..."

Mana musuh yang berbulu penasehat tadi? Dia lari terbirit-birit menjauh, dan aku melangkah ke pintu, membersihkan diri dan terus berwudhu. Air yang dikira dingin sebaliknya menyegarkan. Aku lihat jam di dinding tepat jam lima subuh. Maka akupun senyum riang.

Musuh tadi hilang lenyap. Dia memang ada, beranak pinak tambah banyak dan tidak mati-mati sampai kiamat. Benar-benar musuh beuyutan. Itulah setan dan iblis yang selalu berbisik-bisik di hati manusia, menggoda tiada hentinya supaya manusia berbuat dosa.

Senyum ku bertambah lebar di subuh itu, karena menang dan merasa gembira. Aku pun teringat prinsip yang berbunyi seperti ini........

"Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah dia (tetap) sebagai musuh....." (QS. Fathir:60)


Alhamdulillahirrabbil'alamiin.......

Wednesday, December 30, 2009

RESOLUSI TAHUN BARU

Pada malam tahun baru, banyak orang membuat komitmen diri. Melirik lagi ke belakang resolusi apa yang telah berhasil digapai selama 12 bulan sebelumnya.

"Apa resolusimu di tahun baru ini?" tanya seorang teman via SMS.
"Aku berharap agar kehidupanku akan lebih baik lagi di tahun mendatang, dibandingkan tahun kemaren."


Ya, resolusi atau ketetapan hati seakan menjadi mantra ajaib yang diucapkan, bahkan kerap kali ditanyakan ketika tahun berganti. Setiap orang berharap bahwa bergantinya tahun akan memberikan pencerahan, baik dalam dirinya sebagai pribadi maupun dirinya dalam lingkup pergaulan sosial; mencakup soal keuangan, karier, keluarga, dan sebagainya.


Dalam konteks kehidupan pribadi, saat pergantian tahun kita berharap akan diisi dengan hari-hari yang lebih membahagiakan. Bagi yang masih melajang, mungkin berharap akan mendapatkan jodoh sesuai dengan idaman hatinya. Bagi yang telah berumahtangga, berharap kehidupan rumah tangganya akan terus harmonis.

Dalam konteks karier, kita juga berharap akan adanya perubahan yang membahagiakan. Misalnya, bagi yang belum mendapat pekerjaan, berevolusi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Sedangkan bagi yang sudah bekerja, berharap mendapatkan promosi jabatan, kenaikan gaji, atau bahkan berharap mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Begitu juga dalam konteks keimanan, kita harus selalau punya resolusi, misalnya tahun ini kita berharap akan lebih baik dalam beribadah, ingin menjadi orang yang lebih sabar, lebih khusyuk, dan sebagainya.

Resolusi kadang tak perlu terungkap lewat kata, terpatri dalam hati saja sudah cukup. Namun demikian, ada juga sebagian orang merasa perlu mencatat setiap resolusinya di buku agenda ataupun buku hariannya, sehingga kita semakin terpacu untuk mencapai asanya.

Setiap orang tentu punya cara tersendiri dalam membuat maupun menggapai resolusi di tahun yang baru. Tapi semua tentu sepakat bahwa setiap pergantian tahun kita berharap segalanya akan menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Kita harus meninggalkan segala kebiasaan buruk di tahun yang lalu guna meraih kehidupan yang lebih baik lagi.

Tentu saja untuk menjadi lebih baik bukanlah semudah membalikkan telapak tangan melainkan harus diupayakan dengan kesungguhan hati, diawali dengan janji pada diri sendiri, dan kemudian dilaksanakan tahap demi tahap sesuai resolusi yang telah ditetapkan.


Untuk semua BLOGGER ......

SELAMAT TAHUN BARU 2010.......
SEMOGA TAHUN-TAHUN MENDATANG MEMBERIKAN KITA SEMUA PENCERAHAN DAN KEMAJUAN DALAM SETIAP LINI KEHIDUPAN....
JANGAN MUDAH MENYERAH, TETAPLAH OPTIMIS DAN SEMANGAT.....

