Blog ini terinspirasi dari ketulusan untuk terbiasa mencurahkan isi hati tanpa menutup-nutupi kelemahan atau masalah. Itulah sesungguhnya kekuatan besar yang akan menjadikan kita tegar. Pandai saja tak pernah cukup untuk membuat kita tegak menghadapi masalah.

Wednesday, March 31, 2010

PROUD OF YOU


Love in your eyes
Sitting silent by my side
Going on holding hand
Walking through the nights

Hold me up Hold me tight
Lift me up to touch the sky
Teaching me to love with heart
Helping me open my mind

I can fly......
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
Till the end of the time
Believe me I can fly......
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
The heaven in the sky

Stars in the sky
Wishing once upon a time
Give me love Make me smile
Till the end of life

Hold me up Hold me tight
Lift me up to touch the sky
Teaching me to love with heart
Helping me open my mind

I can fly.....
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
Till the end of the time

Believe me I can fly.....
I'm proud that I can fly
To give the best of mine
The heaven in the sky

Can't you believe that you light up my way
No matter how that ease my path
I'll never lose my faith

See me fly......
I'm proud to fly up high
Show you the best of mine
Till the end of the time

Believe me I can fly.....
I'm singing in the sky
Show you the best of mine
The heaven in the sky

Nothing can stop me.....
Spread..... my wings.... so wide.

- Songs by Fiona Fung -

Tuesday, March 23, 2010

BERSYUKURLAH !

Ketika masih mengontrak di sebuah kontrakan yang sempit, Arif, sering mengeluh, mengungkapkan betapa tidak nyamannya rumah yang ditempati. Berbagai perabotan berebut tempat dan berjejal.

Jangankan untuk shalat malam, untuk shalat wajib saja, rasanya tempat itu tidak nyaman. Apalagi untuk mencapai khusyuk. Makanya, ia lebih memilih shalat berjamaah di masjid yang tidak jauh dari kontrakannya.

Arif sering membayangkan, betapa tenang dan bahagianya jika kelak punya rumah sendiri. Apalagi jika rumah itu cukup luas. Ia tentu bisa menyediakan sedikit ruang untuk mushalla keluarga sehingga ia bisa beribadah, terutama shalat malam di mushalla itu dengan khusyuk dan tenang.

Ternyata apa yang ia bayangkan bukan hanya mimpi. Allah memberinya rizki yang lumayan, sehingga ia bisa menyediakan uang untuk DP kredit rumah di pinggiran kota.

Sebelum ditempati, rumah itu ia renovasi sedikit sesuai kemapuan financial yang ia miliki. Lewat renovasi itulah apa yang ia dan istrinya bayangkan tentang sebuah rumah idaman, ia wujudkan. Termasuk menyediakan sedikit tempat untuk mushalla keluarga. Pendek kata, akhirnya Arif pun pindah dari sebuah kontrakkan yang sempit ke rumah milik sendiri yang lebih luas, asri,dan direnovasi sesuai keinginannya. Siapa yang tidak bahagia menempati rumah sendiri yang luas dan asri meskipun harus mencicil tiap bulan?

Sejak memiliki rumah sendiri, Arif memang sedikit agak tenang. Ia tidak perlu berdesak-desakan dengan lemari dan televisi. Sirkulasi udaranya pun terbuka lebar, sehingga ia tidak perlu lagi merasa gerah ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Shalat di rumah pun tidak perlu lagi berjamaah dengan kasur dan bantal.

Tapi, saking nyamannya rumah yang ia tempati, ia jadi malas keluar rumah, termasuk pergi ke mesjid atau mushalla. Jika waktu shalat tiba, ia lebih memilih shalat di mushalla rumahnya.

Belakangan, ia datang kepada temannya, dan mengeluh lagi. Katanya, di rumah barunya itu ia sulit bangun malam. Jangankan untuk menegakkan shalat malam, untuk shalat shubuh saja tidak pernah berjamaah ke masjid. Bahkan bangun pagi pun seringkali lewat jam enam. Mushalla yang pernah diidam-idamkannya pun ternyata tidak membuatnya lebih khusyuk daripada sedikit ruang kosong di ujung kasurnya di rumah kontrakan dulu.


Arif sebenarnya mungkin potret kebanyakan kita semua, aku, juga kalian. Kita seringkali terjebak pada suasana hati yang membuat kita alfa dari mensyukuri nikmat Allah.

Kita lupa, betapa Allah memberi terlalu banyak nikmat kepada kita, tetapi kita merasa belum cukup, sehingga untuk beribadah saja, kita merasa perlu menunggu sampai Allah memberikan nikmat lainnya kepada kita. Tetapi, begitu nikmat lainnya berhasil kita dapatkan, kita masih punya seribu alasan lain untuk menunda syukur dan menolak ibadah.

"When we have not things what we like, we must like what have we owned"

Monday, March 1, 2010

HANYA UNTUK-MU

- Sepertiga Malam di Awal Bulan Maret -


Waktu tak pernah berhenti berputar, walau sedetik sekali pun. Usiapun ikut bertambah, seiring masa yang terlewati. Disaat-saat semakin berkurang jatahku di dunia……
Apa yang sudah aku perbuat? Cuma satu kata….. Aku belum berbuat apa-apa untuk akhiratku……

Astghafirullah al’adziim……

Di pipiku, aliran air terasa mengalir deras. Aku kembali tersedu dalam diam. Aku beranjak menuju jendela kamar. Kilauan gemintang yang bercahaya, bulan yang hampir purnama, warna langit lembayung kekelabuan, ach…tak puas-puasnya aku memandang......

Subhanallah…..
Tak Kau jadikan pergantian malam dan siang kecuali sebagai tanda bagi orang beriman......

Kuraih catatan harianku. Aku menuliskan puisi ini. Jujur ini bukanlah hobby dan kebiasanku. Namun jika aku menuliskannya sekarang, “tidak ada maksudnya, nikmati saja kata-katanya.”