Wednesday, December 16, 2009

FACEBOOK...OH....FACEBOOK

Ia perempuan baik-baik. Wajahnya manis, senyumnya lembut. Ia dikelilingi orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Pesta ulang tahun, pertemuan dengan teman, pernikahan, wisuda, liburan, semua itu menyibukkannya dari pekan ke pekan. Itu sebabnya perempuan ini tidak pernah merasa kesepian meski ia single dan sebentar lagi akan berusia 35 tahun.

Lalu wabah Facebook melanda seluruh kota tempat perempuan itu tinggal. Hampir seluruh warga kota membicarakan tekhnologi mutakhir ini. Perempuan ini tidak terlalu suka dengan kecepatan tekhnologi yang membuatnya merasa terus terbelakang. Seperti telepon genggam, ia takkan terpengaruh untuk mengganti yang lebih baru sebelum yang lama tak lagi terpakai.

Tapi teman-teman kantornya benar-benar kecanduan Facebook. Mereka mengaku bertemu dengan teman-teman lama yang sudah berabad tak jumpa. Teman masa kecil, teman SD, teman SMP, SMA, teman les piano, teman waktu kuliah, dan teman-teman yang lain yang bahkan tidak sengaja berjumpa saat di luar kota atau saat-saat tertentu di suatu event tertentu. Bahkan musuh masa kecil yang sekarang tampaknya menyenangkan.

Kemudian muncul seorang pegawai baru di kantor. Namanya Vina. Ia bekerja tiga bulan untuk menggantikan Santi, operator kantor yang sedang cuti melahirkan. Vina masih muda dan ceria bagai mentari pagi yang segar. Suasana kantor yang membosankan, tiba-tiba bergairah. Vina pun ikut Facebook. Bahkan sejak ada Facebook, ia rajin putus sambung. Berganti pacar, berganti cerita.

"Kalah kamu!" kata beberapa teman kepada perempuan itu. "Vina, sudah enam kali ganti pacar sejak ikut Facebook. kamu? Diajak ikutan aja belum masuk-masuk."

Perempuan itu kini menjalin waktunya di Facebook. Ia bertemu dengan banyak teman lama dengan hanya men-search nama mereka. Ia kini punya kegiatan baru. Meng-upgrade status, mencari teman, menjawab konfirmasi pertemanan, memasang foto-foto, chatting, menulis catatan, mengomentari status teman, catatan teman atau foto teman.

Sampai pada suatu hari satu nama India, Raoul Devan, memintanya konfirmasi sebagai teman. Perempuan itu mengingat-ingat. Ia punya beberapa teman India, tapi tidak nama ini. Vina pernah wanti-wanti, kalau ada nama-nama aneh yang tidak dikenal, jangan di-add dulu. Kalau tidak yakin, abaikan saja. Tapi ia menginformasi Raoul Devan sebagai teman.

Mereka pun berkenalan. Mulai dari berhai-hai dan hari-hari berikutnya; jadi ke dokter gigi hari ini? Atau, bagaimana mood bosmu hari ini? Sudah makan? Pertanyaan-pertanyaan pendek yang menggambarkan keintiman.

Raoul. Asli Tamil India yang lahir dan besar di Inggris dan sekarang warga negara Malaysia. Ia seorang aircrafft engineer di satu perusahaan penerbangan terkenal di Kerteh. Tanpa ijin Raoul, heli-heli ini tidak diperbolehkan terbang menjelajah medan-medan yang sulit.

Raoul seorang Hindu yang taat. Ia berdoa pagi dan sore hari di meja sembahyangnya dengan foto ibunya terpajang disana. Dan memakai dung di ujung atas hidung, diantara antara kedua alisnya. Hidupnya teratur dan bisa dideteksi perdetik, karena ia membuat daftar itu semua di kepalanya.

Ia hidup sendiri. Ia sudah terlalu terbiasa tidak bicara dengan siapapun dalam satu hari. Raoul memasak untuk dirinya sendiri setiap hari, hampir tidak memercayai masakan lain kecuali masakan India Utara yang kaya santan dan yogurt. Ia memerhatikan kesehatan. Ia seorang pembersih, tidak merokok, tidak minum-minuman keras, tidak mencari kesenangan seks di jalanan. Ia seorang yang cepat. Masak cepat, tidur cepat. Kecuali bercinta, katanya tertawa.