Maafkanlah kekhilafanku dan dengarkanlah permintaanku......
Wahai kekasih hati.......
Hanya Engkau-lah harapanku dalam kehidupan
Tiada seorang tabib pun yang mampu menyembuhkan kegundahanku
Hanya Engkau yang mempunyai obat atas jiwaku ini

Wahai yang penuh welas asih........
Obatku adalah melihat raut wajahmu
Kesembuhanku berada dalam kerelaan-Mu
Wahai harapanku......
Karena Engkau adalah matahari diantara purnama-purnama hadiah dari-Mu
Karena Engkau adalah diantara bebatuan dan cadas......

Demi Allah..........
Tidak terbit matahari dan tidak pula terbenam
Kecuali Engkau adalah yang selalu mengisi dan mengusik hatiku.........



Ya Allah......

Ampunilah aku....
Biarkan aku bersabar atas keputusan-Mu......
Betapa takdir-Mu adalah misteri bagi hamba-Mu.....

Ya Allah.....

Aku tahu....
dan aku berusaha untuk tahu bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik. Aku cuma berusaha untuk lebih shalehah di hari-hari mendatang, dan mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan padaku......

Syukur atas nikmat mata yang mampu melihat luas, nafas yang lega, pendengaran yang tajam, mulut yang lancar mengalirkan kata-kata, makan yang lahap, tidur yang nyenyak.......
Berapa sanggup aku menilainya................?
Dan kapan terakhir aku mensyukuri nikmat sempurnanya tubuh dan sehatnya badan ini................?

Ya Allah..........

Mungkin ini adalah tahun milikku.....hadiah terindah yang Engkau berikan untukku....karena Engkau menjawab doa-doaku dan permintaanku yang merupakan kebutuhanku....
Janji-Mu tak pernah ingkar, walau mulanya aku selalu meragu......

Ya Allah.... ampunilah aku.....

Untuk sesaat, aku menghela nafas panjang......
Kehadirannya telah membuat segalanya berubah.....
Ada dia di hari-hariku dan selalu ada Engkau yang senantiasa hidup di hatiku. Ada rasa cinta kepadanya yang aku tidak tahu kapan tumbuhnya.... semua karena Engkau.....

Apakah bisa, seseorang yang jika dia anggap terpaksa, melakukan perbuatan dengan segenap kesetiaan? Dengan lemah lembut, dengan lapang dada, dengan perasaan khawatir, dan harap-harap cemas, dengan rasa bahagia atau justru dengan rasa cemburu? Nah, perasaaan itulah yang sekarang aku punyai terhadap dirinya. Aku sakit bila dia sakit, aku bahagia bila dia merasakan kesenangan, aku cemburu bila dia tidak memperhatikanku......

Setiap orang punya masa lalu, yang terkadang amat buruk dan menyakitkan. Tapi ia masih bisa merenda masa depannya dengan langkah yang lain, yang lebih gemilang.....

Aku semakin mengerti, mengapa aku menjadi begini.... sebab aku menciptakannya di dalam taman hatiku. Aku pun mau dia menciptakannya terus-menerus untukku.....hanya untukku......
Waktu boleh merubah segalanya, selayaknya emosi dan ego manusia yang selalu berubah-ubah, tapi hatinya…..jangan!


Akhirnya, akupun mencoba tersenyum, cinta memang membutuhkan bukti. Perhatian, serta empati adalah bukti yang lebih berbobot dalam takaran emosi, lebih berbobot dari sekedar ekspresi kata-kata........

Ya Allah…..
Aku lega....... aku lega bisa mencurahkan segalanya hanya kepada-Mu.....
Aku selalu yakin dan percaya bahwa.....
Janjimu tak pernah ingkar.....
Bahwa cinta dan kasih sayang-Mu tak pernah berhenti mengucur......
Dan aku.... tak perlu menunggu sampai Engkau memberikan nikmat lainnya baru sadar harus bersyukur.....
Karena hidupku, hanya untuk-Mu.......

Alhamdulillahhirrobal 'alamiin.......

Subuh menjelang, suara kokok ayam terengar samar-samar seperti menyuarakan gema takbir ke seluruh alam. Kesunyian pagi terusik oleh kesyahduan adzan dari kejauhan. Alam menggeliat bangun, menandai waktu yang melangkah dari malam menuju fajar.

Bismillahirrohhmaanirrohiim.........



In My Birthday
- 02 Maret 2010 -

Wednesday, February 24, 2010

LETAKKAN SAJA HARTAMU DI TANGAN, JANGAN DI HATI !

Seringkali kita merasa takut tidak memiliki rejeki, gelisah tidak punya uang. Tapi pernahkah kita merasa takut tidak memiliki rasa syukur saat tidak punya uang?

“Uangku hilang, tidak tahu jatuh dimana, laptopku rusak, dan uang bonus dari perusahaan yang dijanjikan belum juga keluar. Suntuk dan kesal sekali rasanya.”
Keluh temanku dari telepon kantornya. Pantas sudah beberapa hari ini dia tidak pernah lagi menghubungiku. Sesuatu di luar dugaan. Dari ujung telepon aku bisa membayangkan wajah kusutnya. Bayangkan, disaat laptop sebagai alat presentasi untuk memprospek nasabah asuransinya yang juga merupakan alat andalannya dalam bekerja, malah tidak bisa digunakan, uang untuk biaya perbaikan hilang, dan uang lain yang diharapkan bahkan tidak menampakkan tanda-tanda kehadirannya.


Entahlah, kenapa hari itu aku tidak sesabar biasanya. Curhatan temanku, aku rasakan “agak menyebalkan”. Ada nada ketidakikhlasan dan selalu merutuki nasibnya hari itu, laptop yang rusak, uang yang hilang dan mengkhawatirkan rejeki lain yang belum tentu ada di genggaman. Kalimat yang keluar dari mulutnya, mengisyaratkan kesialannya dan menyesali nasib, betapa tidak beruntungnya dia. Betapa sibuknya dia ketika kehilangan, menyesali kecerobohan sehingga uangnya hilang. Semakin menjadi-jadi, sehingga hanya bisa menggugat atas segala kemalangan, kehilangan, kenestapaan, ataupun kesialannya.

“Sudahlah, ikhlaskan saja, sabar, Insya Allah besok-besok Allah akan menggantikannya dengan yang lebih besar dari yang telah hilang" begitu komentarku yang berusaha menghiburnya. Namun di batinku mengatakan, "mungkin itu juga peringatan bagi kita, karena kita kurang bersyukur dan jarang bersedekah.”