Bahasa Inggris Raoul sangat indah. Catatannya di Facebook seperti catatan seorang penulis hebat. Perempuan itu sangat menikmati membacanya.

"Tulisan-tulisanmu sangat membumi," puji perempuan itu.
"Terima kasih. Saya merasa tersanjung. Tapi saya sungguh tidak sedang berusaha membuat kamu atau siapapun kagum. Sekarang saya sedang mencari seorang istri. Saya ingin menikah sekali saja selamanya. Itu yang orang tua saya lakukan sepanjang hidup mereka. Saya ingin perempuan yang pintar, tidak tergila-gila dengan uang dan kemewahan. Dulu saya pernah tinggal bersama perempuan Inggris selama dua tahun. Tapi kami berpisah karena dia menginginkan pernikahan dan mempunyai anak."

"Kamu tidak mau menikah dan punya anak?" tanya perempuan itu.
"Dulu. Sekarang saya ingin punya anak. Mungkin beberapa anak. Ibu saya sudah tua. Ia ingin melihat saya punya istri dan anak. Kita sudah berkenalan dan berbicara-bicara, ehm...dua bulan? Maukah mencoba berpacaran?" tanya Raoul serius dan to the point."
"Kita berjauhan," jawab perempuan itu asal saja.
"Sekarang jarak bukan lagi isu penting, sayang. Coba lihat Facebook ini. Menghubungkan dunia hanya dalam satu pad komputer. Mau atau tidak, itu saja masalahnya. Bagaimana?"
"Hmm....saya akan mempertimbangkan, Raoul!."
"Bagus. Saya bisa terbang ke Jakarta kapan saja kamu siap."

Bulan keempat, Raoul dan perempuan itu berjanji bertemu. Pesawatnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 10.35. Waktu yang tepat untuk melakukan apa saja, termasuk bertemu kekasih. Perempuan itu melihat Raoul menenteng ransel di pundaknya. Hari terasa sejuk dan indah.

Raoul menggenggam tangan perempuan itu lembut. Matanya yang hitam berbinar.
"Akhirnya kita bertemu," ucapnya senang.
"Capek?" tanya perempuan itu.
"Tidak setelah melihat kamu. Kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan."
"Kamu mau duduk dulu minum kopi?"

Raoul setuju. Mereka minum kopi tubruk khas Toraja. Ternyata Raoul tidak seserius seperti yang perempuan itu pikir. Cara bicaranya lembut dan teratur, percaya diri. Pertemuan mereka tampaknya akan membuahkan hasil yang manis. Keduanya saling memuji tak berhenti.

"Kamu suka pertemuan kita?" tanya Raoul.
"Ya."
Lalu Raoul menyadari perempuan itu tidak membawa tas lain kecuali tas kecilnya.
"Kamu tidak membawa pakaian untuk menginap?" tanya Raoul. Keningnya berkerut.
"Tidak. Saya sudah memesan hotel untuk kamu," jawab perempuan itu.
"Hotel? Baiklah. Kamu akan menginap di hotel itu dengan saya kan?"

Perempuan itu memandang Raoul. Ia tidak pernah berpikir soal menginap bersama. Tidak pernah terlintas dipikirannya. Bagaimana bisa tinggal di satu kamar hotel dengan seseorang yang baru bertemu face to face meski sudah kenal empat bulan di Facebook?

"Saya tidak menginap di hotel dengan kamu, Raoul. Tapi kita akan selalu bersama. Saya sudah siapkan waktu dua hari ini untuk kita bersama."
"Apa maksudmu tidak menginap denganku di hotel, sayang?"
"Saya tidak menginap dengan laki-laki di hotel."
"Tentu saja kamu tidak menginap dengan laki-laki di hotel. Kamu menginap dengan saya, calon suamimu. Kamu ingat? Kita akan bersama-sama selama akhir pekan ini, bukan?"
"Ya Raoul."
"Dan kita akan mencoba tidur bersama, bukan?"

Perempuan itu terperangah. Ia tidak bisa menjawab. Dan Raoul sepertinya bertanya dengan cepat, tidak memberinya jeda untuk berpikir.
"Kenapa diam? Bukankah sepasang kekasih saling mencoba sebelum memutuskan untuk menikah?"
"Ya benar, Raoul. Hanya tidak berpikir kita akan tinggal dalam satu kamar hotel.
"Kenapa tidak, sayang?" suara Raoul lembut.
"Saya belum pernah....seperti itu."
"Jangan takut, sayang. Saya tidak akan memaksa. Tidak pernah memaksa seorang perempuan. Saya hanya ingin kita bersama setiap saat. Bagaimana aku bisa melewatkan malam disini tanpa kamu?"

Perempuan itu memandang Raoul. Betul-betul di luar kemampuannya. Tangan Raoul menyentuh bawah dagunya.
"Itu tidak masalah. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, sayang. Bukankah kita sudah membicarakannya? Kita sudah mendiskusikannya banyak jam di telepon atau chatting tentang masalah ini. Kita sudah dewasa, sayang. Kita melakukan segalanya dengan tanggung jawab dan bukan dengan ketakutan."

Perempuan itu gelisah dan ia merasa ada kesalahpahaman di sini. Hatinya membeku dan
kehangatan pagi menguap pergi.
"Raoul, maafkan saya. Saya ingin kita saling mengenal dan melewatkan banyak hal yang menyenangkan disini."
"Tentu, sayang. Itu sebabnya kita akan menghabiskan waktu dua hari ini bersama." Setiap pasangan di dunia melakukan hal-hal yang intim sebelum mereka menikah, bukan?"
"Tidak dengan budaya dan kebiasaan disini, Raoul!."
"Oh, bagus. Budaya dan kebiasaan? Sebentar lagi kamu akan bilang soal agama dan Tuhan. Kamu akan bilang kita tidak bisa tidur bersama sebelum menikah karena persoalan moral? Tidak sadarkah bahwa kamu sedang memanipulasi moral? Tidakkah itu tindakan menipu dan tidak bertanggungjawab? Kamu membuat saya salah berpikir tentang hubungan ini," ujar Raoul cepat.

Mata hitamnya berubah menjadi mata elang yang marah dan hendak menukik turun menghabisi lawannya.
"Raoul, jangan marah. Saya hanya...,"kata perempuan itu putus asa.
"Saya tidak marah, sayang. Saya hanya benci kepada diri saya sendiri yang bodoh. Biaya tiket dan hotel tidak murah. Juga perjalanan saya ini. Kamu tahu saya bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk maksud tidak jelas. Lagipula dengan uang yang saya keluarkan sekarang ini, saya bisa mendapatkan wanita dewasa yang normal."

Perempuan itu terkejut. Raoul membandingkannya dengan perempuan yang bisa dibeli jasanya di jalan?
"Kamu membandingkan saya dengan perempuan yang bisa kamu bayar, Raoul?"
"Saya bukan pemburu perempuan semacam itu tapi saya benar-benar kecewa."

Perempuan itu tidak mempunyai kata-kata lagi. Coffe Shop tempat mereka duduk tiba-tiba menjadi suram diliputi kecemasan.
Akhirnya perempuan itu tak tahan, berkata, "Saya perlu waktu, Raoul."
"Kamu seharusnya mengatakan itu sejak awal kalau itu yang kamu mau. Cinta itu mau melakukan segala sesuatu untuk pasangannya."

Perempuan itu sudah tertinggal jauh.
"Kenapa diam? Kamu masih menginginkan saya disini? Jujurlah sebelum saya mengeluarkan terlalu banyak uang."
"Raoul, bukankah kita bisa melakukan hal-hal lain yang menyenangkan?"
"Tidak sayang. Saya kesini untuk bersama denganmu, bukan berlibur. Itu yang saya tahu. Kalau kamu mempunyai rencana lain, itu bukan dengan saya. Begini saja. Saya tidak akan percaya dengan perempuan yang ditemui di dunia maya. Saya tahu perempuan suka berubah-ubah tapi baru kali ini saya menemukan perempuan yang tidak bertanggung jawab dengan kata-katanya."