Kehilangan memang menyesakkan. Toh kata “andai” tidak akan mujarab mengembalikan yang telah hilang. Satu-satunya cara terbaik adalah dengan mengikhlaskan, dan semoga bermanfaat bagi yang menemukan.

Andai disela kegiatan mencari itu kita mau sejenak berdiam diri, untuk merenung. Memikirkan nikmat yang masih dirasa. Bersyukur masih memiliki mata untuk melihat segala keindahan, tangan untuk bekerja, dan kaki untuk melangkah, kembali menjemput rejeki yang hilang agar dapat diraih kembali.

Maka akan ada keikhlasan untuk melepaskan yang telah terlepas dari genggaman tersebut. Sekaligus menyadari bahwa betapa saat masih berada dalam genggaman, kita seringkali lengah. Tidak menyadari betapa berharganya apa yang telah dimiliki. Alih-alih untuk mensyukuri, malah cenderung menyepelekan. Namun, ketika ia terlepas dari genggaman, barulah disadari betapa berharganya.

Dalam kondisi demikian, aku teringat ucapan seorang Ustadz di pengajian, “Letakkan saja hartamu di tangan, jangan di hati.” Maksudnya, segala kekayaan, harta benda yang kita miliki, sebaiknya diletakkan dalam genggaman saja. Tidak usah terlalu dipikirkan dan disimpan di hati sehingga bila sewaktu-waktu hilang, maka tidak akan stress.

Sebab apa yang berada dalam genggaman itu mudah terlepas. Namun bila sudah di hati bawaannya adalah cinta berlebihan, rasa sayang, dan perasaan berat melepaskan.

Seringkali kita merasa takut tidak memiliki rejeki, gelisah tidak punya uang. Tapi pernahkah kita merasa takut karena tidak memiliki rasa syukur saat punya uang? Tidak bersyukur saat rejeki berlimpah, tidak bersyukur ketika harta mengalir? Banyak orang yang memiliki harta, entah berupa uang, perhiasan, rumah mewah dan jabatan yang tidak diiringi rasa syukur. Bahkan tubuh yang sehatpun tidak disyukuri sebagai sebuah nikmat-Nya.

Maka, benarlah bila dikatakan, iman itu terdiri atas dua bagian. Satu bagian dengan syukur, satu bagian dengan sabar. Jikalau seseorang sudah memiliki sikap syukur ketika bertabur nikmat, sabar saat diuji dengan musibah, maka sempurnalah imannya.

Adapun harta ataupun kenikmatan yang terlepas, justru dapat menjadi media pengingat untuk menyempurnakan keimanan.

"Bila kita menangisi hari kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, kita tidak memiliki hari ini untuk kita syukuri."

Monday, February 15, 2010

BILANG I LOVE YOU, SULIT ATAU PELIT?

Mungkin benar kata orang, contohlah orang bule, kebanyakan mereka sangat romantis. Kata I Love You….menjadi makanan pokok setiap hari. Kebiasaan pasangan, akrab dengan ungkapan ini ketika berpacaran. Begitu serumah, lambat laun memudar dan tak istimewa lagi. Keretakan bahkan kehancuran rumah tangga, konon terjadi karena sulit atau pelit mengutarakan kata sakti ini.

“Aku sebal, Mas Bas orangnya nggak romantis lagi. Serba to the point, bahkan bicaranya tidak semesra dan selembut dulu!” Keluh kesah Corry, seorang istri kepada Bas, suaminya. Pasangan Bastian dan Corry sudah menikah sepuluh tahun, dikaruniai tiga anak, dua putra dan satu putri. Protes ini terlontar, sebab dulu ketika pacaran, suaminya sangat romantis dan mesra. Selalu mengucapkan kata Aku Cinta Padamu atau kata-kata sayang melalui telepon atau setiap apel malam minggu. Lalu, kebiasaan ini mulai luntur, ketika Corry sudah menjadi istri.

Mungkin dulu karena sedang dalam taraf berburu cinta, sehingga seorang pria berani berkoraban sampai tetes darah terakhir. Masa uji coba memang membuat seseorang menjadi acktor bagaimana berakting untuk mendapatkan sang piala. Dengan taburan aurora dewi cinta, maka semuanya terbuntal indah tanpa cacat cela, tidak terkecuali baik sang wanita maupun sang pria.

Contohnya, sewaktu hujan turun, payung tertinggal di mobil. Bagai pasukan koalisi dihujani rudal, sang pria berlari mengambilnya. “Sayang, ini payungnya supaya kamu jangan sampai sakit.” Meski basah kuyup, kepahlawanannya tentu menjadi kebanggaan. Tapi kini, “Gimana sih, sudah tahu mau hujan, bukannya payung dibawa?!.” Kata-kata ini begitu licin meluncur dari mulut sang pria.

Atau, contoh lain yang sering dibincangkan orang. Saat sang kekasih terbentur sesuatu hingga terjatuh, sang pria berkata, “Sayang, sakit ya? Lain kali hati-hati ya? Kakinya tidak apa-apa kan?”.Tapi setelah menjadi istri, “Makanya hati-hati, matanya dipakai!”.

Yach, begitulah! Kita mungkin semua sepakat, bahwa makhluk bernama cinta memang memiliki kekuatan luar biasa. Sosoknya tak pernah tertangkap oleh pandangan mata, akan tetapi akibat yang ditimbulkan teramat dahsyat. Sebab cinta, orang dapat berbuat apa saja. Perjalanan jauh dan sukar tak akan terasa apa-apa jika dibarengi cinta. Peperangan seberat apapun jika dipersenjatai dengan cinta, bahkan siksaaan sekejam apapun rasanya bagai cubitan halus saja bila di hati ada cinta. Termasuk kata Aku Cinta Padamu, itu adalah ungkapan dari rasa cinta.

Lantas, apa yang harus silakukan jika saat mengarungi bahtera perkawinan, justru kehabisan cinta?