Perempuan itu seperti sudah berubah menjadi patung garam.
"Sudahlah, saya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ini uang untuk kopi. Terima kasih untuk pertemuan ini. Lain kali, tolong bicara dengan jelas. Saya akan mencari tiket untuk kembali ke KL. Saya tidak terima dengan apa yang terjadi hari ini."

Raoul bangkit dari tempat duduknya dengan emosi terjaga, menarik ransel dengan wajah lurus, meninggalkan perempuan itu seorang diri di kursinya. Perempuan itu termangu. Sebelum ia menarik napas yang kedua, Raoul sudah menghilang di balik dinding.

Perempuan itu tak percaya apa yang sudah terjadi. Raoul yang ia kenal empat bulan di dunia maya hanya bertahan duduk dengannya kurang dari tiga puluh menit? Ia ingat Vina. Ingat Facebook. Ia akan segera mengganti statusnya sekarang. Dan akan segera menghapus Raoul sebagai temannya di Facebook.(IS)

Saturday, December 5, 2009

PENGALAMAN BERHARGA

Belakangan ini banyak terbongkar kasus korupsi yang dilakukan orang-orang terhormat di Indonesia. Padahal menilik status sosial dan ekonomi mereka, tanpa korupsi pun pasti hidupnya sudah berkecukupan. Karena itu hatiku begitu tersentuh ketika bertemu seorang penyemir sepatu yang berprinsip hanya menerima uang bila sudah bekerja. Aku merasa seperti menemukan oase di padang gersang.



Suatu hari sepulang bekerja, aku mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelah berputar kesana-kemari dan sudah mendapatkan semua keperluan, aku bergegas pulang karena harus ke tempat lain. Di dekat parkir mobil, aku dihadang seorang anak kecil yang menawarkan jasa menyemir sepatu. Karena sedang terburu-buru dan merasa sepatuku tidak perlu disemir, akupun tidak menghiraukannya. Tapi anak itu terus membuntutiku sampai ke tempat parkir. Sebenarnya aku sebal melihat anak kecil yang ngotot itu. Tapi karena melihat tubuhnya yang kurus dan penampilannya yang memprihatinkan, aku merasa kasihan. Segera kuulurkan uang dua puluh ribu rupiah, aku berharap, setelah menerima uang itu dia tidak lagi memaksaku menyemir sepatu.

Memang benar, meski terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya dia menerima uang pemberianku dan kemudian berlalu. Akupun lega. Segera kumasukkan barang-barang belanjaan dari trolley ke dalam bagasi mobil.

Ketika sedang sibuk mengemasi barang belanjaan, aku dikejutkan kehadiran seorang laki-laki separuh baya di sampingku.
“Mbak yang tadi memberi uang pada anak saya ya?” tanyanya.
Kulihat di sebelah bapak itu ada anak penyemir sepatu yang tadi menawarkan jasanya padaku.
“Iya betul. Ada apa Pak?” tanyaku keheranan.
“Maaf, saya mau mengembalikan uang Mbak. Anak saya hanya boleh menerima bayaran kalau sudah bekerja. Dia tidak boleh menerima uang tanpa bekerja. Itu namanya mengemis.”


Aku sungguh terkejut mendengar perkataan bapak itu. Kuperhatikan dirinya. Penampilannya sama menyedihkan dengan anaknya. Tampak lusuh dan mungkin menahan lapar. Dia juga membawa kotak berisi peralatan menyemir. Aku begitu takjub melihat orang tak berpunya seperti dirinya bisa begitu tegas menolak uang yang sebenarnya ia butuhkan.

“Tidak Pak. Biar saja, saya ikhlas kok,” aku menolak karena iba melihat keadaan mereka berdua.
“Tidak, anak saya tidak boleh berbuat seperti ini. Nanti jadi kebiasaan yang tidak baik,” katanya tegas.


Aku tertegun mendengar kata-katanya itu. Namun aku juga mengakui kebenaran ucapannya.
Ia kemudian memaksaku menerima selembar uang dua puluh ribuan yang tadi kuberikan kepada anak itu.
Karena tidak ingin membuat keributan, terpaksa aku menerimanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar uang itu tetap bisa kuberikan kepada anak itu tanpa membuat ayahnya marah. Tanpa membuang waktu segera kulepaskan sepatuku dan menyodorkannya pada anak penyemir tadi.
“Tolong disemir ya Dik, tapi jangan lama-lama soalnya saya harus segera ke tempat lain,” kataku. Aku lalu membuka pintu mobil dan duduk menunggu di dalam.