Menurutku, perkawinan bukan hanya sekedar bertemunya seorang pria dan wanita kemudian hamil dan megurus anak. Tetapi, ada suatu ikatan emosional yang amat kental. Masing-masing pasangan memiliki latar belakang pikiran, cita-cita, harapan-harapan, dan kepribadian yang khas dan beda. Dua orang yang telah mengikatkan diri dalam perkawinan seyogyanya mencoba memahami dan mengerti kebutuhan dan perasaan pasangannya. Bukankah perkawinan bisa terjadi karena atas dasar cinta? Bila kita hanya mengandalkan kelebihan fisik dan materi yang ada dalam diri kita, maka cinta akan mudah terkikis. Takkan bertahan lama, apalagi bila faktor-faktor penyebab cinta sudah menipis. Kebeliaan berganti tua, kecantikan akan memudar. Cinta benar-benar akan sirna.

Ungkapan cinta dari istri atau suami bukan hanya kata-kata. “Mas, aku sangat menyayangimu” atau Dik, I Love You.” Akan tetapi semua kata-kata, raut muka, gerak-gerik, intonasi kalimat, termasuk penampikan mengandung kasih sayang dan kelembutan., dan semuanya adalah bagian dari komunikasi cinta.

Aku tidak perlu menunggu mengalami kejadian tertentu untuk bisa menyimpulkan suatu masalah yang terjadi. Dari pengalaman rumah tangga orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-temanku, sahabatku, dan orang-orang disekitarku, aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Bahkan aku sering mendengar keluhan para istri yang menggambarkan kurang ikhlasnya menerima keadaan karakter atau sifat suami. Salah satunya tentang suami mereka yang jarang dan bahkan tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta yang romantis penuh kelembutan.

Padahal kuncinya adalah bila kita merindukan kata-kata cinta dan romantis dari suami, mestinya para istrilah yang mengajarkan bagaimana cara mengucapkannya dengan penuh cinta, romantis dan penuh kelembutan tanpa ada kesan menggurui.

Namun apabila segala jerih payah mengajarkan kata-kata cinta, romantis dan kelemahlembutan belum berhasil, sadarilah sepenuhnya, hal urgen yang terpenting untuk menjaga kehangatan dalam mengekspresikan cinta adalah dengan komunikasi yang sehat dan lancar. Teruslah berusaha, tanamlan kesadaran dan menerima apa adanya, agar apapun yang suami dan istri lakukan dapat bernilai ibadah.

Sungguh, cinta adalah memberi dan bukan menuntut, menerima dengan tulus apa yang diberikan oleh pasangan kita apa adanya. Maka, janganlah menghitung-hitung kebaikan diri kita sendiri sambil disaat bersamaan menuntut imbalan sejenis dari pasangan. Bila cinta diartikan memberi, maka kita akan selalu dapat mencintai. Kita tidak pernah menuntut atau mengharapkan dia melakukan sesuatu untuk kita, melainkan selalu berpikir apa yang bisa kita berikan untuknya. Termasuk dalam mengungkapkan kata I Love You, jadi biarkan kata “Aku cinta Padamu” muncul tanpa paksaan.

Cintaku……..

Cinta merupakan sesuatu yang dahsyat, ia adalah anugrah Allah SWT. Akan tetapi, cinta datang bukan pemberian Ilahi yang bisa diterima utuh dan siap pakai......
Cinta perlu disemai, dipupuk dan dirawat agar tumbuh dan kokoh saat beragam kehidupan yang datang menderu kencang.........
Karenanya, janganlah berubah......
cintailah aku sepenuh hati, menerima apa adanya dengan penuh kasih sayang, memandang kekurangan dan kelebihanlu dengan rasa syukur, maka cinta itu takkan ada habis-habisnya......
Cinta akan selalu tumbuh kembang, bersemi, dan terawat baik.

Cintaku……

Semoga aku bisa menjadi yang terbaik yang kau mau, yang dapat menjadi pelabuhan curhat bagimu, yang selalu berusaha menyenangkan hatimu, dan berusaha memberi yang terbaik untukmu. Jangan engkau pelit dengan kekaguman dan pujian, bahwa ungkapan yang kau praktekkan, akan menjadi bagian dari bahasa keseharian dan kebutuhan kita secara perlahan, dan ditujukan hanya kepadaku…….

Cintaku………

I Love You…….

Monday, February 1, 2010

CURHAT ITU PENTING

Life is full surprises. Saat kita di atas, no worries and happy go lucky. Tapi kadang kita juga bisa merosot ke bawah, dimana kita harus menghadapi masalah yang cukup rumit.

Hit your problem biar gak terlalu merasa terpuruk pas cobaan berat datang menghampiri, dan kita bisa langsung siap kembali ke atas.

Curhat? Penting banget nih buat dilakukan. Kalau punya masalah jangan dipendam sendiri. Curhat aja sama sahabatmu atau orang terdekat yang bisa dipercaya. Dengan ngeluarin semua uneg-uneg yang ada di hati, beban seberat apapun pasti bisa deh kita atasi. Ingat-ingat aja istilah-istilah seperti ini, badai pasti berlalu, setiap ada tanjakan, kita pasti akan menemukan jalan menurun dan mendatar, atau Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya.

Now, you must remember that "Communication is the key to keeping your cool, so learn to talk about your problems. If people understand why you are angry, the'll be more willing to help you."

Jadi, dengan curhat, kita telah berbagi maslah kita dengan seseorang yang siap membantu kita memikul dan menyelesaikannya.

Trust us, it works! Ayo semangat!

Sunday, January 24, 2010

UPSS......MALUNYA!!!!

Setiap orang pastinya pernah mengalami kejadian paling memalukan, misalnya, tidak bawa dompet saat naik angkot, setelah ngobrol ngalar-ngidul ternyata salah orang. Jika mengingat kejadian itu rasanya tidak ingin terulang lagi.

Kejadian-kejadian seperti itu bisa membuat muka kita merah seketika, tentunya, malunya bukan main. Saat kejadian memalukan itu berlangsung, kita seakan terlihat konyol dan ingin secepatnya lari agar terhindar dari rasa malu. Kendati demikian, kejadian itu tak perlu kita lupakan sebab akan menjadi cerita lucu yang layak kita kenang. Anehnya, banyak orang malu untuk menceritakan kejadian paling memalukan dalam hidupnya, entah karena aib atau takut ditertawai orang lain. Padahal kalau ditilik-tilik, pengalaman memalukan bisa jadi inspirasi bagi yang berbakat menulis novel atau skenario film (sinetron). Kenapa tidak?!

Rasanya aku pun pernah mengalami. Sebenarnya kejadiannya biasa-biasa saja, pastinya setiap orang bisa memaklumi, tapi bagiku, tetap kejadian itu membuat merah pipiku.

Waktu itu, aku bersama mama dalam perjalanan keluar kota. Aku biasa menggunakan travel dari biro perjalanan langgananku. Jambi – Palembang, waktu yang ditempuh kurang lebih 6 jam. Aku dan mama duduk di bangku paling belakang karena bangku nomor 5 atau bangku di belakang supir, dimana biasanya aku duduk disitu jika bepergian dengan travel, dan menurutku merupakan bangku yang paling nyaman dalam perjalanan, sudah dipesan penumpang lain.

Mobil melaju dengan kencang, perjalanan saat itu cukup menyenangkan. Namun sayang, suasana di dalam mobil sunyi senyap, semua penumpang tidak ada yang saling berbicara dan hanyut dalam pikirannya masing-masing, bahkan ada yang tertidur, begitu juga mamaku. Sedari awal perjalanan dimulai, supir tidak menghidupkan lagu dari tape mobil seperti biasanya, hingga setengah jam perjalanan. Aku pikir, mungkin tapenya rusak. Lalu, daripada aku pusing mendengarkan bunyi mesin mobil yang sesekali terdengar bising, aku pun berinisiatif menghidupkan musik dari handphoneku dan kudengar melalui headset saja.

Tiga jam sudah berlalu, aku masih asyik membaca sebuah novel sambil mendengarkan musik. Sekali-sekali, jika mataku sudah mulai lelah, aku berhenti membaca, melihat-lihat suasana diluar dari kaca mobil sambil bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang aku dengar dari headset. Lagu-lagu favoritku, , Cinta Pertama dan Terakhir-nya Serina, Karena Kucinta Kau dan Kecewa-nya BCL, dan semua lagu-lagu milik Rossa, hingga I’m Your’s milik Jazon Marz dan If Your not The One-Daniel Beddingfield, aku pilih untuk aku ikut menyanyikannya. Mungkin terbawa suasana, akupun menyanyikannya dengan sepenuh jiwa.

Tiba saatnya lagu Sahabat Jadi Cinta miliknya Zigas yang sedikit nge-beat, aku ikut nyanyikan juga,

“……Tak bisa hatiku menafikkan cinta….
Karna cinta tersirat bukan tersurat….
Walau bibirku terus berkata….. “tidaakkk”…..
Mataku trus pancarkan sinarnya…..

“Upss…kenapa semua penumpang memandang ke arahku? Sambil senyum-senyum lagi. "Ada apa nich?” Begitu pikirku saat itu. Bersegera aku lepaskan headset yang dari tadi menempel di kedua telingaku. Ternyata mobil sudah sampai di sebuah rumah makan yang merupakan tempat istirahat bagi supir maupun penumpang untuk segera mengisi perut setelah sekian lama di dalam perjalanan, sehingga keadaan menjadi sunyi senyap, tidak lagi terdengar suara mesin mobil. Itulah baru aku menyadari, ternyata pada saat kata-kata “tidak” pada lirik lagu tersebut, aku selalu menyanyikannya dengan sedikit teriak, “tidaaakkk” bersamaan dengan berhentinya suara mesin mobil.

Ya ampyuuun…selama di perjalanan, aku begitu menikmati lagu-lagu yang aku nyanyikan hingga aku tidak sadar hingga volume suara yang aku keluarkan semakin membesar. Aku cuma tersenyum simpul, apalagi ada seorang bapak yang membuat aku seperti melayang-layang di udara, gak tahan denger pujiannya; “Bagus kok suaranya, asyik banget cara menyanyikannya, dari tadi saya sudah mendengarkan suaranya, begitu menghayati. Lagu-lagunya juga bagus-bagus.”

Selalu ada permakluman atas sebuah kejadian. Seperti sudah menjadi budaya di negeri kita, kalau kata-kata “untung” dan “selamat” selalu dijadikan kambing hitam. “Untung…suaraku bagus, jadi gak malu-maluin banget.” Mungkin saja, tanpa disadari ternyata mereka sedari tadi sudah terhibur dengan suaraku. Siapa tahu, diantara penumpang itu ada seorang produser musik sehingga bisa mengorbitkan aku menjadi seorang penyanyi benaran? Siapa tahu.... :)

Aduh, malu-maluin deh! Walau kata mamaku, tidak apa-apa, tetap saja aku merasa malu, bukan karena suaraku, tapi aku takut saja kalau aku dibilang mengganggu, narsis, norak, tidak tahu diri, dan lain-lain. Apalagi ada cowok manis dan keren, sepanjang perjalanan dia sesekali melirik-lirik ke arahku, semoga saja dia semakin kagum denganku sejak kejadian itu :D

Kalau ingat kejadian itu, kadang aku ingin tertawa sekaligus malu dan ge-er juga, tapi bagaimanapun aku tidak ingin melupakan peristiwa itu. Apapun peristiwa yang kita alami, jangan pernah merasa minder apalagi mengubur dalam-dalam peristiwa apapun.

Ingatlah waktu tak akan berjalan mundur, sebuah kejadian yang berlalu akan menjadi sebuah kenangan terindah dalam hidup ini, sekalipun itu sebuah kejadian yang konyol.

Monday, January 18, 2010

FILOSOFI SUPIR TAKSI

Suatu hari, seorang supir taksi mengantar penumpang ke airport. Taksi meluncur dengan kecepatan normal di jalur yang tepat. Tiba-tiba sebuah mobil sedan keluar dari persimpangan dan hampir menabrak taksi.

Supir taksi dengan sigap menginjak rem. Sedan terhenti hanya beberapa inci dari mobil sedan. Pengemudi sedan menjulurkan kepala dari jendela mobil dan membentak supir taksi dengan suara keras. Supir taksi hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke supir sedan dengan sikap ramah.