Anak itu segera menyemir sepatuku, dengan disaksikan ayahnya. Lebih kurang sepuluh menit kemudian, sepatuku selesai disemir. Anak itu mengulurkan sepatu pantofelku yang kini sudah mengkilat. Aku segera mengenakannya dan kemudian memberikan uang dua puluh ribu rupiah yang tadi dikembalikan di bapak, pada anak itu. Dia menerimanya dengan gembira sambil berkata, “Terima kasih, Bu.”

Aku tersenyum. “Terima kasih juga, Dik,” jawabku sambil menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan mereka.

Rasa terima kasih yang kuucapkan itu bukan hanya karena sepatuku telah disemirkan, namun juga karena mendapatkan pelajaran berharga tentang keteguhan hati. Meskipun miskin, bapak anak itu pantang mengemis dan menerima uang tanpa bekerja. Dia juga mendidik anaknya melakukan hal serupa. Semoga orang-orang terhormat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menyadarinya dan mengambil suri teladan dari keteguhan hati seorang penyemir sepatu. Dan akupun mendapatkan pelajaran berharga yang tidak akan kulupa sepanjang hidupku.

Friday, November 6, 2009

INDAH PADA WAKTUNYA


Aku meminta kepada Allah setangkai bunga mawar......
Allah beri aku kaktus berduri,

Aku meminta kepada Allah binatang mungil cantik.....
Allah beri aku ulat berbulu,

Aku sedih, kecewa, protes....
betapa tidak adilnya Allah,

Namun kemudian.....
kaktus itu berbunga indah bahkan sangat indah.....

dan ulat berbulu itupun tumbuh.....
dan menjadi kupu-kupu yang amat cantik,

Itulah jalan Allah....
indah pada waktunya,

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi.....
Allah memberi apa yang kita perlukan"


Kadang kita sedih, kecewa, dan terluka.....
tapi....
jauh di atas segala-galanya.....
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.


(Sumber: Unknown)

Wednesday, October 28, 2009

MASSAGE KEHIDUPAN

Hari itu aku bersama sahabat-sahabatku memutuskan untuk "hang out" di sebuah cafe, seharian hanya untuk mengobrol dan membiarkan hari hilang percuma.

Aku ingat celetukkan seorang teman, “Dulu aku tidak pernah mengerti arah hidupku ini, hari-hari lewat tanpa ada tujuan atau target. Tapi setelah bapakku meninggal mendadak, aku seakan tersadar.” Dan memang, temanku itu yang aku kenal dulu urakan dan semaunya, kini terlihat lebih tenang dan religius.

Terjadi banyak jeda dalam obrolan kami. Larut dalam perenungan dan pikiran masing-masing. Dari kaca jendela raksasa café, diluar tampak orang-orang sudah mulai menampakkan diri berjalan hilir mudik di sepanjang trotoar jalan. Mobil-mobil bersiap memasuki area parkir.

Terbungkus hangat dalam sofa empuk, aku biarkan dua slize PIZZA dengan taburan tuna dan paprika itu tergolek sia-sia di atas meja. Entah kenapa hari itu kami mendadak menjadi lebih kalem. Biasanya setiap kali bertemu, canda tawa mendominasi, seakan dunia hanya milik kami, “yang lain numpang!!". Jadi harap tahu diri untuk tidak ikut membuat gaduh!” Hang out yang belum tentu sebulan sekali itu dimaksudkan utnuk tetap menjalin persahabatan meski kami dipisahkan pekerjaaan yang berbeda-beda. Berbagi cerita, berbagi kegembiraan dan kesedihan. Sebelumnya aku yang paling getol punya inisiatif untuk mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama, saat itu tidak aku lakukan. Aku merasa malas, aku lebih tertarik dengan topik pembicaraan kami saat itu.

Entah darimana pembicaraan ini bermula, topik yang kami bicarakan adalah tentang “kehidupan”. Yang aku ingat, berawal saat aku katakan, suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku lebih memilih melewatkan waktu dengan membaca sebuah novel percintaan. Dengan harapan, setelah mataku lelah melototi tulisan-tulisan yang ada di novel tersebut, mataku dapat terpejam secara alami. Kupromosikan bahwa cerita dalam novel tersebut, sangat bagus. Ada dialog di buku itu yang membekas di pikiranku. Intinya adalah alangkah indahnya bila setiap hari, saat kita bangun di pagi hari selalu diiringi kesadaran penuh untuk apa kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Menarik nafas berarti kita hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa tarik nafas dan membuang nafas yang selalu dilakukan berulang-ulang? Dalam novel itu, si ‘aktor’ menyatakan kepada kekasihnya, yaitu orang yang ia cintai, “Untuk selalu bersamamu…..karena setiap hari aku mengejar cintamu.” Artinya, dalam setiap tarikan nafas mesti punya tujuan. Buzzz !!


Persoalannya adalah, apakah kita menyadari pentingnya kesadaran akan tujuan hidup tersebut? Kita sudah terbiasa dengan aktifitas robot. Melaksanakan sesuatu secara spontan dan menganggap sudah sewajarnya, sehingga tanpa perlu berpikir dan tanpa sadar sepenuhnya. Padahal kesadaran adalah kunci menikmati hidup. Sementara kita seringkali baru sadar setelah sebuah masalah timbul. Baru tersentil setelah menerima paket sebuah cobaan.

Seru sekali obrolan kami saat itu. Akupun digayuti kebahagiaan mempunyai sahabat yang bisa dibawa kedalam kondisi bukan cuma suka tapi juga duka, bisa sharing dan berempati. Topik pembicaraan kami pun tak terlepas dari problema kami yang sama yaitu bagaimana sulitnya “ being a single”.

Celetukkan temenku satunya tidak kalah seru, “Di pesta saudaraku kemaren, aku banyak bertemu keluargaku yang datang dari luar kota. Aku sebel sekali dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, like this; “why aren’t you getting married yet?, bla….bla…bla…
Kami semua memahami perasaan temanku itu disaat dia bercerita bahwa sulitnya berada di posisi orang seperti kita-kita ini. Sedangkan, "aku...baik-baik saja." (seperti lagunya Ratu yang dinyayikan Pinkan Mambo :)

Hey…, We could better not to say anything than answering some question like that! They must know, we lived in civillized world where some cases where “Taboo” to spoken. Aku tidak sendiri, kami tidak sendiri. Jadi, kami bukanlah sesuatu yang antik, aneh, salah, atau apapun yang sebenarnya terasa melecehkan ketika diucapkan oleh beberapa pihak yang tak mengerti duduk perkara mengapa kami mesti menjalani ini.

“Waktu aku gagal dilamar si Roy dulu karena orang tuaku tidak setuju, aku down banget. Tapi kalo aku jadi menikah sama dia, barangkali, saat ini aku sudah jadi janda karena aku dengar si Roy menikah siri sama sekretarisnya. Dan aku mungkin tidak bisa sesukses ini kalau aku cepat menikah, aku bisa bantu ekonomi keluargaku dan merawat ibuku”. Begitulah kata temanku tentang pengalaman hidupnya.

Selalu ada massage dalam setiap peristiwa. Biasanya baru sampai ke jagat kesadaran setelah beberapa waktu berlalu. Yeach, kita bisa merasakan pudding caramel ini manis, setelah mengenal rasa pahit. Kurang lebih maksudnya adalah bahwa orang akan mengatakan hidup itu indah setelah pernah merasakan apa itu penderitaan.

Memahami massage dalam setiap kejadian itu, memang tidak mudah dicerna. Butuh waktu dan kesadaran yang diiringi dengan keikhlasan. Saat kita ikhlas, hati menjadi lapang, dan kelapangan hati adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jernih.

Jarum jam selalu menjadi penanda perpisahan. Saatnya pun kami harus meninggalkan café dengan berjuta hikmah yang kami dapat hari itu. Semoga kami bisa merealisasikan hikmah itu, bukan sekedar bualan dan kata-kata.