“Sedan itu hampir saja menabrak mobil kita. Mungkin bisa membuat kita berada di rumah sakit. Mengapa anda masih ramah kepadanya?” Tanya penumpang.

Di luar dugaan, supir taksi menjawab,

“Banyak orang yang seperti truk sampah. Mereka ke mana-mana dengan penuh sampah, penuh frustasi, penuh kemarahan, dan penuh kekecewaan. Ketika sampah makin menumpuk, mereka perlu tempat untuk menumpahkannya. Kadang, mereka menumpahkannya kepada kita.

“Jadi jangan masukkan ke hati. Senyum saja, lambaikan tangan, doakan yang terbaik, dan jalan. Jangan terima sampahnya dan menyebarkannya kepada orang lain, di tempat kerja, di rumah, atau di jalan-jalan.”

Tanpa aku sadari, ternyata aku termasuk orang yang sangat peduli dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar, lantas aku mengamati dan mengambil pesan moral dari apa yang terjadi, dari apa yang aku lihat, aku baca, dan aku alami.

Termasuk dari cerita ini yang aku kutip dari Tabloid AURA edisi Juli 2009. Cerita ini bukan sekedar cerita, namun sering kita jumpai, mungkin pernah kita alami atau kita lihat, atau bahkan suatu saat, bisa terjadi pada diri kita sendiri.

Pesan moral yang bisa kita ambil adalah :

Bahwa orang sukses tidak membiarkan truk sampah mencemari dan merusak harinya.

Hidup terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan.
Jadi, cintai orang lain yang memberlakukan kita secara baik dan doakan mereka yang memberikan perlakuan buruk kepada kita.

Dalam hidup ini bisa terjadi apa saja.
Yang paling menentukan adalah, bagaimana cara kita menghadapinya dan menyikapinya.


“Benar itu benar, kendatipun semua orang menentangnya. Dan salah itu tetap salah, kendatipun semua orang membelanya.” (William Penn)

Tuesday, January 12, 2010

MALAM.... KALA MATA TAK MAMPU TERPEJAM

Ruang ini memang indah..............
Di ruang ini aku sanggup melepaskan diri dari mimpi masa silam. Sama sekali bukan mimpi. Ini hanya perkara sikap dan cara pandang atas diriku dan hidupku..............

Penyendiri adalah salah satu gaya hidup yang paling kusuka. Total hidup dalam sepi, tapi sepi yang kubikin sendiri dari batas-batas yang ditarik tegas, antara mereka, lingkungan, dan diri sendiri....................

Memang merasa tidak canggung, tapi di hati ada kubangan curam, tempat kumemainkan dan mengubur satu peran yang tidak diketahui oleh siapa pun. Memang tidak gampang, karena ketakutan selalu menyertai............
Rasa malu berbagipun kuhindari................

Disisi lain, aku adalah sepi dunia ini..........
Disini aku hanya berteman imajinasi dan jika ada sisa waktu aku meneguk. Suatu hari aku pasti tidak sanggup dan aku mungkin menemukan dunia itu. Ia tidak hilang. Ini pilihan dan persetujuan yang kusadari adanya..............
Aku memaknainya dan memuliakannya..........

Aku tidak mungkin menampiknya, dengan cara dan alasan apapun. Aku mulai bisa merasakan. Biarlah mereka tidak mengerti dan tidak pernah tahu. Aku hanya punya waktu yang kucolong, sangat sedikit, dan tidak bebas. Penuh resiko. Paling aku hanya mengecap ulang memori itu bersama imajinasi hampa.

Sedih kumembayangkan masa lalu. Tidak ada yang salah. Semuanya dalam keadaan baik dan biasa saja. Inilah caraku menerima realitas..................

Mau kuapakan sisa memori itu? Kulumatkan jadi debu, lantas kuhanyutkan di sungai? Rasanya tidak mungkin. Memori ini mengisi jiwaku. Memberiku getaran. Menyisakan ikatan dengan cakrawala terbaik yang pernah aku temui.................

Cinta tak bisa dijelaskan. Cinta yang panjang dan sangat rumit..........
Kenapa cinta semacam ini membelenggu diriku? Bukan satu pertanyaan yang harus kusampaikan........... Bukan. Tetapi satu pernyataan, cinta semacam ini membelenggu diriku. Aku takluk dan takut kehilangan. Apakah aku tengah menjalin ikatan di ruang yang gelap? Lalu di dalamnya aku tidak hanya terkurung namun busuk sekaligus? Aku tidak sudi kalau cinta ini menjadi racun yang menjadikan batas itu pekat, pahit, kabut.......................

Apakah kupu-kupu merasakan sepi? Atau mereka hanya menyerahkan seluruh hidupnya kepada waktu dan musim? Karena kupu-kupu pasti akan tiba waktunya, saat mereka menarikan musim penuh bunga, menjemur sayap indah di bawah matahari pagi. Jika kupu-kupu luput dari sepi dan tidak ada batas antara rasa sesak dan lapang, siang dan malam, hari tiada bernama, maka aku mungkin sebaliknya, seekor kupu-kupu yang terbelenggu. Aku ingin lepas namun aku ringkih.................

Perpisahan sama sekali bukan pilihan untuk mengakhirinya..................
Kemanakah aku harus melanjutkan hidup? Membawa masa lalu kembali? Atau melanjutkan pelarian menuju ruang baru? Aku tahu, segalanya terhenti oleh batas waktu yang dimiliki hidup. Aku hanya ingin menyelamatkan diri dan membebaskan jiwa dari rasa bersalah......................

Kenapa bimbang? Jika mencari dunia itu, kita mesti menemukannya sendiri. Tapi ketika kita sampai, lantas mengapa harus dihancurkan?......................

Suatu waktu, pasti tiba, harus memilih…. Disinilah keputusan itu mesti dihadapi, dibawa, dilakukan, dan diterima dengan kesiapan penuh karena pasti akan ada konsekuensi...........................