Thousands of words played in my hand. “My Lord, next time, I could make a very big step in my life.”

“Memang jalan hidup yang harus dilalui dalam menapaki hidup tidak selalu mulus. Kadang kita harus melalui beberapa bukit dan tikungan terlebih dahulu sebelum menemukan tempat datar yang indah. Menemukan kerikil-kerikil kecil yang sepintas tidak berguna, namun ialah sesungguhnya yang membantu pengerasan jalan.”

Monday, October 26, 2009

COKLAT....OH....COKLAT

"Kata orang, kalau hati lagi susah makan yang manis-manis"

Manusiawi kok kalau gak selamanya manusia itu bahagia terus. Wajar dong ya ada bete-betenya juga. Ada kalanya gembira, dan sebaliknya, tiba-tiba ditimpa masalah dan akhirnya merasa susah dan sedih. Beragam masalah dan beragam pula cara orang menyelesaikan masalahnya, setidak-tidaknya untuk meminimalisir suasana hati sehingga bisa melupakan masalah-masalah yang terjadi di depan mata.

Mungkin cara ini hanyalah sebagian kecil dari penyelesaian masalahnya, yaitu mengkonsumsi COKLAT. Percaya gak percaya sih! Menurut apa yang pernah aku baca, bahwa coklat mengandung ZAT TANIN yang juga berguna untuk mengatasi rasa sedih. Terlepas dari teori-teori yang ada, bagi aku coklat adalah salah satu makanan favoritku karena sekalin coklat memang enak, coklat sangat membantu dalam keadaan darurat. Disaat keburu lapar misalnya, tapi gak ada yang bisa dimakan sedangkan sikon tidak memungkinkan. Coklat gampang dibawa kemanapun dan bisa dimakan kapanpun.


Inilah kebiasaanku, aku tidak pernah melewatkan "tradisiku" untuk selalu membawa coklat di dalam tas dan tentu saja akan selalu terbawa kemanapun aku pergi. Mungkin ini merupakan kebiasaan yang tanpa sadar menjadi kondisi yang wajib dilakukan. Namun disisi lain aku menyadari, terkadang bisa menjadi hal yang mubasir, misalnya saat aku lupa atau tidak sempat untuk memakannya, sehingga sering pula si coklat menjadi lembek/mencair karena kepanasan dan aku pun merasa kadaluarsa dan gak enak lagi kalau dimakan. Lucunya lagi, pernah ada perasan sayang untuk memakannya, bisa jadi disaat aku merasa tidak terlalu lapar. Dikesempatan lain, disaat melihat anak kecil, akupun dengan iklhas hati akan memberikan coklat yang telah sekian lama bercokol di dalam tasku. Yach, tanpa disadari ternyata gak menjadi mubazir lagi khan dan aku pun sudah menyenangkan hati anak kecil dengan memanfaatkan keberadaan si coklat yang sering terlupakan untuk segera dimakan. Coklatku....oh coklatku....

Nah, kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa coklat bisa menjadi obat pelipur lara, sah-sah saja. Pengalamanku mengatakan, "makan coklat mengasyikkan!". Boleh dibilang mungkin sama dengan kebiasaan orang-orang terutama pria-pria yang mengkonsumsi rokok. Bedanya, makan coklat gak setiap saat dan yang pasti coklat lebih menyehatkan dibandingkan rokok. Iya khan?

Buat yang merokok nich, kalo udah tahu begitu, kenapa gak beralih ke coklat aja sih daripada merokok yang jelas-jelas gak baik buat kesehatan? Coklat telah terbukti menyehatkan dan memberi efek menenangkan. Kitapun menyadari, coklat bukan hanya mengenakkan tapi juga mengandung banyak kalori, sehingga kalau terlalu banyak dan sering mengkonsumsinya bisa menyebabkan kegemukkan. Sebenarnya gak menjadi masalah seandainya kita bisa bijak menyikapinya. Makanlah coklat secukupnya saja, misalnya disaat sedang ingin sekali makan coklat, sedang susah hati, atau saat sedang bingung daripada bengong, kenapa tidak?

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...