Aku tidak hanya membohongi diri sendiri, tetapi orang-orang tercinta pun kukorbankan. Apa ini hanya butuh satu vonis untuk diriku, pengecut atau pendurhaka? Mungkin tidak karena aku hanya ingin menemukan yang ingin kuraih di tengah hidupku, dengan sadar dan sepenuh jiwa..................!

Monday, January 11, 2010

MAAF, GESER SEDIKIT BU !


Usia masih bisa disembunyikan, wajah dan kerut merut kulit? Ditunjang tubuh yang berkembang sesuai dengan pertambahan usia, sudah pasti menunjang seseorang terutama seorang perempuan untuk dipanggi “ibu” tanpa harus melihat status.

Jadi teringat tiga bulan yang lalu, saat jam istirahat, seorang teman datang ke kantor dengan wajah yang cemberut dan muka ditekuk seperti menyimpan segumpal kekesalan yang dalam. Why?

“Aku kesel banget di Mal kemaren, waktu naik lift, karena penuh, eh, ada cowok dengan enteng bilang, “Maaf bu, bisa geser dikit?” “ Aku pikir bukan sama aku, ternyata mata cowok itu menatapku dengan santun. Saat itu belum terlalu kesel sih, tapi pas angkot yang penuh pun, kenek di sampingku bilang sambil agak menyentuh bahuku memintaku untuk bergeser, “Maaf bu, geser sedikit.”

Mendengar penjelasannya, kita semua tertawa. “Oh itu yang membuat sahabatku mukanya muram bak mendung gak jadi hujan.” Kalau ditilik sejarahnya, siapa yang gak kesel dan marah, “Lha wong dia masih gadis, muda, dan kulitnya pun masih kencang. Tapi kenapa dipanggil ibu?”. Tetap saja dia ngotot tidak terima dengan panggilan itu, “Aku khan belum jadi ibu, panggil ‘mbak’ apa salahnya, toh aku masih kelihatan muda, walau badanku melar.” Gerrr…..kita semakin tertawa mendengar celotehannya.

Lain pula cerita temanku yang lain, “Aku boleh saja dibilang orang masih muda, sekarang baru 29 tahun, sudah menikah dan punya buntut dua, dan masih kuat jalan kemanapun. Tapi kalau malam tiba dan menjelang tidur, rasa lelah dan letih mulai terasa. Sudah mulai sering sakit kepala. Kata orang, semakin bertambah usia semakin banyak keluhan. Tapi aku masih ingin bergaya dengan busana jins walau tidak ketat, serta ikut teman-teman kantor yang masih muda-muda, jalan-jalan ke Mal walau kakiku seringkali terasa sakit, telapak kaki sudah terasa “nyut-nyut an” jika kelelahan akibat banyak jalan.”

Status antara kita yang masih lajang dengan yang sudah menikah, tidak menjadi penghalang untuk berbagi masalah apa saja. Ada seorang rekan di kantor yang sudah berumur, bahkan paling berumur diantara rekan perempuan, kami tidak menyangka, kalau dia sudah berumur, tapi belum terlihat seperti ibu-ibu yang biasanya bertubuh subur padahal anaknya sudah empat orang, dan yang tertua sudah beranjak dewasa. Bahkan kita tidak percaya kalau usianya sudah mencapai angka 47 tahun, namun pembawaannya selalu ceria, ramah, energik, dan menyenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. Lantas wajar pula, jika rekan-rekan di kantor memanggilnya dengan sebutan “mbak” bahkan “bunda”.

Sesaat aku termenung lalu tersenyum simpul penuh makna. Teringat beberapa tahun yang lalu, karena kendaraan pribadi yang biasa aku bawa ke kantor sedang diperbaiki di bengkel langgananku, aku memutuskan berangkat ke kantor menggunakan kendaraan umum yaitu, angkutan kota (angkot). Berbusana kantor yang rapi, lengkap dengan tas di tangan dan sepatu pantofelku yang berwarna hitam mengkilap, aku menghentikan angkot yang melintas di pinggir jalan tak jauh dari rumahku. Di dalam angkot, aku mengambil bangku sebelah kanan dekat pintu, saat ada penumpang lain yang masuk, aku sempat termangu saat sopir angkot itu dengan hormat menyapa, “Maaf Bu, bisa agak kedalam?”. Anehnya, panggilan itu terasa menghujam batinku. Padahal panggilan “ibu” sering aku terima saat di kantor atau saat jam-jam kerja. Sebutan itu tidak menjadi masalah bagiku. Tapi mengapa hari itu terasa aneh. Entahlah.


Ternyata panggilan “ibu” dari orang lain yang diterima bagi seorang yang menganggap dirinya masih muda, baik yang masih lajang maupun yang tidak, membuat aku dan sahabat-sahabatku termotivasi untuk berjuang menurunkan berat badan dan beresolusi untuk sehat lahir maupun batin. “Mulai saat ini kita harus cantik!”, Ayo semangat, walau kita sudah berkepala tiga, gak salah harus tetap cantik, harus “laku” tahun ini!” Begitulah kita bersepakat. “Jangan mau kalah sama Rina yang hitam, judes, cupu...korban mode, tapi bisa dapat suami kaya dan ganteng, walau sebenernya kita sudah tahu sih gimana kelakuan suaminya, Ridho, saat mereka memutuskan untuk cepat-cepat menikah.” Begitulah rumpii-an temanku saat dia menumpahkan kekesalannya terhadap salah seorang temannya. Diantara kita, memang dia yang paling bawel, apa adanya tapi menyenangkan dan setia kawan banget. Kita pun terus digayuti kebahagiaan, saling berbagi, diselingi dengan candaan dan tertawa tiada henti. Suasana saat itu benar-benar heboh.

Atas saranku juga, aku yang sangat getol dan rajin berolahraga, mengajak teman-temanku untuk masuk kelas kebugaran, aerobic dan fitness serta jogging dan senam pagi di lapangan setiap minggu pagi, sambil melakukan diet sehat. Sayur bening, tahu tempe, ayam tanpa kulit dan ikan tanpa digoreng, serta buah, akhirnya menjadi menu kita setiap hari ke kantor untuk makan siang. Tidak makan makanan yang mengandung karbohidrat saat sarapan pagi dan di malam hari, serta banyak minum air putih.

Hampir dua bulan menu tanpa bumbu kental itu menjadi santapan favorit kita. Alhamdulillah, kemauan keras itu menutup mata kita untuk tidak tergoda oleh makanan enak yang kita santap setiap siang, atau gorengan dan martabak keju yang yummy. Kita berkomitmen dengan program diet ini.

Aku yang saat itu tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi teman-teman yang hampir semuanya mengeluhkan soal bentuk tubuh, aku hanya berprinsip yang terpenting adalah bagaimana “menjalani hidup sehat” yaitu sehat lahir maupun batin. Terutama sehat secara batin, maka lahiriah kitapun akan terlihat sehat pula, terutama jika selalu beribadah. Jika pikiran kita sehat, kita ikhlas menerima kondisi apapun, tidak cepat tersinggung, tidak gampang marah, tidak sombong dan menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain. Otomatis jika kita sehat lahir batin, setiap hari kita bersemangat, percaya diri dan ikhlas memberikan keramahan tanpa pamrih dan selalu tersenyum dengan tulus kepada siapa pun. Menurutku itulah yang terpenting karena itu juga merupakan bentuk ibadah yang tidak bisa dibayar dengan materi dan sangat manis hasilnya.

Akhirnya aku menyadari, panggilan atau sebutan “ibu” diucapkan orang lain sebagai suatu sapaan sebagai tanda hormat. Juga merupakan sapaan bagi seseorang karena ruang lingkupnya, bisa karena pekerjaan atau menghargai orang yang lebih tua. Kini kita memang tidak bisa lagi menghindar dari “panggilan takdir”, ditunjang usia memang akan terus melaju dan perkembangan tubuh yang semakin melebuarr.....karena semakin berkurangnya metabolisme tubuh kita. Gak perlu resah, karena itu bisa terjadi pada siapa pun laki-laki maupun perempuan.


Pengalaman sahabat-sahabatku dan orang –orang di sekillingku, “Ahh…..benar-benar oase di padang gersang.” Aku harus tetap memegang erat janji pada diriku sendiri bahwa aku harus “Konsisten terhadap komitmen, segala sesuatu yang berlebihan dan serba instan itu, tidak baik akibatnya.”


“Jangan berpikir untuk cantik, tapi menjadi ramah dan menyenangkan”

Tuesday, January 5, 2010

SENYUM KARENA MUSUH

Orang bilang "tertawa itu sehat". Asal mula tawa bisa beragam, bisa dari pengalaman yang lucu lalu menimbulkan tawa.

Namun ceritaku ini ada hubungannya dengan "musuh". Berbicara tentang musuh, musuh bukan saja manusia. Tapi tahukah kita bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang mengikuti kemana saja kita pergi dan berkelana. Dialah musuh yang pandai sekali membawa diri.

Lalu apa hubungannya senyum dengan musuh?

Ini pengalamanku di tengah malam dari sebuah perjalanan dari luar kota. Bukan urusan yang mudah jika sudah menyangkut rasa kantuk yang teramat sangat saat itu.

Kepayahan duduk terlalu lama selama 6 jam di dalam travel yang membawaku pulang ke rumah di malam itu, aku terhenyak tidur di kasur empuk di kamarku.

"Oh damai rasanya bisa kembali ke rumah, aku rindu kamarku, aku rindu untuk bisa lagi memeluk guling kesukaanku dan tidur kembali di ruang favorite serta tempat paling privacy bagian dari rumahku yang selalu memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja." Betapa lelahnya tubuh ini. Maka setelah merapikan diri, aku segera merebahkan diri. Aku pun terhanyut dibuai mimpi yang begitu nyaman.

Karena sudah terbiasa, aku selalu memasang alarm dari handphone ku sebagai pertanda harus segera bangun di kala suara adzan terdengar. "Hayya alash shalaah"....(Marilah shalat). Dari sebuah speaker Masjid di lingkungan rumahku terdengar di telingaku.
"Ah, subuh sudah datang, pikirku."

Namun aku membuka mata terasa sangat berat. Dengan mata yang masih kabur, aku lihat jam di handphone ku, angka digital menunjukkan 4.30. Tiba-tiba, tidak ditanya dan tidak diharapkan, musuh berselimut yang sudah ada disisiku membisikan dengan lincahnya, "baru jam 3!". Bisikannya benar-benar menggedor-gedor nuraniku.

Mataku berkejap-kejap, kepalaku sedikit pusing dan terdengar lagi bisikan perlahan-lahan yang menggedor-gedor lagi nuraniku "kamu masih bisa tidur dua jam lagi, hilangkan kelelahanmu dan puaskan tidurmu! tidurlah dengan tenang! Nanti saja ibadahnya!"


Aku terkejut dan curiga, "apa-apaan maksud bisikan ini?". Mengapa bisikan ini begitu gencar menyerang benteng jiwa ku. Dan astaga! Musuh, ya musuh! Aku langsung tersadar. Darah perlawanan pun mengguncang-guncang tubuhku. Aku bangun melompat untuk melepaskan rantai kemalasan dan berta'awudz, "A'uzu billahi minasysyaitaanirrajiim..."

Mana musuh yang berbulu penasehat tadi? Dia lari terbirit-birit menjauh, dan aku melangkah ke pintu, membersihkan diri dan terus berwudhu. Air yang dikira dingin sebaliknya menyegarkan. Aku lihat jam di dinding tepat jam lima subuh. Maka akupun senyum riang.

Musuh tadi hilang lenyap. Dia memang ada, beranak pinak tambah banyak dan tidak mati-mati sampai kiamat. Benar-benar musuh beuyutan. Itulah setan dan iblis yang selalu berbisik-bisik di hati manusia, menggoda tiada hentinya supaya manusia berbuat dosa.

Senyum ku bertambah lebar di subuh itu, karena menang dan merasa gembira. Aku pun teringat prinsip yang berbunyi seperti ini........

"Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah dia (tetap) sebagai musuh....." (QS. Fathir:60)


Alhamdulillahirrabbil'alamiin.......

RAHASIA MILIUNER

Alkisah, suatu hari, seorang pria yang menganggur melamar jadi office boy di kantor Microsoft. Sesudah diwawancarai manajer HRD, pria itu di...